Sumber Asli, atau kelanjutan artikel ini, silakan klik langsung pada judul di bawah ini:

Bagaimana Menangani Demam secara Cerdas?

1
Image of Bagaimana Menangani Demam secara Cerdas?


Saya menganjurkan untuk tidak gegabah menggunakan obat penurun panas badan (antipiretik), terlebih untuk anak-anak.



Demam bisa jadi suatu kondisi normal (fisiologis), bahkan tidak perlu diberi obat pun akan berhenti dengan sendirinya. Salah satu alasan utama pemberian antipiretik adalah RISIKO TERJADINYA KEJANG ATAU KEDARURATAN SARAF LAINNYA akibat demam. Temperatur badan tinggi, tidak peduli seberapa panas atau seberapa lama munculnya demam, dapat memicu kejang meski sebelumnya tidak ada gejala epilepsi. Alasan lain tidak dianjurkannya PEMBERIAN SEGERA antipiretik adalah ketidakjelasan penyebab demam itu sendiri. Demam bisa disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, racun (toksin) yang bersifat "pirogenik", atau sebab khusus (misal, leukemia, infeksi HIV, penyakit jantung bawaan, dsb.); masing-masing memiliki tanda dan gejala penyerta selain demam. Pemberian segera antipiretik dapat mengaburkan diagnosa penyebab demam (konsekuensinya mempersulit pengobatan penyakit).



Lagipula, pemberian segera antipiretik dapat menyebabkan penurunan temperatur badan mendadak, hipotermia, dan keringat berlebih (diluar efek samping masing-masing obat, tentunya). Penderita demam justru tidak merasa lebih nyaman dibanding sebelumnya.



Disayangkan bahwa sebetulnya terdapat cara lain menurunkan demam selain dengan pemberian antipiretik. Kompres, ice pack (misal, merek b** b** fever), spons, atau selimut pendingin tidak kalah efektifnya dengan antipiretik. Kompres bergantian setiap 20 menit di kening, leher, ketiak, dan badan selama 2-4 jam bisa menimbulkan evaporasi panas dari tubuh. Dulu pernah dianjurkan kompres dengan alkohol. Namun uap alkohol bisa terhirup oleh hidung. Air dingin (atau es) pun tidak diperbolehkan karena menyebabkan kulit pucat akibat berkurangnya aliran darah serta anak jadi merinding kedinginan.



demam-ayah_anak



Kapan sebaiknya obat antipiretik diberikan?



(Anak) disebut demam jika TEMPERATUR ANUS mencapai 38oC (kalau di ketiak kurang lebih 37,5oC)--Oleh sebab itu saya anjurkan tiap rumah punya termometer--Demam baru berisiko setelah mencapai suhu 41,4oC dan membutuhkan pengobatan (farmakologi).



Kurang-lebih ada empat obat penurun demam yang populer di Indonesia; Aminosalycilat Acid (Cafenol), Acetaminophen (Paracetamol dengan segala merek dagangnya), Ibuprofen (PR***S), Metamizole (Novalgin).



Yang nomor satu terkenal sejak 100 tahun yang lalu sebagai obat penurun panas (juga kini diketahui memiliki efek "pengencer darah" untuk serangan jantung). Sayangnya obat ini menimbulkan kerusakan hati yang disebut Sindrom Reye jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Terlebih cafenol rasanya jeruk, sering disalahpahami sebagai permen oleh anak-anak.



Ibuprofen, bedanya dengan parasetamol adalah adanya rantai kimia asam propionik, selain menurunkan demam juga terkenal sebagai pereda nyeri. Dengan dosis yang lebih kecil terbukti lebih efektif daripada parasetamol. Ada sejumlah kecil laporan efek samping. Sayangnya belum ada kepustakaan terpercaya tentang PADA UMUR BERAPA anak boleh mulai diberikan obat ini.



Yang paling buncit, Novalgin, jawara para dokter anak tapi paling besar risiko efek sampingnya. Jujur aja obat ini nggak terdengar di Amerika sana. Kalau di maillist, obat ini jadi kontroversi karena dilaporkan menyebabkan kelainan darah (agranulositosis, eosinofilia) dan trombosis (pembekuan darah).



Saya cuma hendak menggarisbawahi 



PARASETAMOL MUNGKIN ANTIPIRETIK TERAMAN (untuk anak).



Anda boleh bermain dokter bagi keluarga sendiri dengan catatan;



Pertama, parasetamol adalah obat yang menghilangkan gejala (SIMPTOMATIK) demam. Artinya, berikan seperlunya (PRN, Pro Renata). Jika anak sudah tidak panas jangan diberikan lagi. TIDAK HARUS TIGA KALI SEHARI. Oh ya, ngelantur sedikit; seiring berita akhir-akhir ini di RCTI--berhati-hatilah terhadap kesalahan peresepan pada kasus polifarmasi. Maksudnya, banyak (sirup, puyer) baik racikan maupun bundle dari pabrik yang berisi sekian simptomatik mulai penurun panas, obat batuk-pilek, sampai obat tidur (kalo udah putus-asa anak rewel). Jika masing-masing gejala, misal demam reda tapi batuk-pilek masih; Apa yang akan kita lakukan dengan parasetamol yang terlanjur diracik?



Kedua, KENALI DOSISNYA, lebih tepat hafalkan posologi(?)nya. Sedikit usaha untuk yang terbaik. Cobalah belajar tentang dosis paracetamol. Parasetamol adalah obat yang paling banyak sediaannya, mudah didapat, dan (buat saya) gampang dipelajari. Dosis parasetamol untuk kasus demam anak adalah 10 mg per Kg berat badan (saya yakin di sini banyak orangtua cerdas yang cepat menghafal). Kenali setiap dosis parasetamol untuk tiap sediaan.



Contoh, dosis parasetamol sediaan drop pediatrik adalah 10 mg per 0,1 ml. Jika bayi berat 9 kilogram maka butuh 90 mg atau 0,9 ml atau 1 strip dibawah 1.0 pada pipet skala 10 atau 3 strip dibawah garis pada pipet skala 12. Dosis parasetamol pada sediaan sirup yang umum didapat adalah 120 (ada juga yg 150) mg per SDT (1 SDT obat tidak sama dengan 1 sendok teh dapur. 1 SDT sirup = 5 ml). Kalo ada anak 2 tahun 7 bulan berat 18 kilo demam, berapa SDT yang harus diberikan? Anak 18 Kg membutuhkan parasetamol 180 mg atau 7,5 ml setara satu setengah SDT obat. Bagaimana cara mengukur setengah sendok teh obat? Di setiap sendok obat terdapat dua garis (baru tahu ya? coba dilihat lagi kalo penasaran). Garis yang terbawah/terdalam adalah tanda setengah SDT obat atau 2,5 ml. Kalo anak 7 bulan berat 6 kilo demam, tidak punya parasetamol sediaan pediatrik, kira-kira bisa diberi sirup parasetamol punya kakaknya nggak? Kenapa tidak? Kalo tepat 6 kilo berarti kebutuhannnya 60 mg. Kasih aja setengah SDT! (Bingung ya? 1 SDT 120 mg parasetamol. Kalo 1/2? Ya 60 mg!) Kalo ada anak hampir 4 tahun beratnya 25 Kg sedang demam, kira-kira dikasih yang mana dan berapa? Anak 25 kilo butuh 250 mg bisa diberi 2 SDT sirup (Indofarma punya produk paracetamol sirup generik sacchet 250 mg seharga Rp. 1.000,- Baik buat jaga-jaga di rumah). Kalau malam-malam anak tadi demam, tidak punya parasetamol sirup tapi ada, misal, Panadol (nggak apa2 sebut merek?) tablet, setelah dibaca labelnya dosis 500 mg. Boleh, beri setengah tablet. Pusing? Di tempat praktek saya bisa ajarkan (orangtua) pasien dalam 2 menit lho!



At least, pesan saya BERHATI-HATILAH DENGAN TANDA BAHAYA DEMAM. Panas badan yang disertai tanda-tanda lain memerlukan perhatian dan penanganan khusus. Demam yang lebih dari 24 jam, demam yang tidak turun dengan sekali minum antipiretik, munculnya kejang, demam dengan ruam (bintik-bintik merah), adanya mual dan pegal-pegal, demam disertai lemah-lesu, adanya nyeri kesakitan, WHATEVER. Segera dirujuk untuk ditangani oleh profesional yang berwenang.



Sedikit tips tentang DBD, jangan pake parasetamol yang tidak bermerek (kualitas kadar darah atau uji BA/BE-nya pasti rendah) atau berikan parasetamol dosis tinggi (forte).



Semoga makin pintar menangani demam. Keep Smart!



sumber: ruangmuslim.com



Herwindo Iman Adhiwijaya, dr. MKes. Medical doctor graduated with special interest in pain assessment, ultrasonography, and structural heart disease

Posted by Reno 363 days ago in obat-obatan  |  ruangmuslim.com
 

Who Voted

Reno  

Leave a comment