Sumber Asli, atau kelanjutan artikel ini, silakan klik langsung pada judul di bawah ini:

Waspadai Benturan di Kepala Anak

1
Image of Waspadai Benturan di Kepala Anak


Tak semua trauma pada kepala mengakibatkan gegar otak. Namun, kemungkinan terjadinya tetap perlu diwaspadai.



Setiap kali kepalanya terbentur agak keras, anak-anak yang masih kecil biasanya menangis karena kesakitan atau karena terkejut. Semakin keras tangis si anak, semakin cemas kita dibuatnya. Sebaliknya kalau benturan di kepala tidak sempat membuat anak menangis ataupun rewel, bayangan cedera yang berat pun lekas pupus karenanya. Padahal, seperti dikatakan dr. Jahja Zacharia, Sp.A., setiap benturan di kepala bisa saja menimbulkan trauma atau cedera yang berbahaya. Secara klinis, trauma ini akan ditandai dengan benjolan, memar atau bisa juga disertai perdarahan atau gegar otak, entah karena perlukaan di bagian luar atau di dalam tulang tengkorak (intrakranial). Saat mengalami trauma, anak bisa tetap sadar atau sampai tidak sadarkan diri/koma.



Aktivitas anak-anak biasanya memang disertai risiko trauma kepala. Bayi yang sedang belajar memiringkan tubuh, misalnya, bisa tiba-tiba jatuh dari tempat tidur saat orang tua atau pengasuhnya meleng. Atau jika mobil yang tengah melaju direm mendadak dan anak tidak didudukkan di atas kursi berpengaman khusus, sangat mungkin terjadi benturan. Jadi memang risiko trauma kepala ini bisa terjadi di manapun dan kapanpun.



“Kasus trauma kepala yang serius memang jarang terjadi dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari. Tetapi bila terjadi risikonya sangat berat. Oleh karena itu kemungkinan gegar otak tetap perlu diwaspadai, jangan diabaikan karena menyangkut otak yang merupakan organ utama kita. Masa depan manusia bisa dikatakan terletak pada otaknya,” ujar Spesialis Anak di RS Mitra Internasional, Jakarta ini.



GEGAR OTAK



Gegar otak didefinisikan Jahja sebagai memar akibat guncangan pada jaringan otak, yang menyebabkan terjadinya perdarahan kecil di sana-sini, dan membuat jaringan otak jadi membengkak. Organ otak sendiri dapat diibaratkan sebagai puding tahu karena konsistensinya memang sangat lunak. Oleh karena itulah, otak memiliki tameng berupa tulang tengkorak yang relatif keras. Di antara tulang tengkorak dan jaringan otak pun terdapat cairan yang berfungsi sebagai shock absorber atau penahan guncangan dari luar. “Sebenarnya struktur kepala manusia sudah bagus sekali sebagai pelindung otak. Namun, kecelakaan bisa saja terjadi, sehingga otak yang sudah dilindungi sedemikian rupa bisa mengalami gegar otak,” ujar Spesialis Anak yang juga berpraktek di Klinik Cipete, Jakarta ini.



Lalu bagian kepala sebelah mana yang rentan trauma? Masing-masing bagian kepala menurut Jahja memiliki risiko. Di balik batok kepala kita, terdapat jaringan pembuluh darah yang berjalan memanjang dan melintang, ada yang mengalirkan darah dari bawah ke atas, ada pula yang berjalan di daerah dasar tengkorak.



Saat bagian pelipis terkena benturan yang keras misalnya, bisa terjadi retak tulang pelipis. “Karena kejadiannya di pelipis maka posisi retaknya bisa seperti memotong jalur pembuluh darah. Kalau pembuluh darah sampai putus, timbullah perdarahan yang dapat mendesak jaringan otak yang lembut itu, hingga menjepit bagian batang otak yang dapat berakhir fatal.”



Begitu pun trauma yang mengenai bagian kepala belakang atau tengkuk. Bagian ini merupakan pelindung daerah batang otak yang mengontrol fungsi-fungsi vital, seperti fungsi pernapasan, fungsi kesadaran, dan fungsi jantung. Bila gegar otak terjadi di bagian ini akibatnya juga bisa fatal.



Trauma pada bagian kepala yang lain tidak berarti tidak berbahaya, karena benturan yang sampai menimbulkan guncangan dapat diteruskan ke bagian otak yang lain dan kemudian menimbulkan gegar otak atau perdarahan.



“Gumpalan darah atau pembengkakan yang terjadi bisa membuat otak terdesak sehingga fungsinya terganggu. Gejalanya beragam sesuai dengan bagian otak mana yang memar atau terdesak. Bila misalnya bagian pusat gerak yang terdesak maka salah satu atau kedua tangan atau kaki bisa lumpuh. Sedangkan bila perdarahan itu mendesak bagian pusat bicara maka bicara anak akan terganggu,” urai Jahja. Salah satu trauma kepala yang paling berbahaya adalah retaknya tulang dasar tengkorak, biasanya ditandai dengan keluarnya darah atau cairan otak dari telinga dan/atau hidung.



PANTAU 3 HARI



Saran Jahja, tatkala si kecil mengalami trauma kepala, dia harus diperiksa dan diamati dengan cermat, terutama dalam 24 jam sampai 72 jam pertama. Tak perlu panik ketika kepalanya benjol, memar atau berdarah, karena gejala-gejala tersebut belum memastikan ia mengalami gegar otak. “Benjol atau memar sebagian besar disebabkan perdarahan di antara kulit kepala dan tulang tengkorak. Biasanya relatif tidak berbahaya asalkan anak tetap sadar penuh, tidak muntah-muntah, tidak pusing, dan tidak tampak mengantuk terus,” ujar Jahja.



Yang jelas, gejala gegar otak bisa langsung terlihat tapi bisa juga tertunda, tergantung pada perdarahan yang terjadi dalam otak. Kalau berlangsung cepat, anak bisa tidak sadarkan diri sesaat setelah terbentur; tiba-tiba tidak dapat menggerakkan anggota badannya; atau terganggu kemampuan bicaranya, tergantung otak bagian mana yang bengkak atau terdesak gumpalan darah.



Sebaliknya jika perdarahan yang terjadi hanya berupa rembesan, maka awal timbul gejalanya akan tertunda. Beberapa hari kemudian barulah muncul gejalanya. Oleh sebab itulah, memantau trauma kepala dalam 72 jam pertama setelah kejadian tidak boleh diabaikan.



Sering, kan, bila kepala si kecil benjol atau memar akibat terbentur, orang tua lantas mengoleskan obat antimemar di bagian itu. Ternyata, menurut Jahja, obat oles tersebut tak banyak membantu selain hanya mengencerkan darah yang membeku tanpa mengobati luka dalam yang mungkin terjadi. Jadi, walau dengan obat tersebut benjol atau memar yang terlihat akan hilang, orang tua tetap harus waspada terhadap kemungkinan gegar otak dengan memantau kondisinya secara cermat.



TRAUMA KEPALA SERIUS



Berikut beberapa gejala yang perlu diwaspadai setelah anak mengalami trauma kepala:



* tak sadarkan diri atau bengong saja



* gelisah atau kejang-kejang



* muntah-muntah atau sakit kepala



* bicara atau penglihatan terganggu



* tangan atau kaki tiba-tiba lumpuh atau berkurang aktivitasnya



* pada anak yang sudah sekolah, prestasi jadi menurun



* pada bayi, tidak seperti biasa, lebih cengeng atau lebih banyak tidur. Kalau tidur susah dibangunkan.



* keluarnya darah atau cairan otak dari telinga dan/atau hidung



Kalau memang timbul gejala-gejala seperti itu, Jahja menekankan, orang tua mesti mengingat-ingat kejadian yang menimpa si kecil. Jangan lupa, gejala gegar otak bisa saja timbul di hari ketiga setelah kejadian. “Hal-hal seperti ini perlu dilaporkan oleh orang tua kepada dokter. Ceritakan sedetail mungkin kejadiannya.”



Lalu dokterlah yang akan memberikan diagnosa gegar otak atau bukan. Untuk amannya, anak akan disarankan melakukan foto rontgen atau CT Scan. Tujuannya untuk melihat ada tidaknya keretakan tulang tengkorak dan letak perdarahan yang terjadi, karena terkadang perdarahan yang di balik batok kepala si kecil tidak terlihat.



Gegar otak dianggap serius bila dari hasilnya terlihat bayangan gumpalan darah. Untuk menanganinya, si kecil perlu dirawat inap di rumah sakit, sambil dipantau gejala-gejalanya. Bila perdarahan yang terjadi berukuran kecil dan si kecil tetap tidak terganggu fungsi-fungsinya, gegar otak biasanya akan diobati secara konservatif atau tanpa operasi. Nantinya, gumpalan darah tersebut akan diserap lagi oleh tubuh.



Namun, bila gumpalannya besar apalagi sampai mendesak atau menjepit jaringan otak dengan segala akibatnya, maka perlu dikeluarkan dengan tindakan operasi. Selain besar kecilnya perdarahan, pertimbangan lainnya dalam memutuskan operasi ini adalah adanya potensi timbulnya gangguan fungsi otak di kemudian hari.



Operasi pengangkatan gumpalan darah diakui Jahja memiliki risiko. Namun, risiko ini jauh lebih kecil ketimbang bila gumpalan darah dibiarkan menekan jaringan otak. “Gumpalan darah yang besar bisa membuat anak kehilangan kesadarannya. Selain itu, anak juga bisa mengalami kelumpuhan atau gangguan fungsi saraf yang lain. Setelah gumpalan dikeluarkan, anak biasanya bisa segera sadar kembali seperti sedia kala.”



Menurut Jahja, struktur kepala bayi bisa dibilang relatif lebih aman terhadap trauma kepala. Hal ini berkaitan dengan sambungan tulang-tulang tengkoraknya yang masih elastis dan ubun-ubunnya yang masih terbuka.



“Saat bayi terbentur dan mengalami perdarahan di dalam otak maka desakan gumpalan darah tersebut akan disalurkan ke ubun-ubunnya yang masih terbuka, sehingga untuk sementara waktu bukan otaknya yang terjepit, tapi ubun-ubunnya yang jadi menonjol.” Namun, bukan berarti bayi tak perlu penanganan lebih lanjut. Setelah mengalami trauma kepala, bayi pun harus segera diperiksakan ke dokter secepatnya.



PENCEGAHAN LEBIH PENTING



Risiko gegar otak tentu dapat diminimalisir dengan antisipasi yang tepat. Berikut saran Jahja untuk mencegah terjadinya cedera kepala pada anak:



* Jangan sekali-kali meninggalkan bayi tanpa pengawasan. Kecelakaan pada bayi seringkali terjadi karena kita mengangap remeh kemampuannya. Sering, kan, bayi ditinggal dengan hanya dihalang-halangi guling atau bantal padahal risikonya besar sekali. “Kalau mau aman,” saran Jahja, “turunkan kasur ke lantai atau lengkapi ranjang bayi dengan pagar.”



* Awasi pemakaian baby walker. Terlebih di rumah yang lantainya tidak rata atau memiliki perbedaan tinggi lantai. Jika ia sampai melarikan baby walker-nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, besar kemungkinan ia akan terpelanting kala babywalkernya tersandung lantai yang tidak rata, terkena ujung karpet atau kabel. Risikonya, ya, gegar otak. “Gegar otak justru tidak akan terjadi saat bayi merangkak lalu cuma kejedug lantai, misalnya.”



* Perhatikan keamanan di rumah. Tangga sebaiknya diberi pagar untuk menghindari anak naik atau turun tanpa pengawasan. Bukan berarti anak tidak boleh naik-turun tangga sama sekali, lo. Merangkak atau menapaki anak tangga satu persatu baik untuk perkembangan motoriknya.



* Beri keset di depan pintu kamar mandi atau di sekitar kolam renang agar si kecil tak tergelincir.



* Saat bersepeda atau berkendaraan dengan motor, gunakan helm. Anak yang diajak bepergian dengan mobil sebaiknya duduk di belakang dengan kursi khusus, atau kalau sudah cukup besar cukup gunakan sabuk pengaman.



* Hindari ujung-ujung furnitur yang runcing di sekitar rumah. Bila perlu beri pengaman. “Benturan dengan ujung meja,” lanjut Jahja, “bisa mengakibatkan retak atau patah tengkorak akibat melesak ke dalam. Jika melesak dan retakannya sampai melukai susunan saraf pusat, maka hal ini sangat berbahaya.



sumber: majalah NAKITA

Posted by Reno 1196 days ago in pertolongan pertama  |  wordpress.com
 

Who Voted

Reno  

Leave a comment