Agar Anak Tak Jadi si Pemukul
PADA usia toddler, anak mulai menunjukan sikap negativistic dan kemandirian. Mereka pun kerap berkata ‘tidak’ pada perintah atau ajakan orang lain. Tak hanya itu, seiring dengan perkembangan fisik-motoriknya anak juga ingin menunjukan keinginannya. Namun, dengan keterbatasan kemampuan berkomunikasi, penyelesaian masalah lebih melibatkan reaksi perilaku langsung atau pengungkapan perasaan dibandingkan dengan logika. Akibatnya, kemarahan meledak. Dan bukan tidak mungkin cara ini merupakan alat atau strategi dari pemecahan masalah yang dihadapi si kecil. Berikut, tip membimbing anak tidak jadi pemukul:
Berikan contoh perilaku yang baik Anda tidak bisa memaksa si kecil berperilaku baik jika Anda sendiri tidak dapat mengendalikan diri.Berikan contoh yang baik, jangan sering berteriak, marah-marah, bahkan mengamuk atau memukul orang lain saat menginginkan sesuatu atau menghadapi suatu masalah.
Mengetahui dan mencukupi kebutuhan fisik anak Anak yang lapar dan lelah akan lebih mudah marah dan frustrasi. Jadi jangan heran jika anak Anda tiba-tiba ‘mengamuk’ saat menemani Moms belanja di mal dalam waktu yang cukup lama.
Batasi tuntutan terhadap si kecil Terlalu banyak aturan/tuntutan yang ‘kurang penting’ akan menjadikan anak mudah frustrasi, yang berujung pada tantrum. Kebanyakan usia toddler sangat aktif, terlalu membatasi gerak dan aktivitasnya akan membuat anak mengalami ‘masalah’.
Menyadari saat tantrum mulai muncul Karena tantrum merupakan tahapan normal yang biasa dialami oleh banyak anak, maka Moms harus peka, memahami dan berusaha untuk mencegah perilaku ini menjadi berkelanjutan. Cobalah untuk mengerti saat anak mulai ‘uring-uringan’. Ajaklah bicara, misal, “Adik marah karena Mama minta beresin mainan, ya?” Pengertian dan kesabaran orangtua saat menghadapi anak marah akan membuat anak berproses menurunkan perasaan tidak nyamannya.
Ajarkan anak untuk mengungkapkan keinginan dengan kata-kata Relaksasi yang paling sering dilakukan adalah latihan mengambil napas panjang dan mengeluarkan perlahan. Sabarlah dalam menangkap kata-kata anak yang terkadang sulit untuk dimengerti. Pahami bahwa si kecil masih mengalami keterbatasan kosakata dan kemampuan berkomunikasi. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie via okezone.com)


Leave a comment