<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in autisma</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 11:53:34 +0700</pubDate>
<item>
<title>vashikaran mantra</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/vashikaran-mantra/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	vashikaran mantra and tantra are used to control someone mind, that someone can be your parents or husband or wife or lover, we got more then 1000 vashikaran mantra, separate mantra for every situatioWe are experts in vashikaran mantra and we can cast vashikaran spells in very appropriate way, so that there is 100 percent guarantee of work, vashikaran mantras used by a non expert can cause really serious problems in relationship. We got experience of&amp;nbsp; years for casting successful vashikaran mantra</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 21 May 2012 15:22:04 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/vashikaran-mantra/</guid>
</item>
<item>
<title>Android Developer</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/android-developer/</link>
<description><![CDATA[ <font color="#000000" face="Calibri">Zaptech Solutions has brought a lot of new features in android application along with new operating system. The new system is designed to make mobiles more fun, entertaining and easy to operate. Instant Screen-shots: Earlier versions of android required clients to install apps for taking screen-shots this facilities has been developed by our team and this feature is now coming in-built with the Android 4 version. We have large expectation from Android 4 and hopes to use it as the trump card in it mobile marketing strategies &amp;amp; business. With this new operating system Google is trying to woo more and more customers from other smart-phones to android based smart-phones. </font>
		
	

<p>
	&amp;nbsp;</p> ]]></description>
<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 05:19:38 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/android-developer/</guid>
</item>
<item>
<title>Anak Autisme Gunakan Otak dengan Cara Berbeda</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/anak-autisme-gunakan-otak-dengan-cara-berbeda/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Anak-anak penyandang autisme ternyata menggunakan otaknya dengan cara yang berbeda dengan orang biasa. Hal ini mungkin menjelaskan kemampuan menghapal dan menggambar objek dengan sangat detail.</p>
<p>
	Menurut para peneliti dari University of Montreal, Kanada, pada penyandang autisme, area otak yang berkaitan dengan fungsi informasi visual sangat berkembang. Sementara itu, bagian otak lainnya kurang aktif terutama pada area yang berkaitan dengan pembuatan keputusan dan perencanaan.</p>
<p>
	Hal tersebut menjelaskan keunggulan penyandang autisme biasanya dalam hal tugas-tugas visual, misalnya menggambar sesuatu dengan sangat akurat dan detail. Akan tetapi, anak autis biasanya kesulitan menerjemahkan ekspresi wajah.</p>
<p>
	Kondisi otak tersebut bervariasi tiap individu sehingga ada penderita autisme yang sama sekali tidak bisa mengambil peran dalam kehidupan sosial.</p>
<p>
	Para pakar autisme menyambut baik hasil riset ini. &amp;ldquo;Studi ini menekankan bahwa autisme seharusnya tidak dipandang sebagai kesulitan perilaku tapi berkaitan dengan keunggulan dalam satu kemampuan tertentu,&amp;rdquo; kata Dr.Christine Ecker dari Institute of Psychiatry di Kings College London.</p>
<p>
	Dengan memahami kekurangan dan kelemahan para penyandang autisme diharapkan dapat memberi pemahaman lebih baik untuk memaksimalkan potensi mereka. (Lusia Kus Anna)</p>
<p>
	&amp;nbsp;sumber: sekolahautismeal-ihsan.com</p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 13 May 2011 05:21:06 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/anak-autisme-gunakan-otak-dengan-cara-berbeda/</guid>
</item>
<item>
<title>Gifted-disinkroni: Cerdas Istimewa atau Autisme Asperger?</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/gifted-disinkroni-cerdas-istimewa-atau-autisme-asperger/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Autisme kelompok Asperger sering juga disebut sebagai Asperger Syndrome, asal kata dari nama Dr Hans Asperger, seorang dokter anak dari Austria. Dr Hans Asperger mengemukakan tentang gejala anak-anak autisme kelompok ini di tahun 1944. Karena artikelnya dalam bahasa Jerman, barulah pada tahun 1981 dikenal secara internasional setelah Lorna Wing dari Inggris membawanya dalam kongres Autisme dengan bahasa Inggris. Hans Asperger menggambarkan pasien-pasiennya itu adalah anak-anak dengan usia 6 &amp;ndash; 12 tahun, tidak mengalami keterlambatan bicara, sangat pandai, tetapi sangat sulit mengikuti pelajaran, dan sangat eksentrik. Hans Asperger menyebut kelompok anak-anak ini dengan nama autistic psychopatic. Tetapi sebutan ini oleh Lorna Wing diganti dengan nama Asperger Syndrome, karena ada kelompok lain yang dikemukakan oleh Kanner dari Amerika di tahun 1943 yang disebut sebagai infantil autism atau autisme masa kanak. Autisme kelompok Dr Kanner ini diketahui 80 persennya mengalami gangguan perkembangan inteligensi yang parah. Sisanya mempunyai inteligensi yang normal namun mengalami gangguan di beberapa area inteligensi yaitu mengalami keterbatasan dalam kemampuan analisa, sintesa, kemampuan abstraksi, dan pemecahan masalah.
	
	
	Autisme adalah gangguan perkembangan majemuk, yaitu gangguannya dapat mengenai beragam aspek perkembangan seorang anak. Gangguannya tidak hanya menyangkut jumlah berapa aspek yang terkena (secara kuantitatif) tetapi juga beratnya aspek yang terkena (kualitatif). Karena itu gangguan autisme dari satu anak ke anak lain mempunyai gambaran yang beragam. Aspek perkembangan yang terganggu itu adalah gangguan komunikasi (verbal dan non-verbal), interaksi sosial, dan gangguan perilaku (perilakunya repetitif dan stereotipik atau diulang-ulang dengan pola yang sama). Karena begitu beragamnya dan gejalanya berubah bersamaan dengan berjalannya usia, orang menjadi sering kesulitan membaginya secara tegas dalam kelompoknya masing-masing, kemudian orang menyebut semua kelompok autisme itu dengan nama Autism Spectrum Disorder (ASD).
	
	
	Pada kelompok masa kanak dari Dr Kanner, adalah anak-anak autisme yang mengalami keterlambatan bicara, sebagian besarnya mengalami gangguan inteligensi yang parah, sedang sisanya mempunyai inteligensi yang baik dan dapat berfungsi relatif lebih baik daripada yang mempunyai inteligensi yang parah. Karena itu kelompok yang mempunyai fungsi lebih baik ini disebut sebagai kelompok autisme yang berfungsi tinggi. Sedang dari kelompok itu juga ada anak-anak autisme yang jika dilihat melalui kriteria autisme dari DSM IV, ia tidak memenuhi seluruh kriteria yang tersedia, namun mempunyai batas minimal sejumlah kriteria[1] (lihat buku Gangguan Majemuk Autisme PDDNOS, dari Dir. PSLB). Kelompok ini disebut autisme tidak khas atau tidak spesifik yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai PDD-NOS (Pevasive Development &amp;ndash; Not Otherwised Specified). Sedang yang memenuhi kriteria autisme tadi disebut sebagai kelompok autisme klasik.
	
	
	Kelompok autisme Asperger sendiri dalam DSM IV dikelompokkan tersendiri di bawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) bersama kelompok yang lain yaitu: Autistic disorder, Asperger&amp;rsquo;s Disorder, PDD-NOS, Rett&amp;rsquo;s Disorder, dan Child Integrative Disorder. Ketiga pertama tadi (Autistic Disorder, Asperger&amp;rsquo;s Disorder, dan PDD-NOS) dijadikan sebuah spectrum bernama Autistic Spectrum Disorder.
	
	
	Jadi jika kita mendapatkan anak kita dengan diagnosa ASD, artinya kita tidak tahu kelompok anak kita adalah kelompok anak yang mana. Karena ASD merupakan spectrum yang panjang dengan gejala autistik dari yang ringan hingga yang parah. Dengan gangguan yang paling sedikit (dalam batasan diagnosa autisme) pada aspek perkembangannya hingga yang paling banyak. Dari yang mempunyai gangguan perkembangan kognitif yang ringan hingga yang parah.
	Sekalipun ada yang mengatakan bahwa kelompok PDD-NOS ataupun Asperger Syndrome adalah kelompok yang mempunyai gangguan yang ringan (bila dibandingkan dengan anggota kelompok PDD lainnya), tetap anak-anak ini mempunyai gangguan perkembangan yang terbilang parah jika dibandingkan dengan kelompok anak normal. Karena ia menyangkut banyak aspek perkembangan yang sifatnya menetap seumur hidup. Karena itu dikatakan bahwa gangguan autisme mempunyai prognosa atau perkiraan ke depan yang kurang menguntungkan dan memerlukan pendampingan terus menerus. Walaupun begitu kelompok Asperger dan PDD-NOS mempunyai prognosa yang lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok autisme klasik.
	
	
	Asperger syndrome sendiri, merupakan salah satu kelompok yang dalam DSM IV dinyatakan sebagai kelompok yang tidak mengalami keterlambatan bicara, dan mempunyai inteligensi yang baik, normal hingga tinggi. Peter Vemuelen (2002) seorang ahli pendidikan anak berkekhususan dari Belgia dalam penelitiannya mendapatkan bahwa pada umumnya anak-anak autisme yang mempunyai inteligensi tinggi ini terdeteksi lebih terlambat bila dibandingkan dengan kelompok anak autisme klasik maupun PDD-NOS. Hal ini disebabkan karena kelompok Asperger Syndrome tidak mengalami keterlambatan bicara. Bahkan saat ia masih kecil seringkali disangka ia seorang anak cerdas istimewa karena sangat mudah menerima instruksi dan pandai. Namun dalam perjalanan sekolahnya saat sudah masuk ke sekolah dasar ia mengalami kesulitan karena keterbatasannya dalam kemampuan kreativitas, imajianasi dan fantasi, abstraksi, serta kemampuan pemecahan masalah.
	
	
	Kelompok Asperger memang mempunyai keluarbiasaan tersendiri, banyak diantaranya yang mampu sampai jenjang universitas, bahkan menjadi doktor. Namun mempunyai bidang minatan yang sempit, dan sifatnya hanya mengkopi, menerima ilmu, menyimpannya, dan menampilkannya kembali. Jika mengamati hasil tes inteligensianya, akan nampak bahwa ia akan mendapatkan skor pada subtes informasi dalam verbal IQ yang sangat tinggi, tetapi kurang dalam kemampuan analisis.
	
	
	Webb dkk (2005) menjelaskan bahwa pada dasarnya penyandang Asperger yang mempunyai kemampuan dan inteligensi yang tinggi mempunyai kesamaan dengan kelompok cerdas istimewa (gifted children), yaitu :
	- Kedua kelompok (Asperger dan cerdas istimewa) sama-sama mempunyai memori luar biasa dan kemampuan bicara yang baik;
	- mereka juga sama-sama selalu menanyakan sesuatu secara terus menerus;
	- mereka membicarakan suatu bidang yang intelektual, dan sejak kecil mereka sudah mulai melakukannya;
	- mereka sangat cepat menerima sesuatu yang diminatinya, selalu mencari tentang fakta-fakta dan pengetahuan tentang apa yang menjadi minatnya itu, sekalipun demikian seorang penyandang Asperger tidak membuat hubungan dengan makna yang ada dalam fakta dan pengetahuan itu;
	- kedua kelompok sangat menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan, sekalipun pada Asperger hal itu lebih kepada hal yang menurutnya logik daripada sesuatu yang menyangkut pada masalah yang emosional;
	- kedua kelompok baik kelompok Asperger maupun kelompok cerdas istimewa mempunyai masalah konsentrasi karena mereka hanya ingin terfokus pada apa yang memang mereka ingin fokuskan sehingga diluar itu mereka mengalami kesulitan berkonsentrasi;
	- kedua kelompok sama-sama mempunyai rasa humor yang datar/halus, mudah terangsang dengan stimulus (misalnya suara), tekstur, cahaya, bau-bauan, dan rasa;
	- kedua kelompok sering dipandang oleh orang lain sebagai anak yang sangat halus, rentan, sensitif, dan berbeda;
	- keduanya mempunyai pola perkembangan yang asinkroni (pada kelompok Asperger kondisi asinkroninya akan sangat ekstrim nampak pada perilakunya yang lebih aneh dan lebih bagai potongan puzzle yang tidak tahu dimana tempat yang pas baginya) ;
	- keduanya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan model pendidikan konvensional;
	- keduanya mempunyai masalah pada ketrampilan sosial, merasa tidak nyaman di tengah orang banyak;
	- keduanya mempunyai kepribadian yang menarik diri.
	
	
	Sekalipun ada persamaannya namun juga ada perbedaannya. Jika kita mencari-cari persamaannya kita akan menemukan persamaannya yang luar biasa banyak. Namun agar kita tepat memberikan pendidikannya, pengasuhan, dan intervensinya, perlu dilihat apa saja perbedaannya. Dalam hal ini Webb dkk (2005) juga memberikan acuannya.
	Sebetulnya memang akan sangat sulit melihat perbedaan antara keduanya, sebab persamaannya memang banyak. Apalagi baik anak cerdas istimewa maupun anak Aspeger seringkali juga diikuti dengan gejala-gejala gangguan lainnya, seperti ADHD dan OCD (Obsessive Compulsive Disorder), yang menyebabkan penegakan diagnosa menjadi semakin sulit. Sekalipun demikian, kita tetap perlu mengingat bahwa perkembangan seorang anak cerdas istimewa yang secara alamiah memang mengalami perkembangan yang tidak sinkron, dapat menyebabkan pola perilaku yang sering dipandang aneh, tidak sebagaimana anak normal. Namun pola perkembangan yang aneh ini pada anak-anak cerdas istimewa akan mengalami normalisasi perkembangan saat menjelang pubertas. Sementara itu pada kelompok Asperger akan mengalami gangguan yang kronis, terus menerus dan akan dibawanya hingga dewasa dan tua.
	
	
	Dalam hal ini sangat penting artinya untuk meletakkan diagnosa yang tepat, sebab jika seorang penyandang Asperger hanya dianggap sebagai anak cerdas istimewa yang aneh dan terlalu sensitif, maka ia artinya tidak akan mendapatkan terapi yang tepat bagi masalah gangguan autismenya. Sebaliknya, jika seorang anak cerdas istimewa mendapatkan diagnosa Asperger, maka ia akan mendapatkan salah penempatan dalam pendidikannya, disamping juga mendapatkan berbagai terapi autisme yang sebetulnya tidak dibutuhkannya.
	
	Nasihat Webb dkk (2005) ada dua kunci yang terpenting bagaimana agar kita dapat membedakan antara Asperger dan cerdas istimewa:
	
	1. Amati dan lakukan pemeriksaan dengan teliti pada perilaku anak saat mana ia melakukan berbagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada teman-teman sebayanya.
	Pada anak Asperger akan menunjukkan perilaku dimana ia mengalami kesulitan membangun kontak sosial dengan cara menarik perhatian teman sebayanya agar mendengarkan dan tertarik pada objek cerita yang disampaikannya. Cara penyampaiannya dengan cara yang kenakakan (terasa kurang matang), serta monoton. Ia akan bercerita terus tanpa memperhatikan apakah orang lain sudah bosan. Objek yang dibicarakannya juga seringkali tidak pada hal-hal yang bersifat sosial, misalnya tentang bermacam-macam mesin cuci, tentang planet, atau dinosaurus. Sebaliknya pada anak cerdas istimewa walau kadang membosankan namun ia juga mempunyai minat pada masalah budaya ataupun masalah kemanusiaan dan politik. Ia juga mencoba agar orang lain tertarik dengan apa yang dibicarakannya. Ia mengajak orang lain untuk memahami apa yang dipikirkannya. Pada kelompok Asperger tidak, karena ia sendiri karena keterbatasannya pada kemampuan berbahasa simbolik maka ia kesulitan membaca pikiran orang lain, sehingga ia juga mengalami kesulitan bagaimana agar orang lain tertarik pada apa yang menjadi pikirannya. Ia akan berbicara terus menerus tanpa menghiraukan apakah orang lain bosan apa tidak.
	2. Amati dan periksa baik-baik pada waktu berbagi ilmu pengetahuan itu, apakah anak mempunyai intuisi untuk melihat orang lain dan juga apakah orang lain melihat pada dirinya.
	Seorang anak cerdas istimewa pada dasarnya mempunyai intuisi yang tajam terhadap situsai sosial dan selalu ingin tahu apakah orang lain melihat dirinya atau tidak; sedang pada anak dengan Asperger Syndrome tidak mempunyai intuisi seperti ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang anak cerdas istimewa selalu sadar bahwa dirinya berada di tengah orang banyak dan sering justru mengalami stress jika ia tidak mampu menyesuaikan diri di tengah orang banyak. Ia sangat sensitif terhadap bagaimana pandangan orang lain. Anak cerdas istimewa bila mendapatkan teman yang seichwan, ia dapat berkomunikasi dengan baik dan akan terjadi komunikasi timbal balik yang bisa berisi muatan nuansa empathi dan emosi.
	
	Kenyataan di lapangan juga sering terjadi bahwa anak-anak cerdas istimewa yang mempunyai kepribadian menarik diri, seringkali menerima diagnosa sebagai penyandang autisme Asperger. Bukan berarti bahwa jika didapati seorang anak yang menarik diri dan mengalami kesulitan bersosialisasi artinya ia adalah penyandang autisme. Sebab gangguan bersosialisasi dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Pada autisme gangguan bersosialisasi pada dasarnya disebabkan karena adanya gangguan atau keterbatasan pada emosi sosial dan keterbatasan kemampuan memahami bahasa mimik.
	
	Dalam pendidikan, kesulitan anak autisme Asperger lebih disebabkan karena keterbatasannya dalam kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir analisa dan pemecahan masalah, hal-hal yang abstrak, serta kemampuan berfantasi dan imajinasi. Hal itu jugalah yang menyebabkan keterbatasan pada pengembangan bidang minatannya. Dengan kata lain, bidang minatannya sangat sempit. Dalam situasi sosial ia juga sangat kesulitan dalam situasi yang tak terstruktur seperti misalnya di lapangan bermain saat keluar main, di mana di lapangan segala hal dapat saja terjadi tanpa diduga.
	
	Apabila kita mendapatkan anak kita mempunyai gejala-gejala yang tidak cocok sebaliknya sebagiannya juga cocok dengan baik gejala anak cerdas istimewa, dan juga penyandang Asperger, maka hal ini perlu diadakan pengamatan yang dalam, secara multidisiplin dalam berbagai bidang keilmuan terutama neurologi, psikatri psikologi, dan oryhopedagogi. Diharapkan semua profesi juga memahami masalah baik pada anak cerdas istimewa maupun pada anak autisme. Dalam hal ini bila mendapatkan anak dengan diagnosa Asperger dan kita ragu-ragu akan diagnosa tersebut, Web dkk (2005) juga memberikan beberapa beberapa butir dalam daftar di bawah ini (gejala di bawah ini adalah gejala untuk seorang anak cerdas istimewa):
	- Menunjukkan adanya kemampuan hubungan interpersonal pada saat ia berbagi bidang minatnya.
	- Mempunyai pengetahuan yang sangat dalam dan intensif dalam bidang yang diminatinya, tetapi tanpa perilaku yang berkaitan dengan Asperger.
	- Akan sangat tertarik pada ide-ide yang abstrak, dalam situasi tak terstruktur, dan mampu membangun ide-ide yang inovatif.
	- Mempunyai gerakan-gerakan yang atipikal namun dalam kontrol dan kesadaran
	[2].
	- Mempunyai gerakan yang aneh yang lebih disebabkan karena stress atau pelepasan enerji.
	- Tidak mempunyai gangguan motorik.
	- Mempunyai intuisi untuk membangun kontak emosi dengan orang lain dan kontak interpersonal dengan orang lain.
	- Mempunyai emosi yang sesuai dengan topik pembicaraan.
	- Dapat menunjukkan empathi dan simpathi dalam berbagai situasi.
	- Gaya bicara dan humornya seringkali lebih mirip orang dewasa.
	- Memahami humor dan menggunakan humor dalam situasi sosial secara timbal balik, bukan hanya humor sepihak saja, bermain kata, dan searah.
	- Mempunyai kesadaran akan dirinya, dan sangat memahami apa akibat dari perilakunya terhadap orang lain bagi dirinya sendiri.
	- Sadar bila diamati orang lain, dan tahu bagaimana perilaku akan memberikan efek -- Dapat mentoleransi bila tiba-tiba ada perubahan, atau bersikap pasif terhadap perubahan itu.
	- Bisa memahami makna bahasa kiasan.
	- Mengalami kesulitan perhatian bila suatu ide datang dari orang lain, daripada bila datangnya dari pikirannya sendiri.
	
	Bacaan:
	Vermuelen, P (2002): Beter vroeg dan laat, beter laat dan nooit. De onderkenning van autisme bij normal tot hoogbegaafde personen, Vlaamse Dienst Autisme en Uitgeverij EPO, Berchem.
	
	Webb,JT; Armend,ER; Webb,NE;Goerss,J; Beljan,P; Olenchak,FR (2005): Misdiagnois and Dual Diagnosis of Gifted Children and Adults, Great Potential Pers,inc., Scottsdale, Arizona.
	
	
	
	[1] Artinya tidak semua anak yang mempunyai beberapa ciri autisme kemudian disebut sebagai PDDNOS, terutama pada kemampuan komunikasi yang non-verbal.
	[2] Gerakan atipikal atau kegiatan yang berulang-ulang pada anak gifted seringkali merupakan gerakan mencoba-coba &amp;ndash; seringkali salah diinterpretasi sebagai gerakan stereotipik dan repetitif pada autisme.
	
	diposkan oleh Julia van Tiel di blognya: http://gifted-disinkroni.blogspot.com</p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 13 May 2011 04:22:48 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/gifted-disinkroni-cerdas-istimewa-atau-autisme-asperger/</guid>
</item>
<item>
<title>Gangguan Spektrum Autisme</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/gangguan-spektrum-autisme/</link>
<description><![CDATA[ Gangguan pada perkembangan yang mengakibatkan anak (sejak lahir atau beberapa bulan setelah lahir) mengalami kelambatan dan penyimpangan dari pola perilaku normal pada 3 area perilaku:
	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Hubungan sosial dan interaksi.
	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bahasa dan komunikasi.
	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kegiatan dan minat.
	
	<strong>Penyebab:</strong>

	&amp;nbsp;

	1. Cedera otak di bagian yang berperan memroses informasi sosial atau area fusiform yaitu&amp;nbsp; area untuk bisa mempersepsi wajah. Pada anak normal yang diberi gambar wajah, respon pada area otak ini aktif. Sedangkan pada penyandang spektrum autisme, area ini pasif.

	2. Genetis yang menampilkan gejala-gejala:

	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tidak ada kontak mata.
	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Butuh kesamaan dan terstruktur (mengulang-ulang).
	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Resisten terhadap perubahan.
	
	<strong>Gejala pada bayi.</strong> Gejala ringan bisa dikenali. Gejala yang lebih berat bisa dikenali pada usia 18 bulan sampai 36 bulan. Itu sebabnya orang tua harus memantau sungguh-sungguh perubahan yang terjadi pada anak. Bila gejalanya sudah terlihat sejak usia 12 bulan atau kurang, bisa diambil tindakan untuk menguranginya.
	Gejala awal mudah diketahui karena tampak berbeda dengan bayi normal. Bayi&amp;nbsp; dengan spektrum autisme tampak manis, tenang dan tidak penuntut. Ia menarik diri, tidak mencari perhatian dan tidak bergerak untuk meraih mainan yang ada di dekatnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebanyakan orang tua salah memahami hal ini. Bayi dengan karakteristik seperti ini memang lebih mudah dirawat, tapi gejala ini perlu diwaspadai. Perhatikan tanda-tanda ini:
	&amp;bull;&amp;nbsp; Salah satu gejala awal adalah bila bayi tidak menatap mata Anda atau tidak mencari sumber suara saat namanya dipanggil.&amp;nbsp; &amp;nbsp;
	&amp;bull;&amp;nbsp; Tidak memberi respons senyum. &amp;nbsp;
	&amp;bull;&amp;nbsp; Tidak berekspresi terhadap apa yang Anda lakukan.
	&amp;bull;&amp;nbsp; Tidak berusaha bicara (babbling atau mendekut).
	&amp;bull;&amp;nbsp; Secara visual, bayi tidak tertarik pada apa pun yang melintas di depan matanya.
	
	<strong>Gejala pada batita: &amp;nbsp;</strong>
	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sulit menyampaikan kebutuhannya.
	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tiba-tiba berhenti untuk berusaha bicara.
	&amp;bull;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bermasalah dalam mengembangkan keterampilan bicaranya.
	
	<strong>Penyandang spektrum autisme mengalami masalah:</strong>
	1.<strong> Tidur.</strong> Biasanya insomnia. Itu sebabnya orang tua anak penyandang autisme biasanya kurang tidur.
	2. <strong>Makan. </strong>Masalah makan dan pencernaan sehingga orang tua cemas dibuatnya. Picky eater dan resisten dengan menu makanan baru. Orang tua harus dilatih mengelola perilaku ini untuk mengurangi stres di dalam keluarga.
	3. <strong>Penginderaan.</strong> Terjadi pelemahan pada pemrosesan inderawi seperti pencecap, penciuman, penglihatan dan pendengaran. Situasi ini kerap tidak terdeteksi, sehingga hanya bisa dilihat dari perilaku. Misalnya anak marah karena mencium sesuatu yang bagi orang lain&amp;nbsp; bukan masalah.
	
	<strong>Beberapa spektrum autisme</strong>

	&amp;nbsp;
<p>
	<strong>Autisme klasik,</strong> autisme dengan kesulitan interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal, berperilaku mengulang dan minat yang obsesif, misalnya berminat pada dinosaurus secara terus menerus dan selalu diulang-ulang.
	<strong>Sindroma asperger,</strong> berupa tertahannya keterampilan awal bicara dan perbendaharaan kata sangat terbatas. Seringkali punya minat terhadap topik tertentu dalam kurun waktu lama. Mereka biasa punya ritual yang terbatas, kesulitan dengan pergaulan dan canggung (clumsy).
	<strong>Gangguan integrasi,</strong> ditandai dengan perkembangan normal di awal-awal usianya, kemudian mengalami kehilangan yang sangat berarti di bidang keterampilan sosial, bahasa dan keterampilan fisik. Kadang-kadang juga menjadi retardasi mental.
	<strong>Sindroma Rett</strong>, berkaitan dengan kromosom X. Terjadi mutasi gen yang menyebabkan kematian pada bayi laki-laki saat lahir. Pada anak perempuan, awalnya berkembang normal sampai usia 18 bulan, kemudian mengalami kelambatan bahkan kemunduran, khususnya di bidang keterampilan bahasa dan penggunaan tangan. Terapi fisik, bicara dan pekerjaan bisa diberikan untuk membantu mengatasi masalah koordinasi, gerak dan bicara.
	<strong>Gangguan perkembangan,</strong> kondisi ini didiagnosa bila terdapat beberapa gejala autisme tetapi tidak terdapat gejala spesifik lainnya. Tipe ini merupakan tipe autisme yang lebih ringan dibanding autisme klasik.&amp;nbsp;</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 16:25:47 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/gangguan-spektrum-autisme/</guid>
</item>
<item>
<title>TERAPI AUTIS DI RUMAH: Tips Bepergian Dengan Anak Autis</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/terapi-autis-di-rumah-tips-bepergian-dengan-anak-autis/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Anak penderita autisme menyukai hal-hal yang rutin dan terstruktur. Karena itu, bepergian berarti mengganggu rutinitas mereka. Tak heran bila banyak orangtua yang memiliki anak autis menghindari acara bepergian. Padahal, dengan tips berikut, orangtua tetap bisa mengajak anak autis melakukan perjalanan jauh untuk liburan.</p>
<p>
	<b>1. Jelaskan tempat tujuan</b> Sebelum bepergian, jelaskan kepada anak tentang tempat tujuan yang akan didatangi. Demikian saran dari Daniel Openden, Direktur Southwest Autism Research and Resource Center, Phoenix, AS. &amp;quot;Tunjukkan foto atau film mengenai lokasi yang akan dikunjungi. Ceritakan pula alasan datang ke tempat tersebut dan kegiatan yang akan dilakukan di sana,&amp;quot; katanya. <b>2. Bepergian dengan pesawat</b> Jelaskan kepada awak pesawat mengenai kondisi anak Anda. Untuk mengusir rasa bosan di dalam pesawat, siapkan buku atau mainan untuk anak. Bawalah permen, terutama bila Anak tidak bisa berkomunikasi verbal dan tidak bisa mengungkapkan bila telinganya berdengung. <b>3. Menginap</b> Berencana untuk menginap di hotel selama liburan? Anda bisa mulai mengajarkan anak untuk menginap di tempat lain, bisa di rumah kerabat atau hotel di kota untuk satu malam agar anak terbiasa dengan suasana tidur yang lain. Agar anak tidak terlalu &amp;quot;kaget&amp;quot; dengan suasana baru, bawalah bantal atau selimut yang biasa dipakainya. <b>4. Keamanan</b> Untuk berjaga-jaga, kenakan tanda pengenal yang berisi data diri dan nomor telepon Anda. Bawalah juga foto anak untuk ditunjukkan pada polisi bila si kecil terpisah dari Anda. <b>5. Sesuaikan minat anak</b> Agar si kecil menikmati perjalanannya, ajak ia mengunjungi tempat-tempat yang sesuai dengan minatnya. Misalnya ke Sea World bila ia tertarik pada hewan laut atau ke kolam renang bila ia suka berenang. Hindari jadwal yang terlalu padat, luangkan waktu agar anak bisa bermain-main di kamar hotel agar si kecil tak terlalu lelah. sumber: Kompas.com</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 12:45:54 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/terapi-autis-di-rumah-tips-bepergian-dengan-anak-autis/</guid>
</item>
<item>
<title>STOP! Penyalahgunaan kata Autis/Autisme</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/stop-penyalahgunaan-kata-autisautisme/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Di era tahun 1990-an, kata &amp;quot;Autisme&amp;quot; masih merupakan suatu kata yang belum begitu dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia, kecuali orang tua yang dianugerahi anak penyandang autisme. Karena kurangnya informasi, kebanyakan orang lalu hanya mengira-ngira sendiri, misalnya autisme adalah suatu penyakit menular, mengerikan, atau autisme itu sama dengan down syndrome. Saat itu hanya ada satu Yayasan yang didirikan oleh sekelompok dokter dan orang tua anak penyandang ASD, yaitu Yayasan Autisma Indonesia di Jakarta yang membuat berbagai aktivitas dalam rangka peduli autisme. Media pun tidak banyak meliput dan membahas masalah autisme secara mendalam apalagi tuntas.
	
	
	Informasi Autisme sebenarnya sudah banyak tersedia di internet dan buku-buku tapi kebanyakan menggunakan bahasa Inggris. Oleh karena itu lah kami merasa sangat tergugah untuk menyediakan informasi seputar autisme dan permasalahannya dalam bahasa Indonesia via dunia maya yang bisa mencapai tidak hanya di Jakarta (satu kota) tapi bisa menembus ke seluruh pelosok Indonesia.
	
	
	Lain tahun 1990-an lain pula era tahun 2000-an. Sejak tahun 2000, era internet pun muncul dan banyak orang tua yang &amp;quot;melek&amp;quot; teknologi dan kemudian mencari informasi via internet. Situs kami mendapat banyak pengunjung yang kemudian bergabung dalam fasilitas mailing list yang kami sediakan. Mulai lah beberapa orang tua baik secara perorangan maupun kelompok mengadakan berbagai kegiatan Autism Awareness di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan beberapa kota lain. Kemudian banyak sekali bermunculan yayasan, pusat terapi dan blog-blog pribadi yang membahas tentang Autisme, baik yang sekedar sharing pengalaman dengan anak sendiri maupun menyediakan informasi lengkap. Media pun mulai tertarik meliput berita seputar Autisme.
	
	
	Sebagai hasilnya sedikit demi sedikit masyarakat mulai menyadari kehadiran anak autistik yang &amp;quot;berbeda&amp;quot; dengan anak-anak lain. Kata &amp;quot;Autis/Autisme&amp;quot; pun mulai bermunculan di Media cetak maupun elektronik. Tapi sayang sekali, yang kami amati, kata &amp;quot;Autis/Autisme&amp;quot; kemudian mulai dipakai oleh berbagai pihak baik oleh para aktivis, akademisi maupun artis televisi dalam konotasi yang negatif. Beberapa artis mulai menggunakan kalimat &amp;quot;dasar autis loe.....&amp;quot; sebagai bahan lelucon di berbagai tayangan di televisi.
	Beberapa aktivis dan akademisi juga mulai menggunakan kata Autisme untuk menganalogikan ketidakberesan pemerintah dan partai politik.
	
	
	Tulisan-tulisan tersebut tentu saja membuat kaget dan sedih komunitas Autisme khususnya komunitas Puterakembara. Beberapa rekan milis termasuk saya sudah menyampaikan kesedihan kami pada penulis langsung, dan sangat menghimbau agar di masa yang akan datang beliau-beliau bisa mengganti kata Autisme dengan kata lain yang mungkin tidak akan menyinggung perasaan komunitas manapun.
	
	
	Para penulis biasanya mengerti dan bereaksi positif, meminta maaf sambil tentunya membela diri sedikit :) dan mengajukan beberapa alibi kenapa mereka menggunakan kata Autisme sebagai analogi. Intinya menurut pengakuan mereka, tidak bermaksud menghina ataupun merendahkan anak penyandang autis maupun komunitas autisme. Biasanya, dengan lapang dada dan keikhlasan komunitas kami menerima pernyataan maaf tersebut.
	
	
	Sebenarnya, kami menyadari sepenuhnya bahwa kata Autisme bukanlah milik kami. Kami mengerti bahwa peminjaman istilah, konsep atau gejala (analogi dan metafor) dari satu bidang ke bidang lain, dalam hal ini dari medis atau psikologis ke sosial politik adalah hal yang biasa dalam berbahasa.
	
	
	Yang membuat komunitas kami &amp;quot;keberatan&amp;quot; atas pemakaian analogi tersebut, bukan karena masalah biasa atau tidak biasa, wajar atau tidak wajar, bukan juga masalah sensitivitas perasaan kami sebagai orang tua, tapi lebih ke arah pemikiran akan &amp;quot;dampak negatif&amp;quot; yang akan timbul di masyarakat untuk masa mendatang terutama bagi kehidupan masa depan anak-anak kami.
	
	
	Sebagai moderator mailing list selama bertahun-tahun, saya tahu benar bahwa selama ini orang tua berjuang habis-habisan demi membantu anak-anak kami berkembang menjadi pribadi yang mandiri, punya empati, sekaligus tahu norma dan aturan.
	
	
	Komunitas kami juga berjuang melakukan kegiatan Kampanye Peduli Autisme dengan harapan agar anak/individu autistik dapat diterima oleh masyarakat sebagai suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat umumnya. Kami bersusah payah melakukan usaha sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat agar dapat menerima anak/individu autistik apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan tidak menjadikan kondisi Autisme sebagai bahan olok-olok.
	
	
	Akhir-akhir ini malah ada laporan dari beberapa orang tua tentang kecenderungan penggunaan kata &amp;quot;Autis&amp;quot; sebagai bahan olok-olok di kalangan BlackBerry mania. Orang tua tentu saja merasakan kegundahan bahkan sakit hati. Kalau ditanyakan pada BB-Mania, mungkin saja mereka akan cepat menjawab tidak bermaksud menghina ataupun melecehkan para penyandang autis, mereka hanya membuat suatu &amp;quot;lelucon&amp;quot;. Tapi kalau mereka melakukannya untuk make fun, bukankah itu suatu pelecehan juga? Menurut saya, kalau orang normal dengan sengaja dan sadar melakukan imitasi yang memperjelas &amp;quot;kekurangan&amp;quot; seseorang, itu merupakan suatu penghinaan (offensive).
	
	
	Di bawah ini adalah beberapa kasus / tulisan:
	
	
	<font style="color: rgb(204, 0, 102);">1. Tanggal 2 Mei 2003, Prof. Mohamad Soerjani, staff Institute for Environmental Education and Development, di Harian Sinar Harapan. Tulisan berjudul &amp;quot;Autisme Sosial: &amp;quot;Penyakit&amp;quot; Ketidakpedulian di Kalangan Masyarakat&amp;quot;.
	
	
	2. Tanggal 22 April 2005, Bapak Dedi Haryadi, aktifis LSM Bandung Institute of Governance Studies/BIGS, di Harian Pikiran Rakyat. Tulisan berjudul &amp;quot;Parpol dan Parlemen yang Autis&amp;quot;.
	
	
	3. Tanggal 21 April 2008, Bapak Bima Arya Sugiarto, Direktur Eksekutif The Lead Institute Universitas Paramadina di Harian Kompas. Tulisan berjudul &amp;quot;Parpol Idap Autisme Sosial&amp;quot;.
	
	
	4. Tanggal 18 Agustus 2008, Bapak Hisyam Haikal, di Surat Pembaca Detik.com. Tulisan berjudul &amp;quot;Autisme melanda seluruh negeri&amp;quot;.
	
	
	5. Istilah Autis yang mulai populer di kalangan pengguna Blackberry (BB Mania) untuk menggambarkan keasyikan mereka kalau sedang menggunakan BB.</font></p>
<p>
	<font style="color: rgb(204, 0, 102);">6. Iklan Indosat di Harian KOMPAS tanggal 26 April 2009 halaman 17 yang berbunyi: &amp;quot;Sejak memakai Blackberry saya jadi suka autis. Namun ternyata menjadi &amp;#39;autis&amp;#39; itu sangat menyenangkan. Terima kasih kepada PT Indosat yang telah memberikan saya kesempatan menikmati BlackBerry Storm&amp;quot; --Marcel(artist)</font>
	
	
	
	Harapan kami, dengan himbauan ini mudah-mudahan tidak akan ada lagi yang menggunakan kata atau kondisi Autisme sebagai analogi dalam konotasi negatif untuk konsumsi publik di Media manapun. Dan kami akan terus konsisten melakukan surat himbauan semacam ini pada siapapun yang menggunakan kata &amp;quot;Autisme&amp;quot; sebagai analogi dalam konotasi negatif.
	
	
	Sebagai mahluk ciptaan Tuhan, kami selalu berpendapat bahwa masing-masing individu pasti mempunyai sisi kelemahan sekaligus kelebihan, begitu juga anak/individu penyandang autistik ataupun anak berkebutuhan khusus lainnya, dan itu semua patut kita terima sekaligus hargai.
	
	
	Semoga Tuhan selalu memberi kekuatan pada orang tua yang dianugerahi anak penyandang spektrum Autisme.
	
	
	Terima kasih atas perhatian Anda.
	
	
	Salam Penuh Empati,
	
	Atas nama Komunitas Autisme Puterakembara
	Leny Marijani
	
	24 Agustus 2008
	
	(edited 27 April 2009)</p>
<p>
	Sumber: http://putrakembara.org</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 07:54:59 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/stop-penyalahgunaan-kata-autisautisme/</guid>
</item>
<item>
<title>Mitos Tentang Autisme</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/mitos-tentang-autisme/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
		<font size="2"><strong>Mitos:</strong> Semua anak dengan autisme memiliki kesulitan belajar.
		
		<strong>Fakta:</strong> Autisme memiliki manifestasi yang berbeda pada setiap orang. Simtom gangguan ini dapat bervariasi secara signifikan dan meski beberapa anak memiliki kesulitan belajar yang berat, beberapa anak lain dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan mampu menyelesaikan materi pembelajaran yang sulit, seperti persoalan matematika. Contohnya, anak dengan sindrom Asperger biasanya berhasil di sekolah dan dapat menjadi mandiri ketika ia dewasa. </font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		
		<font size="2"><strong>Mitos:</strong> Anak dengan autisme tidak pernah melakukan kontak mata.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2"><strong>Fakta:</strong> Banyak anak dengan autisme mampu melakukan kontak mata. Kontak mata yang dilakukan mungkin lebih singkat durasinya atau berbeda dari anak normal, tetapi mereka mampu melihat orang lain, tersenyum dan mengekspresikan banyak komunikasi nonverbal lainnya. </font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		
		<font size="2"><strong>Mitos:</strong> Anak dengan autisme sulit melakukan komunikasi secara verbal.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2"><strong>Fakta:</strong> Banyak anak dengan autisme mampu mengembangkan kemampuan berbahasa yang fungsional. Mereka mengembangkan beberapa keterampilan berkomunikasi, seperti dengan menggunakan bahasa isyarat, gambar, komputer, atau peralatan elektronik lainnya.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2">&amp;nbsp;
		<strong>Mitos:</strong> Anak dengan autisme tidak dapat menunjukkan afeksi.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2"><strong>Fakta:</strong> Salah satu mitos tentang autisme yang paling menyedihkan adalah miskonsepsi bahwa anak dengan autisme tidak dapat memberi dan menerima afeksi dan kasih sayang. Stimulasi sensoris diproses secara berbeda oleh beberapa anak dengan autisme, menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam menunjukkan afeksi dalam cara yang konvensional. Memberi dan menerima kasih sayang dari seorang anak dengan autisme akan membutuhkan penerimaan untuk menerima dan memberi kasih sayang sesuai dengan konsep dan cara anak. </font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2">Orang tua terkadang merasa sulit untuk berkomunikasi hingga anak mau mulai membangun hubungan yang lebih dalam. Keluarga dan teman mungkin tidak memahami kecenderungan anak untuk sendiri, tetapi dapat belajar untuk menghargai dan menghormati kapasitas anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain. </font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		
		<font size="2"><strong>Mitos:</strong> Anak dan orang dewasa dengan autisme lebih senang sendirian dan menutup diri serta tidak peduli dengan orang lain.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2"><strong>Fakta:</strong> Anak dan orang dewasa dengan autisme pada dasarnya ingin berinteraksi secara sosial tetapi kurang mampu mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang efektif. Mereka sering kali sangat peduli tetapi kurang mampu untuk menunjukkan tingkah laku sosial dan berempati secara spontan. </font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		
		<font size="2"><strong>Mitos:</strong> Anak dan orang dewasa dengan autisme tidak dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2"><strong>Fakta:</strong> Anak dan orang dewasa dengan autisme dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi jika mereka menerima pelatihan yang dikhususkan untuk mereka. Keterampilan bersosialisasi pada anak dan orang dewasa dengan autisme tidak berkembang dengan sendirinya karena pengalaman hidup sehari-hari.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		
		<font size="2"><strong>Mitos:</strong> Autisme hanya sebuah fase kehidupan, anak-anak akan melaluinya.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2"><strong>Fakta: </strong>Anak dengan autisme tidak dapat sembuh. Meski demikian, banyak anak dengan simtom autisme yang ringan, seperti sindrom Asperger, dapat hidup mandiri dengan dukungan dan pendidikan yang tepat. Anak-anak lain dengan simtom yang lebih berat akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan, serta tidak dapat hidup mandiri sepenuhnya. </font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2">Hal itu menyebabkan kekhawatiran bagi sebagian orang tua, terutama ketika mereka menyadari bahwa mereka mungkin tidak dapat mendampingi anak memasuki masa dewasanya. Oleh karena itu, anak dengan autisme membutuhkan bantuan.</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		<font size="2">Untuk itu, diperlukan suatu diagnosis yang tepat dan benar untuk seorang anak dikatakan sebagai autisme. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, anak tersebut dapat melakukan suatu terapi. Anak dengan autisme dapat dibantu dengan memberikan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah dengan terapi okupasi. (Dedy Suhaeri/&amp;quot;PR&amp;quot;/Winny Soenaryo, M.A., O.T.R./L. Pediatric Occupational Therapist)***</font></p>
	<p style="text-align: justify;">
		Sumber: http://autis.info</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 07:46:42 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/mitos-tentang-autisme/</guid>
</item>
<item>
<title>Terapi Makanan Pada Gangguan Autisme</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/terapi-makanan-pada-gangguan-autisme/</link>
<description><![CDATA[ <p class="MsoNormal">
	<strong><span style="font-size: 14pt; color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;">Terapi Diet pada Gangguan Autisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">
	Sampai saat ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme. Seperti diketahui gejala yang timbul pada anak dengan gangguan autisme sangat bervariasi, oleh karena itu terapinya sangat individual tergantung keadaan dan gejala yang timbul, tidak bisa diseragamkan. Namun akan sulit sekali membuat pedoman diet yang sifatnya sangat individual. Perlu diperhatikan bahwa anak dengan gangguan autisme umumnya sangat alergi terhadap beberapa makanan. Pengalaman dan perhatian orangtua dalam mengatur makanan dan mengamati gejala yang timbul akibat makanan tertentu sangat bermanfaat dalam terapi selanjutnya. Terapi diet disesuaikan dengan gejala utama yang timbul pada anak. Berikut beberapa contoh diet anak autisme.</p>
<p class="MsoNormal">
	<strong><span style="font-family: Arial;">1. Diet tanpa gluten dan tanpa kasein</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">
	Berbagai diet sering direkomendasikan untuk anak dengan gangguan autisme. Pada umumnya, orangtua mulai dengan diet tanpa gluten dan kasein, yang berarti menghindari makanan dan minuman yang mengandung gluten dan kasein.</p>
<p class="MsoNormal">
	Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga &amp;ldquo;rumput&amp;rdquo; seperti gandung/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan sejenis, sedangkan kasein adalah protein susu. Pada orang sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan masalah yang serius/memicu timbulnya gejala. Pada umumnya, diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten. Beberapa contoh resep masakan yang terdapat pada situs Autis.info ini diutamakan pada menu diet tanpa gluten dan tanpa kasein. Bila anak ternyata ada gangguan lain, maka tinggal menyesuaikan resep masakan tersebut dengan mengganti bahan makanan yang dianjurkan. Perbaikan/penurunan gejala autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 1-3 minggu. Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan, berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal">
	<span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><strong>Makanan yang dihindari adalah :</strong></span></p>

	<span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><span style="font-size: 14pt; color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><a class="highslide" href="http://www.autis.info/images/stories/autisme/makanan-no.png"> <img src="http://www.autis.info/images/stories/thumbs/L2hvbWUvYXV0aXNpbmYvcHVibGljX2h0bWwvaW1hZ2VzL3N0b3JpZXMvYXV0aXNtZS9tYWthbmFuLW5vLnBuZw==.jpg" style="; border: 0px;" alt="image" /></a> </span></span>
<ul style="margin-top: 0cm;">
	<li class="MsoNormal">
		<span><font color="#333333">Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-kue, cake, biscuit, kue kering, pizza, macaroni, spageti, tepung bumbu, dan sebagainya. </font></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><font color="#333333">Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya. </font></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><font color="#333333">Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya misalnya, es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan campuran susu. </font></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><font color="#333333">Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, nugget, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi terhadap jamur karena pembuatan tempe menggunakan fermentasi ragi. </font></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><font color="#333333">Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng.</font></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><strong>Makanan yang dianjurkan adalah :</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
	&amp;nbsp;</p>

	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><a class="highslide" href="http://www.autis.info/images/stories/autisme/makanan-ok.png"> <img src="http://www.autis.info/images/stories/thumbs/L2hvbWUvYXV0aXNpbmYvcHVibGljX2h0bWwvaW1hZ2VzL3N0b3JpZXMvYXV0aXNtZS9tYWthbmFuLW9rLnBuZw==.jpg" style="; border: 0px;" alt="image" /></a> </span></span>
<ul style="margin-top: 0cm;">
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacang-kacangan lainnya. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagainya. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Buah-buahan segar seperti anggur, apel, papaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya.</font></span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
	
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><span style="font-family: Arial;"><strong><font color="#333333">2. Diet anti-yeast/ragi/jamur</font></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Diet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi jamur/yeast. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pertumbuhan jamur erat kaitannya dengan gula, maka makanan yang diberikan tanpa menggunakan gula, yeast, dan jamur.</font></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><strong><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;">Makanan yang perlu dihindari adalah :</span></strong></span></span></p>
<ul style="margin-top: 0cm;">
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Roti, pastry, biscuit, kue-kue dan makanan sejenis roti, yang menggunakan gula dan yeast. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Semua jenis keju. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Daging, ikan atau ayam olahan seperti daging asap, sosis, hotdog, kornet, dan lain-lain. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Macam-macam saus (saus tomat, saus cabai), bumbu/rempah, mustard, monosodium glutamate, macam-macam kecap, macam-macam acar (timun, bawang, zaitun) atau makanan yang menggunakan cuka, mayonnaise, atau salad dressing. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang, dan lain-lain. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Sisa makanan juga tidak boleh diberikan karena jamur dapat tumbuh dengan cepat pada sisa makanan tersebut, kecuali disimpan dalam lemari es.</font></span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Makanan tersebut dianjurkan untuk dihindari 1-2 minggu. Setelah itu, untuk mencobanya biasanya diberikan satu per satu. Bila tidak menimbulkan gejala, berarti dapat dikonsumsi.</font></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><strong><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;">Makanan yang dianjurkan adalah :</span></strong></span></span></p>
<ul style="margin-top: 0cm;">
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepaung yang bukan tepung terigu. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, udang dan hasil laut lain yang segar. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almod, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lain-lain. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Buah-buahan segar dalam jumlah terbatas.</font></span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal">
	
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><strong><span style="font-family: Arial;"><font color="#333333">3. Diet untuk alergi dan inteloransi makanan</font></span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Anak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering menimbulkan alergi adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat, gandum/terigu, dan bias lebih banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan, pertama-tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus dihindarkan. Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak, makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit.</font></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
	
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><strong><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;">Cara mengatur makanan secara umum</span></strong></span></span></p>
<ol style="margin-top: 0cm;">
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Berikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat disbanding gula/sukrosa. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Cukup mengonsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet). </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitmin C, seng, dan magnesium). </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan. </font></span></span></li>
	<li class="MsoNormal">
		<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><font color="#333333">Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar.</font></span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal">
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;">&amp;nbsp;</span></span></p>
<p class="MsoNormal">
	<span><span style="color: rgb(255, 102, 0); font-family: Arial;"><em>Sumber : Terapi Makanan Anak Dengan Gangguan Autisme
	Penulis : Tuti Soenardi, Susirah Soetardjo
	Penerbit : PT. Penerbitan Sarana Bobo</em></span></span></p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 07:38:10 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/terapi-makanan-pada-gangguan-autisme/</guid>
</item>
<item>
<title>Deteksi Dini Autisme</title>
<link>http://bundazone.com/autisma/deteksi-dini-autisme/</link>
<description><![CDATA[ Bila gejala autisme dapat dideteksi sejak dini dan kemudian dilakukan penanganan yang tepat dan intensif, kita dapat membantu anak autis untuk berkembang secara optimal.

	Untuk dapat mengetahui gejala autisme sejak dini, telah dikembangkan suatu checklist yang dinamakan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers). Berikut adalah pertanyaan penting bagi orangtua:
<p>
	1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Apakah anak anda tertarik pada anak-anak lain?
	2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Apakah anak anda dapat menunjuk untuk memberitahu ketertarikannya pada sesuatu?
	3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Apakah anak anda pernah membawa suatu benda untuk diperlihatkan pada orangtua?
	4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Apakah anak anda dapat meniru tingkah laku anda?
	5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Apakah anak anda berespon bila dipanggil namanya?</p>


	6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bila anda menunjuk mainan dari jarak jauh, apakah anak anda akan melihat ke arah mainan tersebut?


	Bila jawaban anda TIDAK pada 2 pertanyaan atau lebih, maka anda sebaiknya berkonsultasi dengan profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme. ]]></description>
<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 07:33:40 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/autisma/deteksi-dini-autisme/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
