<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in kecerdasan anak</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 12:05:28 +0700</pubDate>
<item>
<title>Saint Lucia Supplier</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/saint-lucia-supplier/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	This company is a Saint Lucia manufacturing and b2b supplies department at the worldwide, providing research, education and knowledge transfer in engineering, manufacturing, product &amp;amp; services supplies and technology. They also work on specific research programmers alongside industrial partners and Operations &amp;amp; Business Management regarding your need. They are leading company in b2b marketplace directory. If you are small business development company so can submit your company in Panama Saint Lucia directory.</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 06:21:23 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/saint-lucia-supplier/</guid>
</item>
<item>
<title>Rasa Ingin Tahu Anak Besar = Anak Cerdas. Benarkah??</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/rasa-ingin-tahu-anak-besar-anak-cerdas-benarkah/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify">
	Jika anda sudah banyak membaca buku ataupun menerima banyak informasi tentang perkembangan anak, pasti anda pernah mendapatkan pernyataan berikut:
	
	&amp;ldquo;Anak yg selalu bertanya atau rasa ingin tahunya besar adalah anak yg cerdas.&amp;rdquo;
	
	Benarkah pernyataan itu? Apakah memang demikian kenyataannya?
	(Semoga anda tidak menjadi ragu dengan 2 pertanyaan di atas.)
	
	Memang BENAR bahwa salah satu ciri anak cerdas adalah anak yg rasa ingin tahunya besar, selalu bertanya tentang banyak hal.
	
	TETAPI, ada satu hal lagi yg perlu menjadi perhatian kita dalam menilai apakah anak tersebut BENAR-BENAR mempunyai ciri-ciri anak cerdas.
	
	Apa itu?
	
	Setelah anak mengajukan pertanyaan, ada 1 tahapan lanjutan yg bisa dijadikan acuan apakah dia benar-benar ingin tahu, yaitu:
	
	&amp;ldquo;APAKAH ANAK BENAR-BENAR MEMPERHATIKAN JAWABANNYA.&amp;rdquo;
	
	Anak yg cerdas akan bertanya banyak hal karena memang dia ingin tahu jawabannya. Biasanya, jika anak tersebut bertanya, dia akan &amp;lsquo;mengejar&amp;rsquo; jawaban kita dengan pertanyaan lanjutan, sampai kita orangtua menjadi kewalahan dalam menjawabnya.
	
	Inilah salah satu ciri-ciri anak cerdas yang sebenarnya!
	
	Kadang-kadang kita melihat anak yang selalu bertanya, tetapi sebelum dijawab anak tersebut sudah bertanya lagi hal yang lain lagi secara terus menerus. Hal ini menunjukkan bahwa anak tersebut tidak benar-benar ingin tahu terhadap apa yang ditanyakannya.
	
	Menghadapi anak seperti itu, kita perlu mengarahkan sedikit demi sedikit, sehingga anak menjadi bisa memfokuskan dirinya terhadap apa yang ingin diketahuinya.
	
	Kemudian, sarana TERBAIK untuk memuaskan keingin-tahuan anak adalah dengan menyediakan buku, dan mengajarkan anak MEMBACA sejak dini.
	
	Aktivitas membaca mempunyai pengaruh terbesar dalam kehidupan berpikir seorang anak, yang pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap tingkat kecerdasan anak.
	
	Untuk menstimulasi hal tersebut, kita perlu memberikan kegiatan lanjutan setelah anak selesai membaca dalam suasana yang menyenangkan. Misalnya, kita bisa membuat quiz tentang isi dari bacaan tersebut, dlsb. Hal ini perlu untuk melatih anak belajar menguasai isi bacaan tersebut.
	
	Pemahaman terhadap isi bacaan merupakan tahap lanjutan yang sangat penting untuk diajarkan setelah anak mulai lancar membaca.
	
	Yang lebih penting lagi:
	
	JANGAN memaksa anak untuk membaca!
	
	Beri kebebasan kepada anak untuk memilih buku yang ingin dibacanya.
	
	INGAT, yang penting BUKAN APA yang dibaca oleh anak, TETAPI BAGAIMANA anak membacanya. Tentu saja, selama buku-buku tersebut sesuai untuk anak-anak.
	
	Jangan samapai, misalnya, kita memaksa anak membaca buku tentang binatang, padahal anak sedang ingin membaca buku tentang angkasa luar.
	
	Adil Fathi Abdullah dalam bukunya mengatakan:
	
	&amp;ldquo;Andai kita berhasil membuat anak gemar dan menikmati aktivitas membaca serta menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan daya pikirnya, berarti kita telah memberikan kebaikan yang tidak ternilai dengan harta dunia.&amp;rdquo;
	
	Anda setuju?
	
	
	
	Sumber balitacerdas.com</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 17:02:38 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/rasa-ingin-tahu-anak-besar-anak-cerdas-benarkah/</guid>
</item>
<item>
<title>Tak Cuma Musik Klasik yang Menstimulasi Otak Bayi</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/tak-cuma-musik-klasik-yang-menstimulasi-otak%C2%A0bayi/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Memasuki bulan ke-5 kehamilan, indera pendengaran janin sudah semakin baik, sehingga dapat merespons suara dari luar. Saat inilah para calon ibu disarankan untuk mulai memperdengarkan musik untuk janinnya. Dengan mendengarkan musik, keterampilan motorik dan kognitif janin menjadi lebih baik karena musik menjadi stimulasi bagi perkembangan jumlah sel dan percabangan sel-sel otak ketika sang bayi lahir.&amp;nbsp;Selain itu, mendengarkan musik juga menjadi sarana peredam stres bagi sang calon ibu, sekaligus untuk melakukan <em>bonding</em> dengan sang janin.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Jenis musik yang biasanya disarankan untuk ibu dan janinnya adalah musik klasik, terutama Mozart. Masalahnya, bagaimana bila sang ibu tidak menyukai (atau tidak mampu menikmati) musik klasik? Maklum, musik klasik seringkali disebut-sebut sebagai musik yang rumit. &amp;ldquo;Ada saja lho, pasien yang datang ke saya dan mengeluh karena merasa tidak suka musik klasik,&amp;rdquo; ujar dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dalam Sleep Symposium yang diadakan oleh Pampers Active Baby di Gran Melia, Jakarta, Jumat (20/11).</p>
<p style="text-align: justify;">
	Padahal, musik klasik bukan satu-satunya jenis musik yang dapat menstimulasi perkembangan sel-sel otak.&amp;nbsp;Menurut dokter spesialis anak dari EKA Hospital BSD City ini, yang lebih penting adalah memilih musik yang dapat membuat sang ibu <em>happy</em>, sehingga dapat menembus <em>neurotransmitter</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<em>Neurotransmitter</em> adalah zat yang dapat mengaktifkan sinaps (hubungan antarsel otak), dimana semakin banyak sinaps berarti semakin kompleks kemampuan otak. <em>Neurostransmitter</em> hanyalah satu di antara beberapa hal yang menandai kualitas otak. Hal lainnya adalah banyaknya sel otak, percabangan sel otak, dan mielinisasi (mielin adalah selubung yang berperan pada kecepatan hantaran antarsel syaraf).</p>
<p style="text-align: justify;">
	Karena itu, teruslah mendengarkan musik yang Anda sukai sejak sebelum hamil. Entah itu musik pop, R&amp;amp;B, lagu-lagu daerah, gamelan, dan lain sebagainya. Tak hanya mampu menstimulasi sel-sel sotak sang janin, musik yang Anda dengarkan pun bisa membuatnya ikut <em>happy</em>.<strong>KOMPAS.com</strong> -</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 15 May 2011 23:07:52 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/tak-cuma-musik-klasik-yang-menstimulasi-otak%C2%A0bayi/</guid>
</item>
<item>
<title>Efek Musik Klasik Mozart untuk Anak</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/efek-musik-klasik-mozart-untuk%C2%A0anak/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Memperdengarkan musik kepada janin akan merangsang peningkatan jumlah sel-sel otaknya. Setelah lahir, rangsangan musik dapat memicu percabangan sel-sel otaknya, melatih konsentrasi, dan mengasah daya nalarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Mulai usia 10 minggu, janin sudah bisa mendengar suara-suara dari tubuh ibunya, seperti detak jantung, desir aliran darah, dan bahkan belaian pada perut ibu. Selanjutnya, sekitar usia 16 minggu, janin mulai bisa mendengar suara-suara dari luar tubuh ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Anda bisa membuktikannya dengan mengajak janin bicara ataupun memperdengarkan musik jenis apa saja. Sebagai reaksi, ia akan bergerak-gerak yang menandakan otaknya dapat menerima rangsangan dari luar. Hal ini tentu saja membuat ibu bahagia karena itulah tanda kehidupan di dalam rahimnya berjalan baik, dan bayi kecilnya kini sudah bisa diajak &amp;ldquo;berkomunikasi&amp;rdquo;.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Selain suara ibu, ayah, atau kakak si bayi, musik adalah bentuk rangsangan yang paling disarankan untuk memicu pertumbuhan sel otak janin. Seluruh anggota keluarga dapat menyanyi bersama atau rajin-rajinlah ibu memperdengarkan musik bagi janinnya. Tentu saja, pilih lagu dan musik yang bernada riang serta menenangkan, karena nuansa ini mampu menciptakan emosi yang seimbang, baik bagi janin maupun ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">
	&amp;ldquo;Wanita hamil yang tidak stres dan tenang, tentu detak jantungnya akan lebih teratur. Keteraturan irama ini akan menenangkan bayi dalam kandungannya, yang bahkan juga bermanfaat saat persalinan,&amp;rdquo; kata Dra. Louise M. M. Psi, dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, yang menekuni terapi musik bagi ibu hamil dan anak-anak.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>KLASIK TERBUKTI EFEKTIF</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Menurutnya, apapun jenis musik itu, selama berirama tenang dan mengalun lembut, pasti akan memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak. Jadi, oke saja kalau ibu pilih mendengarkan musik jazz, pop, atau tradisional selama hamil. &amp;ldquo;Hanya saja, musik klasiklah yang sudah diteliti secara ilmiah dan terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak. Sedangkan untuk jenis musik lainnya belum pernah.&amp;rdquo;</p>
<p style="text-align: justify;">
	Gubahan musik klasik ini, bila rajin diperdengarkan pada janin, akan memberikan efek keseimbangan emosi dan ketenangan. Dengan demikian, setelah lahir ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak cengeng dan mudah berkonsentrasi. Dengan modal ini, kemampuan bicaranya akan ikut terpacu, disusul kemampuan bersosialisasinya yang muncul lebih cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Dengan kemampuan berkonsentrasi yang tinggi, anak juga lebih mudah menyerap informasi yang didapat dari lingkungan. &amp;ldquo;Nah, semakin banyak informasi yang dimilikinya, tentu semakin cerdas pula anak tersebut. Ini karena musik klasik bisa merangsang perkembangan otak anak, terutama yang berkaitan dengan daya penalaran, logika, dan kemampuan matematisnya.&amp;rdquo;</p>
<p style="text-align: justify;">
	Di usia sekolah, kemampuan berkonsentrasi ini tentu sangat berperan dalam membentuk prestasi, karena &amp;ldquo;Anak akan lebih mudah belajar,&amp;rdquo; papar Louise. Seperti kita ketahui, keluhan yang paling banyak disampaikan orang tua mengenai anak-anak usia sekolah adalah kurangnya kemampuan berkonsentrasi ini. Jika terapi musik ini diikuti dengan benar, besar kemungkinan anak-anak akan terhindar dari hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Namun, tak perlu khawatir kalau semasa hamil, ibu belum sempat memanfaatkan terapi musik ini, sebab, &amp;ldquo;Terapi musik tetap bisa dilakukan mulai sampai anak berusia 3 tahun, bahkan lebih,&amp;rdquo; ungkap Louise. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk segera memulainya. Untuk anak-anak yang sudah lebih besar, ada baiknya untuk mulai diperkenalkan dengan alat musik, sehingga mereka bisa bermain musik untuk dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>MUSIK YANG DIANJURKAN DAN TIDAK</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Namun, nyatanya tidak semua musik dianjurkan untuk diperdengarkan pada janin, bayi dan balita. &amp;ldquo;Yang tidak disarankan adalah musik dengan irama keras dan cepat, seperti irama rock, disco, serta rap. Musik yang terlalu keras akan membuat mereka tegang dan gelisah,&amp;rdquo; tambahnya. Jadi, bukan jenis musiknya yang boleh atau tidak boleh, tapi beat atau iramanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Kalau pakar menganjurkan kita untuk menyimak dan memperdengarkan musik klasik, itu karena komposisinya yang sangat lengkap dan harmonis. Lalu, bagaimana dengan orang tua yang tidak menyukai musik klasik?</p>
<p style="text-align: justify;">
	&amp;ldquo;Bisa jadi sebenarnya mereka bukan tidak suka, tapi tidak menyadari bahwa selama ini musik klasik selalu hadir dalam kehidupannya. Perhatikan, deh, saat menonton film kartun di teve, musik yang mengiringi biasanya jenis musik klasik,&amp;rdquo; tanggap Louise. Jadi sebaiknya orang tua belajar untuk mulai menyukainya lebih dulu. &amp;ldquo;Kalau ternyata tetap tidak suka, pilihlah jenis musik lain sepanjang iramanya mengalun lembut.&amp;rdquo;</p>
<p style="text-align: justify;">
	Setelah bayi lahir, jenis musik yang diperdengarkan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi saat itu. &amp;ldquo;Menjelang ia tidur, pilihlah musik instrumental yang tenang dan lembut. Dengan begitu, anak dapat segera terlelap,&amp;rdquo; saran Louise lagi. &amp;ldquo;Sebaliknya, untuk menemani anak bermain, pilih musik yang bernada riang dan gembira, sehingga ia merasa bersemangat untuk melakukan aktivitasnya.&amp;rdquo;</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Mozart, Terbukti Paling Positif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya gubahan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, musik-musik karyanya memberikan efek paling positif bagi perkembangan janin, bayi dan anak-anak. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai &amp;ldquo;efek Mozart&amp;rdquo;.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Dibanding gubahan musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Komposisi yang disusunnya telah berhasil menghadirkan kembali keteraturan bunyi yang pernah dialami bayi selama dalam kandungan. &amp;ldquo;Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan, lo,&amp;rdquo; tukas Louise.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Efek Mozart</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Dengan memperdengarkan Mozart secara teratur semenjak masa kehamilan, akan banyak efek positif yang bisa didapat. Di antaranya:</p>
<ul>
	<li style="text-align: justify;">
		Orang tua dapat berkomunikasi dan bersambung rasa dengan anak bahkan sebelum ia dilahirkan.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Musik ini dapat merangsang pertumbuhan otak selama masih dalam rahim dan pada awal masa kanak-kanak.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Memberikan efek positif dalam hal persepsi emosi dan sikap sejak sebelum dilahirkan.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Meningkatkan perkembangan motoriknya, termasuk lancar dan mudahnya anak merangkak, berjalan, melompat dan berlari.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Meningkatkan kemampuan berbahasa, perbendaharaan kata, kemampuan berekspresi, dan kelancaran berkomunikasi.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Meningkatkan kemampuan sosialnya.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Meningkatkan keterampilan membaca, menulis, matematika, dan kemampuan untuk mengingat serta menghapal.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Membantu anak membangun rasa percaya dirinya.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
	sumber: babyorchestra.wordpress.com</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 15 May 2011 22:34:04 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/efek-musik-klasik-mozart-untuk%C2%A0anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Daftar Musik Klasik untuk Kecerdasan Anak</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/daftar-musik-klasik-untuk-kecerdasan%C2%A0anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan dipengaruhi oleh faktor keturunan, perilaku Ibu dalam memakan obat dan makanan sehat bergizi, pelayanan kesehatan yang diberikan selama kehamilan serta lingkungan yang mendukung, misalnya pemberian ungkapan kasih sayang kepada janin. Memperdengarkan musik secara teratur kepada janin akan menunjang pertumbuhan otak belahan kanan dan perkembangan janin (Joan Freeman, Utami Munandar, 1996).</p>
<p>
	Beberapa ahli menganjurkan, agar janin dalam kandungan sejak diperkenalkan dengan musik sejak telinganya telah terbentuk dengan sempurna dan mulai dapat mendengar suara, yaitu sejak minggu ke-18. Musik diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang indah konstruktif bersahabat, selaras dan ramah bagi janin. Musik yang dianjurkan untuk diperdengarkan kepada janin selama kehamilan antara lain musik klasik gubahan Wolfgang Amedeus Mozart yaitu Elvira Madigan dari Konser Piano nomer 21 dalam nada dasar C mayor, KV 467 Konser Seruling nomer 1 dalam nada dasar D, KV 285 dan Kuartet Seruling nomer 2 dalam nada dasar G, KV 285 a. (Lingerman, 1983).</p>
<p>
	Wolfgang Amadeus Mozart terkenal sebagai anak Austri yang genius dan ia mulai belajar musik pada usia 4 tahun, serta mengubah musik sejak berusia 5 tahun. Elvira Madigang, bagian kedua dari Konser Piano nomer 21 yang sangat indah dan mengalun itu, diciptakan pada tanggal 9 Maret 1785 di Wina. Konser Seruling nomer 2, KV 285 a yang ceria itu, diciptakan di Kota Mannheim pada awal tahun 1778, atas pesanan seorang dokter berkebangsaan Belanda de Jean yang pernah bertugas selama 9 tahun di Batavi (nama Jakarta pada saat itu).</p>
<p>
	Pada mulanya, mungkin kita belum terbiasa dengan gubahan Mozart, tetapi setelah mendengarkan berulangulang dan mulai hafal dengan alunan lagunya, pasti kita akan menikmatinya. Disarankan kepada Ibu hamil, agar selama kehamilan mendengarkan musik ini setiap harinya minimal 1/2 jam, ketika ia sedang mengendaraimobil bekerja di kantor dan dirumah atau sedang beristirahat.</p>
<p>
	Mendengarkan musik klasik tidak hanya bermakna bagi ibu hamil tetapi juga bagi janin yang di kandungnya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa janin sudah dapat berinteraksi terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungannya. Pada masa pertengahan terahhir dari kehamilan, janin saudah dapat mendengar, melihat mengecap, merasa, dan melakukan gerakan-gerakan. Para ahli meyarankan agar ibu hamil pada 2-3 bulan terakhir dari kehamilannya membrikan rangsangannya indera (sensorik) kepada janinnya. Mulai minggu ke-20 masa kehamilan kepada janin dapat diperdenagrkan musik secara teratur. Makin sering dan teratur perangsangannya diberikan, makin besar pengaruhnya.</p>
<p>
	Perkrmbangan anak paling cepat pada masa pranatal, dimana ia dalam waktu 9 bulan berubah dari makhluk sel satu menjadi seorang bayi yang panjangnya kurang lebih 50 cm dan beratnya
	3 kg. Kurang lebih 150 tahun yang lalu seorang pujangga Inggris Samuel Taylor Coleridge menyatakan : &amp;ldquo;Sejarah manusia pada sembilan bulan sebelum lahir mungkin lebih menarik dan bermakna dari 10 tahun berikutnya&amp;rdquo;. Ia menekankan betapa pentingnya masa pralahir dalam perkembangan anak mengingat pendapat para ahli pakar dan hasil-hasil penelitian, ibu-ibu yang hamil perlu memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan dirinya dan pertumbuhan janin yang dikandung, baik dalam menjaga gizi sebaik-baiknya, maupun dalam menjaga kondisi psikologis yang menunjang perkembangan bayi secara utuh ditinjau dari segi fisik, mental emosional, dan rasional, antara lain dianjurkan oleh Hal A. Lingerman, yang menulisbuku tentang &amp;ldquo;The healing energies of misic&amp;rdquo;.</p>
<p>
	Menurut Suzuki (1987), musik adalah bagian udara yang bergetar, serupa dengan angin. Bayi dan janin pada bulan-bulan terakhir sebelum lahir, mampu merasakan getaran musik yang baik atau sumbang bergantung pada musik yang ada di lingkungan sekitar bayi itu. Bila anak dibesarkan dalam suasana misik Mozart sejak dini, jiwa mozart yang penuh kasih sayang akan tumbuh juga dalam dirinya. Inilah keindahan dan keajaiban dari musik.</p>
<p>
	Seperti yang telah diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi dan bioelektrk lainnya bahwa denyut jantung janin mulai dapat dideteksi pada kehamilan 8 minggu dan gerakan janin mulai tampak pada kehamilan 8-9 minggu (Temiras dkk). Pada kehamilan 10 minggu, janin telah menunjukkan reaksi terhadap rangsanagn lokal, gerakan membuka mulut dengan gerakan-gerakan jari serta telapak kaki semua gerakan ini lebih sempurna pada kehamilan 16 minggu.</p>
<p>
	Respon terhadap rangsangan luar (fisik maupun getaransuara) mulai ada sejak kehamilan 4 bulan ini, yang menjadi lebih lengkap pada kehamilan 6 bulan, sedangkan terhadap rangsangan sinar baru muncul pada kehamilan 7 bulan.</p>
<p>
	Atas dasar kenyataan tersebut maka J. Balaskas dan Y. Gordon telah menulis adanya pengaruh positif dsri musik klasik karya Mozart dan Vivaldi terhadap perkembangan mental emosional janian mulai kehamilan 4-5 bulan. Kehamilan itu sendiri adalah suatu proses fisiologis yang kadang-kadang dapat menimbulkan stress bagi ibu yang tidak siap mental emosionalnya, stress yang tidak dikelola dengan baik, akan berdampak buruk bagi perkembangan janin, baik yang melalui pengaruh psikologis langsung maupun melalui reaksi hormonalnya. Dengan kesiapannya mental emosionalnya menghadapi kehamilan, termasuk kebiasaan mendengarkan musik klasik diharap mampu mengatasi stress yang ada, sehingga secara tidak langsung membantu optimalisasi perkembangan janin yang dikandungnya.</p>
<p>
	Atas dasar laporan dan temuan tersebut diatas, kalau memang dikehendaki munculnya generasi penerus dengan kualitas hidup dan kehidupan yang optimal perlu kiranya dicoba dan diteliti lebih lanjut dapak positif musik klasik terhadap kualitas janin yang bisa mendengarkan pada ibu hamil usia kandungan 4-5 bulan.</p>
<p>
	Berikut musik mozart yang saya ketahui :</p>
<ol>
	<li>
		<a href="http://downloads.ziddu.com/downloadfile/10750358/SymphoniNo40Mozart.mp3.html">Mozart 40</a></li>
	<li>
		Turkish Dance</li>
	<li>
		Piano Concerto</li>
	<li>
		Hungarian Dances No. 5</li>
	<li>
		Fur Elise</li>
	<li>
		Melody In F</li>
	<li>
		Traumerei</li>
	<li>
		Wedding March</li>
	<li>
		Bourre</li>
	<li>
		Ave Maria</li>
	<li>
		Dance Des Mirlitons</li>
	<li>
		Gavotte In G</li>
	<li>
		Auf Flugeln Des Gesangar</li>
	<li>
		Humoreske Op. 101 No. 7</li>
</ol>
<p>
	(sumber: babyorchestra.wordpress.com)</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 15 May 2011 21:46:55 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/daftar-musik-klasik-untuk-kecerdasan%C2%A0anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Menyeimbangkan Fungsi Otak Kanan dan Kiri Anak dengan Musik</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/menyeimbangkan-fungsi-otak-kanan-dan-kiri-anak-dengan%C2%A0musik/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Musik tidak cuma merupakan materi hiburan yang memanjakan telinga. Alunan suara yang berirama ini bisa dimanfaatkan untuk merangsang janin agar kelak menjadi anak cerdas dan kreatif. Bahkan musik bisa dipakai untuk memutar janin sungsang kembali ke posisi normal.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Dibandingkan dengan kemampuan rata-rata anak seusianya, anak dari Ny. Ir. Catharina (30) jauh lebih baik. Ketika berusia dua bulan, anaknya sudah bisa tertawa terbahak-bahak. Di usia 3,5 bulan, sudah bisa melepas kacamata kakeknya. Bahkan, ketika umurnya menginjak empat bulan, sudah bisa bersalaman. Semua itu bukan tanpa sebab. Ketika hamil, Ny. Catharina ingat cerita orang tuanya bahwa musik klasik karya Wolfgang Amadeus Mozart bisa membuat perkembangan otak belahan kanan janin dalam kandungan menjadi lebih baik sehingga meningkatkan kemampuan afektif si anak. Dari situlah ia lalu berusaha untuk selalu mendengarkan musik klasik. Dalam perjalanan ke kantornya, musik yang buat banyak orang terasa berat itu terus mengalun dari kaset di dalam mobilnya. Baginya mendengarkan musik klasik bukanlah kegiatan aneh apalagi membosankan karena kebetulan ia pencinta musik klasik. Ia justru terhibur di tengah-tengah kemacetan lalu lintas ibukota.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Kedua belahan otak harus imbang
	</strong>Mendengarkan musik klasik sebenarnya merupakan bagian dari beberapa stimulasi yang biasanya diberikan oleh ibu hamil kepada janin di dalam kandungannya. Demikian kata Prof. Dr. Utami Munandar dalam seminar &amp;ldquo;Pengaruh Mendengarkan Musik Klasik terhadap Janin dan Kehamilan&amp;rdquo;, di Jakarta, November silam. Menurut guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, stimulasi tersebut meliputi stimulasi fisik-motorik dengan &amp;ldquo;mengelus-elus&amp;rdquo; jabang bayi melalui kulit perut sang ibu, stimulasi kognitif dengan berbicara dan bercerita kepada janin, dan stimulasi afektif dengan menyentuh perasaan bayi. Makin sering dan teratur perangsangan diberikan, makin efektif pengaruhnya. Pada janin, musik akan merangsang perkembangan sel-sel otak. Perangsangan ini sangat penting karena masa tumbuh kembang otak yang paling pesat terjadi sejak awal kehamilan hingga bayi berusia tiga tahun. Namun, menurut dr. Jimmy Passat, ahli saraf dari FKUI-RSCM, dan Isye Widodo, S.Psi, koordinator Parent Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, intervensi ini haruslah seimbang. Orang tua sebaiknya tidak hanya menstimulasi kemampuan otak kiri, tetapi juga otak kanannya. Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi ini memang dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Sementara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya ingat (nama, waktu, dan peristiwa), logika, dan analisis. Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan mengarang dengan baik. Sementara itu bagi ibu hamil, musik &amp;ndash; terutama yang klasik &amp;ndash; bisa membebaskannya dari stres akibat kehamilan. Ini sangat baik sebab, menurut dr. Suharwan Hadisudarmo Sp.OG. MMR, stres yang tidak dikelola dengan baik, akan berdampak buruk bagi ibu yang bersangkutan dan perkembangan janin di rahimnya. Stres pada wanita hamil akan meningkatkan kadar renin angiotensin, yang memang sudah meningkat pada wanita hamil sehingga akan mengurangi sirkulasi rahim-plasenta-janin. Penurunan sirkulasi ini menyebabkan pasokan nutrisi dan oksigen kepada janin berkurang. Perkembangan janin pun terhambat. Hambatan macam ini bisa dihilangkan atau dikurangi bila si ibu mendengarkan musik klasik, terutama karya Mozart. Memang, tidak setiapibu hamil menyukai musik klasik. Namun, kalau didengarkan secara berulang-ulang hingga hafal, akan terasa letak indahnya musik klasik ini. Keindahan dan ketenangan inilah yang membuat musik klasik itu istimewa. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Cukup 30 menit sehari
	</strong>Mungkin semua jenis musik, dari yang tradisional hingga modern, bisa pula dimanfaatkan untuk hal yang sama. Namun, hingga saat ini yang sudah diteliti dan menunjukkan hasil positif baru musik klasik, terutama karya Mozart. Jenis musik ini terbukti efektif dalam menstimulasi perkembangan otak belahan kanan dari janin. Menurut Suzuki (1987), seperti dikutip Utami, bila anak dibesarkan dalam suasana musik Mozart sejak dini, jiwa Mozart yang penuh kasih sayang akan tumbuh juga dalam dirinya. Mendengar alunan musik yang tenang, jantung si janin berdenyut dengan tenang pula. Bahkan, setelah dilahirkan mendengarkan musik klasik juga memberi pengaruh baik bagi si bayi. Sekadar contoh, seperti diberikan Utami, seorang bayi berusia tiga bulan, yang sejak lahir sering diputarkan musik klasik, mampu menggerakkan badannya sesuai dengan iramanya. Jika irama makin cepat menuju klimaks, gerakan bayi lebih cepat dan aktif, dan ketika musik berhenti dia menunjukkan ketidaksenangan. Sementara untuk merangsang belahan otak kiri yang bertanggung jawab terhadap kemampuan akademik, tambah Isye, musik dengan syair yang mendidik terbukti memberi pengaruh baik. &amp;ldquo;Saya menggunakan lagu-lagu anak-anak Indonesia. Itu merupakan eksperimen saya sendiri. Nah, intervensi yang saya gunakan selama ini ternyata ada gunanya. Bayi yang dilahirkan, ketika berusia dua tahun ternyata memiliki kemampuan komunikasi pasif dan aktif seperti anak usia empat tahun. Contoh lainnya, bayi berusia tiga bulan umumnya belum ada tanda-tanda mengeluarkan kata-kata &amp;rdquo;a-e-o&amp;rdquo;. Tapi bayi yang, ketika masih dalam kandungan, mendapat terapi musik sudah bisa mengeluarkan kata-kata itu, kemampuan berbahasanya lebih cepat,&amp;rdquo; ungkapnya. Isye juga menyatakan, lagu anak-anak yang dipilih untuk terapi cukup dua tiga lagu. Musik bersyair itu misalnya lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud atau Ibu Kasur. Menurut dia, <em>Pelangi-Pelangi</em> merupakan lagu paling disukai. &amp;ldquo;Pada akhir lagu itu &amp;rdquo;kan ada syair &amp;rdquo;&amp;hellip; ciptaan Tuhan&amp;rdquo;. Jadi sejak janin, calon anak ini sudah mengenal kata Tuhan,&amp;rdquo; jelasnya. Stimulasi perkembangan otak janin ini bisa dilakukan sejak usia kehamilan 18 &amp;ndash; 20 minggu. Menurut Harold I. Kaplan, Benjamin J. Sadock, dan Jack A. Grebb, pada usia itu janin sudah dapat mendengar. Dia juga sudah bisa bereaksi terhadap suara dengan memberi respons berupa kontraksi otot, pergerakan, dan perubahan denyut jantung. Bahkan, pada usia itu perkembangan mental emosional janin sudah dapat dipengaruhi musik. Mendengarkannya bisa dilakukan di mana saja. Namun, untuk tujuan terapi sebaiknya dilakukan di tempat khusus untuk terapi dan dipandu oleh pakarnya. &amp;ldquo;Di tempat terapi ini akan tercipta suasana kebersamaan. Dengan kebersamaan itu, mereka bisa bertukar pengalaman dan sebagainya, sehingga saat menghadapi persalinan persiapan mental mereka sudah bagus dan rasa percaya dirinya juga bagus,&amp;rdquo; jelas Isye. Di samping itu ibu hamil dianjurkan pula mendengarkan musik di rumah secara teratur. Dalam melakukan terapi musik, ibu hamil mesti melalui tahapan relaksasi fisik dan mental sebelum memasuki tahapan stimulasi terhadap janin. &amp;ldquo;Untuk mencapai rileks fisik saya memberikan relaksasi progresif di mana ibu-ibu mengendurkan dan mengencangkan otot-ototnya, mengatur pernapasan dan sebagainya. Setelah secara fisik rileks, baru memasuki relaksasi mental. Dalam relaksasi mental, saya mengucapkan kata-kata yang bersifat sugesti dan menguatkan. Jadi secara fisik mereka rileks, dan saya membawa mereka ke dalam suasana di mana mereka bisa melupakan semua konflik yang mereka rasakan sebelumnya. Mereka hanya berkonsentrasi untuk terapi. Pada saat diberi instruksi-instruksi untuk relaksasi, diperdengarkan alunan musik yang bisa membangkitkan perasaan rileks.</p>
<p style="text-align: justify;">
	(Sumber : Majalah Intisari via babyorchestra.wordpress.com)</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 15 May 2011 21:27:20 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/menyeimbangkan-fungsi-otak-kanan-dan-kiri-anak-dengan%C2%A0musik/</guid>
</item>
<item>
<title>Cara Tingkatkan Keterampilan Oromotor Anak</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/cara-tingkatkan-keterampilan-oromotor-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<strong>PEMBERIAN</strong> makanan pada anak di waktu yang tepat tak hanya berpengaruh pada gizi bayi yang bersangkutan, tapi juga keterampilan oromotor di mana sistem ini sangat berpengaruh bagi keterampilan motorik dan kognitif anak ke depannya.
	&amp;nbsp;
	Sudahkah Anda memberi makan anak Anda di waktu yang tepat? Coba Anda telisik lebih lanjut. Pemberian makanan pada bayi di waktu yang tepat dan ditambah dengan nutrisi yang menunjang sangat berpengaruh pada keterampilan oromotor, yakni kegiatan yang melibatkan sistem gerak otot dari <em>oral cavity</em> (rongga mulut) seperti rahang, gigi, lidah, langit-langit, bibir, dan pipi. Pada bayi, kekuatan, koordinasi, dan kontrol dari struktur mulut ini bisa menjadi fondasi dari seluruh aktivitas makan seperti menghisap, menelan, menggigit, dan mengunyah. Guna menghasilkan perkembangan oromotor yang sesuai usianya, diperlukan stimulasi atau rangsangan yang tepat.
	&amp;nbsp;
	Pada usia awal, bayi memang sedianya diharuskan mengasup ASI eksklusif termasuk inisiasi menyusui dini (IMD) khususnya pada 6 bulan pertama. Namun, ketika memasuki usia 6 bulan di mana aktivitas bayi semakin aktif, kebutuhan gizi pun semakin meningkat sementara pada waktu yang bersamaan tersebut produksi ASI pun semakin berkurang. Guna memenuhi kebutuhan nutrisi, setiap bayi pun memerlukan makanan penunjang ASI yang tepat waktu dan aman sambil tetap melanjutkan pemberian ASI hingga bayi menginjak 2 tahun atau lebih.
	&amp;nbsp;
	Pada fase tersebut, <em>Moms</em> dapat mulai mengenalkan makanan padat yang ditambahkan selain ASI yang biasa disebut MPASI (Makanan Pendamping ASI) untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang tidak bisa dipenuhi hanya oleh ASI atau PASI (Pengganti ASI/Susu Formula Bayi). Semakin telat pengenalan MPASI, maka semakin besar pula ketertinggalan kebutuhan energi yang dialami bayi.
	&amp;nbsp;
	Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemilihan makanan penunjang yang baik sangatlah dibutuhkan. Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah memilih makanan bertekstur sesuai usia.
	&amp;nbsp;
	&amp;quot;Keterampilan makan bukanlah sebuah anugerah, semata melainkan sesuatu hal yang perlu dipelajari,&amp;quot; ujar Dr Damayanti R Sjarif Dr SpA(K) dalam &amp;ldquo;Media Briefing Stimulasi Keterampilan Oromotor Pada Anak&amp;rdquo; di Restoran Seribu Rasa, kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (19/4/2011).
	&amp;nbsp;
	Pada dasarnya, kegiatan makan dimulai sebagai sesuatu yang bersifat refleks dan kemudian berkembang menjadi tindakan yang dapat dikendalikan (fase faringeal dan esophageal dari menelan). Perkembangan keterampilan makan dimulai pada saat bayi baru lahir. Bayi yang baru lahir tidak dapat memfokuskan mata dan tangannya ke sumber makanan. Perabaan pada pipi dan daerah sekitar mulut merangsang refleksnya untuk mengarahkan mulut ke puting susu atau dot dan selanjutnya melakukan gerakan menghisap. Pada usia 4-6 bulan barulah refleks menghisap makin matang. Bayi dapat refleks menjulurkan lidah menghilang sehingga lebih mudah mengonsumsi makanan yang semi padat. Gerakan mengunyah mulai berkembang pada usia 7-9 bulan di mana bayi mulai dapat mengendalikan tubuhnya dan duduk sendiri. Pada usia 9-12 bulan keterampilan mengunyah semakin sempurna dibarengi dengan kemampuan memgang benda dengan jari. Dan pada usia 1-3 tahun seiring dengan perkembangan ego, anak berusaha untuk makan sendiri sehingga stimulasi ini dapat membantu kemandirian anak.
	&amp;nbsp;
	Dengan perbedaan tahapan tersebut, kebutuhan makanan pendamping ASI pun mesti disesuaikan dengan fase pertumbuhan mereka. Promina, sebagai salah satu <em>brand</em> pangan untuk bayi mengerti bahwa setiap perkembangan bayi membutuhkan stimulasi tepat dalam berbagai aspek termasuk stimulasi nutrisi dan tekstur dari makanan.
	&amp;nbsp;
	Untuk mempermudah dalam mendapatkan makanan bayi, Promina pun menghadirkan produk dengan varian lengkap dengan formula baru yang disempurnakan bagi bayi usia 6 bulan, 8 bulan, 12 bulan dan 18 bulan ke atas sehingga dapat menstimulasi keterampilan oromotor bayi.
	&amp;nbsp;
	&amp;quot;Kami ingin memberikan stimulasi tekstur makanan sesuai dengan tingkatan perkembangan bayi di mana dari waktu ke waktu perkembangannya makin aktif,&amp;quot; ujar Krisanti Caroline selaku Brand Manager Promina, Indofood.
	&amp;nbsp;
	Dalam rangka meng-<em>cover</em> kebutuhan itu, Promina pum hadir sesuai tingkatan usia. Untuk bayi usia 6 bulan, Promina menghadirkan bubur bayi bergizi dengan tekstur lembut dan, kemudian di usia 8 bulan ada bubur tim yang teksturnya lebih kasar, usia 12 bulan ada nasi tim yang merupakan lanjutan dari bubur tim, serta sup mie yang dikhususkan untuk anak usia 18 bulan ke atas. Tak hanya itu, Promina pun menyediakan camilan penunjang yakni biskuit ringan yang juga tersedia untuk usia 6 bulan, 8 bulan, dan 12 bulan. Jadi, segera penuhi nutrisi anak Anda sesuai dengan tingkatan usianya demi perkembangan motorik dan kognitifnya agar berjalan dengan sempurna.</p>

	Dwi Indah Nurcahyani - Okezone ]]></description>
<pubDate>Mon, 02 May 2011 02:09:29 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/cara-tingkatkan-keterampilan-oromotor-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Ibu Montok, Jaminan Anak Cerdas</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/ibu-montok-jaminan-anak-cerdas/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Bertubuh montok atau gemuk, padat, berisi seringkali membuat minder sebagian wanita. Berbagai cara pun dicoba agar berat badan mereka menjadi langsing, dari mulai memakai obat-obatan, diet matia-matian, sampai membayar instruktur senam pribadi. Meski kadang merepotkan, namun takukah anda bahwa wanita bertubuh montok ternyata mampu melahirkan bayi-bayi yang cerdas.</p>
<p>
	Sebuah penelitian dari Universitas Pittsburgh dan Universitas California Amerika mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil analisa 16 ribu wanita dan remaja putri yang berbadan montok, pinggul berisi, dan pinggang ramping ternyata mampu menyelesaikan tes psikologi dan cognitive lebih baik ketimbang wanita yang berbadan kurus, begitu pun dengan anak-anak yang lahir dari wanita berpinggul padat. Yang lebih mengejutkan, penelitian ini menyatakan bahwa semakin besar perbedaan lekuk antara pinggang dan pinggul, maka semakin baik pula kecerdasan anak mereka (seperti dilansir oleh BBC).</p>
<p>
	Dasar dari penelitian tersebut, terkait dengan ditemukannya kandungan fatty acids (asam lemak) pada wanita berpinggul besar. Dimana didalam asam lemak tersebut terkandung sumber omega-3 yang mampu memperbaiki kemampuan mental wanita saat hamil juga perkembangan kecerdasan janin dalam kandungan.</p>
<p>
	Meski hasilnya cukup mengejutkan, namun para ahli tidak berharap banyak hasil analisa mereka disetujui publik. Karena biar bagaimana, kecerdasan tiap anak juga ditentukan oleh kelas sosial, kondisi ekonomi, psikologis, serta peran ibu sebagai orang tua. Namun tentu saja hasil analisa ini bisa menjadi semangat baru bagi ibu-ibu yang memiliki tubuh montok, untuk setidaknya bangga dengan apa yang dimilikinya, dan tidak menyiksa diri agar memiliki tubuh yang kurus.
	
	 (Dikutip dari <a href="http://problemseks.blogspot.com/" title="http://problemseks.blogspot.com">http://problemseks.blogspot.com</a>)</p> ]]></description>
<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 20:45:19 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/ibu-montok-jaminan-anak-cerdas/</guid>
</item>
<item>
<title>Peran Ayah agar Anak Secerdas Einstein</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/peran-ayah-agar-anak-secerdas-einstein/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Setiap orangtua memiliki peranan yang besar bagi anak. Selama ini yang diketahui orangtua pada umumnya adalah peran mereka sebatas membesarkan dan melindungi anak agar kelak menjadi individu yang mandiri dan kompeten. Namun seperti apa proses membesarkan anak, kerap menjadi tanda tanya.</p>
<p>
	Maklum, setiap orangtua membawa sejumlah kualitas-kualitas pribadi dan berbagai kebutuhan yang kompleks dalam peranannya sebagai orangtua. Sama halnya seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda, sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan.</p>
<p>
	Bahkan lebih jauh, orangtua turut membawa pengalaman masa lalunya terdahulu saat diasuh oleh orangtuanya di masa kecil, dan sejumlah nilai-nilai budaya yang membentuk apa yang mereka lakukan saat ini. Selain itu, orangtua juga memiliki pola-pola kehidupan sosial seperti, hubungan bersama pasangan, keluarga besar, dan dunia kerja.</p>
<p>
	Sehingga orangtua perlu melakukan sejumlah penyesuaian agar sejumlah kualtas-kualitas pribadi yang mereka bawa ke dalam pengasuhan anak, mampu memenuhi sejumlah kebutuhan-kebutuhan anak, agar terpenuhi berbagai tuntutan perkembangannya, baik secara fisik dan motorik, kognitif alias kemampuan berpikir dan kecerdasan, kebutuhan emosi dan sosial, hingga kebutuhan akan berbagai nilai dan norma.</p>
<p>
	<strong>Peran Ayah dan Ibu berbeda dalam pengasuhan?</strong></p>
<p>
	Mengingat peran jenis kelamin turut memengaruhi pola pengasuhan, pertanyaan kemudian adalah, apakah Ayah dan bu memiliki peran-peran yang berbeda dalam pengasuhan?</p>
<p>
	Secara umum, Ayah dan Ibu memilki peran yang sama dalam pengasuhan anak-anaknya seperti yang sudah dibahas sebelumnya, dalam subjudul &amp;rdquo;peran orangtua&amp;rdquo;. Namun ada sedikit perbedaan sentuhan dari apa yang ditampilkan oleh Ayah dan Ibu.</p>

	
		
			
				<strong>Peran Ayah</strong>
			
				<strong>Peran Ibu</strong>
		
		
			
				Menumbuhkan perasaan percaya diri dan kompeten pada anak melalui kegiatan bermain yang lebih keras dan melibatkan fisik baik di dalam maupun di luar ruang.
			
				Menumbuhkan perasaan mencintai dan mengasihi pada anak melalui interaksi yang jauh lebih melibatkan sentuhan fisik dan kasih sayang.
		
		
			
				Menumbuhkan kebutuhan akan hasrat berprestasi pada anak melalui kegiatan mengenalkan anak tentang berbagai jenis pekerjaan dan berbagai kisah tentang cita-cita.
			
				Menumbuhkan kemampuan berbahasa pada anak melalui kegiatan-kegiatan bercerita dan mendongeng, serta melalui kegiatan yang lebih intim, yakni berbicara pada anak.
		
		
			
				Mengajarkan tentang peran jenis kelamin laki-laki, tentang bagaimana harus bertindak sebagai laki-laki, dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari laki-laki.
			
				Mengajarkan tentang peran jenis kelamin perempuan, tentang bagaimana harus bertindak sebagai perempuan, dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari seorang perempuan
		
	

<p>
	&amp;nbsp;</p>
<p>
	
	<strong>Perubahan Peran Orangtua dalam Proses Pengasuhan</strong></p>
<p>
	Peran orangtua dalam pengasuhan anak kerap mengalami perubahan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Itulah sebabnya, orangtua diharapkan mampu memahami tugas-tugas perkembangan anak dalam setiap tahap tumbuh kembangnya.</p>
<p>
	Untuk menciptakan anak yang cerdas, orangtua terlebih dahulu harus memahami apa yang dimaksud dengan kecerdasan dan kemudian memahami perkembangan kognitif pada anak. Sehingga orangtua, khususnya Ayah, juga dapat diharapkan menjadi fasilitator perkembangan anaknya. Menurut pakar psikologi perkembangan terkenal asal Swiss, Jean Piaget, anak perlu melakukan aksi tertentu atas lingkungannya untuk dapat mengembangkan cara pandang yang kompleks dan cerdas atas setiap pengalamannya. Dan sudah menjadi tugas orangtua untuk memberi anak pengalaman yang dIbutuhkannya agar mereka bisa mengembangkan kecerdasannya.</p>
<p>
	<strong>Anak Cerdas seperti Einstein</strong></p>
<p>
	Hingga saat ini, sulit untuk menguraikan apa yang dimaksud dengan kecerdasan karena termnya begitu kompleks. Kecerdasan tak sebatas hanya kecerdasan di sekolah yang terukur dari kemampuan anak dalam belajar membaca, berhitung, atau menggambar. Lebih dari itu. Kecerdasan adalah kemampuan berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi, yang mencakup; pembentukan konsep, pemecahan masalah, kreativitas, memori, persepsi, dan masih banyak lagi.</p>
<p>
	Ada sejumlah kemampuan kognitif atau kemampuan berpikir yang menggambarkan kecerdasan, antara lain: kemampuan untuk mengelompokkan pola, kemampuan memodifikasi perilaku agar lebih adaptif, kemampuan melakukan penalaran deduktif, kemampuan melakukan penalaran induktif, kemampuan mengembangkan konsep, dan kemampuan untuk memahami atau melihat keterkaitan pada sejumlah informasi.</p>
<p>
	Salah satu kemampuan yang sangat dikenal luas oleh orangtua adalah kemampuan melakukan penalaran berpikir secara matematis, seperti yang dimiliki oleh Albert Einstein. Kecerdasan pada area ini dipercaya dapat mewakili kecerdasan pada area yang lain. Mengembangkan kecerdasan dalam melakukan kemampuan berpkir logis akan meningkatkan kecerdasan anak secara umum, meski sesungguhnya orangtua dapat mengembangkan berbagai kemampuan logika berpikir lain yang ada anak, seperti logika berpikir dalam menganalisis masalah dalam sebuah cerita, dalam sebuah gambar atau balok, dalam sebuah gerakan tari atau senam, dalam sebuah irama lagu, dan masih banyak lagi.</p>
<p>
	Kecerdasan merupakan kemampuan berpikir yang lebih advance. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan anak, Ayah pun perlu turut belajar memahami tahap perkembangan kemampuan berpikir pada setiap tahap usia anak.</p>
<p>
	<strong>Status Perkembangan Kognitif Anak dan Peran Ayah dalam Pengembangannya.</strong></p>
<p>
	Jean Piaget merumuskan tentang tahap perkembangan kemampuan kognitif pada anak. Menurutnya, kemampuan berpikir pada anak berubah untuk setiap tahap tumbuh kembang dan memiliki penekanan pada kemampuan tertentu.</p>
<p>
	Mengulang tindakan. Misalnya:membuka dan menutup tangan</p>
<p>
	Awal berpikir</p>

	
		
			
				&amp;nbsp;
			
				Usia
			
				Perilaku
		
		
			
				<strong>Sensori Motor</strong>
			
				<strong>0-2 tahun</strong>
			
				<strong>Anak memersepsi dan bertindak</strong>
		
		
			
				Tahap berefleks
			
				0-1 bulan
			
				<p>
					Melatih refleks yang sudah ada, misalnya: menghisap</p>
				<p>
					Mengulang tindakan. Misalnya:membuka dan menutup tangan</p>
			
		
		
			
				Tahap reaksi primer
			
				1-4 bulan
			
				Menggunakan dua penginderaan sekaligus. Misalnya:lihat dan dengar
		
		
			
				Tahap reaksi Sekunder
			
				4-8 bulan
			
				Mengulang tindakan untuk melihat perubahan lingkungan. Misalnya: menendang mainan gantung untuk melihatnya bergerak menjauh
		
		
			
				Tahap koordinasi
			
				8-12 bulan
			
				Memberikan respon untuk menyelesaikan masalah. Misalnya: memindahkan penutup untuk mengambil mainan
		
		
			
				Tahap reaksi tertier
			
				12-18 bulan
			
				Tertarik pada karakter sebuah mainan untuk melihat bagimana mainan bisa berfungsi. Bayi sudah bisa meniru lebih akurat.
		
		
			
				Awal berpikir
			
				18-24 bulan
			
				Anak mulai mengunakan bahasa dan simbol
		
		
			
				<strong>Periode
				Pre-opreational</strong>
			
				<strong>2-7 tahun</strong>
			
				<strong>Anak mulai menghadirkan obyek atau orang dengan menggunakan simbol (misalnya: bahasa)</strong>
		
		
			
				Tahap pre-konseptual
			
				2-4 tahun
			
				Menghadirkan setiap pengalamannya secara mental dengan menggunakan bahasa, lebih imajinatif dalam bermain.
		
		
			
				Tahap intuitif
			
				4-7 tahun
			
				Mulai merespon secara intuitif namun lebih menaruh perhatian pada tampilan sebuah obyek, seperti gelas yang lebih tinggi akan menyimpan air lebih banyak daripada gelas yang pendek.
		
	

<p>
	&amp;nbsp;</p>
<p>
	Anak mulai menghadirkan obyek atau orang dengan menggunakan simbol (misalnya: bahasa)
	Menghadirkan setiap pengalamannya secara mental dengan menggunakan bahasa, lebih imajinatif dalam bermain.</p>
<p>
	Mulai merespon secara intuitif namun lebih menaruh perhatian pada tampilan sebuah obyek, seperti gelas yang lebih tinggi akan menyimpan air lebih banyak daripada gelas yang pendek.</p>
<p>
	Berdasarkan status perkembangan kognitif anak seperti yang diuraikan di atas, Ayah dapat menyelami kemampuan seperti apa yang sedang berkembang pada anaknya di usia tertentu. Sehingga Ayah dapat menentukan permainan dan kegiatan seperti apa yang dapat merangsang perkembangan kemampuan berpikir anak agar kecerdasannya optimal.</p>
<p>
	Seperti apa kegiatan yang dapat dikembangkan Ayah untuk setiap tahap perkembangan Anak, akan kita kupas tuntas dalam talkshow &amp;rdquo;Peran Ayah agar Anak Secerdas Einstein&amp;rdquo; pada Smart Parents Conference.
	Buku Rujukan</p>
<p>
	Brooks, Jane B. 2004. The Process of Parenting. 6th Ed. New York: McGraw-Hill.
	Papalia, Diane., Olds, Sally W., Feldman, Ruth D. 2008. Human Development. 11th Ed. USA:</p>
<p>
	McGraw-Hill.
	Solso, R Robert. 2001. Cognitive Psychology. 6th Ed. Nevada: Allyn &amp;amp; Bacon.
	Vasta, Ross., Miller, Scott A., Ellis, Shari. 2004. Child Psychology. 4th Ed. NJ: John Wiley</p>
<p>
	&amp;amp; Sons, Inc.</p>
<p>
	<strong>Oleh: Roslina Verauli, M. Psi (psikolog</strong>)</p> ]]></description>
<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 17:04:20 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/peran-ayah-agar-anak-secerdas-einstein/</guid>
</item>
<item>
<title>Mitos Seputar Anak Berbakat</title>
<link>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/mitos-seputar-anak-berbakat/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<em>&amp;ldquo;orang tua harus memahami kemampuan di atas rata-rata anak berbakat dan tetap mendorong anak untuk bersosialisasi.&amp;rdquo;</em></p>
<p>
	Seorang anak di kategorikan anak berbakat, tak semata-mata karena mudah memahami segala sesuatu, mempunyai daya ingat baik serta mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan cepat. Bisa jadi mereka bukan siswa yang selalu berprestasi. Namun, ada sesuatu yang membedakan dirinya dengan siswa lain di kelas, yakni kewaspadaan (alertness), kemampuan memahami (quick insights), dan keterampilan lain yang lebih hebat dari anak lain seusianya. Hal ini membuat anak mampu menunjukkan prestasi luar biasa di sekolah. Satu ciri pasti yang ditunjukkan anak berbakat umumnya adalah skor IQ-nya tinggi.
	
	Bagaimana perasaan anda jika si kecil diidentifikasi sebagai anak berbakat? Takjub? Bingung? Riang? Gelisah? Anda mulai menyadari si kecil akan memiliki perilaku berbeda dengan teman-teman sebayanya. Semakin tinggi skor IQ anak, kian membuat anak menjadi tidak tipikal. Biasanya 3-5 persen anak dari populasi sekolah tergolong gifted (berbakat). Jika ada 1000 siswa, maka paling tidak ada 30-50 anak yang tergolong gifted.</p>
<p>
	&amp;nbsp;</p>
<p>
	<strong>Hidup dengan Keberbedaan</strong>
	Harus disadari anak berbakat berbeda perkembangannya dibanding teman sebayanya. Apalagi jika tingkat kecerdasan anak semakin tinggi. Menurut Dr Reni Akbar Hawadi Psi, Ketua Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, perbedaan-perbedaan yang dimiliki anak berbakat akan membuatnya merasa terasing dalam perkembangannya saat dia merasa harus bermain dan membangun persahabatan dengan anak-anak lain.
	
	Bagi anak berbakat kebutuhan sosial dan emosional ini tidak dengan serta merta diperolehnya. Dikarenakan kelangkaan dan karakteristiknya, maka anak berbakat akan dilihat sebagai orang aneh dalam kelompok sosialnya. Ini sebenarnya yang menjadi tantangan diri seorang anak berbakat sesungguhnya. Anak harus mampu membawa dirinya agar bisa diterima baik oleh anak-anak yang lain. Perbedaan yang dimiliki anak berbakat sudah dapat dideteksi sejak bayi, seperti bisa berjalan atau berbicara lebih dini. Perkembangan anak berbakat berada di atas 30 persen anak seusianya. Anak berbakat sering kali mampu melewati kesulitan belajar lebih cepat dari teman sebayanya.
	
	Sering kali orang tua bingung bagaimana harus bersikap. Biasanya orang tua anak berbakat dianjurkan mengabaikan tabel normal usia anak dan membiarkan anak berkembang sesuai tempo perkembangannya. Namun, dengan demikian anak dipaksa melampaui tingkat kesiapannya. Sebaliknya, ada pendapat untuk tidak menghambat kemajuan perkembangan anak.
	
	Perkembangan yang cepat pada anak berbakat membawa konsekuensi adanya kebutuhan yang berbeda pada dirinya. Sebaiknya orang tua mendukung dan merangsang anak, namun tidak dengan tuntutan berlebihan. Jangan menghambat perkembangan unik anak dengan melemahkan keinginannya mengeksplorasi lingkungan. Kebanyakan orang tua baru menyadari anaknya tergolong anak berbakat saat mulai masuk prasekolah. Agar penanganan anak tidak terhambat, Reni menyarankan agar setiap orang tua memiliki semacam buku harian mencatat setiap perkembangan anak, yaitu Buku Perkembangan Bayi. Pastikan mencatat setiap kali perilaku anak yang tidak biasa (unusual).
	
	<strong>Gaya belajar</strong>
	Orang tua prasekolah sepatutnya menjadi pengamat dan pendengar yang baik bagi gaya belajar anak. Sejak bayi akan terlihat lebih terlibat pada hal-hal sekitarnya di banding bayi lainnya. Anak suka menjelajah sekelilingnya, fisiknya aktif, tidak pernah diam. Saat di dalam mobil anak susah duduk diam manis. Berikan kuis-kuis kecil tentang apa yang mereka lihat sepanjang jalan. Misalnya, ada berapa mobil warna merah di jalan dan sebagainya.</p>
<p>
	<strong>Bahasa </strong>
	Anak berbakat terlihat suka ngoceh meniru orang dewasa, mampu berbicara menggunakan kalimat-kalimat kompleks dan kata-kata yang tidak lazim, menjawab secara gamblang dan merespon pertanyaan dengan cepat. Perkembangan bahasa mereka jauh melampaui anak sebayanya. Seringkali memberikan elaborasi terhadap pemecahan masalah yang disampaikannya. Kemampuan berpikirnya menunjukkan kemampuan di dalam mengelompokkan, mengklasifikasi, membandingkan dan membuat perbandingan antara berbagai hal. Cara berpikir yang luwes, mampu melihat informasi dari sisi yang lain serta melakukan hal-hal dalam situasi sekarang dengan menggunakan data dari masa lalu.
	
	<strong> Kosa kata</strong>
	Anak berbakat mampu memahami banyak kata di banding anak lainnya. Rasa ingin tahu anak berbakat membuatnya selalu bertanya sehingga salah satu ciri anak berbakat adalah kaya kosakata dan lebih maju dari anak lainnya. Dalam bahasa ekspresif, anak berbakat menunjukkan kemampuan lebih. Pemilihan katanya banyak dan beragam, sehingga terlihat berwarna, kaya kata sinonim, dan secara jelas menyebutkan benda yang dilihatnya dengan rincian kata lain yang mengikuti penjelasan benda tersebut.</p>
<p>
	<strong>Keterampilan motor</strong>
	Anak berbakat mempunyai perkembangan motorik lebih cepat. Dia mampu memakai pakaian dan makan sendiri. Mampu memegang benda dengan tepat, sementara anak lain sulit memegangnya. Mereka juga mampu menirukan perilaku yang dilihatnya. Mampu menggambar benda yang kompleks, selalu menggambar benda yang dilihatnya. Untuk itu penuhilah kebutuhannya dengan berbagai kegiatan motorik seperti tenis, berenang, dan melukis.
	
	<strong> Kolektor</strong>
	Secara umum anak berbakat suka mengoleksi hal-hal yang menjadi minatnya. Misalnya perangko, komik, stiker, gantungan kunci, kerang dan lain-lainnya. Penuhilah kebutuhannya menjadi kolektor, karena melalui koleksi yang dimilikinya, kemampuan abstraksi anak menjadi semakin berkembang. Melalui koleksi ini anak akan mencari hal-hal yang sama, misalnya warna, ukuran, tekstur, atau ciri lainnya sehingga anak belajar melakukan klasifikasi dan perbandingan.
	
	<strong>Membaca</strong>
	Kebanyakan anak berbakat mampu membaca sebelum masuk sekolah dasar. Ada anak usia kurang dari satu tahun, telah mampu menyadari buku bergambar yang dipegangnya terbalik. Dia selalu mengubah posisi buku yang salah. Begitu juga perilaku anak berbakatnya semasa usia di bawah tiga tahun, yang belum bisa membaca, namun seolah membaca dari kiri ke kanan dan membuka halaman satu per satu. Sebanyak 50 persen anak berbakat telah mampu membaca pada usia 2 - 2,5 tahun. Orang tua anak berbakat yang mampu membaca dini ini menyebutkan bahwa hal tersebut dimungkinkan karena tersedianya banyak bacaan di rumah. Selain itu, dengan membacakan cerita termasuk membacakan kata-kata yang dilihat di bungkus makanan, dus sepatu, papan iklan, dan sebagainya.
	
	<strong>Matematika</strong>
	Keterampilan aritmatika juga dimulai sejak dini, melalui pemahaman, misalnya besar kecil, banyak sedikit. Anak berbakat memiliki minat pada jam, pertanyaan berapa lama, berapa jauh, berapa banyak, dan berapa harganya. Mereka juga tertarik dengan umur dan ulang tahun. Ada seorang anak berbakat mengajukan pertanyaan yang janggal, &amp;ldquo;Ma, nenek sekarang umurnya 75 tahun, jadi meninggalnya umur berapa ya?&amp;rdquo; di samping itu ada hubungan perkembangan motor dan perceptual yang ditunjukkan dengan kemampuan mengenal arah, kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah, jauh, dekat, dan lainnya. Biasanya, anak yang cepat perkembangan motoriknya akan memiliki kemampuan aritmatika yang baik.
	
	<strong> Rasa ingin tahu </strong>
	Anak berbakat suka bertanya, bertanya, dan bertanya. Dia suka mencoba, jika ada pertanyaan yang tidak terjawab, anak akan meminta mencarikannya. Penuhilah kebutuhan rasa ingin tahunya ini tidak hanya melalui buku, film, tapi juga mencoba mengerjakan sesuatu dan melihat banyak tempat, seperti museum, pabrik, sawah, kantor, dan lainnya.
	
	<strong>Ingatan</strong>
	Anak berbakat memiliki daya ingat luar biasa sehingga mampu menceritakan hal pada masa lalu secara rinci. Untuk memenuhi keingintahuannya membuat anak selalu bertanya dan mencari bahan yang di inginkan. Hal yang digemari anak berbakat usia 5 tahun biasanya adalah tentang dinosaurus. Anak tak akan hanya membeli buku tentang dinosaurus tetapi hal-hal yang berbau dinosaurus seperti mainan, T-shirt, puzzle, dan sebagainya.
	
	<strong>Energi</strong>
	Apakah anda merasa anak berbakat anda terlihat tidak pernah capek? Anak berbakat selalu terlihat aktif, sibuk terlibat dengan berbagai hal di lingkungannya. Sebagai orang tua, anda bisa menyusun jadwal kegiatannya agar berbagai minat yang ingin dikembangkannya akan berjalan dengan baik. Biasanya, jadwal tidur anak berbakat lebih sedikit dari anak lainnya dan berbeda karena sifat individual. Aktivitas yang berlebihan tersebut bukanlah bentuk hiperaktif. Kegiatan yang menguras energi pada anak berbakat jelas terpusat dan bertujuan.
	
	<strong> Pertemanan</strong>
	Anak berbakat lebih memilih bermain dengan orang yang lebih tua bahkan dewasa. Jadi, anda tidak perlu mendorongnya bergaul dengan teman sebayanya. Karena kebutuhan yang dicarinya dapat terpenuhi oleh anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa. Bagaimana pun anak berbakat akan merasa tidak nyaman bila berada dengan anak sebayanya yang membuatnya terlihat begitu berbeda. Orang tua harus mampu mendorong anak berbakat jangan terisolasi.</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 10:47:59 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kecerdasan-anak/mitos-seputar-anak-berbakat/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
