<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in manajemen waktu</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 12:10:58 +0700</pubDate>
<item>
<title>Tips Mencuci Pakaian Bayi</title>
<link>http://bundazone.com/manajemen-waktu/tips-mencuci-pakaian-bayi/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Mencuci pakaian bayi berbeda dengan mencuci pakaian dewasa. Bayi umumnya lebih sensitif terhadap beberapa bahan kimia tertentu yang digunakan dalam proses mencuci, untuk itu diperlukan penanganan khusus dalam&amp;nbsp; mencuci pakaian&amp;nbsp; bayi, terutama bayi baru lahir. Berikut beberapa tips yang mungkin berguna buat ibu dalam mencuci pakaian buah hati ibu.
	
	<b> Kulit bayi lebih sensitif dari orang dewasa</b>
	Mengingat kulit bayi yang masih rentan dan lebih sensitif dibanding kita, beberapa deterjen pencuci baju biasa seringkali membuat kulit nya ruam, serta menimbulkan iritasi dan gatal. Untuk itu disarankan bagi para ibu untuk menggunakan deterjen khusus bayi untuk mencuci pakaian bayi. Meski demikian deterjen tanpa kandungan parfum dan zat pewarna juga terbukti cukup aman digunakan untuk mencuci pakaian bayi anda. Lakukan 2 kali pembilasan saat mencuci agar sisa-sisa deterjen tidak tertinggal dipakaian.</p>
<p>
	<b>Gunakan deterjen yang aman untuk bayi</b>
	Sabun dan parfum adalah penyebab timbulnya reaksi alergi yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir, yang bahkan bisa terjadi pula pada orang dewasa. Untuk itu jika terlihat reaksi alergi pada kulit bayi seperti kulit memerah, iritasi, dan timbul ruam setelah memakai pakaian yang baru saja dicuci, bisa jadi bayi ibu alergi terhadap deterjen yang ibu pakai untuk mencuci pakaian tersebut. Segera konsultasi pada dokter anak untuk diberikan penanganan dan hentikan penggunan deterjen tersebut.</p>
<p>
	<b>Penggunaan pengering</b>
	Banyak ibu yang merasa takut pakaian bayinya menyusut jika dikeringkan didalam pengering, padahal hal tersebut jarang terjadi jika ibu menanganinya dengan benar. Gunakan temperatur paling rendah saat mengeringkan baju bayi dalam mesin pengering untuk menghindari baju menyusut, sekaligus membuat pakaian bayi terlihat lebih segar.
	
	<b> Hindari penggunaan softener</b>
	Softener bukan hanya salah satu menyebab terjadinya iritasi dan alergi pada bayi, tapi juga bisa menimbulkan dampak serius pada kesehatannya. Perhatikan juga penggunaan softener pada pakaian anda dengan memastikan bahwa anda telah membilasnya dengan bersih, karena bukan tak mungkin residu softener yang tertinggal bisa berpindah ke pakaian bayi anda. Jika memang harus menggunakan softener, pastikan kandungannya aman untuk bayi anda.
	
	<b> Cuci pakaian sebelum dipakai</b>
	Pastikan anda mencuci terlebih dahulu pakaian, popok, selimut, hingga sprei bayi anda sebelum ia memakainya untuk pertamakali. Bahan kimia yang tertinggal pada proses produksi pakaian tersebut bisa menyebabkan iritasi pada kulit bayi anda. Begitu juga zat pewarna yang digunakan bisa mengalami pelunturan saat terkena keringat bayi.</p>
<p>
	<b>Pisahkan pakaian menurut warnanya</b>
	Saat pencucian, selalu pisahkan antara pakaian putih dengan pakaian berwarna agar menghindari resiko terjadinya kelunturan pada pakaian putih.</p>
<p>
	<b>Hindari pemutih</b>
	Hindari penggunaan pemutih atau deterjen yang mengandung pemutih untuk mencuci baju bayi. Bahan kimia dalam pemutih pakaian bisa menyebabkan iritasi kulit pada bayi yang lebih parah bisa membuat kulit mereka menderita eksim.</p>
<p>
	
	(Dari berbagai sumber)</p> ]]></description>
<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 08:02:19 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/manajemen-waktu/tips-mencuci-pakaian-bayi/</guid>
</item>
<item>
<title>Membagi waktu antara rumah dan "kerja"</title>
<link>http://bundazone.com/manajemen-waktu/membagi-waktu-antara-rumah-dan-kerja/</link>
<description><![CDATA[ <span style="font-size: 14px;">Jika kita melirik gaya hidup keluarga di kota-kota besar di tanah air, di Jakarta, misalnya, keluarga yang kedua orangtuanya bekerja hampir pasti mempekerjakan asisten rumah tangga atau <em>baby sitter </em>untuk mengasuh anak-anak sementara ayah dan ibunya bekerja. Ini menjadi hal yang sangat lumrah dalam masyarakat kita.</span>

	<span style="font-size: 14px;">Memang adakalanya salah satu anggota <em>extended family</em> seperti misalnya kakek atau nenek atau tante atau om dan sebagainya, bisa ikut menjaga anak di rumah, sehingga memperkecil kemungkinan <em>child abuse</em> terhadap si anak yang dilakukan oleh pembantu ataupun <em>baby sitter</em> yang notabene adalah orang asing bagi si anak. Tetapi, ketika sang anak tidak seberuntung itu, maka mereka harus menerima dititipkan kepada pembantu atau <em>baby sitter</em> saat orang tua mereka bekerja. Bukan berarti kita tidak bisa mempercayai asisten rumahtangga ataupun <em>baby sitter</em>, tetapi bagi anak, pastinya belaian orang tua sendiri berbeda dengan sentuhan orang lain.</span>

	<span style="font-size: 14px;">Dari sinilah awalnya kisah-kisah tragis yang kadang kita dengar seperti anak yang terluka atau bahkan tewas karena pengasuhnya emosi, anak yang selalu diberi obat tidur sehingga tidak merepotkan pengasuhnya, sampai anak yang disewakan kepada pengemis untuk minta-minta di jalanan. Belum lagi peran orangtua yang hampir sepenuhnya digantikan oleh pembantu menyebabkan anak menjadi lebih dekat kepada pembantu sehingga sering disebut sebagai &amp;ldquo;anak pembantu&amp;rdquo;</span>

	&amp;nbsp;

	<span style="font-size: 14px;"><strong>Kondisi di Jepang</strong>.</span>

	<span style="font-size: 14px;">Kembali kepada kebahagiaan anak, di sini saya ingin menganalisa kondisi di Jepang, negara di mana saya kebetulan tinggal, dibandingkan dengan di tanah air dan di belahan dunia lainnya. Masyarakat Jepang terbilang lebih konservatif dibandingkan dengan masyarakat Indonesia dalam menyikapi ibu bekerja di luar rumah. Di Indonesia, sepertinya ibu bekerja adalah hal yang lumrah. Urusan anak, gampanglah, tinggal diserahkan kepada pembantu atau kakek/neneknya, ada uang, ada jalan.</span>

	&amp;nbsp;

	&amp;nbsp;

	<span style="font-size: 14px;">Sedangkan di Jepang, tanggung jawab membesarkan anak dan merawat keluarga hampir sepenuhnya berada di tangan sang ibu. Hingga sekitar satu dekade lalu, seorang wanita pastinya diharapkan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga full time setelah menikah.</span>

	<span style="font-size: 14px;">Sekarang, keadaan sudah sedikit lebih bersahabat bagi para ibu yang memilih untuk tetap bekerja dengan semakin bertambahnya tempat-tempat penitipan anak. Namun, ini bukan berarti tugas ibu menjadi lebih mudah. Orang Jepang tidak bisa mempekerjakan pembantu rumah tangga ataupun <em>baby sitter</em> full time kecuali jika amat sangat kaya sekali. Karena itu, ibu yang bekerja tetap menghadapi tugas berat sepulang dari kantor, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan anak sekolah, dan sebagainya. Jadi bisa dibayangkan, betapa sang ibu harus bekerja keras mengakomodasi segalan kebutuhan rumah tangga sambil bekerja.</span>

	<span style="font-size: 14px;">Peran Ayah tentu ada, tetapi, di dalam masyarakat Jepang yang masih cenderung patriarkis dan <em>workaholic</em>, peran Ayah dalam membesarkan anak dan membantu tugas-tugas rumah tangga masih sangat terbatas, karena dibatasi oleh jam lembur yang panjang. Jadi bisa disimpulkan, kondisi ibu dalam masyarakat Jepang kadang terjepit. Menjadi ibu rumah tangga <em>full time</em> tetapi kehilangan ajang&amp;nbsp; untuk aktualisasi diri dan independen, atau menjadi ibu bekerja dengan segala beban beratnya?</span>

	&amp;nbsp;

	&amp;nbsp;

	<span style="font-size: 14px;"><strong>Belajar dari Belanda</strong></span>

	<span style="font-size: 14px;">Dalam sebuah survey yang memantau tingkat kebahagiaan anak di dunia, ternyata anak-anak Belanda adalah yang paling bahagia di dunia. Liputan itu menyoroti dua factor penting yang menjadi penentu utama kebahagiaan anak-anak, yaitu sekolah dan keluarga.</span>

	<span style="font-size: 14px;">Di sini saya hanya akan mengangkat faktor keluarga. Ternyata rahasia bahagianya anak-anak Belanda adalah banyaknya waktu yang dihabiskan orang tua bersama anak-anaknya. Waktu bersama antara orang tua dan anak tidak disangsikan lagi adalah faktor yang sangat penting dalam kebahagiaan anak. Karenanya, waktu kerja orang tua juga menjadi factor penentu.</span>

	<span style="font-size: 14px;">Di Belanda sudah lama dikenal konsep <em>work sharing</em>, dan ada undang-undang yang melarang <em>employer</em> membedakan gaji antara pekerja <em>full time</em> dengan pekerja <em>part tim</em>e. Tentu saja pekerja <em>part time</em> tidak memperoleh jumlah yang sama dengan pekerja <em>full time </em>karena waktu mereka bekerja lebih singkat, tetapi upah perjam, asuransi kesehatan, dan tunjangan-tunjangan lainnya adalah sama. Ini membuat para orang tua di Belanda lebih bebas dan tenang dalam merencanakan kondisi financsal keluarga dengan tidak mengorbankan waktu berharga bersama anak-anak.</span>

	<span style="font-size: 14px;">Misalnya, dalam satu keluarga, ayah dan ibu masing-masing bekerja part time 4 hari seminggu, ayah dan ibu sengaja mengatur jadwal sehingga hanya ada 2 hari dalam seminggu di mana keduanya tidak ada di rumah. Saat ayah berada di rumah, sang ayah tidak segan mengerjakan pekerjaan-perkerjaan rumah tangga. Waktu kerja pun sangat singkat, mulai pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore, sehingga pukul 6 sore keluarga sudah bisa berkumpul dan makan malam bersama. Ideal bukan?</span>

	<span style="font-size: 14px;">Kalau ada dampak negatif dari skema ini adalah gaji yang lebih kecil dan karir yang sedikit terhambat karena bekerja <em>part time</em>. Tetapi, ini adalah pilihan. Bagi orang tua yang memilih memanfaatkan skema ini, keluarga adalah nomor satu, sehingga uang dan karir tidak jadi masalah.</span> ]]></description>
<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 11:23:21 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/manajemen-waktu/membagi-waktu-antara-rumah-dan-kerja/</guid>
</item>
<item>
<title>Kalau Ayah Kuliah Lagi</title>
<link>http://bundazone.com/manajemen-waktu/kalau-ayah-kuliah-lagi/</link>
<description><![CDATA[ Bila ayah memutuskan kuliah lagi, ia terkadang harus melepaskan jabatannya sebagai karyawan di kantor. Tapi bisa juga ia tetap bekerja dengan beberapa situasi yang dinegosiasikan dengan atasannya. Bila perusahaan memberi kebebasan kuliah tanpa sangsi apa pun, lebih mudah bagi karyawan bersangkutan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan baru di tempat kuliah. ]]></description>
<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 23:48:37 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/manajemen-waktu/kalau-ayah-kuliah-lagi/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
