<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in course n club</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 11:54:43 +0700</pubDate>
<item>
<title>Kelas Musik untuk  Anak Berkebutuhan Khusus</title>
<link>http://bundazone.com/course-n-club/kelas-musik-untuk-anak-berkebutuhan-khusus/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Kawai mengadakan kelas khusus/ privat yang dipriotaskan bagi anak dan dewasa yang berkebutuhan khusus (special need). Materi pembelajarannya dikemas dalam sebuah metode khusus. Setiap siswa diharapkan mampu bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik dari segi motorik, emosi, konsentrasi, sikap, perilaku serta penguasaan diri, sehingga siswa dapat menjadi pribadi yang mandiri, bahkan mampu berkarya melalui ketrampilan khusus dibidang seni musik.
	
	Dengan menggunakan beberapa metode seperti mendengar, bernyanyi, gerak dan lagu, mengenal irama, memainkan instrumen musik antara lain perkusi, piano, keyboard, drum, gitar, guzheng, biola, vokal dan fun karaoke. Siswa akan merasa gembira dan percaya diri (Hati yang gembira adalah obat).
	
	Para pengajar didampingi oleh orthopedagog dalam memantau perkembangan setiap siswa.
	
	Siswa juga menerima evaluasi tertulis secara berkala dan bagi yang memiliki kemampuan serta standar cukup akan diikutsertakan dalam program reguler / ujian umum.
	
	Kegiatan siswa meliputi konser, festival, gathering yang diadakan didalam dan diluar sekolah secara berkala.</p>
<p>
	Informasi selanjutnya mengenai kelas reguler, special dan intervention program, silakan berkunjung ke http://modernkawai.com</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 30 Apr 2011 14:01:07 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/course-n-club/kelas-musik-untuk-anak-berkebutuhan-khusus/</guid>
</item>
<item>
<title>Mimisan Pada Anak</title>
<link>http://bundazone.com/course-n-club/mimisan-pada-anak/</link>
<description><![CDATA[ Mimisan atau dalam bahasa kedokteran biasa disebut epistaksis adalah satu keadaan pendarahan dari hidung yang keluar melalui lubang hidung. Pendarahan hidung terjadi akibat lepasnya lapisan mukosa hidung yang mengandung banyak pembuluh darah kecil. Secara umum, mimisan terjadi akibat pembuluh darah yang pecah di daerah hidung bagian tengah, namanya pleksus kieselbach. Pembuluh darah ini merupakan anyaman jaringan pembuluh darah yang sangat halus dan tipis.
	Mimisan yang kerap terjadi pada anak, biasanya tidak berbahaya selama anak terlihat sehat, aktif bergerak dan tidak disertai gejala demam.
	<p>
		<b>Penyebab Mimisan :
		</b></p>


	&amp;nbsp;

	<b>Pembuluh darah pecah&amp;nbsp;&amp;nbsp;</b>

	Secara umum, mimisan terjadi akibat pembuluh darah yang pecah di daerah hidung bagian tengah, bernama pleksus kieselbach. Pembuluh darah ini merupakan anyaman jaringan pembuluh darah yang sangat halus dan tipis. Pada anak-anak, pembuluh darah ini mudah berdarah terutama kalau ada infeksi di daerah hidung. Akibat infeksi, pembuluh darah yang tipis tersebut akan melebar dan kalau tersenggol sedikit saja akan mudah pecah.

	&amp;nbsp;

	<b>Selaput Lendir dan pembuluh darah tipis &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;</b>&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;

	Mimisan pada anak terjadi karena selaput lendir dan pembuluh darah anak masih tipis dan sensitif, sehingga saat ada faktor pencetus seperti udara dingin, panas yang terik atau trauma ringan (mengorek hidung, jatuh, terpukul, benda asing di hidung), darah pun langsung mengucur keluar. Biasanya terjadinya pun umumnya spontan, ringan, dan mudah berhenti.

	&amp;nbsp;

	<b>Infeksi</b>

	mimisan terjadi karena ada infeksi, terutama di daerah hidung, misalnya infeksi sinus yang mengakibatkan pembuluh darah melebar. Untuk meyakinkan, biasanya dilakukan foto sinus. Umumnya, darah akan keluar dari hidung, tetapi, terkadang darah tidak keluar dari hidung, melainkan tertelan ke tenggorokan.

	&amp;nbsp;

	<b>Alergi</b>

	Tidak sampai di situ saja, mimisan juga bisa terjadi karena alergi, yang biasa terjadi pada anak usia empat tahun. Biasanya disertai pilek kental dan lama, terkadang juga disertai batuk berdahak dan napas berbau. Ada juga mimisan yang berkaitan dengan gender, meski sangat jarang terjadi
	<p>
		Gangguan mimisan umumnya berkurang sesuai dengan pertambahan usia. Semakin tambah usia, pembuluh darah dan selaput lendir di hidung sudah semakin kuat, hingga tak mudah berdarah. Meski mayoritas kasus mimisan tidak berbahaya, orangtua hendaknya waspada jika frekuensi mimisan itu cukup sering, sekitar 1-2 hari, karena ada kemungkinan si kecil mengidap penyakit berbahaya, yaitu seperti penyakit seperti ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura), demam berdarah,leukemia, talasemia berat, atau hemofili, bisa juga menunjukkan gejala mimisan. Kadar trombosit yang rendah bisa pula menyebabkan pendarahan di hidung. Anak hemofili bisa saja memiliki kadar trombosit yang normal, tapi faktor pembekuan darah yang rendah sehingga penderita sering mengalami pendarahan.</p>
	<p>
		<b>Pertolongan pertama saat mimisan</b> :</p>
	<ul>
		<li>
			Duduk sedikit membungkuk ke depan dan bernafas melalui mulut. (bila tidur terlentang, aliran darah ke hidung bertambah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; deras dan darah dapat tertelan)</li>
	</ul>
	<ul>
		<li>
			Tekan bagian depan cuping hidung selam 5 menit dan kompres dingin/es pada tulang hidung</li>
	</ul>
	<ul>
		<li>
			Bila setelah 5 menit masih tetap berdarah, bawalah ke dokter atau unit gawat darurat RS</li>
	</ul>
	<p>
		
		<b>Cara Mengatasi Mimisan</b> :
		Selain menggunakan obat - obatan dari dokter untuk memperkuat selaput lendir dan pembuluh darah di hidung pada anak, ada beberapa cara tradisional untuk mengatasi mimisan, yaitu :</p>
	<p>
		<b>Daun sirih</b>
		Secara tradisional, orang Indonesia spontan akan menggulung selembar daun sirih (piper betle lynn) dan memasukkannya ke hidung bocah untuk menyumbat darah yang keluar akibat mimisan. Dalam sekejap, aliran darah dari hidung itu pun berhenti. Hal itu terjadi, antara lain, karena daun sirih mengandung styptic yang bisa menahan perdarahan. Sedangkan seluruh tumbuhan sirih mengandung arecoline yang bisa merangsang saraf pusat, meningkatkan daya pikir, gerakan peristaltik, dan meredakan dengkuran. Daun sirih mengandung banyak jaringan yang berisi kelenjar minyak aetheris atau minyak terbang. Minyak yang bisa diperoleh dengan cara menyuling ini terutama mengandung senyawa chavicol dan fenol. Karena itu, minyak sirih sangat berguna untuk mengobati batuk dan radang selaput lendir tenggorokan.
		
		<b> Akupuntur</b>
		Akupunktur berperan lebih mencegah terjadinya mimisan pada anak yang sering mimisan. Akupunktur meredakan &amp;ldquo;api&amp;rdquo;&amp;nbsp; dan mendinginkan &amp;ldquo;panas&amp;rdquo; yang berlebih sehingga aliran darah di hidung &amp;ldquo;tenang&amp;rdquo;, memperkuat kapiler di hidung sehingga tidak terjadi mimisan lagi. Pengobatan akupuntur dilakukan seminggu dua kali sebanyak 6-10 kali. Akupunktur memberi hasil terapi yang sangat baik pada kasus mimisan anak.</p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 00:13:20 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/course-n-club/mimisan-pada-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Kapan Anak Belajar Bahasa Inggris?</title>
<link>http://bundazone.com/course-n-club/kapan-anak-belajar-bahasa-inggris/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Ada anggapan, semakin muda usia semakin mudah anak belajar bahasa daripada orang dewasa. Ada pula yang berpendapat, belajar bahasa asing sejak dini bukan jaminan. Sementara yang lain bilang, keberhasilan belajar bahasa asing sangat ditentukan oleh motif atau kebutuhan berkomunikasi dalam lingkungannya. Mana yang benar? E. Kosasih, mahasiswa Pengajaran Bahasa pada Program Pascasarjana IKIP Bandung, dan wartawan Intisari A. Hery Suyono menuturkannya berikut ini.
	
	Belakangan ini aneka kursus bahasa asing, terutama Inggris, kian semarak. Tidak hanya untuk orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Lembaga persekolahan pun tak mau ketinggalan zaman. Pengajaran bahasa Inggris yang semula hanya dikenal di tingkat SMTP, kini diberikan kepada siswa SD, bahkan murid Sekolah Taman Kanak-Kanak.
	
	Fenomena seperti itu antara lain terpacu oleh obsesi orang tua yang menghendaki anaknya cepat bisa berbahasa asing. Mereka berpandangan, semakin dini anak belajar bahasa asing, semakin mudah ia menguasai bahasa itu.
	Lalu, bagaimana pendapat para pakar bahasa?</p>
<p style="text-align:justify;">
	<strong><span style="font-family:Arial;color:black;">Masa emas <span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span> <span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></span></strong>
	<span style="font-family:Arial;color:black;"> Beberapa pakar <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> mendukung pandangan &amp;ldquo;semakin dini anak <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing, semakin mudah anak menguasai <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> itu&amp;rdquo;. Misalnya, McLaughlin dan </span><span style="font-family:Arial;color:black;">Genesee</span><span style="font-family:Arial;color:black;"> menyatakan bahwa anak-anak lebih cepat memperoleh <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> tanpa banyak kesukaran dibandingkan dengan orang dewasa.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Demikian pula Eric H. Lennenberg, ahli neurologi, berpendapat bahwa sebelum masa pubertas, daya pikir (otak) anak lebih lentur. Makanya, ia lebih mudah <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong>. Sedangkan sesudahnya akan makin berkurang dan pencapaiannya pun tidak maksimal.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Dr. Bambang Kaswanti Purwo, ketua Program Studi Linguistik Terapan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">Bahasa</span></strong> <strong><span style="background:#99ff99 none repeat scroll 0 50%;">Inggris</span></strong>, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, dalam tulisannya Pangajaran <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">Bahasa</span></strong> <strong><span style="background:#99ff99 none repeat scroll 0 50%;">Inggris</span></strong> di SD dan SMTP, menyebut bahwa usia 6 &amp;ndash; 12 tahun, merupakan masa emas atau paling ideal untuk <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> selain <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> ibu (<strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> pertama). Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> lebih mulus.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Lagi pula daya penyerapan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> pada anak berfungsi secara otomatis. Cukup dengan pemajanan diri (self-exposure) pada <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> tertentu, misalnya ia tinggal di suatu lingkungan yang berbahasa lain dari <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> ibunya, dengan mudah anak akan dapat menguasai <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> itu. Masa emas itu sudah tidak dimiliki oleh orang dewasa.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Namun, bukan berarti orang dewasa tidak mampu menguasai <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> kedua (<strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing). Lenneberg mengemukakan, orang dewasa dengan inteligensia rata-rata pun mampu mempelajari <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> kedua selewat usia 20 tahun. Bahkan ada yang mampu <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> berkomunikasi <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing pada usia 40 tahun.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Kenyataan itu tidaklah bertentangan dengan hipotesis mengenai batasan usia untuk penguasaan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> karena penataan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> pada otak sudah terbentuk pada masa kanak-kanak. Hanya saja lewat masa pubertas terjadi &amp;ldquo;hambatan pembelajaran <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong>&amp;rdquo; (language learning blocks). &amp;ldquo;Jadi, maklum bila <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> selewat masa pubertas, justru lebih repot daripada ketika usia </span><span style="font-family:Arial;color:black;">lima</span><span style="font-family:Arial;color:black;"> belas atau </span><span style="font-family:Arial;color:black;">lima</span><span style="font-family:Arial;color:black;"> tahun,&amp;rdquo; ujar Bambang.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Pada penguasaan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> pertama dikenal istilah &amp;ldquo;masa kritis&amp;rdquo; (critical period). Pada penguasaan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> kedua (<strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing) terdapat istilah &amp;ldquo;masa peka&amp;rdquo; (sensitive period). Berdasarkan penelitian Patkowski, masa peka penguasaan sintaksis <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing adalah masa sampai usia 15 tahun. Anak yang dihadapkan pada <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing sebelum usia 15 tahun mampu menguasai sintaksis <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing seperti penutur asli. Sebaliknya, pada orang dewasa hampir tak mungkin aksen <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing dapat dikuasai.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Lebih detail dipaparkan oleh peneliti lain. Penelitian Fathman terhadap 200 anak berusia 6 &amp;ndash; 15 tahun yang <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> <strong><span style="background:#99ff99 none repeat scroll 0 50%;">Inggris</span></strong> sebagai <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> kedua di sekolah di AS, menunjukkan bahwa anak yang lebih muda (usia 6 &amp;ndash; 10 tahun) lebih berhasil pada penguasaan fonologi (tata bunyi) <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> <strong><span style="background:#99ff99 none repeat scroll 0 50%;">Inggris</span></strong>. Sedangkan pada anak lebih tua (11 &amp;ndash; 15 tahun) lebih berhasil pada penguasaan morfologi (satuan bentuk <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> terkecil) dan sintaksisnya (susunan kata dan kalimat).</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Masih tentang penguasaan aspek tertentu dari <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing dalam kaitannya dengan faktor usia, Scovel menyebutkan, kemampuan untuk menguasai aksen <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing berakhir sekitar usia 10 tahun. Sedangkan penguasaan kosa kata dan sintaksis, menurut catatannya, tidak mengenal batasan usia.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<strong><span style="font-family:Arial;color:black;">Pro-kontra periode kritis</span></strong>
	<span style="font-family:Arial;color:black;"> Masa ideal anak <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> bertolak dari apa yang disebut periode kritis bagi penguasaan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> ibu. Periode kritis sebenarnya masih berupa hipotesis bahwa dalam perjalanan hidup manusia terdapat jadwal biologis yang menentukan masa-masa kegiatan seseorang (Brown, 1994).</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Periode kritis sering dihubung-hubungkan dengan proses pembelahan antara otak kiri dengan otak kanan. Hasil penelitian neurologis menyebutkan, pada usia menjelang dewasa, fungsi-fungsi kemanusiaan terbagi atas dua bagian. Fungsi intelektual, logika, analisis, dan kemampuan berbahasa berada pada otak bagian kiri. Sedangkan fungsi yang berhubungan dengan emosi dan fungsi lain yang bersifat sosial dikendalikan oleh belahan otak kanan. Ketika memasuki proses pembelahan otak itulah, menurut para pakar anatomi <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong>, masa peka <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> itu berlangsung.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Setelah proses &amp;ldquo;penyebelahan&amp;rdquo; (lateralization) otak selesai, menurut hipotesis Lenneberg, perkembangan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> cenderung menjadi &amp;ldquo;beku&amp;rdquo;. Keterampilan dasar yang belum dapat dicapai pada masa itu (kecuali untuk artikulasi) biasanya akan tetap tidak sempurna.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Kapan tepatnya proses terjadinya masa pembelahan otak, masih terdapat ketidaksepakatan di antara para ahli. Pandangan-pandangan yang berseberangan antara lain dikemukakan oleh Sorenson dan Jane Hill.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Menurut penelitian Sorenson terhadap suku Tukaro di Amerika Selatan, menjelang usia dewasa masyarakat Tukaro paling tidak sudah menguasai dua atau tiga dari 24 <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> yang biasanya mereka pergunakan. Yang lebih mengherankan lagi, jumlah penguasaan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> itu malahan semakin banyak dan lebih sempurna ketika mereka menjelang usia tua.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Bukti lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya terhadap masyarakat Barat, Jane Hill berkesimpulan bahwa dalam perkembangan normal seseorang dapat mempelajari <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing dengan sempurna, terlepas dari apakah ia berusia muda atau tua.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Proses pembelahan otak, menurut Eric Lenneberg, terjadi sejak anak berusia dua tahun dan berakhir menjelang pubertas. Sedangkan Norwan Geshwind berpendapat, pembelahan otak (periode kritis) usai jauh sebelum masa pubertas. Lebih ekstrem lagi pendapat Stephen Krashen, yakni proses pembelahan itu berakhir sewaktu anak berusia </span><span style="font-family:Arial;color:black;">lima</span><span style="font-family:Arial;color:black;"> tahun.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Dengan demikian, jelas bahwa hipotesis periode kritis tidak bisa dijadikan kriteria keberhasilan pengajaran <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> kedua atau <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing. Keberhasilan seseorang <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing, menurut </span><span style="font-family:Arial;color:black;">Gardner</span><span style="font-family:Arial;color:black;"> dan Lambert, tidak tergantung pada kemampuan intelektual atau kecakapan bawaan berbahasa, tetapi sangat ditentukan oleh motif atau kebutuhan berkomunikasi dalam lingkungannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<strong><span style="font-family:Arial;color:black;">Bukan jaminan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Sejak masuk SD bahkan TK, anak sudah &amp;ldquo;dituntut&amp;rdquo; menguasai lebih dari satu <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong>; <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> daerah dan </span><span style="font-family:Arial;color:black;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;color:black;">. Keduanya dipakai sebagai <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> pengantar dalam proses <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong>-mengajar.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Betapa beratnya beban mereka, bila kemudian masih ditambah lagi <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> <strong><span style="background:#99ff99 none repeat scroll 0 50%;">Inggris</span></strong>. Empat <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> harus mereka kuasai dalam satu periode, misalnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Kenyataan itu bukannya menambah cepat anak menguasai <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing. Di samping akan menimbulkan beban psikologis, tak tertutup kemungkinan laju perkembangan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> daerah dan nasional anak pun malahan terhambat, atau justru merusak sistem-sistem <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> yang terlebih dahulu dia kuasai.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Hal seperti itu tidak jauh berbeda dengan anak yang sedang <strong><span style="background:#ffff66 none repeat scroll 0 50%;">belajar</span></strong> bola tangan. Sebelum ia mahir bermain bola tangan, lalu ditimpa lagi dengan permainan bola basket dan sepak bola. Pelatih tidak perlu heran apabila kemudian si anak memasukkan bola dengan tangan ketika bertanding sepak bola, atau menyundul dan menendang bola ketika anak bermain bola basket.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Jeperson jauh-jauh sebelumnya memperingatkan bahwa anak yang mempelajari dua <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> tidak akan dapat menguasai kedua <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> itu dengan sama baiknya. Juga tak akan sebaik mempelajari satu <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong>. Kerja otak untuk menguasai dua <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> akan menghambat anak untuk mempelajari hal lain yang harus dia kuasai. Perkembangan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> anak terganggu, baik dalam penggunaan kosa kata, struktur tata <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong>, bentuk kata, dan beberapa penyimpangan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> lainnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Tidak terelakkan, dalam era global penguasaan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> <strong><span style="background:#99ff99 none repeat scroll 0 50%;">Inggris</span></strong> hukumnya wajib. Siapa yang ingin luas pergaulan, sukses berbisnis, maupun menguasai ilmu pengetahuan mau tidak mau harus menguasai <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> yang satu ini. Namun, dalam penanaman kita dituntut sikap bijak dan tidak tergesa-gesa.</span></p>
<p>
	<span style="font-family:Arial;color:black;">Di samping perlu mempertimbangkan kemampuan anak, para orang tua hendaknya memperhatikan pula kepentingan anak akan penguasaan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> daerah dan nasional. Kedua <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> itu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari fungsi keseharian dan tanggung jawab sosial anak. Sebab itu, akan lebih baik bila <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> <strong><span style="background:#99ff99 none repeat scroll 0 50%;">Inggris</span></strong> atau <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing lain diberikan setelah <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> daerah dan <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> nasional terkuasai secara mantap. Pengajaran <strong><span style="background:#a0ffff none repeat scroll 0 50%;">bahasa</span></strong> asing dalam usia dini toh bukan jaminan mutlak keberhasilan berbahasa pada anak.</span></p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 00:28:26 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/course-n-club/kapan-anak-belajar-bahasa-inggris/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
