<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in penyakit-kelainan</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 12:18:00 +0700</pubDate>
<item>
<title>Mengobati Penyakit Jantung Bawaan Anak Tanpa Operasi</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/mengobati-penyakit-jantung-bawaan-anak-tanpa-operasi/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, anak-anak penderita <a class="jTip" href="http://www.detikhealth.com/index.php?fa=parserads.search&amp;amp;idkanal=755&amp;amp;keyword=Mw==&amp;amp;width=280&amp;amp;height=125" style="text-decoration:none;"><b>Penyakit</b></a> jantung bawaan (PJB) tidak perlu lagi harus dioperasi atau bedah. Tindakan intervensi non-bedah telah banyak dilakukan banyak pusat-pusat jantung anak, termasuk di Indonesia.
	
	<a class="jTip" href="http://www.detikhealth.com/index.php?fa=parserads.search&amp;amp;idkanal=755&amp;amp;keyword=Mw==&amp;amp;width=280&amp;amp;height=125" style="text-decoration:none;"><b>Penyakit</b></a> jantung bawaan (PJB) merupakan masalah yang cukup menonjol dalam bidang kesehatan anak. Satu dari 100 bayi yang lahir menderita PJB, mulai dari jenis yang ringan sampai yang berat atau kompleks. Dengan jumlah kelahiran bayi sekitar 4,5 juta per tahun saat ini, maka di Indonesia diperkirakan tidak kurang dari 45.000 bayi baru lahir akan menyandang penyakit jantung bawaan.
	
	PJB memberikan kontribusi yang penting terhadap tingginya angka kematian bayi di suatu negara, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sekitar 30 persen bayi atau anak yang menderita PJB harus mengalami tindakan koreksi berupa operasi atau tindakan intervensi pada waktu yang optimal, agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
	
	Meskipun sampai saat ini disepakati bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan PJB dan penelitiannya pun masih terus dilakukan, namun perkembangan pengobatan PJB pada anak sudah menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Perkembangan yang paling signifikan saat ini adalah tindakan intervensi non-bedah yang telah banyak dilakukan di banyak pusat-pusat jantung anak, termasuk di Indonesia.
	
	<strong>Tanpa Operasi atau Tanpa Bedah </strong>
	Anak-anak penyandang PJB sebagian besar harus mengalami tindakan operasi yang tentu saja mempunyai risiko tidak kecil. Selain sangat menimbulkan kekhawatiran pada orangtua dan keluarga, tindakan orperasi jantung terbukan (dengan <em>by-pass</em>) pada anak memerlukan berbagai fasilitas yang memadai mulai dari ruang operasi, perawatan intensif (ICU), serta tenaga profesional terdidik dan terlatih, seperti ahli bedah jantung, anestesi, perfusionis, dan perawatan terlatih. Di samping itu, pasien anak juga memerlukan perawatan lebih lama dibanding pasien dewasa. Tambahan lagi, tindakan operasi akan meninggalkan bekas luka bedah di sekitar dada atau dinding dada.
	
	Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, khususnya dalam bidang intervensi kardiologi anak (<em>interventional pediatric cardiology</em>), sebagian anak-anak penderita PJB tidak perlu lagi mengalami operasi atau pembedahan. Beberapa PJB yang sering ditemukan, seperti PDA (<em>patent ductus arteriosus</em>), ASD (<em>atrial septal defects</em>), dan VSD (<em>ventricular septal defects</em>) dapat dikoreksi dengan menggunakan &amp;#39;perangkat&amp;#39; berupa <em>Coils</em> atau <em>Amplatzer Occluder</em>.
	
	<strong>Intervensi untuk PJB </strong>
	Beberapa PJB dapat dikoreksi dengan <em>Amplatzer Occluder</em>, antara lain:
	
	
	<strong>PDA (<em>Patent Ductus Arteriosus</em>) </strong>
	PDA adalah kelainan pada saluran yang menghubungkan antara pembuluh darah yang ada di jantung (aorta dan arteri pulmonalis). PDA menempati 5-19 persen porsi kasus PJB yang ada dan lebih sering ditemukan pada anak perempuan.
	
	Saat ini pengobatan PDA dengan prosedur intervensi (<em>transcatheter closure</em>) sudah merupakan metode terpilih sejak dekade terakhir. Kecuali bila ukuran PDA tidak sesuai, misalnya terlalu besar atau terjadi pada bayi-bayi kecil, termasuk bayi baru lahir.
	
	PDA memerlukan penutupan untuk menghindari terjadinya gagal jantung. Penutupan dilakukan dengan menggunakan perangkat (<em>Coils dan Amplatzer Duct Onccluder</em>) melalui prosedur seperti kateterisasi jantung biasa. Banyak studi yang dilakakukan di pusat-pusat pelayanan jantung diseluruh dunia menunjukkan bahwa prosedur penutupan PDA tanpa operasi ini sangat efektif dengan tingkat keberhasilan sampai 99%.
	
	<strong>ASD (<em>Atrial Septal Defects</em>) </strong>
	ASD sekitar 19% dari seluruh <a class="jTip" href="http://www.detikhealth.com/index.php?fa=parserads.search&amp;amp;idkanal=755&amp;amp;keyword=Mw==&amp;amp;width=280&amp;amp;height=125" style="text-decoration:none;"><b>penyakit</b></a> jantung bawaan. Sering kali tidak menunjukkan gejala klinis, tetapi bila sudah parah anak akan menunjukkan gejala sesak napas, cepat lelah dan <em>exercise intolerance</em> (kemampuan beraktivitas) menurun. Dulu, ASD harus dikoreksi dengan tindakan bedah menggunakan prosedur operasi terbuka (<em>open heart surgery</em>), dengan mesin paru-jantung, yang tentu saja mempunyai risiko yang tidak kecil.
	
	Kini, teknik penutupan ASD tanpa operasi dengan menggunakan perangkat (<em>transcatheter closure</em>) merupakan salah satu pilihan yang sudah banyak dikerjakan di seluruh dunia dengan hasil yang sangat memuaskan. Penutupan ASD dengan menggunakan Amplatzer Septal Occluder (ASO) telah banyak dilaporkan menunjukkan efektivitas yang tinggi dan aman.
	
	<strong>VSD (<em>Ventricular Septal Defects</em>) </strong>
	Merupakan jenis PJB yang paling sering ditemukan pada anak dengan persentasi sekitar 20%-25%. VSD dapat menimbulkan peningkatan aliran darah menuju paru-paru sehingga dapat menyebabkan timbulnya gagal jantung. Penutupan VSD dengan prosedur intervensi menggunakan <em>Amplatzer Ventricle Occluder</em> (AVO) merupakan suatu alternatif pengobatan tanpa operasi.
	
	Penutupan VSD dengan menggunakan AVO cukup efektif dan aman, namun perlu diwaspadai terjadinya komplikasi yang berupa terhambatnya aliran pembuluh darah secara total pada atrioventricular (AV block). Komplikasi ini dapat terjadi akibat pemasangan perangkat AVO dengan ukuran yang lebih besar daripada ukuran defeknya (kelainannya).
	
	<strong>Penulis: </strong>
	Dr. Sukman Tulus Putra, SpA (K) FACC, FESC
	Tim Dokter Spesialis Jantung Anak Eka Hospital BSD Tangerang</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 00:08:53 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/mengobati-penyakit-jantung-bawaan-anak-tanpa-operasi/</guid>
</item>
<item>
<title>Operasi Amandel Tidak Selalu Diperlukan</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/operasi-amandel-tidak-selalu-diperlukan/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Salah satu infeksi pada daerah mulut yang sering terjadi pada anak-anak adalah tonsilitis atau yang sering disebut dengan pembengkakan amandel. Dan untuk mengatasinya, sering dilakukan tonsilektomi (operasi pengangkatan amandel).</font> </font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Tapi penelitian yang terbaru di <em>British Medical Journal</em>, mengatakan bahwa operasi pengangkatan amandel tidak lebih baik daripada hanya melakukan pengawasan saja, tanpa operasi, pada anak dengan infeksi tenggorakan sedang atau masalah gangguan nafas ringan yang disebabkan oleh karena pembesaran amandel atau kelenjar adenoid.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Dari 150 anak yang menjalani operasi tonsilektomi, enam minggu pertama terjadi pengurangan demam dan infeksi dengan gejala ringan, dibandingkan dengan 150 anak lainnya yang tidak melakukan tonsilektomi. Tapi setelah 18 bulan kemudian, tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok anak yang menjalani tonsilektomi dengan kelompok anak yang tidak menjalani tonsilektomi.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Di Amerika Serikat, pasien yang melakukan tonsilektomi telah menurun dalam 3 dekade terakhir. Dari 1 juta orang pertahun di tahun 1970, kini menjadi 250.000 orang pertahun.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Walaupun anak tidak melakukan tonsilektomi, sebaiknya orangtua tetap berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat obat. Biasanya anak akan diberikan obat penghilang nyeri (analgesik) atau obat anti peradangan bila anak mengalami nyeri dan demam. Orangtua juga harus mengawasi anak untuk mencegah terjadi infeksi yang lebih berat dan gejala penyumbatan saluran nafas.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Pada beberapa keadaan, diperlukan operasi juga. Seperti pada kasus anak dengan henti nafas sejenak pada saat tidur. Kelenjar tonsil dan adenoid yang begitu membesar sehingga akan mengganggu anak saat tidur. Gejalanya, anak tidur dengan mendengkur yang keras dan sering terbangun pada saat tidurnya.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Selain itu, dapat juga dilihat dari frekuensi dan beratnya infeksi. Misalnya infeksi yang terjadi 6 kali dalam satu tahun saja atau 3-4 tahun setiap tahunnya selama setidaknya tiga tahun.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">sumber: lamandel.blogspot.com</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			&amp;nbsp;</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 07:09:42 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/operasi-amandel-tidak-selalu-diperlukan/</guid>
</item>
<item>
<title>Jika Balita &amp; Bayi Terkena Eksim</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/jika-balita-bayi-terkena-eksim/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Gangguan kulit yang satu ini paling sering menyerang bayi dan balita. Apa dan bagaimana mencegah eksim pada anak? 
	
	Kulit bayi dan balita pun butuh perawatan agar terhindar dari gangguan kulit. Kulit
	bayi yang lapisannya masih tipis dan ikatan antar-selnya masih lemah, lebih mudah terkena iritasi dan infeksi. Gangguan kulit yang sering mendera bayi dan balita biasanya eksim. &amp;quot;Antara lain, eksim popok (dermatitis popok) dan eksim susu (dermatitisatopik),&amp;quot; ungkap dr. Titi Lestari Sugito, Sp.KK(K) dari bagian Kulit dan Kelamin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. &amp;quot;Agar tidak menjadi berkepanjangan, orang tua sebaiknya mengenali eksim lebih dini agar bisa dicegah,&amp;quot; lanjutnya.
	
	Eksim atau dermatitis berarti peradangan pada lapisan kulit. Baik di lapisan epidermis maupun dermis. Seperti diketahui, kulit terdiri dari tiga lapisan, lapisan jangat (epidermis), dermis, dan jaringan subkutis. Epidermis sebagai lapisan paling atas terbentuk pada usia kehamilan 5-6 minggu. &amp;quot;Setidaknya, sekitar 28 hari sekali kulit akan berganti dengan kulit baru. Selain itu, terdapat sel pigmen yang melindungi tubuh dari efek sinar matahari,&amp;quot; ujar Titi.
	
	Lapisan dermis terdiri dari serabut penunjang seperti kolagen dan elastin, saraf dan pembuluh darah. Terdapat juga apokrin dan keringat. Sedangkan lapisan terdalam, lapisan subkutis terdiri atas jaringan lemak.
	
	Tanda-tanda eksim, antara lain, kulit kemerah-merahan, kulit kering, basah, atau tebal dan bersisik. &amp;quot;Tergantung penyebabnya, apakah sudah lama atau berulang-ulang.&amp;quot; Biasanya eksim baru warnanya agaklebih merah, agak basah, disertai bengkak. Sementara pada yang kronis atau sudah lama, lebih tebal, bersisik, kering, dan warnanya agak kehitaman. Ada beberapa eksim yang sering diderita bayi dan balita, yaitu eksim popok dan susu (demartitis atopik).
	
	<b>1. EKSIM POPOK </b>
	Pemakaian popok pada bayi dan balita merupakan cara paling praktis, efektif, dan higienis untuk menampung tinja dan air seni si kecil agar tidak menyebar saat buang air. Sayangnya, kulit bayi dan balita tidak siap kontak lama dengan urin dan tinja karena masih tipis. Kulit yang lembap (popok menutup kulit) juga cenderung lebih rentan terhadap gesekan sehingga mudah mengalami iritasi, selain memudahkan pertumbuhan kuman dan jamur. Pemilihan popok yang baik dan cara pemakaian dan perawatan kulit di daerah popok mutlak dilakukan.
	
	Eksim popok merupakan radang kulit yang terdapat di daerah tertutup popok. Biasanya di sekitar alat kelamin, bokong, lipat paha, dan perut bagian bawah. Penyakit ini sering menyerang bayi dan balita yang menggunakan popok. &amp;quot;Paling banyak, anak usia 9 sampai 12 bulan. Gejalanya kemerahan pada kulit. Bila sudah berlangsung lama, timbul bintil-bintil merah, lecet, bersisik, membasah dan bengkak, bisa ditumbuhi jamur terutama jenis candida albicans,&amp;quot; tutur Titi.
	
	Eksim popok terjadi karena cara pemakaian popok yang salah. &amp;quot;Jadi, jangan salahkan popoknya. Yang enggak benar, cara memakainya.&amp;quot; Bagaimana jika si kecil telanjur kena eksim popok? &amp;quot;Kalau masih ringan, bersihkan dengan air hangat, ganti popok setiap buang air kecil dan besar, lalu oleskan krim khusus sebagai pelindung. Dengan pengobatan yang rutin biasanya akan hilang,&amp;quot; ujar Titi.
	
	Waspadai apabila eksim popok tidak sembuh dalam tiga hari dengan gejala kulit berwarna merah dengan bintik-bintik. &amp;quot;Berarti sudah terinfeksi jamur. Segera bawa ke dokter. Lebih cepat, lebih baik untuk mencegah anak rewel karena kulitnya gatal dan perih.&amp;quot; Untuk menghindari eksim popok bisa juga dengan melatih anak buang air kecil dan besar di kamar mandi.
	
	<b> 2. EKSIM SUSU </b>
	Eksim susu (dermatitis atopik) biasanya diturunkan. Orang awam mengira eksim ini disebabkan pipi bayi terkena cipratan ASI saat menyusu, padahal bukan. &amp;quot;Penyebabnya adalah faktor keturunan didukung faktor pencetus seperti makanan (susu, telur, dan daging), hirupan debu rumah dan terkena benda berbulu dan keringatnya sendiri,&amp;quot; ujar Titi.
	
	Biasanya terdapat ruam di daerah pipi dengan gejala warna kulit tampak kemerahan dan gatal. Cegah si kecil menggaruk ruam tersebut karena bisa menyebabkan iritasi yang menimbulkan gelembung kecil berisi cairan jernih. &amp;quot;Cairan ini bila pecah akan menjadi basah, berair, dan berdarah. Setelah mengering akan menjadi kehitaman, kemudian kulit menjadi bersisik dan kering,&amp;quot; ungkap Titi.
	
	Eksim karena faktor pencetus dari lingkungan bersifat alergen yang dapat menimbulkan reaksi alergi di tubuh, sehingga kulit menjadi gatal dan timbul eksim.
	
	Faktor lain yang memudahkan terjadinya eksim adalah sifat kulit, yakni kulit kering. Pemakaian sabun yang kadar alkalinya tinggi, terlalu sering berada di ruangan ber-AC dengan suhu dibawah 18 Celsius, memakai pakaian dari wol, bisa memicu kambuhnya eksim. &amp;quot;Meski penyebabnya genetik (keturunan), sepanjang tak ada faktor pencetusnya, eksim ini tidak akan timbul. Jadi, kalau gejalanya masih sedikit gatal atau merah, lebih baik langsung diingat-ingat apa yang sudah dimakan dan dikenakan, lalu cepat hindari agar tidak berkepanjangan, &amp;quot; ungkap Titi.
	
	Untuk mencegah kambuhnya eksim susu, sebaiknya jaga kebersihan lingkungan di sekitar si kecil. &amp;quot;Usahakan kamar bayi bersih dari debu dengan mencuci gorden seminggu sekali, hindari meletakkan banyak barang di dalam kamar, hindari pakaian, mainan dan karpet tebal dan berbuluyang mudah menampung debu. Sebaiknya gunakan kasur, bantal, jok kursi dari busa, &amp;quot; saran Titi.
	
	Untuk mengobati, diberikan krim antiradang, anti alergi dan antigatal. Gunakan sesuai aturan dan petunjuk dokter. Jika tak kunjung sembuh, segera konsultasikan ke dokter, jangan lakukan tindakan sendiri dengan penggunaan krim tidak sesuai aturan atau menggunakan obat minum, misalnya. &amp;quot;Bisa muncul efek samping seperti kerusakan kulit. Yang utama memerhatikan kebersihan kulit bayi dan anak. Ini gampang dilakukan namun sering dilupakan orang tua,&amp;quot; ujar Titi.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<b>HINDARI SABUN KERAS </b>
	Rawatlah kulit bayi dan balita secara benar. Apa saja yang harus dilakukan?
	
	1. Bersihkan kulit dari kotoran yang menempel pada kulit seperti sisa makanan, air seni dan tinja dengan air. Mandi dua kali sehari juga akan membantu membersihkan kulit. &amp;quot;Jika kegiatan dan gerak anak sangat tinggi, mandi dapat dilakukan sampai 3 kali sehari.&amp;quot;
	
	2. Perhatikan sabun pembersih kulit. &amp;quot;Hindari sabun yang terlalu keras. Pilih sabun khusus untuk bayi dan balita yang memiliki pH 4,5 &amp;shy; 5 dan agak berminyak untuk menghindari iritasi.&amp;quot; Gunakan pula pelembap berupa lotion dan krim khusus bayi dan balita. Fungsinya mempertahankan atau menambah kandungan air dalam kulit terutama bagian terluar kulit ari (epidermis). Berikan setelah mandi.
	
	3. Cegah bayi terpapar sinar ultraviolet dari matahari atau gunakan pelindung sinar matahari. &amp;quot;Pukul 08.00 ke atas, intensitas ultraviolet sangat tinggi. Jadi, menjemur bayi sebaiknya sebelum jam itu dan sebaiknya tetap gunakan krim atau lotion pelindung sinar matahari khusus bayi dan balita,&amp;quot; ungkap Titi.
	
	Yang tak kalah penting, sebelum membeli produk perawatan kulit untuk bayi dan balita, teliti informasi produk. &amp;quot;Teliti isi, tujuan,cara pemakaian, tanggal produksi, kedaluwarsa serta izin dari Badan POM agar terhindar dari faktor pemicu atau pencetus timbulnya penyakit, &amp;quot; pesan Titi.
	
	<b>MENCEGAH EKSIM POPOK </b>
	* Popok dari kain sebaiknya langsung diganti jika basah, sedangkan popok sekali pakai sebaiknya segera diganti jika air seni atau tinja yang diserap sudah melebihi daya tampung.
	
	* Untuk pencegahan, jagalah kebersihan daerah kulit yang ditutupi popok. Setelah buang air kecil dan besar, bersihkan kulit secara lembut dengan air hangat, lalu bilas bersih-bersih.
	
	* Gunakan sabun khusus setelah buang air besar, lalu keringkan dengan handuk atau kain lembut, dan tunggu 2 menit sebelum dipakaikan popok baru. &amp;quot;Ini akan mencegah kulit tidak lembap,&amp;quot; jelas Titi.
	
	* Setelah itu, bisa dibubuhkan bedak yang berfungsi sebagai pelicin dan penyerap kelembapan supaya mengurangi gesekan antara kulit dengan popoknya. &amp;quot;Tapi harus digunakan dalam keadaan kulit kering dan bersih.
	
	Jangan saat lembap karena malah bisa memicu timbulnya jamur dan kuman. Juga jangan berlebihan karena bisa terhisap dan mengganggu pernapasan,&amp;quot; ungkap Titi.
	
	<b>BIANG KERINGAT PUN BIKIN MASALAH </b>
	Biang keringat muncul akibat saluran keringat tersumbat sel yang sudah berganti. Akibatnya, rasa gatal terpicu. Berikut agar si kecil terhindar dari biang keringat:
	
	* Bayi atau anak dianjurkan mandi secara teratur, sedikitnya dua kali sehari menggunakan air dingin dan sabun. &amp;quot;Mandi yang teratur merupakan salah satu cara agar keringat dapat keluar dengan baik dan lancar,&amp;quot; ujar Titi.
	
	* Jika bayi dan balita Anda banyak dan sering mengeluarkan keringat, basuh dengan handuk atau kain lembut. Setelah itu, taburi dengan bedak, tapi jangan pada saat kulit dalam kondisi lembap.
	
	* Gunakan pakaian yang menyerap keringat, misalnya yang terbuat dari katun. &amp;quot;Kalau pakaiannya sudah basah oleh keringat, cepat ganti dengan yang kering. Sebaiknya bawa beberapa potong baju jika sedang bepegian untuk mempermudah mengganti pakaian,&amp;quot; saran Titi.
	
	sumber: Tabloid Nova</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 13:11:04 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/jika-balita-bayi-terkena-eksim/</guid>
</item>
<item>
<title>Komplikasi Pilek pada Bayi dan Anak</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/komplikasi-pilek-pada-bayi-dan-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<strong>Komplikasi Pilek pada Bayi dan Anak</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Batuk &amp;amp; Pilek seringkali diangggap bukan gangguan kesehatan yang serius. Bahkan banyak orang tua yang mengabaikan penyakit ini, jika bayi atau anak tidak samapi demam.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Namun, jika bayi dan anak ibu mengalami batuk dan pilek selama seminggu atau lebih, dan gejalanya memburuk, ada baiknya ibu segera berkonsultasi ke dokter. Virus flu dapat menyebabkan komplikasi penyakit seperti:</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong><em>1. Pneumonia </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Pneumonia dapat terjadi ketika virus flu masuk ke dalam paru-paru. Gejala pneumonia antara lain: muncul demam setelah sakit flu selama satu minggu, batuknya bertambah parah, rasa sakit di dada, nafas berbunyi, pernafasan terganggu, menjadi lebih rewel dan bertingkah tidak seperti biasanya. Bayi dan anak yang menderita asma, memiliki resiko lebih tinggi mengalami komplikasi ini. Segera di bawa ke dokter untuk mendapatkan pengobatan &amp;amp; beristilahatlah yang cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<em><strong>2. Infeksi Telinga </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">
	Setelah bayi atau anak ibu pilek, kemudian muncul deman sampai kesulitan tidur di malam hari, bisa jadi ini merupakan tanda-tanda infeksi telinga. Flu dapat mengakibatkan radang pada jalur pernafasan dan menyebabkan tertutupnya pipa eustachia (saluran yang menyalurkan cairan di telinga). Jika cairan terhalang, bakteri bisa berkembang dan menyebabkan infeksi telinga.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<em><strong>3. Infeksi Sinus </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">
	Infeksi dapat juga terjani di sinus, yaitu rongga yang menghubungkan hidung dengan batok kepala. Sama seperti infeksi telinga, ada cairan yang &amp;lsquo;terjebak&amp;rsquo; di sana. Gejala-gejala yang perlu diamati adalah: demam, hidung tersumbat, batuk yang tak kunjung sembuh, nafas bau, kelopak mata bengkak, atau sakit kepala.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<em><strong>4. Croup </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">
	Virus flu dapat menyebabkan radang di pangkal tenggorokan (laring) dan batang tenggorokan (trakea), radang ini disebut &amp;lsquo;croup&amp;rsquo;. Anak akan terlihat megap-megap, mengeluarkan bunyi saat bernafas dan menangis parau di antara batuk. Jika anak kelihatan sulit bernafas, yang dapat ibu lakukan adalah: bawa anak keluar rumah untuk menghirup udara dingin atau memandikan dengan air hangat. Jika anak masih terlihat kesulitan bernafas, segera bawa ke dokter, mungkin diperlukan perawatan dengan steroid atau epinefrin untuk mengurangi radang di tenggorokan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	sumber: bayibalita.com</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 31 May 2011 16:52:06 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/komplikasi-pilek-pada-bayi-dan-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Kejang Demam, Bisakah Dicegah?</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/kejang-demam-bisakah-dicegah/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<span style="font-weight: bold;">Tanya: </span>
	Anak kedua saya (8 bulan) sudah dua kali kejang demam. Bagaimana cara mencegahnya?
	
	<span style="font-weight: bold;">Jawaban: </span>
	Kejang demam (stuip) adalah salah satu penyebab utama kepanikan orangtua ketika si kecil demam. Yang perlu orangtua ketahui, pada dasarnya, demam tidak berbahaya, bahkan demam adalah bagian dari mekanisme pertahanan tubuh untuk mengusir infeksi yang tengah melanda tubuh si kecil.
	
	Umumnya, komplikasi demam adalah dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh (anak ASI jarang dehidrasi, karena akan terus menyusu saat demam). Dan, kejang demam bukan komplikasi yang sering menimpa anak yang menderita demam. Hanya 1 dari 30 anak demam yang bisa mengalami kejang demam.
	
	Apakah itu kejang demam? Kejang demam adalah kejang yang terjadi akibat demam, bukan akibat adanya kerusakan di otak seperti halnya anak meningitis (radang selaput otak) atau ensefalitis (radang otak). Karena pencetusnya bukan berasal dari otak, kejang demam tidak berbahaya dan tidak menyebabkan gangguan intelektual.
	
	Apakah kejang demam bisa berulang ketika anak demam nantinya? Bisa, jika kejang demam pertama terjadi pada saat anak berusia sangat muda, yaitu kurang dari 1 tahun. Juga, kejang demam berisiko berulang, bila ada riwayat kejang demam dalam keluarga atau kejang demam sebelumnya terjadi ketika suhu tubuh tidak terlalu tinggi. Jadi? Ada kemungkinan anak Anda kembali mengalami kejang demam, sebab kejang demam pertama terjadi di usia 8 bulan.
	
	Bagaimana cara mencegahnya? Kejang demam tidak bisa dicegah. Pemberian obat demam sekalipun bukan untuk mencegah kejang demam. Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pertama, tersedia obat kejang yang dimasukkannya melalui anus. Catatan: Obat kejang hanya diberikan saat anak kejang, serta bukan saat anak demam tinggi atau pasca demam.
	
	Kedua, ketika kejang demam, baringkan anak Anda di tempat yang aman (misalnya, lantai), miringkan tubuhnya (jika ada makanan/minuman di mulut, tidak akan &amp;lsquo;tersedak&amp;rsquo; masuk ke saluran napas), jangan masukkan apapun ke mulut anak (mulut harus bebas dari benda apapun agar masuknya oksigen tidak terhambat!), atau masukkan obat ke anus anak. Juga, bawalah anak berkonsultasi dengan dokter spesialis anak subspesialisasi neurologi (saraf) untuk memastikan kejang demam anak tersebut murni kejang demam, tanpa ada tendensi ke penyakit lain. Misalnya, epilepsi (ayan).
	
	<span style="font-weight: bold; font-style: italic;">Konsultan: dr. Purnawati S. Pujiarto, Sp. AK, MMPed </span></p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 31 May 2011 00:34:39 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/kejang-demam-bisakah-dicegah/</guid>
</item>
<item>
<title>Leukemia, Gejalanya Mirip Demam Berdarah</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/leukemia-gejalanya-mirip-demam-berdarah/</link>
<description><![CDATA[ Jika tubuh anak Anda lemas, kulit pucat, demam, bahkan terjadi perdarahan karena kadar trombosit dalam darah menurun, muntah dan lain sebagainya, jangan buru-buru memvonis demam berdarah atau penyakit kuning. Harus diteliti lebih lanjut. Sebab, gejala leukemia juga mirip demam berdarah dan penyakit kuning. Bedanya, leukemia lebih berbahaya.

Jika seorang anak terbukti positif menderita leukemia, ia akan menjalani pengobatan yang sangat panjang dan biaya yang sangat besar. Menurut Endang Windia5tuti, dari Sub Bagian Hematologi Onkologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, sekitar 10 persen kasus kanker yang menyebabkan kematian anak, 2-4% diataranya karena leukemia. Dari sebagian besar kasus kematian akibat leukemia, terjadi pada anak di bawah usia 18 tahun. Lebih posh lagi, penyakit kanker dash ini sering teijadi pada anak usia 3-5 tahun. Leukemia yang sering dialami anak-anak adalah leukemia limfositik akut (LLA). LLA umumnya diketahui ketika anak masih berusia balita, tapi tidak sedikit pasien yang divonis positif LLA ketika sudah menginjak usia remaja.

Proses Terjadinya
Dalam tubuh, jelas Endang, terdapat beberapa jenis sel dash. Secara garis besar terdiri dan sel darah merah (eriirnsit), sel dash putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Sel darah merah mengandung haemoglobin yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Sedangkan sel darah putih berfungsi memberantas infeksi. Keping darah diperlukan untuk menghentikan perdarahan jika terjadi luka.

Khusus untuk sel darah putih, dalam kedaan normal sel ini berkembang membentuk limfosit yang punya peran besar bagi sistem kekebalan tubuh manusia. Namun tanpa sebab yang jelas, sel limfosit ini malah berubah menjadi ganas dengan memakan sel darah putih. Umumnya, perkembangan sel ganas ini paling cepat terjadi pada sumsum tulang. Tapi, tidak berhenti sampai di situ. Setelah sel ganas lepas dari sumsum tulang, lalu masuk ke dalam aliran darah.

Karena berada dalam aliran darah, maka aneka sel darah lain akan ikut diserang lalu mengalami kerusakan. Serangan sel limfosit ganas terhadap sel darah putih ini mengakibatkan sistem daya tahan tubuh menurun. Akibatnya, anak mudah terkena infeksi. Sedangkan rendahnya sel darah merah menyebabkan anak pucat dan lemah.

Keping darah yang berkurang, membuat anak mudah mengalami perdarahan yang sulit berhenti. Selanjutnya sel yang tidak normal atau sel kanker ini merambah hingga ke organ lain seperti hati, limpa, getah bening, otak, ginjal, organ reproduksi, yang mengakibatkan organ tersebut rusak. Ini dapat mengakibatkan anak menderita: gagal hati, gagal ginjal dan meningitis. Hingga saat ini, penyebab sel darah tersebut mengalami perkembangan, secara tidak normal belum diketahui secara pasti. Tapi berdasarkan dugaan, perubahan sel yang tidak normal tersebut terkait dengan gaya hidup. Baik itu berupa pola makan, karena zat kimia dan paparan bahan karsinogenik.

Dugaan lain, kanker ini disebabkan kelainan genetik ditambah masuknya virus tertentu. Defisiensi atau kekurangan faktor imunitas serta paparan zat radioaktif dapat meningkatkan terjadinya kanker ini.

Bisa Diobati
Karena perubahan sel yang abnormal ini bermula di sumsum tulang, maka produksi sel darah merah dalam jumlah yang memadai mengalami kegagalan. Secara kasat mata, pada tubuh keadaan ini memunculkan gejala berupa:

    lemah dan sesak nafas, karena anemia (set darah merah terlalu sedikit)
    infeksi dan demam, karena berkurangnya jumlah sel darah putih
    perdarahan, karena jumlah trombosit yang terlalu sedikit.

Pada beberapa penderita, infeksi yang berat merupakan pertanda awal dari leukemia. Sedangkan pada penderita lain gejalanya lebih ringan, berupa lemah, lelah dan tampak pucat. Jika sel-sel leukemia sudah menyebar ke dalam otak bisa menyebabkan sakit kepala, muntah dan gelisah serta nyeri tulang dan sendi.

Jadi, waspadalah jika anak sering tampak lesu dan lelah disertai pucat, demam yang tak jelas penyebabnya, perdarahan abnormal-seperti mimisan, bercak-bercak biru di kulit, serta rewel karena merasa nyeri pada tulang. Apalagi jika diraba perutnya terasa keras dan membengkak. Kadang-kadang ditemukan benjolan pada kulit, pembengkakan gusi, kelumpuhan otot wajah atau tungkai tanpa sebab yang jelas.

Penyembuhan
Dulu, kemungkinan penyembuhan leukemia sangat kecil, sehingga harapan hidup penderitanya sangat kecil pula. Setelah penyakit terdiagnosis, . banyak penderita yang hanya sanggup bertahan hidup selama 4 tahun atau lebih. Sebagian besar pasien meninggal pada saat sel kankernya masih sedans berada dalam fase akselerasi, atau periode awal saat sel kanker mengalami percepatan perkembangan.

Tapi sejak ditemukannya alat kemoterapi, harapan hidup pasien bisa diperpanjang sampai 8-12 bulan.

Meskipun hingga saat ini masih menjadi momok, namun leukemia atau kanker darah bukan lagi penyakit yang mengerikan. Penyakit yang beberapa tahun lalu bisa dikatakan vonis mati itu, kini bisa diobati, bahkan pengobatan bisa membuat pasien sembuh total.

Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi pengobatan kanker dengan memanfaatkan berbagai sitostatika (obat antikanker) yang ampuh memberantas sel kanker. Juga pengobatan dengan kemoterapi (penyinaran). Tapi masalahnya, obat sitostatika tidak hanya memberantas sel kanker. Sel-sel darah normal yang diproduksi dalam sumsum tulang turut pula terberantas. Akibatnya pasien bisa sangat rawan terhadap infeksi, perdarahan, maupun gangguan kesehatan umum.

Tujuan pengobatan pasien leukemia adalah meneapai kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemia. Untuk itu, penderita leukemia harus menjalani kemoterapi dan harus dirawat di rumah sakit.

Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi. Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu.

Meskipun tingkat kemampuan obat anti kanker dalam memberantas sel yang tidak normal demikian tiriggi, tapi efek samping obatnya juga semakin besar. Maka, selama menjalani pengobatan dengan memanfatkan obat anti kanker,.pemantauan ketat efek samping obat terhadap organ lain tidak boleh putus. Organ yang berisiko terkena efek samping pengobatan antara lain : hati, jantung, dan ginjal. Untuk itu, di samping sitostatika, penderita diberi pula obat penangkal efek samping, tranfusi darah, antibiotika, serta makanan bergizi.

Efek Samping Pengobatan
Ada sejumlah efek samping yang mungkin terjadi akibat kemoterapi clan’ pemanfaatan obat anti kanker:

    Sel darah putih menurun (lekopenia) ; Penderita sangat mudah infeksi, akibatnya demam.
    Sel darah menurun (anemia) ; akibatnya : lemah, pucat, cepat capai, pusing, nyeri dada dan respirasi meningkat. Hati-hati pada penderita yang memang sudah mempunyai kelainan jantung atau paru.
    Sel trombosit menurun (trobositopenia) akibatnya : mudah berdarah, balk di bawah kulit (petechiea), saluran pencernaan (melena), saluran pernafasan (hemoptisis), maupun pembuluh darah otak (stroke). Hal ini diperburuk apabila penderita juga mendapat radiasi pada tulang-tulang yang membentuk sel darah.
    Muntah; gelombang rasa muntah berasal dari area epigastrium, tengggorokan belakang dan seluruh abdomen. Muntah ini akan berlanjut menjadi lemah, pusing, pucat dan nafas cepat.
    Diare; pengeluaran feses dengan frekuensi lebih cepat dari normal dengan konsistensi lunak atau cair, disertai rasa sakit perut atau tidak.
    Kebotakan; hilangnya rambut temporer, walaupun dalam prosentase kecil ada yang permanen. Hal ini karena penghancuran inti sel basal dari folikel rambut, sehingga rambut rapuh dan mudah dicabut/rontok.
    Dosis kemoterapi makin besar atau pemberian yang lama akan membuat lebih cepat rontok. Bulu-bulu tubuh lain yang tumbuhnya tidak terlalu cepat tidak terpengaruh oleh kemoterapi.
    Ekstravasasi. Gejalanya radang hebat disertai nyeri. Apabila obat non vesicant akan sembuh dalam 1-2 hari. Reaksi kulit dan kuku; diakibatkan destruksi sel basal dari epidermis (sistemis) atau gangguan pada sel yang dilewati kemoterapi sepanjang vena. Kelainan ini spesifik untuk kemoterapi tertentu. Sistitis (radang kandung kencing); pada kemoterapi tertentu terjadi nyeri buang air kecil
    Infeksi Vagina (mucocytis vaginalis); klinis nyeri pada vagina. Bahkan bisa sampai berdarah. Timbul hari ke-5 dan menghilang pada hari ke 10.
    Gangguan rasa pengecapan; gangguan rasa asam, manis, pedas. Hal ini menyebabkan nafsu makan menurun sehingga tidak jarang mengakibatkan difisiensi protein dan kalori. Gangguan tersebut bisa
    sedikit berkurang atau hilang lama sekali, atau timbul rasa baru, disebut metallic medicinal.
    Kardiomiopati; kerusakan otot jantung yang karena kemoterapi bersifat permanen.
    Fibrosis paru; terjadi infiltrasi paru sehingga fungsi paru menurun
    Nefropati asam urat; pecahnya sel kanker karena obat akan menyumbat ginjal sehingga fungsi ginjal menurun.
    lelah; rasa lemah dan energi menurun sehingga selalu ingin berbaring di tempat tidur dan tidak bisa berkonsentrasi.
    Reaksi hipersensitif; adalah efek samping yang sangat berbahaya, mulai fase ringan sampai berat dengan tanda-tanda shock.

Macam leukemia
Leukemia Limfositik
Ini dapat berakibat fatal Sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit, pada LLA berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. LLA merupakan leukemia yang paling Bering terjadi pada anak-anak. Sel leukemia jenis ini bisa muncul di otak, dan buah zakar. Untuk membunuh sel-sel ini biasanya dilakukan dengan kemoterapi dan tempi penyinaran selama beberapa minggu.

Leukemia Mieloid Akut
Sel mielosit yang dalam keadaan normal berkembang seharusnya menjadi granulosit. Tapi pada penderita LMA, sel mielosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di sumsum tulang. Leukemia ini bisa menyerang segala usia, tetapi paling sering terjadi pada dewasa.

Sel-sel leukemia tertimbun di dalam sumsum tulang, menghancurkan dan menggantikan sel-sel yang menghasilkan sel darah yang normal. Sel kanker ini kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah dan berpindah ke organ lainnya, lalu melanjutkan pertumbuhannya dan membelah diri. Mereka bisa membentuk tumor kecil (kloroma) di dalam atau tepat dibawah kulit dan bisa menyebabkan meningitis, anemia, gagal hati, gagal ginjal dan kerusakan organ lainnya.

Leukemia Limfoasitik Kronis
Ini ditandai dengan adanya sejumlah besar limfosit (salah s.atu jenis sel darah putih) matang yang bersifat ganas. Pertumbuhan dan perkembangbiakan sel ini Bering ditemukan pada kelenjar getah bening. Tapi dalam perkembangannya sel leukemia ini bisa masuk ke organ lain dengan memanfaatkan aliran darah ke hati dan limpa. Masuknya limfosit ini ke dalam sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang normal, sehingga terjadi anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit di dalam darah. Akibatnya, kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan infeksi) juga berkurang. Bahkan, karena serangan sel ini, sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh terhadap serangan dari luar, justru seringkali menjadi salah arch dan menghancurkan jaringan tubuh yang normal.

Leukemia Mielositik Kronis
Adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh perubahan sel darah putih dalam sumsum tulang menjadi ganas. Sehingga menghasilkan sejumlah besar granulosit (salah satu jenis sel darah putih) yang abnormal. Pada LMK, selselnya terdiri dari sel yang sangat muda sampai sel yang matang. Sedangkan pada LMA hanya ditemukan sel muda. Granulosit leukemik selain menggeser sel-sel normal di dalam sumsum tulang dan seringkali menyebabkan terbentuknya sejumlah besar jaringan sel tumor ganas yang bergantung pada sumsum tulang normal.

Dalam perjalanannya, semakin banyak granulosit muda yang masuk ke dalam aliran darah dan sumsum tulang (fase akselerasi). Alhasil ketika fase tersebut berlangsung, pasien mengalami anemia (kurang darah) dan trombositopenia (penurunan jumlah trombosit).

Sumber: Tabloid Ibu &amp;amp; Anak ]]></description>
<pubDate>Fri, 27 May 2011 04:26:34 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/leukemia-gejalanya-mirip-demam-berdarah/</guid>
</item>
<item>
<title>Konstipasi Pada Anak</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/konstipasi-pada-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Dalam istilah umum konstipasi disebut sebagai sembelit atau susah buang air besar. Konstipasi pada seorang anak dapat membuat panik orang tua. Pada sebagian besar kasus, kejadian konstipasi pada anak tidak berbahaya, tetapi sebagian kecil kasus dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam konstipasi ini, yaitu keadaan tinja, frekuensi buang air besar (BAB), dan keadaan fisik anak itu sendiri.</p>
<p>
	Pada keadaan konstipasi, tinja dalam keadaan keras sehingga sering tampak berbentuk seperti kotoran kambing. Frekuensi BAB pada anak akan berkurang dibandingkan sebelumnya. Tapi perlu diperhatikan bahwa keseringan BAB ini bervariasi, tergantung pada umur dan dietnya. Keadaan fisik anak juga menentukan, apakah menderita konstipasi atau tidak. Pada keadaan konstipasi kita dapat meraba adanya benda keras (tinja yang mengeras) di perut bagian kiri bawah. Awal timbulnya konstipasi penting diperhatikan sebab dapat memberi petunjuk tentang penyebabnya. Bila kesulitan BAB terjadi sejak lahir maka perlu dipikirkan kemungkinan penyakit bawaan, misalnya penyakit <em>Hirscprung</em>. Penyakit ini berupa berkurangnya serabut saraf pada selaput lendir usus besar, dengan akibat usus besar kurang bergerak. Akibatnya tinja yang terbentuk tidak bisa melalui usus besar menuju anus dengan lancar. Pada waktu lahir sebenarnya telah tampak kotorannya yang berwarna hitam (mekonium) terlambat keluarnya. Pada keadaan normal, biasanya bayi telah mengeluarkan mekonium-nya dalam 24 jam pertama. Bila bayi menderita penyakit ini, selain konstipasi, akan tampak perut membuncit dan lama-kelamaan akan kurang gizi. Bila konstipasi terjadi setelah anak berusia 2-3 tahun, tentu penyebabnya adalah hal lain seperti diet, kejiwaan, dan lain-lain. Lamanya keluhan konstipasi berlangsung dapat memberikan petunjuk untuk mengetahui penyebabnya.</p>
<p>
	Disebut <em>konstipasi akut</em> bila keluhan berlangsung kurang dari 4 minggu, sedangkan bila berlangsung lebih dari 4 minggu disebut <em>konstipasi kronik</em>. Penyebab konstipasi kronik sukar disembuhkan. Hal yang perlu diperhatikan pada anak yang menderita konstipasi, apakah konstipasi ini disebabkan oleh adanya penyumbatan pada usus. Selain konstipasi, juga akan memperlihatkan gejala seperti muntah, sakit perut, dan perut membuncit.</p>
<p>
	Bila anak memperlihatkan gejala-gejala demikian sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk memastikan apakah terdapat gejala penyumbatan usus. Kekurangan cairan dan infeksi virus juga dapat menyebabkan konstipasi. Hal ini disebabkan karena anak kurang minum, menderita demam, dan kehilangan cairan melalui saluran napasnya. Dalam hal ini tidak perlu khawatir, sebab bila infeksi dapat diatasi biasanya konstipasinya akan hilang. Jagalah supaya anak banyak minum supaya tidak kekurangan cairan dalam tubuhnya.</p>
<p>
	Perubahan diet pada anak sering pula menimbulkan konstipasi yang bersifat sementara. Bila diet anak mengandung banyak karbohidrat atau susu, dan kurang mengandung buah-buahan, sayuran, dan serelia biasanya anak jadi mudah terkena konstipasi. Nyeri pada anus dapat menyebabkan konstipasi, nyeri disebabkan adanya luka pada anus. Luka timbul karena anak pernah melepaskan tinja yang keras, karena luka menimbulkan sakit bila anak buang air besar, maka anak enggan buang air besar. Konstipasi juga dapat timbul bila ada perubahan suasana atau gaya hidup, seperti dalam perjalanan, sewaktu liburan, atau pindah rumah.</p>
<p>
	Penyebab paling sering konstipasi kronik adalah yang disebut konstipasi fungsional. Penyebabnya tidak diketahui tetapi mungkin keturunan. Diduga latihan BAB (toilet training) yang salah dan terlalu dini ikut berperan. Anak dengan konstipasi fungsional biasanya mulai memperlihatkan gejala sesudah anak dilatih BAB, pada usia 3-5 tahun. Anak memperlihatkan tingkah laku aneh yang merupakan manifestasi anak dalam melawan proses berhajat. Gejala lainnya berupa kurang nafsu makan, kurang aktif, dan kecepirit. Bila anak menderita konstipasi sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk menentukan penyebabnya. Dalam hal ini pengobatannya tergantung pada penyebabnya.</p>
<p>
	Bila penyebabnya bukan penyakit yang serius, biasanya dicoba dengan memberikan makanan yang kaya serat seperti buah-buahan, sayuran, atau agar. Dapat pula dicoba dengan mencolok anus dengan sabun mandi, larutan gliserin, atau larutan parafin melalui anus. Bila tidak berhasil, dokter akan memberikan obat pencahar untuk melancarkan BAB. Karena faktor kejiwaan sering menyebabkan konstipasi kronik pada anak, maka konsultasi pada psikiater pun perlu dilakukan. Namun apa pun penyebabnya, yang penting adalah pengobatan konstipasi pada anak sedini mungkin. Bila tidak, konstipasi akan menjadi kronik, dan makin sulit mengobatinya apalagi bila telah terjadi pengaruh kejiwaan pada anak.</p>
<p>
	<em>sumber: dr.Niken Pritayati, Sp.A Klinik Anakku Bekasi via yumizone.wordpress.com</em></p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 27 May 2011 04:19:32 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/konstipasi-pada-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Gemar Menonton TV, Menyempitkan Pembuluh Darah Mata Pada Anak</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/gemar-menonton-tv-menyempitkan-pembuluh-darah-mata-pada-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Terlalu lama berada di depan layar TV sangat tidak dianjurkan, apalagi bagi anak-anak yang seharusnya aktif bermain. Tak hanya bisa memicu obesitas, hobi nonton TV membuat anak rentan mengalami penyempitan pembuluh darah pada mata.
	
	Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Dr Bamini Gopinath dari Sydney University. Dalam penelitian tersebut ia melibatkan 1.500 anak berusia 6-7 tahun yang rata-rata nonton TV 2 jam/hari dan hanya 36 menit beraktivitas di luar ruangan.
	
	Hasil analisis menunjukkan, risiko penyempitan pembuluh darah pada mata dialami oleh anak-anak yang lebih banyak nonton TV dan hanya beraktivitas di luar selama kurang dari 30 menit. Anak-anak yang bermain di luar selama 1 jam atau lebih relatif aman dari risiko tersebut.
	
	Dr Gopinath mengatakan, penyempitan pembuluh darah pada mata merupakan indikator sistem peredaran darah di seluruh tubuh. Risiko terburuk dari gangguan tersebut antara lain tekanan darah tinggi atau hipertensi, stroke dan serangan jantung di usia dini.
	
	&amp;quot;Kami menemukan bahwa perubahan pada pembuluh arteri yang letaknya di belakang mata mencerminkan kondisi kardiovaskular di bagian lain pada tubuh anak,&amp;quot; ungkap Dr Gopinath dalam laporannya seperti dikutip dari Dailymail.
	
	Pada orang dewasa, penyempitan pembuluh darah pada bagian tersebut diketahui merupakan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk stroke. Oleh karena itu pemeriksaan kardiovaskular wajib dilakukan harus segera dilakukan sebelum terlambat.
	
	Sementara itu juru bicara asosiasi dokter mata di Amerika Serikat, Adrian Bell mengatakan penyempitan pembuluh darah di mata pada anak-anak juga memicu gangguan penglihatan saat berusia 20-an tahun. Orang-orang zaman dahulu matanya lebih sehat karena lebih jarang menonton TV.</p> ]]></description>
<pubDate>Wed, 25 May 2011 00:25:52 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/gemar-menonton-tv-menyempitkan-pembuluh-darah-mata-pada-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>TRIBUTE TO MY MOM « Living Life</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/tribute-to-my-mom-living-life/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<span style="font-size: 12px;">Memperingati hari lupus sedunia tanggal 10 Mei 2011. Sebagai persembahan untuk bunda, post pertama ini sebenarnya hanya sekilas tentang LUPUS (Systemic Lupus Erythematosus). Posting selanjutnya, akan kita bahas lebih dalam tentang LUPUS (Systemic Lupus Erythematosus) ini.</span></p> ]]></description>
<pubDate>Thu, 12 May 2011 02:06:00 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/tribute-to-my-mom-living-life/</guid>
</item>
<item>
<title>Kebanyakan Fluorida Bisa Timbulkan Bercak di Gigi</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/kebanyakan-fluorida-bisa-timbulkan-bercak-di-gigi/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Pemerintah Amerika Jumat kemarin mengeluarkan rekomendasi tentang jumlah fluoride dalam air yang ditetapkan pada tingkat terendah dari kisaran jumlah yang disarankan.</p>
<p>
	Walaupun fluorida bisa membantu secara signifikan dalam mencegah gigi berlubang dan kerusakan gigi lainnya, tapi terlalu banyak fluorida dapat menyebabkan bercak pada gigi anak-anak. Sekitar dua dari lima remaja memiliki bintik putih pada lapisan gigi mereka akibat kebanyakan fluoride, seperti terungkap dalam penelitian terbaru.
	
	Untuk mencegah masalah ini, Departemen Kesehatan AMerika beserta pihak terkait merekomendasikan bahwa tingkat fluoride dalam air minum akan ditetapkan sebesar 0,7 miligram per liter, menggantikan kisaran yang disarankan saat ini 0,7-1,2 miligram.
	
	&amp;quot;Salah satu keunggulan air berfluorida adalah bahwa hal itu menguntungkan semua warga masyarakat - di rumah sekolah, di tempat kerja, atau bermain,&amp;quot; kata Asisten Sekretaris HHS Kesehatan Dr Howard K. Koh dalam sebuah pernyataannya.
	
	Salah satu alasan rekomendasi baru ini adalah bahwa selama bertahun-tahun sumber fluorida dari air meningkat jumlahnya melalui pasta gigi, cuci mulut, suplemen fluoride, dan fluoride yang diterapkan oleh dokter gigi.
	
	Menurut lembaga ini, rekomendasi tersebut memungkinkan pencegahan kerusakan gigi, sekaligus mengurangi kemungkinan anak-anak mendapatkan fluoride terlalu banyak.
	
	<em>Overexposure</em> hasil fluorida dikenal sebagai fluorosis, adalah zat yang dapat merusak gigi anak-anak berkembang. Di Amerika, fluorosis biasanya ringan, hanya berupa tanda-tanda putih berenda nyaris tak terlihat atau hanya berupa bintik. Bentuk parah fluorosis, yang menyebabkan pewarnaan di permukaan gigi, lebih sering terjadi di tempat-tempat seperti China di mana air telah mengalami peningkatan jumlah kandungan fluorida.
	
	Seorang juru bicara American Dental Association, Dr Matthew Messina, mengatakan, instansi pemerintah Amerika telah melakukan tugas yang seharusnya dilakukan. &amp;quot;Kami sangat senang bahwa mereka terus mendukung keamanan dan efektivitas fluorida dan nilainya sebagai ukuran kesehatan masyarakat dalam mencegah kerusakan pada gigi.&amp;quot;
	
	sumber: tempointeraktif.com</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 10 May 2011 21:54:57 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/kebanyakan-fluorida-bisa-timbulkan-bercak-di-gigi/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
