<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in obat-obatan</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 12:13:03 +0700</pubDate>
<item>
<title>solusi bau mulut, hidung dan gangguan pencernaan</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/solusi-bau-mulut-hidung-dan-gangguan-pencernaan/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<span style="font-family:times new roman;">Cara mudah mengetahui indikasi bau mulut adalah dengan melihat postur lidah yang biasanya keputihan bersisik, menandakan banyak bakteri disitu, bakteri </span>Solobacterium Moorei<span style="font-family:times new roman;">.</span> <span style="font-family:times new roman;">Cara kedua; jilat punggung telapak tangan, biarkan beberapa saat sampai rada kering, terus cium aromanya, bila berbau busuk menandakan anda menderita bau mulut.</span> <span style="font-family:times new roman;">Bau mulut tidak akan hilang hanya dengan menggosok gigi meskipun sudah teratur, juga tidak efektif jika hanya mengobati bau mulutnya saja (read: gejala) tanpa mengobati sumber pemicu bau mulut.</span> <span style="font-family:times new roman;font-size:100%;color:black;">Herba ZS efektif atasi bau mulut akut maupun kronis dari sumbernya, yang disebabkan lendir berlebih, gangguan mulut dan tenggorokan, sulit BAB, amandel, panas dalam, gangguan pencernaan, lambung atau yang dipicu penyakit dalam semisal liver, kelenjar, ginjal, diabetes, dsb.</span></p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 12 Feb 2012 20:12:12 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/solusi-bau-mulut-hidung-dan-gangguan-pencernaan/</guid>
</item>
<item>
<title>Antibiotik Picu Risiko Asma pada Bayi</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/antibiotik-picu-risiko-asma-pada-bayi/</link>
<description><![CDATA[ Peresepan obat-obatan pembunuh kuman atau antibiotik pada bayi sebelum mencapai usia enam bulan ternyata dapat mengundang risiko. Sebuah penelitian di AS menyebutkan, bayi yang mendapat antibiotik berisiko 70 persen lebih tinggi menderita asma pada masa kecilnya.

 

Para peneliti di Universitas Yale mengindikasikan, bayi menghadapi peningkatan risiko asma hingga 40 persen bila mendapat resep antiobiotik untuk sekali pengobatan di bulan-bulan awal kelahirannya. Risiko akan naik menjadi 70 persen bila mereka mendapat resep kedua untuk mengobati infeksi yang sulit disembuhkan.

Kajian para ilmuwan ini adalah serangkaian temuan terbaru dalam ilmu obat-obatan yang berkaitan dengan asma pada anak-anak. Para ahli terbagi pendapatnya mengenai dampak antibiotik ini. Ada yang meragukan apakah memang antibiotik menjadi penyebab, ataukah bayi yang dilibatkan dalam studi sudah memiliki bakat mengidap asma.

Meski demikian, dalam laporan terbaru yang bakal dimuat American Journal of Epidemiology, para ilmuwan menyimpulkan bahwa hubungan tersebut memang kuat. Bahkan setelah memperhitungkan faktor lainnya seperti riwayat asma dalam keluarga.

Dalam risetnya, para ilmuwan di Universitas Yale memantau 1.400 anak untuk melihat apakah peresepan antiobiotik pada usia dini menyebabkan kasus asma lebih tinggi pada usia enam tahun.

Anak-anak yang dilibatkan adalah mereka yang diberi resep antibiotik sebelum usia enam bulan untuk masalah infeksi di luar infeksi bagian dada yang identik dengan gejala asma. Peserta juga termasuk anak-anak yang dilahirkan dari orangtua yang tidak memiliki riwayat asma.

Hasilnya, menunjukkan peningkatan besar risiko terserang asma pada anak-anak yang diberi antibiotik sebelum usia mereka enam bulan meskipun anak tersebut tak punya riwayat asma.

"Menggunakan antibiotik, khususnya dalam spektrum yang luas, dapat mengubah flora mikroba dalam usus anak. Hal itu menimbulkan ketidakseimbangan dalam sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan buruknya respons alergi," papar Dr Kari Risnes, pemimpin penelitian.

Risnes mengharapkan hasil penelitian ini menjadi motivasi khusus bagi dokter agar menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu, terutama pada anak-anak berisiko rendah.
Sumber : daily mail ]]></description>
<pubDate>Sun, 29 May 2011 11:34:42 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/antibiotik-picu-risiko-asma-pada-bayi/</guid>
</item>
<item>
<title>Bagaimana Menangani Demam secara Cerdas?</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/bagaimana-menangani-demam-secara-cerdas/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<span style="font-size: 10pt;">Saya menganjurkan untuk tidak gegabah menggunakan obat penurun panas badan (antipiretik), terlebih untuk anak-anak.</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Demam bisa jadi suatu kondisi normal (fisiologis), bahkan tidak perlu diberi obat pun akan berhenti dengan sendirinya. Salah satu alasan utama pemberian antipiretik adalah RISIKO TERJADINYA KEJANG ATAU KEDARURATAN SARAF LAINNYA akibat demam. Temperatur badan tinggi, tidak peduli seberapa panas atau seberapa lama munculnya demam, dapat memicu kejang meski sebelumnya tidak ada gejala epilepsi. Alasan lain tidak dianjurkannya PEMBERIAN SEGERA antipiretik adalah ketidakjelasan penyebab demam itu sendiri. Demam bisa disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, racun (toksin) yang bersifat &amp;quot;pirogenik&amp;quot;, atau sebab khusus (misal, leukemia, infeksi HIV, penyakit jantung bawaan, dsb.); masing-masing memiliki tanda dan gejala penyerta selain demam. Pemberian segera antipiretik dapat mengaburkan diagnosa penyebab demam (konsekuensinya mempersulit pengobatan penyakit).</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Lagipula, pemberian segera antipiretik dapat menyebabkan penurunan temperatur badan mendadak, hipotermia, dan keringat berlebih (diluar efek samping masing-masing obat, tentunya). Penderita demam justru tidak merasa lebih nyaman dibanding sebelumnya.</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Disayangkan bahwa sebetulnya terdapat cara lain menurunkan demam selain dengan pemberian antipiretik. Kompres, ice pack (misal, merek b** b** fever), spons, atau selimut pendingin tidak kalah efektifnya dengan antipiretik. Kompres bergantian setiap 20 menit di kening, leher, ketiak, dan badan selama 2-4 jam bisa menimbulkan evaporasi panas dari tubuh. Dulu pernah dianjurkan kompres dengan alkohol. Namun uap alkohol bisa terhirup oleh hidung. Air dingin (atau es) pun tidak diperbolehkan karena menyebabkan kulit pucat akibat berkurangnya aliran darah serta anak jadi merinding kedinginan.</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;"><img alt="demam-ayah_anak" height="289" src="http://www.ruangmuslim.com/images/stories/demam-ayah_anak.jpg" width="435" /></span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Kapan sebaiknya obat antipiretik diberikan?</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">(Anak) disebut demam jika TEMPERATUR ANUS mencapai 38oC (kalau di ketiak kurang lebih 37,5oC)--Oleh sebab itu saya anjurkan tiap rumah punya termometer--Demam baru berisiko setelah mencapai suhu 41,4oC dan membutuhkan pengobatan (farmakologi).</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Kurang-lebih ada empat obat penurun demam yang populer di Indonesia; Aminosalycilat Acid (Cafenol), Acetaminophen (Paracetamol dengan segala merek dagangnya), Ibuprofen (PR***S), Metamizole (Novalgin).</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Yang nomor satu terkenal sejak 100 tahun yang lalu sebagai obat penurun panas (juga kini diketahui memiliki efek &amp;quot;pengencer darah&amp;quot; untuk serangan jantung). Sayangnya obat ini menimbulkan kerusakan hati yang disebut Sindrom Reye jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Terlebih cafenol rasanya jeruk, sering disalahpahami sebagai permen oleh anak-anak.</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Ibuprofen, bedanya dengan parasetamol adalah adanya rantai kimia asam propionik, selain menurunkan demam juga terkenal sebagai pereda nyeri. Dengan dosis yang lebih kecil terbukti lebih efektif daripada parasetamol. Ada sejumlah kecil laporan efek samping. Sayangnya belum ada kepustakaan terpercaya tentang PADA UMUR BERAPA anak boleh mulai diberikan obat ini.</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Yang paling buncit, Novalgin, jawara para dokter anak tapi paling besar risiko efek sampingnya. Jujur aja obat ini nggak terdengar di Amerika sana. Kalau di maillist, obat ini jadi kontroversi karena dilaporkan menyebabkan kelainan darah (agranulositosis, eosinofilia) dan trombosis (pembekuan darah).</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Saya cuma hendak menggarisbawahi&amp;nbsp;</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">PARASETAMOL MUNGKIN ANTIPIRETIK TERAMAN (untuk anak).</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Anda boleh bermain dokter bagi keluarga sendiri dengan catatan;</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Pertama, parasetamol adalah obat yang menghilangkan gejala (SIMPTOMATIK) demam. Artinya, berikan seperlunya (PRN, Pro Renata). Jika anak sudah tidak panas jangan diberikan lagi. TIDAK HARUS TIGA KALI SEHARI. Oh ya, ngelantur sedikit; seiring berita akhir-akhir ini di RCTI--berhati-hatilah terhadap kesalahan peresepan pada kasus polifarmasi. Maksudnya, banyak (sirup, puyer) baik racikan maupun bundle dari pabrik yang berisi sekian simptomatik mulai penurun panas, obat batuk-pilek, sampai obat tidur (kalo udah putus-asa anak rewel). Jika masing-masing gejala, misal demam reda tapi batuk-pilek masih; Apa yang akan kita lakukan dengan parasetamol yang terlanjur diracik?</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Kedua, KENALI DOSISNYA, lebih tepat hafalkan posologi(?)nya. Sedikit usaha untuk yang terbaik. Cobalah belajar tentang dosis paracetamol. Parasetamol adalah obat yang paling banyak sediaannya, mudah didapat, dan (buat saya) gampang dipelajari. Dosis parasetamol untuk kasus demam anak adalah 10 mg per Kg berat badan (saya yakin di sini banyak orangtua cerdas yang cepat menghafal). Kenali setiap dosis parasetamol untuk tiap sediaan. </span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Contoh, dosis parasetamol sediaan drop pediatrik adalah 10 mg per 0,1 ml. Jika bayi berat 9 kilogram maka butuh 90 mg atau 0,9 ml atau 1 strip dibawah 1.0 pada pipet skala 10 atau 3 strip dibawah garis pada pipet skala 12. Dosis parasetamol pada sediaan sirup yang umum didapat adalah 120 (ada juga yg 150) mg per SDT (1 SDT obat tidak sama dengan 1 sendok teh dapur. 1 SDT sirup = 5 ml). Kalo ada anak 2 tahun 7 bulan berat 18 kilo demam, berapa SDT yang harus diberikan? Anak 18 Kg membutuhkan parasetamol 180 mg atau 7,5 ml setara satu setengah SDT obat. Bagaimana cara mengukur setengah sendok teh obat? Di setiap sendok obat terdapat dua garis (baru tahu ya? coba dilihat lagi kalo penasaran). Garis yang terbawah/terdalam adalah tanda setengah SDT obat atau 2,5 ml. Kalo anak 7 bulan berat 6 kilo demam, tidak punya parasetamol sediaan pediatrik, kira-kira bisa diberi sirup parasetamol punya kakaknya nggak? Kenapa tidak? Kalo tepat 6 kilo berarti kebutuhannnya 60 mg. Kasih aja setengah SDT! (Bingung ya? 1 SDT 120 mg parasetamol. Kalo 1/2? Ya 60 mg!) Kalo ada anak hampir 4 tahun beratnya 25 Kg sedang demam, kira-kira dikasih yang mana dan berapa? Anak 25 kilo butuh 250 mg bisa diberi 2 SDT sirup (Indofarma punya produk paracetamol sirup generik sacchet 250 mg seharga Rp. 1.000,- Baik buat jaga-jaga di rumah). Kalau malam-malam anak tadi demam, tidak punya parasetamol sirup tapi ada, misal, Panadol (nggak apa2 sebut merek?) tablet, setelah dibaca labelnya dosis 500 mg. Boleh, beri setengah tablet. Pusing? Di tempat praktek saya bisa ajarkan (orangtua) pasien dalam 2 menit lho!</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">At least, pesan saya BERHATI-HATILAH DENGAN TANDA BAHAYA DEMAM. Panas badan yang disertai tanda-tanda lain memerlukan perhatian dan penanganan khusus. Demam yang lebih dari 24 jam, demam yang tidak turun dengan sekali minum antipiretik, munculnya kejang, demam dengan ruam (bintik-bintik merah), adanya mual dan pegal-pegal, demam disertai lemah-lesu, adanya nyeri kesakitan, WHATEVER. Segera dirujuk untuk ditangani oleh profesional yang berwenang.</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Sedikit tips tentang DBD, jangan pake parasetamol yang tidak bermerek (kualitas kadar darah atau uji BA/BE-nya pasti rendah) atau berikan parasetamol dosis tinggi (forte).</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">Semoga makin pintar menangani demam. Keep Smart!</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 10pt;">sumber: ruangmuslim.com</span></p>
<p>
	<span style="font-size: 8pt;">Herwindo Iman Adhiwijaya, dr. MKes.</span>&amp;nbsp;<span style="font-size: 8pt;">Medical doctor graduated with special interest in pain assessment, ultrasonography, and structural heart disease</span></p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 24 May 2011 15:48:43 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/bagaimana-menangani-demam-secara-cerdas/</guid>
</item>
<item>
<title>Amankah Mengkonsumsi Obat Saat Hamil?</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/amankah-mengkonsumsi-obat-saat-hamil/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Pertanyaan diatas selalu membayangi wanita hamil, pada saat mengalami sakit saat hamil, atau ada juga yang sedang dalam terapi/pengobatan tertentu kemudian hamil.
	Obat2an apa saja yang aman untuk wanita hamil ? Bukankah sangat banyak keluhan dan gejala yang tidak nyaman pada saat hamil seperti mual, pusing, lemas, muntah2. Apakah harus diatasi dengan obat atau bisa tanpa obat ? kalaupun harus diatasi dengan mengkonsumsi obat2an, amankah untuk kehamilan saya ? untuk janin saya ?</p>
<p style="text-align: justify;">
	Pertama yang harus dipahami adalah obat-obatan termasuk salah satu dari beberapa agent/zat yang dapat menimbulkan efek teratogenik yaitu yang bekerja pada saat masa embryogenesis atau perkembangan janin yang akan menghasilkan perubahan permanent baik bentuk maupun fungsi dari organ2 janin (kecacatan pada janin). Penyebab teratogenik lainnya diantaranya adalah virus, lingkungan, kimiawi.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Eksposure ini terjadi selama periode kehamilan yang kritis yang terbagi atas 3 periode :
	1. periode preimplantasi sampai mgg ke-2 kehamilan
	2. Periode embrionik : dari minggu ke-2 &amp;ndash; mgg ke8 kehamilan
	3. Periode fetal : dari minggu ke-9 sampai bayi cukup bulan</p>
<p style="text-align: justify;">
	Pengaruh obat terhadap janin tergantung kepada tingkat perkembangan janin dan dosis serta kekuatan obat.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Pada periode preimplantasi :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Obat tertentu yang diminum pada awal kehamilan (masa preimplantasi : sejak terjadinya pembuahan sampai menjelang implantasi), bisa menyebabkan kematian janin atau tidak mempengaruhi janin sama sekali. Pada saat ini janin sangat kebal terhadap cacat bawaan.
	
	<strong> Pada periode embrionik :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	mgg ke-2 sampai mgg ke-8 setelah pembuahan (dimana organ tubuh mulai terbentuk), janin sangat rentan terhadap terjadinya cacat bawaan.
	Obat yang sampai ke janin bisa menyebabkan keguguran, cacat bawaan yang terlihat jelas atau cacat yang baru tampak di kemudian hari.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Pada periode fetal :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Obat yang diminum setelah organ tubuh janin terbentuk sempurna, memiliki peluang yang kecil untuk menyebabkan cacat bawaan yang nyata, tetapi bisa menyebabkan perubahan dalam pertumbuhan dan fungsi organ dan jaringan yang telah terbentuk secara normal.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Periode embrionik yang sangat krusial karena menyebabkan malformasi struktur dari organ janin, karena berhubungan dengan saat organogenesis ( pembentukan organ2 janin). Obat berpindah dari ibu ke janin terutama melalui plasenta (ari-ari), yaitu melalui jalan yang sama yang dilalui oleh zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Di dalam plasenta, obat dan zat gizi di dalam darah ibu melewati selaput tipis yang memisahkan darah ibu dengan darah janin. Namun yang harus diingat, adalah belum tentu suatu obat menyebabkan kelainan organ janin tertentu. Kita lebih mudah membuktikan bahwa suatu obat merupakan penyebab langsung kelainan, jika obat tersebut sangat jarang digunakan dan mengakibatkan kelainan yang jarang namun relative berat kelainan organ yang terjadi. Contohnya adalah isotretinoin, yang biasa digunakan dalam obat jerawat, yang akan menyebabkan agenesis telinga (telinga tidak terbentuk dengan sempurna ). Karena tidak semua orang menggunakan obat jerawat dalam kehamilannya, sehingga mudah dideteksi bahwa obat isotretinoin-lah sebagai kausa utama. Beda dengan bibir sumbing yang dapat disebabkan oleh &amp;gt; 300 kelainan genetic.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Obat yang diminum oleh wanita hamil bisa mempengaruhi janin melalui beberapa cara: Secara langsung bekerja pada janin, menyebabkan kerusakan, kelainan perkembangan atau kematian
	Mempengaruhi fungsi plasenta, biasanya dengan cara mengkerutkan pembuluh darah dan mengurangi pertukaran oksigen dan zat gizi diantara janin dan ibu</p>
<p style="text-align: justify;">
	Jika ibu hamil sedang dalam pengobatan tertentu kemudian hamil, kita harus mempertimbangkan manfaat yang terbesar untuk ibu maupun janinnya. Misalnya obat-obatan kanker. Makanya, bagi penderita kanker yang hamil diberikan dua pilihan, meneruskan kehamilan dengan risiko bayi cacat atau menghentikan kehamilan. pemberian obat2an kanker ini harus dihindari selama trimester pertama kehamilan (sampai kehamilan 12 minggu) karena dapat menyebabkan diantaranya sumbing, single arteri koroner, anus imperforate dan pertumbuhan janin terhambat disertai mikrosefali (obat siklophosphamid). Obat kanker lain yang juga dapat menimbulkan cacat janin misalnya : Methotrexat dapat dipertimbangkan untuk diberikan, namun harus diingat bahwa dalam masa menunda itu ibu cukup aman, tidak akan terjadi perkembangan kanker.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>OBAT ANTI-KANKER</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Jaringan janin tumbuh dengan kecepatan tinggi, karena itu sel-selnya yang membelah dengan cepat sangat rentan terhadap obat anti-kanker.
	Banyak obat anti-kanker yang bersifat <em>teratogen</em>, yaitu dapat menyebabkan cacat bawaan seperti:
	- IUGR (intra uterine growth retardation, hambatan pertumbuhan di dalam rahim)
	- Rahang bawah yang kurang berkembang
	- Celah langi-langit mulut
	- Kelainan tulang tengkorak
	- Kelainan tulang belakang
	- Kelainan telinga
	- Clubfoot (kelainan bentuk kaki)
	- Keterbelakangan mental.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>TALIDOMID</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Obat ini sudah tidak diberikan lagi kepada wanita hamil karena bisa menyebabkan cacat bawaan.
	Talidomid pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956 di Eropa sebagai obat influenza dan obat penenang.
	Pada tahun 1962, talidomid yang diminum oleh wanita hamil pada saat organ tubuh janinnya sedang terbentuk, ternyata menyebabkan cacat bawaan berupa lengan dan tungkai yang terbentuk secara tidak sempurna, kelainan usus, jantung dan pembuluh darah.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>PENGOBATAN KULIT</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Isotretinoin yang digunakan untuk mengobati jerawat yang berat, psoriasis dan kelainan kulit lainnya bisa menyebabkan cacat bawaan.
	Yang paling sering terjadi adalah kelainan jantung, telinga yang kecil dan hidrosefalus (kepala yang besar). Resiko terjadinya cacat bawaan adalah sebesar 25%.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Etretinat juga bisa menyebabkan cacat bawaan.
	Obat ini disimpan di dalam lemak dibawah kulit dan dilepaskan secara perlahan, sehingga efeknya masih bertahan sampai 6 bulan atau lebih setelah pemakaian obat dihentikan. Karena itu seorang wanita yang memakai obat ini dan merencanakan untuk hamil, sebaiknya menunggu paling tidak selama 1 tahun setelah pemakaian obat dihentikan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>HORMON SEKSUAL</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Hormon androgenik yang digunakan untuk mengobati berbagai kelainan darah dan progestin sintetis yang diminum pada 12 minggu pertama setelah pembuahan, bisa menyebabkan terjadinya maskulinisasi pada kelamin janin perempuan.
	Klitoris bisa membesar dan labia minora menutup.
	Efek tersebut tidak ditemukan pada pemakaian pil KB karena kandungan progestinnya hanya sedikit.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Dietilstilbestrol (DES, suatu estrogen sintetis) bisa menyebabkan kanker pada anak perempuan yang ibunya memakai obat ini selama hamil.
	Anak perempuan ini di kemudian hari akan:
	- memiliki kelainan dalam rongga rahim
	- mengalami gangguan menstruasi
	- memiliki serviks (leher rahim) yang lemah sehingga bisa mengalami keguguran
	- memiliki resiko menderita kehamilan ektopik
	- memiliki bayi yang meninggal sesaat sebelum atau sesaat sesudah dilahirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Jika ibu hamil yang memakai DES melahirkan anak laki-laki, maka kelak dia akan memiliki kelainan pada penisnya.
	
	<strong> MECLIZIN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Meclizin yang sering digunakan untuk mengatasi mabok perjalanan, mual dan muntah, bisa menyebabkan cacat bawaan pada hewan percobaan. Tetapi efek seperti ini belum ditemukan pada manusia.
	
	<strong> OBAT ANTI-KEJANG</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Beberapa obat anti-kejang yang diminum oleh penderita epilepsi yang sedang hamil, bisa menyebabkan terjadinya celah langit-langit mulut, kelainan jantung, wajah, tengkorak, tangan dan organ perut pada bayinya. Bayi yang dilahirkan juga bisa mengalami keterbelakangan mental.</p>
<p style="text-align: justify;">
	2 obat anti-kejang yang bisa menyebabkan cacat bawaan adalah trimetadion (resiko sebesar 70%) dan asam valproat (resiko sebesar 1%).
	Carbamazepine diduga menyebabkan sejumlah cacat bawaan yang sifatnya ringan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Bayi baru lahir yang selam dalam kandungan terpapar oleh phenitoin dan phenobarbital, bisa mudah mengalami perdarahan karena obat ini menyebabkan kekurangan vitamin K yang diperlukan dalam proses pembekuan darah.
	Efek ini bisa dicegah bila selama 1 bulan sebelum persalinan, setiap hari ibunya mengkonsumsi vitamin K atau jika segera setelah lahir diberikan suntikan vitamin K kepada bayinya.
	Selama hamil, kepada penderita epilepsi diberikan obat anti-kejang dengan dosis yang paling kecil tetapi efektif dan dipantau secara ketat.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Wanita yang menderita epilepsi, meskipun tidak memakai obat anti-kejang selam hamil, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan cacat bawaan. Resikonya semakin tinggi jika selama hamil sering terjadi kejang yang berat atau jika terjadi komplikasi kehamilan atau jka berasal dari golongan sosial-ekonomi yang rendah (karena perawatan kesehatannya tidak memadai).
	
	<strong> VAKSIN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Vaksin yang terbuat dari virus yang hidup tidak diberikan kepada wanita hamil, kecuali jika sangat mendesak.
	Vaksin rubella (suatu vaksin dengan virus hidup) bisa menyebabkan infeksi pada plasenta dan janin.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Vaksin virus hidup (misalnya campak, gondongan, polio, cacar air dan demam kuning) dan vaksin lainnya (misalnya kolera, hepatitis A dan B, influensa, plag, rabies, tetanus, difteri dan tifoid) diberikan kepada wanita hamil hanya jika dia memiliki resiko tinggi terinfeksi oleh salah satu mikroorganismenya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>OBAT TIROID</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Yodium radioaktif yang diberikan kepada wanita hamil untuk mengobati hipertiroidisme (kelenjar tiroid yang terlalu aktif) bisa melewati plasenta dan menghancurkan kelenjar tiroid janin atau menyebabkan hipotiroidisme (kelenjar tiroid yang kurang aktif) yang berat.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Propiltiourasil dan metimazol, yang juga digunakan untuk mengatasi hipertiroidisme, bisa melewati plasenta dan menyebabkan kelenjar tiroid janin sangat membesar.
	
	<strong> OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Obat hipoglikemik oral digunakan untuk menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes, tetapi seringkali gagal mengatasi diabetes pada wanita hamil dan bisa menyebabkan bayi yang baru lahir memiliki kadar gula darah yang sangat rendah (hipoglikemia). Karena itu untuk mengobati diabetes pada wanita hamil lebih baik digunakan insulin.
	
	<strong> NARKOTIKA &amp;amp; OBAT ANTI PERADANGAN NON-STEROID</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Narkotika dan obat anti peradangan non-steroid (misalnya aspirin), jika diminum oleh wanita hamil bisa sampai ke janin dalam jumlah yang cukup signifikan.
	Bayi yang lahir dari ibu pecandu narkotika bisa mengalami kecanduan sebelum dilahirkan dan menunjukkan gejala putus obat dalam waktu 6 jam &amp;ndash; 8 hari setelah dilahirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Mengkonsumsi aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya dalam dosis tinggi selama hamil, bisa memperlambat saat persalinan dan juga bisa menyebabkan tertutupnya hubungan antara aorta dan arteri pulmoner sebelum lahir.
	Dalam keadaan normal, hubungan tersebut menutup sesaat setelah bayi lahir. Penutupan yang terjadi sebelum bayi lahir akan mendorong darah ke paru-paru yang belum berkembang sehingga memberikan beban yang berlebihan pada sistem peredaran darah janin.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Jika digunakan pada akhir kehamilan, obat anti peradangan non-steroid bisa menyebabkan berkurangnya jumlah cairan ketuban.
	Aspirin dosis tinggi bisa menyebabkan perdarahan pada ibu maupun bayinya.
	Aspirin atau asam salisilat lainnya bisa menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dalam darah janin sehingga terjadi jaundice (sakit kuning) dan kadang kerusakan otak.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>OBAT ANTI-CEMAS &amp;amp; ANTI-DEPRESI</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Jika diminum pada trimester pertama, obat anti-cemas bisa menyebabkan cacat bawaan, meskipun efeknya belum terbukti.
	Jika digunakan selama hamil, obat anti-depresi kebanyakan relatif aman, tetapi litium bisa menyebabkan cacat bawaan (terutama pada jantung).
	Barbiturat (misalnya phenobarbital) yang diminum oleh wanita hamil cenderung menyebabkan berkurangnya jaundice yang biasa ditemukan pada bayi baru lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>ANTIBIOTIK</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Tetracyclin bisa melewati plasenta dan disimpan di dalam tulang serta gigi janin, bercampur dengan kalsium. Akibatnya pertumbuhan tulang menjadi lambat, gigi bayi berwarna kuning dan emailnya lunak serta menjadi rentan terhadap karies.
	Resiko terbesar terjadinya kelainan gigi terjadi jika tetrasiklin diminum pada pertengahan sampai akhir kehamilan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Streptomycin atau Canamycin bisa menyebabkan kerusakan pada telinga bagian tengah janin dan kemungkinan menyebabkan ketulian.
	Chloramphenicol tidak berbahaya bagi janin tetapi bisa menyebabkan penyakit yang serius pada bayi baru lahir, yaitu sindroma bayi abu-abu.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Ciprofloxacin tidak boleh diberikan kepada ibu hamil karena bisa menyebabkan kelainan sendi pada hewan percobaan.
	Penicillin aman diberikan kepada wanita hamil.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Kebanyakan antibiotik golongan sulfa yang diminum di akhir kehamilan bisa menyebabkan jaundice pada bayi baru lahir, yang bisa menyebabkan kerusakan otak.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>OBAT ANTIKOAGULAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Janin sangat rentan terhadap antikoagulan (obat anti pembekuan) warfarin. Cacat bawaan terjadi pada 25% bayi yang terpapar oleh obah ini selama trimester pertama. Selain itu, bisa terjadi perdarahan abnormal pada ibu maupun janin.
	Jika seorang wanita hamil memiliki resiko membentuk bekuan darah, lebih baik diberikan heparin. Tetapi pemakaian jangka panjang selama kehamilan bisa menyebabkan penurunan jumlah trombosit atau pengeroposan tulang (osteoporosis) pada ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>OBAT-OBAT UNTUK PENYAKIT JANTUNG &amp;amp; PEMBULUH DARAH</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Beberapa wanita hamil memerlukan obat untuk penyakit jantung dan pembuluh darah yang sifatnya menahun atau yang baru timbul selama kehamilan (misalnya pre-eklamsi dan eklamsi).</p>
<p style="text-align: justify;">
	Obat untuk menurunkan tekanan darah seringkali diberikan kepada wanita hamil yang menderita pre-eklamsi atau eklamsi. Obat in bisa mempengaruhi fungsi plasenta dan digunakan secara sangat hati-hati untuk mencegah kelainan pada janin.
	Biasanya, kelainan timbul karena penurunan tekanan darah ibu berlangsung terlalu cepat dan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke plasenta.</p>
<p style="text-align: justify;">
	ACE inhibitor dan thiazide biasanya tidak digunakan selama kehamilan karena bisa menyebabkan masalah yang serius pada janin.
	Digoxin (digunakan untuk mengatasi gagal jantung dan kelainan irama jantung) bisa melewati plasenta tetapi efeknya terhadap bayi sebelum maupun setelah lahir sangat kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Nitrofurantoin, vitamin K, sulfonamid dan Chloramphenicol bisa menyebabkan pemecahan sel darah merah pada wanita hamil dan janin yang menderita kekurangan G6PD. Karena itu, obat-obatan tersebut tidak diberikan kepada wanita yang menderita kekurangan G6PD.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN SELAMA PERSALINAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Obat bius lokal, narkotika dan obat pereda nyeri lainnya biasanya melewati plasenta dan bisa mempengaruhi bayi baru lahir.
	Karena itu, jika selama proses persalinan diperlukan obat-obatan, maka diberikan efek terkecil yang masih efektif dan diberikan selambat-lambatnya agar tidak sempat sampai ke janin yang masih berada dalam rahim.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>OBAT SOSIALISASI &amp;amp; OBAT TERLARANG</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Merokok selama hamil bisa berbahaya.
	Berat badan lahir rata-rata dari bayi yang ibunya perokok adalah 170 gram lebih rendah dari bayi yang ibunya tidak merokok.
	Keguguran, kelahiran mati, lahir prematur dan sindroma kematian bayi mendadak lebih sering ditemukan pada bayi yang ibunya merokok selama hamil.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Meminum alkohol selama hamil bisa menyebabkan cacat bawaan.
	Bayi yang lahir dari ibu yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar bisa mengalami sindroma alkohol. Bayi ini kecil, seringkali memiliki kepala yang kecil (mikrosefalus), kelainan wajah dan kelainan mental. Kadang terjadi kelainan sendi dan kelainan jantung. Bayi ini tidak berkembang dan kemungkinan akan meninggal sesaat setelah dilahirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<em>Aspartam</em> adalah pemanis buatan yang tampaknya aman digunakan selama hamil asalkan jumlahnya tidak berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<em>Cocain</em> yang digunakan selama hamil bisa meningkatkan resiko terjadinya keguguran, abrupsio plasenta, cacat bawaan pada otak, ginjal dan alat kelamin serta perilaku yang kurang interaktif pada bayi baru lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian marijuana dosis tinggi selama hamil bisa menyebabkan perilaku yang abnormal pada bayi baru lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">
	&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; sumber: <a href="http://botefilia.com/index.php/archives/2009/01/04/amankah-mengkonsumsi-obat-saat-hamil/">.:botefilia:.</a></p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 24 May 2011 15:37:31 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/amankah-mengkonsumsi-obat-saat-hamil/</guid>
</item>
<item>
<title>12 jenis Vaksin yang dibutuhkan anak-anak</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/12-jenis-vaksin-yang-dibutuhkan-anak-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<strong>Vaksin</strong> merupakan bahan antigenik yang diberikan sedini mungkin yang berguna untuk menghasilkan kekebalan aktif dalam tubuh terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami penyebab penyakit tersebut. Beberapa jenis vaksin diberikan pada anak-anak, dengan tujuan untuk mencegah anak menderita suatu penyakit tertentu.</p>
<p>
	Indonesia sendiri merupakan negara yang sudah mewajibkan vaksinasi ini kepada masyarakat. Vaksinasi dilakukan dengan gerakan <strong>imunisasi balita </strong>yang biasanya diadakan di posyandu. Vaksin dan imunasasi merupakan dua hal yang sangat penting sehingga wajib dilaksanakan.</p>
<p>
	Sekarang ini, ada begitu banyak <strong>jenis-jenis vaksin </strong>sebagai akibat dari banyaknya penyakit berbahaya bagi anak. Namun dari sekian banyak vaksin tersebut, ibu tentu saja bingung menentukan mana vaksin yang dibutuhkan dan harus diberikan pada anak.</p>
<p>
	&amp;nbsp;</p>
<h2>
	<a href="http://blog-artikel.com/wp-content/uploads/2011/04/vaccines-child-needs-400x400.jpg"><img alt="" class="alignright size-medium wp-image-764" height="300" src="http://blog-artikel.com/wp-content/uploads/2011/04/vaccines-child-needs-400x400-300x300.jpg" title="jenis vaksin yang dibutuhkan anak" width="300" /></a>Vaksin untuk Anak-anak</h2>
<p>
	Berikut adalah ikhtisar dari 12 jenis vaksin yang biasa diberikan dalam imunisasi balita yang membantu melindungi tubuh anak terhadap kuman yang berpotensi mengancam nyawa. <strong>Vaksin dan imunisasi</strong> ini sudah umum pada masyarakat, namun persyaratan hukum untuk penggunaan vaksin bervariasi antara negara yang satu dengan negara lainnya.</p>
<p>
	&amp;nbsp;</p>
<h3>
	Vaksin Hepatitis B</h3>
<p>
	Bayi harus mendapatkan vaksin hepatitis B ini setelah lahir, lalu vaksin kedua pada umur 1 sampai 2 bulan dan vaksin ketiganya pada umur 6 sampai 18 bulan. <strong>Vaksin</strong> <strong>bayi</strong> atau vaksin anak hepatitis B ini melindungi anak dari virus hepatitis B yang dapat menginfeksi hati. Vaksin ini juga dapat diberikan kepada bayi selama proses persalinan jika ibu terbukti terinfeksi.</p>
<p>
	Virus ini bisa menular ke orang lain lewat kontak darah atau cairan tubuh lain (berbagi sikat gigi dan peralatan dapat meningkatkan resiko terkena penyakit).</p>
<p>
	Rasa sakit di lokasi suntikan atau demam ringan adalah efek samping yang paling umum setelah vaksinasi jenis ini.</p>
<p>
	&amp;nbsp;</p>
<h3>
	Vaksin DTaP</h3>
<p>
	Vaksin DTaP adalah vaksin yang memberikan perlindungan terjadap anak terhadap berbahaya berjenis difteri (kuman yang dapat membentuk selaput abu-abu atau hitam di tenggorokan), tetanus (infeksi yang dapat menyebabkan kejang otot yang begitu kuat hingga bisa mematahkan tulang), dan pertusis (penyakit menular yang menyebabkan penyakit parah, batuk tak terkendali, yang dikenal sebagai batuk rejan).</p>
<p>
	Vaksin bayi DTaP ini diberikan kepada anak-anak selama 5 kali dosis masing-masing pada umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 sampai 18 bulan, dan 4 sampai 6 tahun. (penguat pada usia 11 atau 12 dan kemudian setiap 10 tahun. sekali)</p>
<p>
	DTaP dapat dikombinasikan dengan vaksinasi lain untuk mengurangi frekuensi suntikan vaksin. Sekarang, DTaP dengan hepatitis B dan vaksin polio pemberiannya bisa digabung.</p>
<h3>
	Vaksin MMR</h3>
<p>
	<strong>Vaksin virus</strong> MMR ini bertujuan untuk melindungi anak terhadap tiga virus berbahaya, yaitu campak (yang menyebabkan demam tinggi dan ruam tubuh-lebar), gondok (yang menyebabkan rasa sakit wajah, pembengkakan kelenjar liur, dan kadang-kadang pembengkakan skrotum pada laki-laki), dan rubella atau campak Jerman (yang dapat menyebabkan kecacatan lahir jika infeksi terjadi selama kehamilan).</p>
<p>
	Vaksinasi pertama diberikan pada umur 12 hingga 15 bulan usia dan sekali lagi pada usia antara 4 dan 6 tahun. Vaksin anak MMR ini juga kadang dikombinasikan dengan vaksin virus cacar air.</p>
<h3>
	Vaksin Virus Cacar Air</h3>
<p>
	Ruam berair, berbekas dan terasa semakin gatal ketika digaruk ini merupakan penyakit cacar air. Cacar air disebabkan oleh virus varicella, yang biasanya terjadi pada manusia di segala umur. Varicella merupakan virus yang aktif, karena bisa menular ke orang lain setelah adanya kontak langsung dengan penderita. Virus ini bahkan banyak mengakibatkan kematian di masa lalu. Namun setelah vaksinnya yang berisikan virus yang telah dibunuh ini disebarluaskan ke seluruh dunia sejak tahun 1995, jumlah kasus untuk cacar air ini menurun.</p>
<p>
	Infeksi cacar air ini bisa menyebabkan kematian pada orang yang tidak pernah divaksin cacar air. Beberapa orang yang sudah pernah divaksin pun juga masih bisa terserang sebagai akibat ketidakmampuan tubuh untuk mendapatkan kekebalan dari vaksin yang sudah pernah masuk dalam tubuh itu. Namun dengan ilmu pengobatan yang sudah modern, cacar air bisa disembuhkan.</p>
<p>
	Pemberian vaksin dan imunisasi terhadap virus ini biasanya dilakukan dua kali, yaitu pada umur 12 sampai 15 bulan dan antara 4 hingga 6 tahun. Vaksin ini dapat menyebabkan rasa sakit di lokasi suntikan, demam dan dalam beberapa kasus menyebabkan ruam ringan.</p>
<h3>
	Vaksin Haemophilus influenza tipe B (Hib)/ Vaksin Meningitis</h3>
<p>
	Haemophilus <a href="http://blog-artikel.com/index.php/tips-mencegah-pilek-bertambah-parah.html" target="_blank">influenza</a> tipe b adalah bakteri yang menyebabkan meningitis. Meningitis merupakan peradangan selaput otak dan sumsum tulang belakang yang sangat berbahaya untuk anak-anak di bawah usia 5 tahun.</p>
<p>
	Vaksin Hib atau vaksin meningitis ini umumnya diberikan pada usia &amp;nbsp;2, 4, 6, dan 12 sampai 15 bulan. Tergantung pada vaksin bayi yang digunakan.</p>
<p>
	Efek samping vaksinasi untuk jenis vaksin ini bisa berupa demam, bengkak, dan kemerahan di lokasi suntikan.</p>
<h3>
	Vaksin Polio (IPV)</h3>
<p>
	Vaksin Polio merupakan salah satu vaksin yang berhasil karena semenjak adanya vaksin ini terjadi penurunan kasus polio pada masyarakat.&amp;nbsp; Namun kasus polio yang terjadi sekarang ini disinyalir akibat penggunaan vaksin yang mengandung virus yang telah dibunuh ini belum merata di seluruh dunia.</p>
<p>
	Polio adalah berita buruk, dan dapat menyebabkan kelumpuhan dan bahkan kematian. Anak-anak diberikan vaksin IPV atau vaksin polio ini di usia &amp;nbsp;2 bulan, 4 bulan, antara 6 sampai 18 bulan, dan sekali lagi pada usia antara 4 dan 6 tahun.</p>
<h3>
	Vaksin pneumococcal conjugate (PCV)</h3>
<p>
	Vaksin ini, dikenal sebagai PCV13 (nama merek Prevnar 13), melindungi terhadap 13 jenis Streptococcus pneumoniae, yang merupakan bakteri yang dapat menyebabkan segala macam kekacauan, termasuk meningitis, pneumonia, infeksi telinga, infeksi darah, dan bahkan kematian.</p>
<p>
	Vaksinasi PVC ini diberikan kepada anak-anak selama empat kali yaitu pada umur &amp;nbsp;2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12-15 bulan. &amp;nbsp;Pemberian vaksin untuk melindungi anak-anak terhadap kuman yang dikenal secara kolektif sebagai bakteri pneumokokus.</p>
<p>
	Efek samping yang paling umum dari vaksinasi ini meliputi mengantuk, bengkak di tempat suntikan, demam ringan, dan mudah tersinggung.</p>
<p>
	&amp;nbsp;</p>
<h3>
	Vaksin Influenza (flu)</h3>
<p>
	Vaksin yang bertujuan untuk memberikan kekebalan bagi tubuh terhadap serangan virus influenza. Kebanyakan dari vaksin ini diberikan pada Negara-negara dnegan empat musim, tepatnya pada musim gugur. Karena influenza merupakan penyakit umum yang menyerang, maka pemberiaannya dilakukan terhadap anak umur 6 bulan atau lebih. Anak yang <a href="http://blog-artikel.com/index.php/jenis-jenis-alergi.html" target="_blank">alergi</a> telur tidak harus diberikan vaksin ini, namun jika pemberiannya dilakukan pada anak 6 bulan, maka dokter tidak tahu menahu apakah anak tersebut alergi telur atau tidak.</p>
<p>
	Rasa sakit adalah hal umum yang terjadi setelah vaksinasi, selain itu beberapa anak juga mengalami demam, nyeri serta kemerahan atau bengkak di tempat suntikan.</p>
<p>
	&amp;nbsp;</p>
<h3>
	Vaksin Rotavirus (RV)</h3>
<p>
	Beberapa merk yang umum untuk vaksin ini adalah RotaTeq dan Rotarix yang diberikan kepada anak usia 2 dan 4 bulan. Rotavirus merupakan virus penyebab penyakit diare serta muntah-muntah bagi anak-anak, hampir di seluruh dunia. Sehingga untuk mencegah kemungkinan terburuknya, anak biasanya diberikan vaksin Rotavirus ini untuk melindungi dan melawan virus Rotavirus.</p>
<p>
	Pemberian vaksin ini adalah secara oral karena berbentuk cairan. Beberapa anak biasanya mengalami muntah serta diare ringan setelah proses vaksinasi.</p>
<h3>
	Vaksin Hepatitis A</h3>
<p>
	Anak-anak bisa mendapatkan penyakit hepatitis A dari berbagi makanan atau minuman dengan penderita atau dengan meletakkan makanan yang terkontaminasi atau benda di mulut mereka. Hepatitis A adalah infeksi virus yang mempengaruhi hati, dan dapat menyebabkan sejumlah gejala, termasuk demam, kelelahan, sakit kuning, dan kehilangan nafsu makan.</p>
<p>
	Anak-anak usia 12 sampai 23 bulan pada umumnya mendapatkan dua dosis vaksin Hepatitis A, dengan interval minimal enam bulan diantara vaksinasi.</p>
<p>
	Efek samping vaksinasi ini adalah rasa sakit di tempat suntikan, sakit kepala, dan hilangnya nafsu makan.</p>
<p>
	&amp;nbsp;</p>
<h3>
	Vaksin Meningokokus conjugate (MCV4)</h3>
<p>
	Vaksin ini, dikenal sebagai MCV4 (nama merek Menactra dan Menveo), melindungi terhadap bakteri meningokokus, yang dapat menginfeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang. Pemberian vaksin MCV4 ini direkomendasikan untuk anak-anak di usia 11 atau 12 tahun, dan siapapun antara usia 2 dan 55 yang memiliki peningkatan risiko infeksi penyakit ini.</p>
<p>
	Efek samping yang umum terjadi setelah vaksinasi adalah rasa sakit kecil di lokasi suntikan.</p>
<h3>
	Vaksin Human papillomavirus (HPV)</h3>
<p>
	Vaksin Human papillomavirus (HPV) (nama merek Gardasil, Cervarix) diberikan dalam tiga dosis selama 6 bulan, dan juga diberikan untuk anak perempuan antara usia 9 hingga 26 tahun.</p>
<p>
	Walaupun ada lebih dari seratus jenis virus HPV, vaksin ini melindungi terhadap dua jenis virus penyebab penyakit menular seksual yang merupakan penyebab paling umum kanker serviks. Gardasil juga melindungi anak terhadap dua jenis virus yang menyebabkan <strong><a href="http://blog-artikel.com/index.php/masalah-vagina-dan-pemecahannya.html" target="_blank">permasalahan vagina</a> </strong>seperti kutil kelamin dan <strong>pemberiaan vaksin </strong>ini telah diijinkan untuk anak laki-laki antara 9 dan 26 tahun.</p>
<p>
	Vaksin ini hanya bekerja jika diberikan sebelum infeksi, sehingga dokter merekomendasikan hal ini untuk anak-anak baik sebelum anak-anak itu aktif secara seksual.</p>
<p>
	sumber: http://blog-artikel.com</p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 13 May 2011 16:15:15 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/12-jenis-vaksin-yang-dibutuhkan-anak-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Gonta-Ganti Merek Obat Bebas ?</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/gonta-ganti-merek-obat-bebas/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size:14px;">Gara-gara ingin cepat sembuh, orang kerap menambah dosis obat (di luar anjuran kemasan) atau berganti merek karena kurang manjur. Hal ini tak dianjurkan, apalagi jika Anda tak punya latar belakang medis atau farmasi.
	
	Farmakolog dan guru besar FKUI, Prof. Dr. dr. Purwantyastuty, M.Sc. SpFK, menyarankan untuk mencoba satu tablet dulu, untuk obat dengan dosis penyaranan 1-2 tablet/hari. Apabila tidak manjur, tambahkan dosis menjadi 2 tablet/hari. Namun, jika tak mempan juga, jangan menaikkan dosis sendiri. Ini berarti tubuh Anda tidak cocok dengan kandungan aktif dalam obat bebas tersebut.
	
	Boleh saja mengganti merek obat untuk mencari kecocokan. Ingatlah untuk tidak mengonsumsinya dalam waktu yang berdekatan dengan obat yang sebelumnya. Tunggulah minimal 6&amp;ndash;8 jam, terutama jika aturan pakai obat pertama adalah 3 kali sehari. Jika selama rentang waktu tersebut kondisi tubuh tak membaik, atau makin parah, segeralah periksakan diri ke dokter.</span></p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 09 May 2011 17:31:14 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/gonta-ganti-merek-obat-bebas/</guid>
</item>
<item>
<title>Amankah Hand Sanitizer Gel bagi Anak?</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/amankah-hand-sanitizer-gel-bagi-anak/</link>
<description><![CDATA[ Saat berpergian hand sanitizer gel selalu menjadi jagoan kita untuk membersih kan tangan si kecil dari debu dan kotoran. sebenarnya seberapa ampuhkan hand sanitizer gel membunuh kuman, dan aman kah bagi kulit dan kesehatan anak anda? Yuks kita cari tahu lebih jauh.

Hand sanitizer gel awalnya dibuat untuk mengurangi angka sakit di kelas atau ditempat kerja karena alfa nya seseorang mencuci tangan setelah beraktifitas. Oleh sebab itu dibutuhkan hand sanitizer untuk membuat tangan kembali hygienis seketika tanpa harus cuci tangan.

Namun sayangnya, untuk membuat tangan seketika hygienis dibutuhkan bantuan alkohol sebagai anti bakteri. Hand sanitizer gel sedikitnya mengandung 62% ethyl alcohol disetiap botolnya, yang jika tertelan bisa menimbulkan bahaya bagi anak. salah satu kasus pernah terjadi pada seorang anak yang menjilat sisa hand gel di tangannya karena tertarik dengan bau buah dari hand sanitizer tersebut. Ternyata setelah beberapa saat muncul lah gejala keracunan alkohol pada si anak.

Fakta tentang kandungan alkohol dalam hand sanitizer gel tak sepenuhnya pendukung pernyataan bahwa hand sanitizer memberikan dampak buruk bagi pemakainya. Kenyataannya peggunaan hand sanitizer secara aman dan tidak berlebihan sangat disarankan dibanding anda sama sekali tidak mencuci tangan. Hanya saja dibutuhkan ekstra hati-hati dari orangtua jika digunakan oleh anak-anak. Perlakukan hand sanitizer seperti cairan rumah tangga berbahaya lainnya dengan cara:

    mengawasi anak anda ketika menggunakannya
    pastikan seluruh gel diusapkan rata ke tangan atau telah kering oleh udara, sebelum tangan menyentuh makanan
    jauhkan dari jangkauan anak-anak
    pilihlah gel yang bebas alkohol, atau paling tidak memiliki kadar alkohol rendah
    jika anak anda menelan gel tersebut, secepatnya lakukan tindakan ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Jika kotoran yang menempel ditangan anda terlihat jelas ada baiknya anda lebih memilih mencucinya dengan air dan sabun, dari pada menggunakan hand gel. Meski demikian penggunaan hand gel dalam batas wajar masih diperbolehkan untuk mencegah penyebaran kuman lewat tangan. Hanya harus dipastikan bahwa anda hanya menggunakan hand sanitizer gel untuk bagian tangan, bukan bagian tubuh lainnya. ]]></description>
<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 00:01:46 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/amankah-hand-sanitizer-gel-bagi-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Beberapa Jenis Tes Alergi Pada Anak</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/beberapa-jenis-tes-alergi-pada-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Apabila dilakukan dengan benar dan tepat, mulai dari persiapan hingga cara melakukan tes, semua jenis tes alergi memiliki tingkat akurasi mendekati 100%. Berikut beberapa jenis tes untuk mengetahui alergen.
	
	<span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);">Tes tusuk kulit (<span style="font-style: italic;">Skin Prick Test</span>)</span>
	<span style="font-weight: bold;">Gunanya:&amp;nbsp; </span>memeriksa alergi terhadap alergen yang dihirup (debu, tungau, serbuk bunga) dan alergen makanan (susu, udang, kepiting), hingga 33 jenis alergen atau lebih.
	<span style="font-weight: bold;">Prosedur: </span>&amp;nbsp;</p>
<ul>
	<li>
		Untuk menjalani tes ini, usia anak minimal 3 tahun dan dalam keadaan sehat serta ia tidak baru meminum obat yang mengandung antihistamin (anti-alergi) dalam 3&amp;ndash;7 hari (tergantung jenis obatnya).</li>
	<li>
		Tes dilakukan di kulit lengan bawah sisi dalam. Kulit diberi alat khusus disebut ekstrak alergen yang diletakkan di atas kulit dengan cara diteteskan. Ekstrak alergen berupa bahan-bahan alami, misalnya berbagai jenis makanan, bahkan tepung sari.</li>
	<li>
		Tidak menggunakan jarum suntik biasa tetapi menggunakan jarum khusus, sehingga tidak&amp;nbsp; mengeluarkan darah atau luka, serta tidak menyakitkan.</li>
	<li>
		Hasil&amp;nbsp; tes diketahui dalam 15 menit. Bila positif alergi terhadap alergen tertentu, akan timbul bentol merah yang gatal di kulit.</li>
	<li>
		Tes ini harus dilakukan oleh dokter yang betul-betul ahli di bidang alergi-imunologi karena tehnik dan interpretasi (membaca hasil tes) lebih sulit dibanding tes lain.</li>
</ul>
<p>
	<span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;">Tes tempel (<span style="font-style: italic;">Patch Test</span>)</span>
	<span style="font-weight: bold;">Gunanya:</span> mengetahui alergi yang disebabkan kontak terhadap bahan kimia, misalnya pada kasus penyakit dermatitis atau eksim.
	<span style="font-weight: bold;">Prosedur: &amp;nbsp;</span></p>

<ul>
	<li>
		Dilakukan pada anak usia minimal 3 tahun.</li>
	<li>
		Dua hari sebelum tes, anak tidak boleh melakukan aktivitas yang berkeringat atau mandi. Punggungnya pun tidak boleh terkena gesekan dan harus bebas dari obat oles, krim atau salep.</li>
	<li>
		Tes akan dilakukan di kulit punggung. Caranya, dengan menempatkan bahan-bahan kimia dalam tempat khusus (<span style="font-style: italic;">finn chamber</span>) lalu ditempelkan pada punggung anak. Selama dilakukan tes (48 jam), anak tidak boleh terlalu aktif bergerak.</li>
	<li>
		Hasil tes didapat setelah 48 jam. Bila positif alergi terhadap bahan kimia tertentu, di kulit punggung akan timbul bercak kemerahan atau melenting.</li>
</ul>
<p>
	<span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);">Tes RAST (Radio <span style="font-style: italic;">Allergo Sorbent Test</span>)</span>
	<span style="font-weight: bold;">Gunanya:</span> mengetahui alergi terhadap alergen hirup dan alergen makanan.
	<span style="font-weight: bold;">Prosedur: </span></p>

<ul>
	<li>
		Dapat dilakukan pada anak usia berapa pun dan tidak menggunakan obat-obatan.</li>
	<li>
		Dalam tes ini, sampel serum darah anak akan diambil sebanyak 2 cc, lalu diproses dengan mesin komputerisasi khusus. Hasilnya diketahui setelah 4 jam.</li>
</ul>
<p>
	<span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);">Tes kulit intrakutan</span>
	<span style="font-weight: bold;">Gunanya:</span> untuk mengetahui alergi terhadap obat yang disuntikkan.
	<span style="font-weight: bold;">Prosedur: </span></p>

<ul>
	<li>
		Dilakukan pada anak usia minimal 3 tahun.</li>
	<li>
		Tes dilakukan di kulit lengan bawah dengan cara menyuntikkan obat yang akan di tes di lapisan bawah kulit.</li>
	<li>
		Hasil tes dapat dibaca setelah 15 menit. Bila positif, akan timbul bentol, merah dan gatal.</li>
</ul>
<p>
	<span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;">Tes provokasi dan eliminasi makanan</span>
	<span style="font-weight: bold;">Gunanya:</span> mengetahui alergi terhadap makanan tertentu.
	<span style="font-weight: bold;">Prosedur:</span></p>

<ul>
	<li>
		Dapat dilakukan pada anak usia berapa pun.</li>
	<li>
		Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesis atau riwayat penyakit anak dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan dan tanda serta gejala alergi makanan sejak kecil.</li>
	<li>
		Selanjutnya, untuk memastikan makanan penyebab alergi, digunakan&amp;nbsp; metode Provokasi Makanan Secara Buta (<span style="font-style: italic;">Double Blind Placebo Control Food Chalenge </span>atau DBPCFC), yang merupakan standar baku. Namun karena cara DBPCFC ini rumit dan butuh biaya serta waktu tidak sedikit, beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode ini. Salah satunya, dengan melakukan &amp;ldquo;Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana&amp;rdquo;.&amp;nbsp; Caranya: dalam diet sehari-hari anak, dilakukan eliminasi (dihindari) beberapa makanan penyebab alergi selama 2&amp;ndash;3 minggu. Setelah itu, bila sudah tidak ada keluhan alergi,&amp;nbsp; maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Selanjutnya, dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu dan bila timbul gejala dicatat. Disebut sebagai penyebab alergi bila dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala. Tak perlu takut anak akan kekurangan gizi, karena selain eliminasi diet ini bersifat sementara, anak dapat diberi pengganti makanan yang ditiadakan yang memiliki kandungan nutrisi setara.</li>
</ul>
<p>
	<span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);">Tes provokasi obat</span>
	<span style="font-weight: bold;">Gunanya:</span> mengetahui alergi terhadap obat yang diminum.
	<span style="font-weight: bold;">Prosedur: </span></p>

<ul>
	<li>
		Dapat dilakukan pada anak usia berapa pun.</li>
	<li>
		Metode yang digunakan adalah DBPC (<span style="font-style: italic;">Double Blind Placebo Control</span>) atau uji samar ganda. Caranya, pasien minum obat dengan dosis dinaikkan secara bertahap, lalu ditunggu reaksinya dengan interval 15&amp;ndash;30 menit. &amp;nbsp;</li>
	<li>
		Dalam satu hari, hanya boleh satu macam obat yang dites. Bila perlu dilanjutkan dengan tes obat lain, jaraknya minimal satu minggu, bergantung dari jenis obatnya.</li>
</ul> ]]></description>
<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 16:23:50 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/beberapa-jenis-tes-alergi-pada-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Bila anak sulit minum obat</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/bila-anak-sulit-minum-obat/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Betapa sedihnya saat si kecil sakit, rewel, ogah makan atau minum, minta gendong terus, sulit minum obat lagi.&amp;nbsp; Tak jarang, para ibu ikut menangis, dalam hati ataupun linangan air mata. Jika bisa, ingin rasanya menggantikan sakit si kecil, ingin rasanya menjadi tumbal penderitaan si kecil.
	
	Ketika si kecil sakit dan sulit minum obat, orang tua kalang kabut dibuatnya. Bekerja tak lagi nyaman, tidur tak lagi nyenyak, bahkan rela terjaga demi si kecil yang sedang
	dirundung lara.
	
	Segala upaya sudah ditempuh, bujuk rayu dihembuskan. Apa mau dikata, obat yang dipaksa dicekokkan di mulut mungil si kecil, tetap berhamburan. Keluarlah obat dan isi perut si kecil bersama muntahan. Apa yang akan dilakukan jika ilustrasi di atas menimpa anak kita? Katakanlah si kecil sudah mendapatkan 3 jenis obat sirop berkenaan dengan sakitnya. Mari berbagi.
	
	Obat dan peralatan penunjang:</span>
	&amp;nbsp;</p>
<ul>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Obat dan sendok takar (bukan sendok teh atau sendok makan). Sekali lagi sendok takar.</span></li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Pipet plastik obat. Pipet ini bisa didapatkan dengan membeli vitamin atau obat penurun panas drops (tetes) yang ada pipet plastiknya. Usahakan jangan pipet kaca (kalau digigit, bisa pecah). Pastikan keberadaan pipet plastik dalam kemasan obat saat kita membelinya di apotik.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Gelas kecil atau wadah dari plastik agar tidak pecah saat tersenggol secara tidak sengaja ketika terjadi pemberontakan si kecil.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Nampan plastik atau kayu dan lap bersih, tissue atau washlap.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Minuman kesukaan si kecil untuk diminumkan selang-seling dengan minum obat. Misalnya sari buah atau apa saja.</span>
		&amp;nbsp;</li>
</ul>
<p>
	<span style="font-size: 14px;">Langkah-langkah minum obat :</span>
	&amp;nbsp;</p>
<ul>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Siapkan obat dan semua peralatan penunjang di atas sebelum meminumkan obat.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Kalungkan lap atau kain bersih pada si kecil agar tidak mengotori pakaian jika ada percikan obat.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Kocok botol obat hingga rata (homogen)</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Tuangkan masing-masing obat sesuai takaran yang dianjurkan ke dalam wadah atau gelas plastik, lalu aduk hingga rata. Jangan dikurangi ya.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Sekali lagi pastikan dosisnya tepat. Pesankan hal ini jika yang meminumkan obat orang lain atau nenek. (Pengalaman penulis, seorang nenek ada cenderung mengurangi dosis obat dengan alasan kasihan. Ini menurut penuturan mereka sendiri. tidak semua lho, hanya pesan doang)</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Pegang kedua pipi si kecil diantara rahang atas dan bawah dengan lembut agar mulutnya terbuka, kira-kira cukup untuk menyelipkan pipet di sela kedua bibir.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Minumkan obat sedikit demi sedikit dan selingi dengan minuman kesukaan si kecil atau teh manis agar tidak mblenger. Boleh sambil menimang sebentar (nyanyi ndangdut, india, uyon-uyon juga boleh), lalu dilanjutkan minum obat.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Ulangi langkah di atas hingga obat habis.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Tuangkan minuman kesukaan si kecil atau teh manis ke dalam wadah yang mungkin masih ada sisa obat. Aduk dengan pipet plastik sampai rata, kemudian minumkan lagi hingga wadah obat bersih sih sih tanpa sisa.</span>
		&amp;nbsp;</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Bersihkan sekitar mulut si kecil dengan tissue</span></li>
</ul>
<ul>
	<li style="text-align: justify;">
		<span style="font-size: 14px;">Selesai.</span>
		&amp;nbsp;</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
	
	<span style="font-size: 14px;">Kesabaran, ketelatenan amat diperlukan saat minumkan obat bagi si kecil.
	Bagaimana jika obat baru masuk, langsung dimuntahkan ?
	Nah ini repotnya. Mau diulang khawatir kelebihan dosis, tidak diulang takut tidak sembuh.
	
	Jika dimuntahkan semua, apalagi isi perut ikut terhambur, mau tidak mau
	diulang. Tentu pakai tenggat waktu, agar si kecil tidak muak.
	
	Bagaimana jika sama sekali tidak bisa minum obat? Ini lebih repot lagi. Misalnya baru ngeliat botol obat sudah muntah. Baru melihat sendok obat sudah hoeekkk. Pendeknya, blasss nggak bisa masuk sedikitpun.
	
	Masalahnya, kebanyakan anak tidak suka dengan cita rasa antibiotika. Jika menghadapi kondisi demikian, para orang tua dapat minta bentuk lain, misalnya tetes (drops) sepanjang masih memungkinkan dosisnya dengan tetesan.
	
	Intinya, para orang tua bebas dan boleh meminta sediaan obat sesuai kebiasaan si kecil. Misalkan si kecil lebih mudah minum sirup, maka boleh minta sirup. Demikian juga jika si kecil lebih mudah minum obat puyer, maka mintalah puyer.
	
	Perlu diketahui bahwa dosis obat anak sebagian besar dihitung berdasarkan berat badan, bukan umur.
	
	Contoh: Anak umur 2 tahun dan anak umur 1 tahun bisa saja dosis antibiotika sama jika berat badan dan penyakitnya sama. Paham kan ?
	
	Masalah serius adalah jika semua jenis obat tidak bisa masuk, sedangkan obat tersebut mutlak diperlukan. Misalnya anak sakit memerlukan antibiotika dan obat penurun panas.
	Penurun panasnya oke, bisa masuk cara supositoria, lalu bagaimana dengan antibiotika?
	
	
	
	Untuk orang tua dan calon orang tua:
	Sebaiknya sediakan obat di rumah untuk pertolongan pertama jika si kecil sakit.&amp;nbsp; Setidaknya obat penurun panas, obat anti muntah atau obat lain yang sesuai dengan sakitnya si kecil. Jika bukan obat bebas, jangan segan minta resep dokter untuk persediaan, lengkap dengan petunjuk cara minumnya.
	
	Contoh obat penurun panas supositoria ( lewat anus ):
	
	Dumin Rectal Tube (125 mg/2,5 ml dan 250 mg/4 ml). Kandungan: asetaminofen atau parasetamol (podo wae)
	Proris supp (ibuprofen 125 mg)
	Penurun panas bentuk sirup atau tetes, silahkan pilih sesuai cita rasa. Adapun dosisnya, sesuaikan dengan etiket.
	Obat penurun panas bisa diulang setiap 6-8 jam, maksimal 4 jam (jangan kurang dari 4 jam ya)
	
	
	Perhatian:
	Jika anak kita alergi terhadap salah satu jenis obat, hendaknya lapor kepada dokter dengan membawa obatnya. dokter akan memberikan selembar catatan alergi terhadap obat tertentu. jika tidak, orang tua wajib meminta. Hal ini penting agar tidak diberi obat yang sama dikemudian hari oleh dokter lain.
	
	Ingat, alergi tidak sama dengan keracunan, berbeda. Misalkan seseorang alergi antalgin, walaupun minum secuil tetap alergi. Adakalanya seseorang yang awalnya tidak alergi antalgin, suatu saat timbul alergi. Gak perlu marah-marah, lalu ngomel: padahal dulu gak apa-apa koq sekarang jadi gatal. Hal ini bisa terjadi sodara, lantaran menyangkut faktor imunologi.
	Obat adalah bahan kimia. Sekecil apapun efek sampingnya, bertanya kepada yang&amp;nbsp; mengerti adalah langkah bijaksana. </span></p> ]]></description>
<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 09:07:38 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/bila-anak-sulit-minum-obat/</guid>
</item>
<item>
<title>Tips Menghindari Obat Palsu « Meylya’s Weblog</title>
<link>http://bundazone.com/obat-obatan/tips-menghindari-obat-palsu-meylyas-weblog/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Untuk keamanan dan agar mendapatkan efektivitas obat secara optimal, sebaiknya pasien dapat menggali informasi tentang obat yang sedang diminumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Informasi itu dapat diperoleh dari dokter yang memberikan resep atau apotekerdi apotek tempat membeli resep tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Langkah awal untuk mencapai hasil yang optimal dari suatu pengobatan adalah membeli atau memperoleh obat di tempat yang benar. Beberapa tips membeli obat yang baik untuk menghindari obat palsu adalah :</p>
<ol>
	<li style="text-align: justify;">
		Perhatikan nomor registrasi sebagai tanda sudah mendapat izin untuk dijual di Indonesia.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Periksalah kualitas keamanan dan kualitas fisik produk obat tersebut.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Periksalah nama dan alamat produsen, apakah tercantum dengan jelas.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Teliti dan lihatlah tanggal kadaluwarsa.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Untuk obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter (ethical/obat keras), belilah hanya di apotek berdasarkan resep dokter.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Baca indikasi, aturan pakai, peringatan, kontra indikasi, efek samping, cara penyimpanan, dan semua informasi yang tercantum pada kemasan.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Tanyakan informasi obat lebih lanjut pada apoteker di apotek.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
	Setelah membeli obat di tempat yang benar, penggunaan obat yang tepat merupakan faktor penting untuk memperoleh khasiat yang optimal dari suatu obat. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan obat, yaitu :</p>
<ul>
	<li style="text-align: justify;">
		Baca aturan pakai pada label/etiket setiap Anda akan menggunakan obat.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Untuk menghindari kesalahan, jangan menggunakan obat di tempat gelap.</li>
</ul> ]]></description>
<pubDate>Tue, 29 Mar 2011 17:44:43 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/obat-obatan/tips-menghindari-obat-palsu-meylyas-weblog/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
