<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in curhat bunda</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 11:55:04 +0700</pubDate>
<item>
<title>scaffalature metalliche</title>
<link>http://bundazone.com/curhat-bunda/scaffalature-metalliche/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Find all kinds of shelving, such as chrome wire shelving, rivet shelving, pallet racks, clip shelf units, industrial racking, mezzanine systems for great storage solutions for all of your business and industry requirements.</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 08:10:28 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/curhat-bunda/scaffalature-metalliche/</guid>
</item>
<item>
<title>Menyusui di Tempat Umum</title>
<link>http://bundazone.com/curhat-bunda/menyusui-di-tempat-umum/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	MENYUSUI
	Tidak mudah menyusui bayi di ruang publik. Bukan hanya diganggu tatapan mata orang lain, tetapi pasangan dan bayi sendiri sering tidak nyaman.
	
	<span style="font-weight: bold;">Terganggu Nursing Cover </span>
	Rooslain Wirhayanti (30 tahun), Jurnalis, ibu dari Deru Gandar Ranukumbolo
	
	<span style="font-style: italic;">&amp;ldquo;Deru (3 bulan) sebenarnya bukan anak yang rewel saat disusui. Namun, pernah suatu kali saya melewatkan kebiasaan menyusui Deru sebelum mengajaknya jalan-jalan. Saya pun terpaksa menyusui Deru di tempat umum. Ingin membuat diri saya nyaman tanpa perlu menerima lirikan orang lain, saya pun menutupi kegiatan kami tersebut dengan nursing cover yang saya bawa. Namun, entah karena bahan nursing cover yang saya pakai saat itu bukan katun atau memang kondisi lingkungan yang tidak sejuk, Deru mulai rewel dan menunjukkan protesnya! Sambil terus menyusui dengan nursing cover, saya pun panik mencari tempat menyusui di tengah keramaian tersebut. Deru pun terlihat berkeringat dan makin rewel!</span>
	<span style="font-style: italic;">Sebenarnya saya tidak merasa malu bila pada saat itu payudara saya kelihatan tanpa sengaja. Saya pun tahu, menyusui adalah hal yang lumrah dan saya tidak perlu risih atau malu untuk melakukannya di tempat umum. Saya hanya menghindari ketidaknyamanan orang yang melihatnya saja. Pemandangan ibu dengan buah dadanya tentu bukan pemandangan yang biasa, apalagi di Indonesia. Belum lagi, banyaknya fatwa yang diperbincangkan tentang pornografi dan pornoaksi. </span>
	<span style="font-style: italic;">Menyusui di tempat umum jelas merepotkan. Namun, yang paling membuat sedih adalah saat saya harus menyusui dalam keadaan yang tidak nyaman dan itu berakibat pada asupan gizi Deru. Deru yang tidak pernah menunjukkan ekspresi protes berlebihan selain menangis, punya kebiasaan yang selalu bikin saya sedih. Setiap kali saya terpaksa menyusui di tempat umum, ia hanya menyusu sebentar. Dalam keadaan nyaman, ia bisa menyusu selama 20 menit. Tapi saat disusui di tempat umum, Deru hanya menyusu 10 menit! Saya rasa, saat itu Deru juga terpaksa mau saya susui karena sudah sangat haus. Jadi, walau tidak nyaman dengan nursing cover yang saya pakai &amp;ndash;entah selimut atau pashmina&amp;ndash;&amp;nbsp; ia terpaksa menelannya.</span>
	<span style="font-style: italic;">Cara paling ampuh mengatasi kondisi tersebut adalah dengan membuat Deru merasa senyaman mungkin. Walau harus menutupinya dengan nursing cover, untuk membuatnya tidak pengap dan terlebih tidak merasa sendirian di dalam penutup, selama menyusui saya sering-sering membuka bagian atas nursing cover dan menyapanya dengan mengajak ngobrol atau mengayun-ayunnya. Saya juga sering menatap matanya untuk menandakan saya ada bersamanya walau ia harus ditutupi selama menyusu.&amp;rdquo;</span>
	
	<span style="font-weight: bold;">Catatan Ayahbunda:</span></p>
<ul>
	<li>
		Kondisi tertutup saat menyusu menggunakan nursing cover, bisa menimbulkan rasa takut, gerah, atau tidak nyaman pada bayi yang terbiasa menyusu dalam keaadan terbuka (tanpa penutup). Untuk itu, perlu dipertimbangkan menyusui bayi di tempat umum tanpa nursing cover, namun, misalnya, menutup daerah payudara yang terbuka dengan saputangan, yang tidak sampai menutupi muka bayi.</li>
	<li>
		Latih bayi menyusu dengan nursing cover/apron di rumah, sehingga pada saat di tempat umum dia tidak kaget lagi. Anda dan si kecil pun bisa mencari posisi menyusui yang nyaman melalui cermin. Berbincang-bincanglah dengan bayi agar ia&amp;nbsp; tidak merasa &amp;quot;sendirian&amp;quot; saat menyusu.</li>
	<li>
		Siapkan nursing cover/apron yang terbuat dari bahan katun dan modelnya tidak membuat bayi merasa pengap.</li>
	<li>
		Jangan panik bila bayi rewel dan menangis, karena bayi bisa makin rewel. Bila tak ada ruang menyusui, lebih baik berjalanlah ke sudut ruang yang relatif sepi, cari/pinjam tempat duduk dan susui bayi dengan tenang.</li>
</ul>

<p>
	<span style="font-weight: bold;">Dilarang Suami dan Ibu!</span>
	Fetty Shinta (29 tahun), karyawan swasta, ibu dari Amila Khairana Putri
	
	<span style="font-style: italic;">&amp;ldquo;Berlatar belakang keluarga Muslim, membuat saya harus semakin berhati-hati menyusui Rana (9 bulan). Selain karena saya tahu agama Islam melarang untuk menunjukkan aurat, suami termasuk orang yang sangat zakljik dalam hal ini. Sebenarnya tidak ada kesepakatan yang pasti antara saya dan suami untuk tidak menyusui di tempat umum. Sebelum ada larangan, saya menyusui Rana dengan menutupinya dengan jilbab panjang yang sering saya pakai. Namun, tanpa disengaja suatu hari suami menegaskan lagi tentang masalah ini. </span>
	<span style="font-style: italic;">Kejadiannya saat Rana menerima imunisasi di usia 3 bulan. Di lokasi imunisasi tersebut, saya sempat menyusui Rana. Ayahnya yang saat itu ikut menemani melihatnya. Ketidaknyamanan suami melihat saya menyusui di tempat umum, membuat saya ditegur. Saya sempat kesal juga, karena merasa sudah cukup hati-hati menyusui Rana. Saya tahu bagaimana agar saya bisa menyusui dengan &amp;ldquo;rapi&amp;rdquo;. Alasan suami yang ingin melindungi saya, membuat saya mengalah. Sejak saat itu, ayah Rana melarang saya menyusui di tempat umum. </span>
	<span style="font-style: italic;">Pendapat suami ternyata mendapat dukungan dari ibu saya. Pernah suatu kali, saya hendak menyusui Rana di halaman depan rumah, namun ibu langsung memanggil saya agar segera masuk ke dalam rumah. Perintah ibu bukan tanpa alasan. Kondisi masyarakat sekitar di rumah yang masih termasuk tradisional, memang harus membuat saya ekstra hati-hati. Setelah saya perhatikan benar, memang tidak pernah saya melihat ibu-ibu menyusui anaknya di halaman rumahnya. Daripada digosipkan, kami memilih jalur aman.</span>
	<span style="font-style: italic;">Membeli peralatan menyusui seperti nursing cover/apron, baju dengan kancing di depan, atau bra menyusui jadi hal wajib yang harus saya beli sejak kejadian itu. Selain agar suami merasa tenang, saya juga jadi merasa nyaman saat menyusui. Walau ada budget khusus yang disetujui suami karena untuk kepentingannya juga, tapi saya tidak langsung membeli barang-barang yang serba mahal itu. Untuk mendapatkannya, saya sering datang ke tempat garage sale. Bukan sekadar murah meriah, saya juga harus hati-hati dengan produk yang saya pilih, karena menyangkut keamanan dan kenyamanan Rana.</span>
	<span style="font-style: italic;">Setiap hendak ke mal, saya juga mencari tahu dulu apakah mal tersebut menyediakan nursery room apa tidak. Cara lain, saya juga jadi rajin belajar menyusui di rumah. Beberapa kali saya berlatih di depan kaca, cara menggendong Rana agar posisinya menyenangkan untuknya. Buat saya sendiri, latihan tersebut akan terus membuat saya agar semakin fasih menyusui di tempat umum.&amp;rdquo;</span>
	
	<span style="font-weight: bold;">Catatan Ayahbunda:</span></p>

<ul>
	<li>
		Usahakan mencari jalan tengah dengan menyusui di ruang menyusui (nursery room), atau di dalam mobil dengan kaca tertutup tirai, pada saat bepergian, agar tidak terlihat orang.</li>
	<li>
		Jika terpaksa, sebenarnya setiap tempat yang kita kunjungi&amp;nbsp; - yang tidak memiliki nursing room - memiliki sebuah ruangan tertutup, misalnya fitting room, ruang istirahat karyawan, atau ruang sembahyang. Mintalah dengan cara baik-baik untuk&amp;nbsp; meminjam ruangan tersebut selama 15 menit untuk menyusui.</li>
</ul>
<p>
	
	<span style="font-weight: bold;">Si Kembar, Jadi Pusat Perhatian </span>
	Ayunda Wardhani 25, Fashion Editor, bunda dari Aqila Syailendra dan Ariya Narendra
	
	<span style="font-style: italic;">&amp;rdquo;Saat memberi si kembar Aqila dan Ariya (18 bulan) ASI Ekslusif. Sebisa mungkin saya usahakan untuk tidak pernah menyusui keduanya di tempat umum. Pertama, karena saya yakin urusannya pasti lebih complicated &amp;ndash;maklum, ada dua bayi yang harus saya susui. Kedua, karena saya tipe ibu yang pada saat menyusui, tidak suka bila ada banyak kain menempel di tubuh &amp;ndash;saat menyusui di rumah, biasanya saya hanya menggunakan kimono. Itu sebabnya, saya kurang suka pada produk-produk apron menyusui; ribet dan gerah, hahaha!</span>
	<span style="font-style: italic;">Tetapi apa daya. Ketika bayi saya berusia 3 bulan, saya sudah ingin jalan-jalan keluar rumah seperti ke mal, makan di restoran dan lain-lain. Mereka pun saya bawa,&amp;nbsp; berbekal masing-masing satu botol ASI perah. Ternyata sebotol ASI tidak cukup. Nafsu makan mereka besar!&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; </span>
	<span style="font-style: italic;">Terpaksalah saya menyusui si kembar di tempat umum pada pergantian malam tahun baru, di sebuah restoran di Jakarta yang ramai. Sedang enak-enak makan malam bersama keluarga besar, si kembar merengek. &amp;quot;ASI perahnya habis, Bu,&amp;quot; bisik baby sitter. Jadilah saya menyusui si kembar bergantian di meja makan. Untunglah saya biasa menyusui mereka bergantian, masing-masing di satu payudara, selama 15-30 menit. </span>
	<span style="font-style: italic;">Ketika saya sedang menyusui Aqila, saudaranya menangis keras karena cemburu dan tidak sabar. Orang-orang yang melewati meja kami pun jadi menengok dan berkomentar terhadap kehebohan itu, seperti, &amp;quot;Kasihan... antre menyusu ya, Nak?&amp;quot;</span>
	<span style="font-style: italic;">Kejadian lainnya adalah saat berbelanja di mal dan di rumah sakit. Setiap menyusui si kembar di tempat umum, rasanya lebih banyak komentar dan tatapan dari orang yang saya terima. Mungkin karena saya menyusui dua orang bayi bergantian, atau karena mereka takjub melihat &amp;rsquo;pabrik susu&amp;rsquo; bayi kembar saya yang berukuran &amp;rsquo;raksasa&amp;rsquo;,&amp;nbsp; hahaha!&amp;nbsp; </span>
	<span style="font-style: italic;">Saran saya bagi ibu dengan bayi kembar, meski nyaman dan terbiasa menyusui dua bayi di dua payudara sekaligus, biasakan pula menyusui mereka beergantian. Dengan demikian, pada saat terpaksa menyusui mereka di ruang publik, tidak menimbulkan pemandangan yang luar biasa bagi orang awam. Maklum saja, meski masyarakat Indonesia sudah cukup toleran pada ibu menyusui di tempat umum, bila ibu menyusui dua bayi kembar sekaligus, rasanya tetap sensasional, ya!</span>
	
	<span style="font-weight: bold;">Catatan Ayahbunda:</span>
	Dibutuhkan sikap ibu yang santai dan easy going saat menyusui bayi kembar di tempat umum. Karena, anak kembar selalu menarik perhatian orang lain &amp;ndash;apapun yang mereka lakukan karena dianggap unik dan langka&amp;ndash; termasuk saat mereka menyusu.
	Siapkan ASI perah yang cukup, 2-3 porsi minum masing-masing bayi. Bila setelah bayi minum 1 porsi masih kurang, susui salah satu bayi sementara bayi lainnya diberi ASI perah (oleh suami atau pengasuh bayi) sehingga tidak rewel.
	Sebaiknya jangan membawa bayi kembar bepergian seorang diri, karena bila Anda terpaksa menyusui di tempat umum, Anda perlu bantuan orang lain untuk &amp;rsquo;meng-handle&amp;rsquo; salah satu bayi.</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 16:45:22 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/curhat-bunda/menyusui-di-tempat-umum/</guid>
</item>
<item>
<title>Waspada Turunnya Kesuburan Usia 30</title>
<link>http://bundazone.com/curhat-bunda/waspada-turunnya-kesuburan-usia-30/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><span style="font-weight: bold;">KESUBURAN</span> akan menurun seiring dengan pertambahan usia, khususnya setelah usia 30. Karena itu, Perempuan sebaiknya melakukan tes kesuburan di usia 30 untuk meningkatkan kemungkinan menjadi ibu. Hal ini dinyatakan oleh dokter di bidang <span style="font-style: italic;">in vitro fertilization</span> (IVF) profesor Bill Ledger dari <span style="font-style: italic;">Sheffield University</span>. Menurut Ledger, banyak perempuan yang tidak menyadari kalau kesuburan menurun dengan cepat seiring usia.
	
	Menurut Ledger, kesempatan mengalami pembuahan di usia 20-24 sebesar 86%, usia 25-29 turun menjadi 78%, usia 30-34 sebesar 63%, turun lagi menjadi 52% pada rentang usia 35-39 tahun, 36% pada mereka dengan rentang usia 40-44 dan menurun tajam hanya sebesar 5% pada mereka yang telah berusia 45-49 tahun.
	
	Dengan melakukan tes sederhana yang bisa menunjukkan betapa cepatnya jam biologis mereka berputar, terang dia, para perempuan diharapkan bisa merencanakan keluarga sebelum terlambat. Tes darah diikuiti dengan ultrasound scan jika diperlukan, lanjut dia, bisa membantu mengatasi semua masalah sebelum mereka mengalami penurunan kesempatan yang signifikan mengalami pembuahan.
	
	Tes ini biasanya menggunakan kadar hormon untuk mengukur persediaan ovarium, yaitu jumlah telur sehat yang tersedia. Dengan informasi ini, menurut dia, diharapkan para perempuan bisa membuat rencana yang lebih bijak mengenai waktu pembuahan.
	
	<span style="font-weight: bold;">Tunda kehamilan</span>
	
	Perempuan, menurut anggota <span style="font-style: italic;">fertility watchdog,&amp;nbsp; the Human Fertilisation and Embryology Authority</span> ini, seringkali tidak menyadari pentingnya usia saat berkaitan dengan kesuburan.&amp;quot;Mereka mengira kalau hal tersebut tidak akan terjadi pada mereka karena mereka rajin berolahraga, tidak minum dan merokok. Mereka merasa fit dan muda. Hal ini benar adanya, kecuali untuk indung telur,&amp;quot; tutur Ledger, seperti dikutip situs <span style="font-style: italic;">dailymail</span>.
	
	Menurut Ledger, semakin banyak perempuan yang menunda kehamilan. Tapi, hanya sedikit yang menyadari kalau kesuburan menurun hingga setengahnya pada usia 35 dan bahkan menurun tajam setelahnya. karena itu, terang dia, data mengenai kesempatan mereka mengalami pembuahan tentunya bisa membantu mereka menghindari penyesalan di masa depan.&amp;quot;Banyak orang bersedih karena tidak mendapatkan anak yang sangat mereka impikan.&amp;quot;
	
	Seringkali perempuan yang menunda kehamilan hingga usia 39, terang dia, telah mempunyai karir yang sukses. Perempuan ini telah melewati semua tes di sekolah dengan baik, melanjutkan kuliah, mendapatkan pekerjaan yang baik, menjajaki karir ke level yang tinggi tetapi tiba-tiba tidak bisa mendapatkan sesuatu yang bisa didapatkan&amp;nbsp; oleh orang lain.
	</span></p> ]]></description>
<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 08:35:18 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/curhat-bunda/waspada-turunnya-kesuburan-usia-30/</guid>
</item>
<item>
<title>Bangga Jadi Ibu Rumah Tangga</title>
<link>http://bundazone.com/curhat-bunda/bangga-jadi-ibu-rumah-tangga/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Penulis: Ummu Ayyub
	Muroja&amp;rsquo;ah: Ust Abu Ahmad
	
	Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?
	
	
	Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita &amp;lsquo;menunjukkan eksistensi diri&amp;rsquo; di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.
	
	Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama &amp;ldquo;Sekarang kerja dimana?&amp;rdquo; rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk &amp;ldquo;Saya adalah ibu rumah tangga&amp;rdquo;. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu &amp;ldquo;sukses&amp;rdquo; berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan &amp;ldquo;nasehat&amp;rdquo; dari bapak tercintanya: &amp;ldquo;Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.&amp;rdquo; Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.
	
	Ibu Sebagai Seorang Pendidik
	
	Syaikh Muhammad bin Shalih al &amp;lsquo;Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta&amp;rsquo;ala yang artinya:
	
	&amp;ldquo;Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.&amp;rdquo; (QS. Al-Ahzab: 33)</p>
<p style="text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">
	
	Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.
	
	Sebuah Tanggung Jawab
	
	Allah Subhanahu wa Ta&amp;rsquo;ala berfirman, yang artinya:
	
	&amp;ldquo;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.&amp;rdquo; (QS. At Tahrim: 6)
	
	Firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;rsquo;ala yang artinya: &amp;ldquo;Peliharalah dirimu dan keluargamu!&amp;rdquo; di atas menggunakan Fi&amp;rsquo;il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.
	
	Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &amp;lsquo;anhu berkata, &amp;ldquo;Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.&amp;rdquo; (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)
	
	Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.
	
	Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta&amp;rsquo;ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta&amp;rsquo;ala berfirman, &amp;ldquo;Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.&amp;rdquo; (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, &amp;ldquo;Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.&amp;rdquo; (QS. At Tahrim: 6)
	
	Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.
	
	Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta&amp;rsquo;ala yang artinya:
	
	&amp;ldquo;dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.&amp;rdquo; (QS asy Syu&amp;rsquo;ara&amp;rsquo;: 214)
	
	Abdullah bin Umar radhiyallahu &amp;lsquo;anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu &amp;lsquo;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), &amp;ldquo;Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.&amp;rdquo; (HR. Bukhari 2/91)
	
	Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.
	
	Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih
	
	Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, &amp;ldquo;Mau untuk apa nak, tabungannya?&amp;rdquo; Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab &amp;ldquo;Mau buat beli CD murotal, Mi!&amp;rdquo; padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab &amp;ldquo;Mau buat beli PS!&amp;rdquo; Atau ketika ditanya tentang cita-cita, &amp;ldquo;Adek pengen jadi ulama!&amp;rdquo; Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi &amp;ldquo;pengen jadi Superman!&amp;rdquo;
	
	Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta&amp;rsquo;ala. Lalu&amp;hellip; jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,&amp;hellip;) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?
	
	Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya&amp;hellip; Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.
	
	Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!
	
	Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta&amp;rsquo;ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.
	
	Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?
	
	Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?
	
	Lalu&amp;hellip;
	
	Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata &amp;lsquo;cuma&amp;rsquo;? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?
	
	Wallahu a&amp;rsquo;lam</p> ]]></description>
<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 08:53:41 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/curhat-bunda/bangga-jadi-ibu-rumah-tangga/</guid>
</item>
<item>
<title>Menyekolahkan si anak spesial</title>
<link>http://bundazone.com/curhat-bunda/menyekolahkan-si-anak-spesial/</link>
<description><![CDATA[ Di ajang curhat (mencurahkan isi hati)milis Putera Kembara, milis khusus untuk para orangtua yang anaknya autis, seorang ibu menulis, "Saya punya pengalaman tiga tahun menyekolahkan anak saya yang autis di sekolah umum, dari playgroup sampai TK. Dari segi perilaku banyak sekali kemajuan. Dia sudah care sama temannya, sudah banyak bertanya tentang apa yang dia dengar dari penjelasan gurunya, misalnya apa itu neraka, surga dan lain-lain, meski pun saat diterangkan dia sibuk dengan puzzle-nya."<br /><br />Ada lagi orangtua yang mengisahkan, anaknya juga masuk ke playgroup umum, melakukan speech therapy dan konsultasi ke psikolog, dan mengalami perkembangan luar biasa. Sekarang si anak sudah berusia enam tahun, lancar berkomunikasi meski kadang-kadang tak jelas dan harus diulang. Kemampuan akademis si anak juga luar biasa, walau soal maturity agak tertinggal.<br /><br />Tapi, ada juga orangtua yang rupanya tidak terlalu 'beruntung'. Setelah si anak (4) dimasukkan ke TK umum selama beberapa bulan, mereka melihat hal itu ternyata tidak efektif. Si anak tidak mengalami kemajuan dalam kemampuan untuk berkomunikasi secara verbal, dan yang lebih parah lagi, tujuan agar bisa bersosialisasi seperti yang dicari banyak orangtua ketika menyekolahkan anaknya di sekolah umum ternyata tak tercapai. Maklum, sikap agresif yang kerap ditunjukkan anak autis, membuat anak-anak lain justru takut untuk mendekat.<br /><br />Memang, anak-anak autis cenderung punya karakter hiperaktif, kurang fokus terhadap lawan bicara, dan membatasi interaksi mereka dengan lingkungan sekitar. Sebagian anak autis punya ingatan dan kemampuan bicara normal, tapi sebagian lagi tidak normal. Yang jelas mereka sulit berinteraksi dengan lingkungan, apalagi berteman. Tak heran kalau mereka seolah punya dunia sendiri, punya minat yang obsesif dan cenderung bersikap repetitif. Bahkan dalam kondisi yang agak parah, sekadar untuk bisa melakukan aktivitas dasar pun mereka butuh latihan intensif.<br /><br />Meski tak tertutup kemungkinan bagi mereka untuk bersekolah di sekolah umum, dan sebagai orangtua Andalah yang paling berhak memutuskan, pertimbangan berikut mungkin bisa jadi masukan bagi Anda.<br /><br />Kondisi anak<br />Bila setelah terdeteksi (autis) anak memperoleh penanganan baik dan mengalami kemajuan pesat, mungkin saja dia bisa disekolahkan di sekolah umum. Tapi, bila modal si anak dari awal sudah 'kurang' atau kondisi autisnya memang lebih parah, tak bisa bicara misalnya, sebaiknya dia memang tak dimasukkan ke sekolah umum. Begitu pun bila anak autis ini sulit untuk berkonsentrasi di tempat ramai, mungkin sebaiknya orangtua tak memaksa si anak untuk masuk ke sekolah umum.<br /> "Bisa-bisa dia malah benci belajar, hingga kemudian dia berkembang dengan konsep diri yang negatif karena selalu gagal, selalu berada di urutan paling bawah dan tertinggal dari teman-temannya," kata Dyah Puspita, psikolog  dan sekretaris Yayasan Autisme Indonesia (YAI) yang akrab dipanggil Ita ini. Anak boleh didukung untuk masuk ke sekolah umum kalau taraf autisnya terbilang ringan.<br /><br />Menurut Vera Itabiliana, psikolog anak dan remaja, sebelum memutuskan apakah si anak perlu dimasukkan ke sekolah khusus atau tidak, orangtua perlu menguji anaknya dengan sejumlah pertanyaan, seperti: Bisakah si anak duduk diam di kelas selama jangka waktu yang lama, bisakah dia mengikuti aturan, bisakah dia memahami instruksi orang lain, atau bisakah dia mengendalikan emosinya ketika ada sesuatu yang tak berkenan terjadi? "Bila semua pertanyaan di atas jawabannya "tidak", ya tidak ada positifnya memaksa anak masuk sekolah umum, lebih baik dia masuk sekolah khusus saja," kata Vera.<br /><br />Toh, hal itu terpulang lagi kepada orangtua. Sebagai psikolog yang juga terapis bagi anak-anak autis dan pengelola sekolah autis Mandiga, Ita tak pernah langsung menganjurkan agar seorang anak autis dimasukkan ke sekolah umum atau sekolah khusus. "Semuanya terserah orangtua si anak, saya hanya memberitahu kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka hadapi sebagai konsekuensi pilihannya," katanya.<br /><br />Jadi, sah-sah saja, kok, kalau orangtua mau coba-coba dulu memasukkan anaknya ke sekolah umum. Siapa tahu si anak memang mampu. Tapi, bila si orangtua sejak awal memang menyadari si anak mungkin sulit menyesuaikan diri di sekolah biasa, sekolah khusus akan menjadi pelabuhan yang tepat. Ketika anak lain patuh saat disuruh latihan menulis misalnya, si autis mungkin akan 'membangkang' dan asyik sendiri melakukan hal lain. Itulah yang mungkin akan menyulitkan mereka di sekolah umum.<br /><br />Biasanya orangtua yang tak bisa memasukkan anaknya ke sekolah umum memang mengalami kebingungan. Tapi, menurut Ita, saat ini sudah cukup banyak pilihan. "Selain di SLB (Sekolah Luar Biasa), bisa juga dia dimasukkan ke sekolah reguler, di special wings dengan special needs, yang menerapkan kurikulum tersendiri, atau homeschooling saja. Orang belajar itu kan tidak harus selalu di sekolah umum. Kalau ada sekolah khusus, itu baik, tapi kalau nggak ada, kenapa nggak dibuat? Nggak punya tempat? Di garasi saja!" kata Ita.<br /><br />Lalu bagaimana dengan guru-gurunya? Nggak ada, lho, guru yang siap pakai. Semua belajar lagi karena setiap anak berbeda karakternya. Tak ada satu anak autis pun yang sama persis dengan anak autis yang lain. Satu hal yang utama, guru itu harus punya niat untuk membaktikan diri terhadap tugasnya, karena urusan ilmu dan teknik bukanlah sesuatu yang tak bisa dipelajari.<br /><br />Lingkungan kondusif<br />Di sekolah khusus, kebutuhan anak-anak ini memang lebih terpenuhi karena lingkungan fisik, pengajar maupun kurikulumnya sudah dirancang sedemikian rupa sehingga lebih cocok dengan kondisi anak. "Anak berada di lingkungan yang bisa memahami kondisi khusus mereka tanpa ada label 'anak aneh' atau anak bandel. Maklum, anak yang hiperaktif sering dicap biang onar di sekolah-sekolah umum," kata Vera. Akibatnya, kepercayaan diri anak lebih terjaga karena dia tidak merasa 'aneh' sendiri atau tertinggal dari teman lain yang normal.<br /><br />Itulah juga pertimbangan Aprilia, ibu dari Davina (4), ketika memilih menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak autis. "Saya lihat perkembangan anak juga akan lebih optimal karena terapi bisa dilakukan sambil sekolah. Guru-gurunya juga mempunyai keahlian sebagai terapis," katanya. <br /><br />Sebaliknya di sekolah umum, guru seringkali minim atau tak punya pengalaman sama sekali menangani anak-anak 'spesial' ini. Bukan itu saja, guru juga sulit memberikan perhatian khusus kepada si anak autis karena rasio jumlah anak dan guru dalam satu kelas kurang ideal. Di sekolah umum, satu kelas biasanya berisi lebih dari 20 anak. Bandingkan dengan di sekolah khusus anak autis, di mana satu guru rata-rata menangani tiga anak. "Lebih dari itu, pasti sudah keteteran," kata Ita.<br /><br />Selain itu, menurut Ita, "Jangankan untuk anak autis, untuk anak normal pun kurikulum pendidikan nasional saat ini sudah lumayan berat." Pantaslah kalau anak autis yang bersekolah di sekolah umum biasanya jadi lebih tertatih-tatih. Karena itu, menurut Ita, metode belajar di sekolah autis Mandiga dibatasinya hanya pada hal-hal yang bersifat aplikatif. "Mereka diajari membaca, menulis, berhitung. Tapi yang lain-lain, kira-kira terpakai atau tidak? Kalau tidak, ya lebih baik tidak usah," katanya.<br /><br />Cara mengajar pun tidak bisa selalu sama untuk setiap anak. Untuk mengajarkan sebuah kosa kata, misalnya, guru anak autis tak jarang harus putar otak untuk bisa menarik perhatian mereka. Tak jarang mereka harus memulainya dari sesuatu yang menarik minat anak. Contoh bila si anak suka oli, maka akan lebih efektif kalau dia mulai belajar dari kata "oli", sementara bila dia suka mobil, ya akan lebih efektif untuk mulai mengajari dia dari kata "mobil".<br /><br />Karena setiap penyandang autis berbeda dalam mengolah dan merespon informasi, kurikulum dalam proses belajar-mengajar memang harus disesuaikan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing anak. Pola pendidikan yang tepat itu juga harus diajarkan oleh guru-guru yang memang punya dedikasi untuk mendidik dan mau mencintai anak-anak 'spesial' itu. Kalau tidak, terbayang kan rasanya menghadapi anak-anak yang bisa menangis terus selama berjam-jam tanpa henti, atau marah-marah dan malah kadang mengamuk tanpa alasan.<br /><br />Saat ini, perhatian pemerintah terhadap pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs) memang masih sangat minim. Padahal, jumlah anak-anak dengan berbagai kekurangan ini terus bertambah. Saat ini saja, menurut Yayasan Autisme Indonesia, meski belum ada penelitian khusus, diperkirakan dari 160 kelahiran satu diantaranya adalah anak autis. Wah, kenapa bisa sebesar itu?  "Memang autis itu biasanya dipengaruhi oleh faktor genetis, tapi pemicunya bisa dari faktor eksternal seperti gaya hidup, vaksin, makanan, pengaruh zat-zat kimia, dan polusi yang makin parah," kata Ita. "Bayangkan kalau jumlah mereka terus bertambah dan tidak memperoleh pendidikan yang memadai. Betapa pun mereka itu kan juga generasi penerus," tambahnya.<br /><br />Rasa prihatin Ita itu mungkin ungkapan hati seorang ibu yang anaknya juga penyandang autis. Tapi, harapan akan perhatian yang lebih besar terhadap anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak autis ini mungkin juga harapan kita semua. Harapan ini bahkan juga pernah dilontarkan Torey Hayden, psikolog dan guru anak-anak berkebutuhan khusus asal Inggris ketika bertandang ke Indonesia sekitar dua tahun lalu. Menurut penulis buku laris Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil itu, anak-anak ini perlu bersekolah di tempat yang tepat karena sebagian dari mereka punya potensi intelektual yang tak kalah dibanding anak normal. Pendidikan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan mereka akan membuat anak-anak ini bisa hidup wajar, mandiri, dan tidak sepenuhnya bergantung pada keluarga dan lingkungan.<br /><br />***<br /><br />Anak-anak dengan down syndrome<br />A gift of life, anak-anak ini adalah kado dari Tuhan. Mereka bukan untuk disembunyikan, bukan pula untuk dianggap sebagai kutukan yang memalukan. Mereka juga berhak untuk menikmati kehidupan seperti anak normal yang diajak jalan-jalan oleh orangtuanya ke mal, atau diajak bersosialisasi dengan anak lain. Itulah yang selalu ditekankan oleh Doni Rizal, direktur eksekutif dan para pengajar di Pusat Informasi dan Pendidikan Down Syndrome Matahari Lestari kepada para orangtua anak-anak down syndrome.<br /><br />Berbeda dengan anak autis yang selintas terlihat seperti anak normal, anak-anak down syndrome memang langsung bisa dilihat perbedaannya dengan anak normal. Wajah mereka bundar seperti bulan purnama (moon face), dengan mata sipit yang ujung-ujungnya tertarik ke atas. Sampai saat ini, belum diketahui apa penyebab kerusakan kromosom No.21 yang menjadi pemicu kelainan genetis penyebab down syndrome ini. Tapi diperkirakan ada beberapa faktor yang berperan, seperti usia ibu yang sudah cukup lanjut, terpapar ultrasound USG lebih dari 400 kali, pengaruh alkohol, obat-obatan Cina, dan lain-lain. <br /><br />Anak-anak down syndrome punya tiga karakter khas, yaitu: secara intelektual rendah, secara mental terbelakang dan secara fisik mereka juga lemah. "Dengan kondisi seperti itu, tidak mungkin bagi kita untuk mengajari mereka biologi atau fisika. Yang penting mereka bisa bina diri (mandiri), bisa menulis dan membaca, dan memiliki beberapa keahlian lain seperti menggambar atau melukis." kata Doni.<br /><br />Di sekolah khusus down syndrome Matahariku yang dikelola oleh Yayasan Matahari Lestari, anak-anak down syndrome ini belajar untuk mandiri. Selain mengajarkan kemandirian dasar, sekolah ini juga mempunyai program jangka menengah school to work, yaitu program yang mempersiapkan anak-anak ini agar di masa pubertas mereka bisa mandiri dan melakukan pekerjaan dasar. "Di Belgia, misalnya, ada pabrik roti, toko pembuat kartu dan sebagainya yang menggunakan para penderita down syndrome sebagai pekerja. Program ini juga sangat berhasil di Singapura dan bisa menyalurkan anak-anak tersebut untuk bekerja di hotel, entah itu di bagian laundry,  atau sebagai bell boy. Bahkan ada juga yang bisa menjadi pengarang meski dengan intelektualitas dan mentalitas yang terbelakang.<br /><br />Selain sangat fokus pada pekerjaan yang mereka tekuni, anak-anak down syndrome ini juga punya keistimewaan sangat pintar meniru. Akibatnya, mereka harus diekspos pada lingkungan yang baik. Jika bersekolah sama-sama dengan anak autis atau anak-anak yang hiperaktif misalnya, mereka juga akan cenderung meniru sikap hiperaktif itu. Tapi, pada dasarnya anak down syndrome cukup ramah dan terbuka sehingga mereka juga bisa bersosialisasi, meski untuk itu tentunya mereka butuh dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya.* ]]></description>
<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 01:28:26 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/curhat-bunda/menyekolahkan-si-anak-spesial/</guid>
</item>
<item>
<title>Peran Ganda Wanita</title>
<link>http://bundazone.com/curhat-bunda/peran-ganda-wanita/</link>
<description><![CDATA[ wanita indonesia saat ini sudah sedemikian berperan di berbagai profesi dan kehidupan sosial, malah kalau kita simak wanita indonesia yang namanya seorang IBU...... sudah mulai juga ikut dalam berbagai kegiatan2 sosial kemasyarakatan..... dilain pihak ada positifnya.... jadi lebih berkreasi, bersosialisasi, dan tentunya bertambah wawasan dalam berfikir..... tapi sudah siapkah mereka menghadapi tantangan yang menghadang di depan???? <br />malah sekarang banyak ibu yang mulai bergeser lebih mementingkan kehidupan dunia sosial dari pada mengasuh anak terutama anak balita. ]]></description>
<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 11:37:09 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/curhat-bunda/peran-ganda-wanita/</guid>
</item>
<item>
<title>Kemanakan larinya akal sehat dan nurani manusia?</title>
<link>http://bundazone.com/curhat-bunda/kemanakan-larinya-akal-sehat-dan-nurani-manusia/</link>
<description><![CDATA[ Tulisan ini terinspirasi karena khawatir dengan kondisi sosial masyarakat kita yang sedang mengalami degradasi moral dan mental. Dimana hidup ini hanya dipandang berdasarkan sesuatu yang bersifat hedonisme dan materilaistis. Semoga berguna untuk semua. Amin. ]]></description>
<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 07:42:23 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/curhat-bunda/kemanakan-larinya-akal-sehat-dan-nurani-manusia/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
