<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in perkawinan</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 12:18:49 +0700</pubDate>
<item>
<title>Tips Keluarga Sakinah, menghindari perceraian</title>
<link>http://bundazone.com/perkawinan/tips-keluarga-sakinah-menghindari-perceraian/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<strong>Tips Menghindari Perceraian</strong>
	
	Setiap keluarga pasti tidak ingin jalinan rumah tangga yang dengan susah payah dibangun berakhir dengan perceraian. Banyak faktor yang dijadikan alasan dari sebuah perceraian. Karenanya, meminimalisir faktor penyebabnya meruipakan salah satu hal yang harus dilakukan oleh setiap pasangan suami istri.
	
	Apapun alasannya, perceraian akan selalu menyisakan kesedihan. Dampak perceraian tidak hanya dialami oleh suami-istri. Justru yang lebih parah adalah dampaknya terhadap psikologi anak-anak. Karena itu sebaiknya perceraian sebisa mungkin dihindari.
	
	Ada beberapa tips yang dapat kita pertimbangkan, saat rumah tangga kita berada diambang perceraian. Berikut adalah beberapa diantaranya:
	
	<strong>1. Cari Sumbernya.</strong> Ada asap pasti ada api. Demikian juga halnya dengan kehidupan rumah tangga. Keputusan untuk bercerai tentunya bukan tanpa sebab. Karena itu, carilah sumber dari hal ini. Jika sumber permasalahannya sudah dapat ditemukan, cobalah untuk menyelesaikan dengan baik-baik. Sebab setiap masalah tentu mempunyai jalan keluar. Apapun masalah yang menjadi sumber dari keputusan cerai yang akan diambil, sebaiknya pertimbangkan dengan matang. Sebab, jika kita sudah menemukan sumber permasalahannya, maka keputusan yang tepat akan dapat diambil, apakah akan meneruskan keputusan untuk bercerai, atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">
	
	<strong>2. Introspeksi.</strong> Bila Anda sudah mengetahui penyebab kenapa Anda atau suami ingin bercerai, cobalah untuk berintropeksi. Ini yang seringkali sulit dilakukan. Pasalnya, masing-masing pasangan pasti merasa dirinyalah yang benar. Mereka tak bakal bisa menerima kenyataan bahwa merekalah pangkal sebab munculnya niat cerai. Mungkin, Anda malu mengakui secara jujur kekurangan Anda, tapi cobalah menjawab dengan jujur pada diri sendiri bahwa yang dikatakan pasangan Anda ada benarnya. Mumpung masih ada waktu, kenapa tak Anda coba perbaiki dari sekarang? Tentu, suami pun harus melakukan hal serupa. Bisa jadi, ialah yang membuat perkawinan menjadi goyah dan tak harmonis lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>3. Jangan membesarkan masalah.</strong> Jika Anda dan suami sudah tahu sumber keributan dan konflik dalam rumahtangga, sebaiknya jangan memperbesar masalah. Juga, jangan mencari masalah baru. Pasalnya, ini justru akan memperkeruh suasana. Bila Anda menyadari kekurangan yang ada, tak ada salahnya meminta maaf. Tidak perlu malu dan berusaha menjadi istri yang baik seperti yang diharapkan suami. Cobalah untuk mencari solusi sebaik-baiknya.
	&amp;nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>4. Pisah sementara.</strong> Meski sepertinya sangat tak enak, cara ini bisa menjadi jalan terbaik untuk menghindari perceraian. Pisah untuk sementara waktu akan membantu suami-istri untuk menenteramkan diri sekaligus menilai, keputusan apa yang sebaiknya ditempuh. Kenapa harus pisah rumah? Pasalnya, dua hati yang sama-sama sedang panas, sebaiknya tak bertemu setiap hari. Jika setiap hari bertemu, yang terjadi bukan membaik, malah justru bakal semakin panas. Bisa-bisa ribut terus dan tidak ada titik temu. Yang dibahas setiap hari pasti akan balik ke masalah yang itu-itu saja. Anda bisa misalnya &amp;ldquo;mengungsi&amp;rdquo; dulu ke rumah orang tua, sementara suami pindah dulu sementara ke rumah orang tuanya. Pisah rumah akan membantu mendinginkan hati yang sedang memanas, sehingga Anda dan suami dapat berpikir jernih.
	&amp;nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>5. Komunikasi.</strong> Apapun,komunikasi merupakan fondasi sebuah hubungan, termasuk hubungan dalam perkawinan. Tanpa komunikasi, hubungan tak bakal bisa bertahan. Jadi, seberat apapun situasi yang tengah Anda hadapi, sebaiknya tetap lakukan komunikasi dengan pasangan. Bahkan setelah Anda dan suami sama-sama hidup terpisah, cobalah untuk tetap berkomunikasi. Coba diskusikan bersama, langkah terbaik apa yang bisa Anda berdua lakukan untuk menghindari perceraian, untuk mempertahankan mahligai rumahtangga. Tak mudah memang, tapi jika Anda berdua sudah berpisah untuk sementara waktu, situasi panas barangkali sudah lewat, sehingga Anda berdua sudah siap untuk berkomunikasi. Jangan merasa malu atau gengsi untuk saling menghubungi.
	&amp;nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>6. Libatkan keluarga.</strong> Jika kenyataannya, pasangan sudah tidak dapat diajak berkomunikasi atau selalu berusaha menghindar, cobalah libatkan anggota keluarga yang memang dekat dengannya. Orang tua, kakak atau pamannya misalnya. Pokoknya, siapa saja yang Anda rasa bisa Anda ajak berbicara. Tentu, Anda jangan pernah menutupi akar permasalahan yang ada kepada mereka, tetapi berterus teranglah. Katakan juga, apa sebetulnya kekurangan Anda maupun kekurangan suami. Siapa tahu, mediator ini dapat melunakkan hati Anda dan pasangan, sekaligus mencarikan solusi untuk kembali bersatu.
	&amp;nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>7. Cari teman curhat.</strong> Menghadapi perceraian tentu akan membuat pikiran runyam, pekerjaan terbengkalai dan bingung harus berbuat apa. Nah, kondisi tidak nyaman ini bisa Anda atasi bila Anda bisa berbagi dengan orang terdekat, sahabat misalnya. Dengan berbagi, beban pikiran Anda akan terasa lebih ringan. Yang harus dicermati, jangan mencari teman curhat yang lawan jenis. Carilah teman curhat sesama jenis. Pasalnya, bila Anda bercerita, mengungkapkan uneg-uneg Anda pada teman pria, belum tentu sepenuhnya ia akan mendukung Anda untuk kembali bersatu dengan suami. Bisa jadi ia malah menggoda Anda, dan jika Anda akhirnya benar-benar tergoda, yang muncul akhirnya malah masalah baru.</p>
<p style="text-align: justify;">
	8. Ingat anak. Anak biasanya menjadi senjata terampuh untuk meredam konflik antara suami-istri. Jadi, bila ternyata antara Anda dan suami sama&amp;not;sama menginginkan perceraian, cobalah ingat anak-anak Anda, buah cinta kasih Anda dan suami. Ingatlah bahwa mereka masih sangat membutuhkan Anda dan suami. Apakah mereka harus menjadi korban perceraian karena keegoisan orang tuanya? Lantas, setelah Anda bercerai, kemana dan kepada siapa mereka harus ikut, Anda atau suami? Jika Anda menyayangi mereka, pikirkan kembali keputusan tersebut.
	&amp;nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>9. Kesampingkan ego pribadi.</strong> Jika Anda memang masih menginginkan keutuhan rumahtangga, segera buang jauh-jauh ego yang ada dalam diri Anda. Jangan merasa diri selalu benar dan sealu menyudutkan pasangan, begitu pula sebaiknya. Sadarilah bahwa apa yang terajadi sekarang adalah kesalahan Anda dan suami. Kalaupun selama ini ada sakit hati yang terselip, cobalah untuk saling memberi maaf.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>10. Jujur pada diri sendiri.</strong> Jujurlah pada diri sendiri, apakah Anda sudah siap mental untuk berpisah selamanya dengan suami? Perceraian tidaklah semudah yang dibayangkan. Berpisah lalu hidup tenang. Tidak selamanya perceraian membuat kehidupan menjadi bahagia. Bisa jadi justru sebaliknya, lebih hancur. Banyak masalah-masalah di kemudian hari yang berbuntut panjang. Mulai anak, harta gono-gini sampai hubungan antar-keluarga yang ikut tidak harmonis. Jadi, pikirkan kembali jika ingin mengambil keputusan ini. Selain jujur, Anda juga harus mengedepankan rasio. Perempuan biasanya memang lebih banyak menggunakan perasaan, namun untuk soal seberat ini jangan hanya perasaan. Pertimbangkan benar, apa dampaknya bagi Anda dan keluarga jika perceraian itu benar-benar terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>11. Banyak berdoa. </strong>Banyak berdoa dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa dapat membantu permasalahan Anda. Mintalah petunjuk dari-Nya. Dengan semakin bertekun dan mendekat kan diri, insya Allah doa Anda akan terjawab</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>12. Buka lembaran baru.</strong> Jika Anda dan suami akhirnya bisa kembali rukun, maka Anda harus siap membuka lembaran baru bersama suami. Jangan pernah mengungkit-ungkit persoalan dan penyebab Anda berdua pernah berniat untuk bercerai. Sekali Anda mengungkit-ungkit, bisa jadi Anda akhirnya akan benar-benar bercerai. Yang paling penting adalah saling mengingatkan dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
	
	Jika memang keputusan cerai yang diambil, sebaiknya pertimbangkan masa depan anak-anak. Jangan sampai perceraian yang terjadi menjadi neraka bagi anak-anak.
	
	Sumber : tabloidnova.com</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 08:20:18 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/perkawinan/tips-keluarga-sakinah-menghindari-perceraian/</guid>
</item>
<item>
<title>Trik Menghadapi Mertua yang Suka Ikut Campur</title>
<link>http://bundazone.com/perkawinan/trik-menghadapi-mertua-yang-suka-ikut-campur/</link>
<description><![CDATA[ Cukup banyak wanita menikah yang mengeluhkan hubungan mereka dengan mertua. Sang mertua seringkali dianggap terlalu ikut campur dalam pernikahan. Apa yang harus dilakukan saat hal itu terjadi?

	&amp;nbsp;

	Dilansir enzine articles, situasi yang dihadapi jika hal di atas terjadi tentu akan sulit bagi suami Anda. Di satu sisi, dia ingin membela Anda, namun di sisi lain dia tidak bisa marah pada ibunya.

	&amp;nbsp;

	Sebagai istri, Anda tentu bingung harus bersikap bagaimana. Anda kesal dengan sikap mertua dan suami pun sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa.

	&amp;nbsp;

	Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, seperti dilansir Enzine:

	&amp;nbsp;

	1. Lihat dari Sudut Pandang Suami

	Saat Anda kesal dan diharuskan menempatkan diri di posisi orang lain, sudah pasti sulit. Namun penting Anda ingat, kalau suami sebenarnya berada di dua pilihan. Jika dia membela Anda, ibunya tentu akan menganggapnya sebagai anak yang tidak menuruti orangtua. Tapi kalau dia membela ibunya, Anda akan kesal dan mengira suami sudah tidak cinta lagi.

	&amp;nbsp;

	Untuk itulah Anda harus berusaha menempatkan diri pada posisi suami. Sebelum Anda minta suami melakukan sesuatu atas sikap ibunya, pikirkan dulu apa yang Anda akan buat jika menghadapi situasi tersebut. Bagaimana jika ternyata sikap menjengkelkan itu dilakukan ibu Anda? Sekali lagi, pikirkan dulu baik-baik sebelum berbuat suatu hal yang bisa memperburuk hubungan.

	&amp;nbsp;

	2. Pahami Apa yang Sebenarnya Mertua Ingingkan

	Saat mertua selalu mengkritik apapun yang Anda lakukan, pahami apa sebenarnya tujuannya. Kalau tujuannya memang ingin hubungan Anda dan suami berakhir, Anda tentu harus sekuat tenaga memperkuat pernikahan.

	&amp;nbsp;

	Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat suami bahagia dengan pernikahannya bersama Anda. Jika dia bahagia, tentu apapun yang dikatakan ibunya tidak akan mempengaruhinya.

	&amp;nbsp;

	Tunjukkan juga pada mertua, kalau Anda sebenarnya adalah istri yang luar biasa. Berusahalah jangan melawan sifat buruknya dengan keburukan juga. Kalau Anda tersenyum dan tetap baik, hal itu tentu akan membuatnya semakin kesal dan bertanya-tanya. Namun jika Anda tersulut emosi, mertua akan senang karena bisa jadi itulah yang diinginkan.

	&amp;nbsp;

	Anggap saja, kritikan yang dilakukan mertua itu sebagai bagian dari sebuah permainan. Mertua pada akhirnya akan menyerah saat Anda ternyata bisa menerima sifatnya dan tidak menyerah menghadapi semua masalah tersebut.

	&amp;nbsp;

	3. Kompromi

	Diskusikan dengan suami, sikap ibunya yang sudah mengganggu pernikahan itu. Minta pada suami untuk menciptakan batasan apa saja yang boleh mertua ikut campur dalam hubungan Anda. Katakan padanya untuk menyampaikan hasil diskusi itu pada ibunya.

	&amp;nbsp;

	Dalam kompromi tersebut, usahakan jangan terlalu membuat perubahan yang besar. Kompromi itu sebaiknya juga tetap menguntungkan dari sisi mertua atau suami.

	&amp;nbsp;

	4. Mengobrol dengan Mertua

	Saat mertua mulai ikut campur hubungan Anda dan suami, dengarkan baik-baik perkatannya. Apa yang membuatnya selalu mengkritik dan mengggu pernikahan Anda. Coba ketahui juga apa yang mertua suka.

	&amp;nbsp;

	Kalau memang kritikannya masuk akal, perbaikilah sikap Anda. Buat mertua merasa bahwa Anda mengikuti petunjuknya. Tidak ada salahnya juga Anda minta masukannya saat tidak tahu. Dengan melakukan hal tersebut, mertua akan merasa dihargai dan kritikannya pada Anda pun berkurang. ]]></description>
<pubDate>Fri, 27 May 2011 03:44:16 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/perkawinan/trik-menghadapi-mertua-yang-suka-ikut-campur/</guid>
</item>
<item>
<title>Ketika Perhatian Pasangan Menurun karena Anak</title>
<link>http://bundazone.com/perkawinan/ketika-perhatian-pasangan-menurun-karena-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<strong>SEGALA </strong>sesuatu pasti akan ada perubahan, tidak selamanya selalu &amp;lsquo;secerah&amp;rsquo; ketika pertama kali menikah (Desember 2009). Begitu pula kehidupan rumah tangga yang saya alami, sangat indah ketika selalu didampingi istri (Maimunah, 23).
	
	Jika menginginkan sesuatu, dia selalu ada dan menuruti kemauan saya. Perhatian pun tak pernah putus darinya. Ia sangat perhatian. Semua keperluan saya sebelum ke kantor sudah disiapkan. Mau sarapan sudah ada! Baju ke kantor? Tinggal pakai!
	
	Namun setelah mempunyai seorang anak perempuan, perhatian istri otomatis mulai berkurang. Misal, segala sesuatu yang tadinya sudah ada di meja makan, kini semuanya harus saya kerjakan sendiri. Tapi gak masalah, yang penting rasa sayang dan kesetiaan istri tak pernah terkikis he...he...he.
	
	Curhat Abdil Fathir (31), mungkin juga dialami oleh <em>Moms or Dads</em>. Suasana rumah Ayah dari Hasna Abidah (6 bulan), kini sudah berbeda. Perubahan yang dirasakan bukan hanya karena hadirnya bidadari ungil, melainkan juga perhatian sang Istri tercinta.
	
	Ya, mungkin sebagian pasangan beranggapan, &amp;ldquo;Ah, buat apa selalu memberikan perhatian. Toh, setiap hari juga bertemu!&amp;rdquo; Eits, jangan salah! &amp;lsquo;Kekuatan&amp;rsquo; suatu perhatian sungguh dahsyat loh! Perhatian adalah dorongan yang lebih kuat dari apapun. Perhatian sangatlah penting bagi kedua pasangan, perhatian juga tidak bisa sekali saja diucapkan, namun berkali-kali!
	
	Sayangnya, perhatian mulai &amp;lsquo;terkikis&amp;rsquo; karena harus terbagi 2 atau 3 dengan kehadiran anak, saat <em>Moms </em>menjadi ekstra lelah mengurus anak, Dads bekerja keras untuk tambahan penghasilan, bertambahnya konflik baru tentang bagaimana membesarkan anak dan sederet masalah rumah tangga lainnya yang kerap dijadikan alasan.
	
	<strong>Harus Seimbang!</strong>
	
	Tak sedikit yang beranggapan kauh Hawa lebih &amp;lsquo;haus&amp;rsquo; perhatian dibanding pria. Benarkah? Memang hampir semua wanita ingin mendapat afeksi, kasih sayang, pujian, dan perhatian dari suami. Perhatian bisa berupa hal-hal kecil, seperti menelepon istri, memberi kejutan di hari istimewanya, bahkan sekadar memuji masakan buatan istri.
	
	Hal-hal seperti ini dapat lebih menggugah cinta istri dan membuat ia lebih jatuh cinta lagi pada suami. Sebab bagi istri bukan semata-mata materi yang utama, tapi justru hal-hal yang sifatnya psikologis juga lebih penting.
	
	Maka, tak ada salahnya suami memerhatikan ini. Namun dalam memuji harus yang wajar ya Dads! Tidak berlebihan dan juga diiringi dengan tingkah laku manis. Jangan hari ini memuji istrinya yang pintar masak, tapi begitu masakan kurang garam, suami memaki!
	
	Sebaliknya, istri juga sepatutnya tidak melulu menuntut suami memberi perhatian. <em>Moms </em>pun harus melakukan hal sama. Jadi keduanya harus seimbang! Moms juga jangan pelit pujian terhadap suami, misal mengucapkan terimakasih dan memuji Dads yang sudah membetulkan keran air di rumah, menyiapkan sarapan, menyiapkan baju ketika ingin ke kantor, serta masih banyak cara lain yang bisa dilakukan sehingga pasangan merasa diperhatikan.
	
	<strong>Siap Menjadi Pendengar Setia</strong>
	
	Tahukah Anda, menyimak cerita pasangan lalu membuat respon positif juga wujud dari perhatian. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai.
	
	&amp;ldquo;Duh, malasnya kalau yang dibahas-bahas itu saja!&amp;rdquo; ujar sang suami. Istri pun ganti membalas, &amp;ldquo;Ugh...dasar suami tidak mengerti perasaanku! Aku kesal!&amp;rdquo;
	
	Kalau Anda dan pasangan, sedikit-sedikit mengeluh, apa jadinya biduk rumah tangga Anda. Nyatanya, masing-masing pribadi mempunyai persoalan sendiri. Tapi sekarang, Anda sudah mengikatkan ikrar pernikahan untuk menyatukan hati. Artinya, meskipun Anda atau pasangan memiliki masalah, seyogianya saling terbuka, menerima dan menyelesaikan bersama.
	
	Apakah semuanya mudah dilakukan? Kalau ada niat pasti ada jalan, ini cuma soal membagi waktu dan melakukannya dengan suka cita. Segala hal yang dilakukan berat hati pasti akan terasa berat dan hasilnya tidak akan memuaskan.
	
	Pada prinsipnya masing-masing ego harus dibuang, kembali pada komitmen awal pernikahan, menghilangkan konflik (berbeda tidak harus berseteru), menumbuhkan rasa cinta, membiasakan ekspresi kasih sayang, saling memerhatikan dan memenuhi kebutuhan, serta komunikasi yang menyenangkan. (Sumber: Tabloid Mom &amp;amp; Kiddie via okezone.com)</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 02 May 2011 01:54:12 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/perkawinan/ketika-perhatian-pasangan-menurun-karena-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Bertengkar Gara-gara Anak</title>
<link>http://bundazone.com/perkawinan/bertengkar-gara-gara-anak/</link>
<description><![CDATA[ Berbeda pendapat hal yang manusiawi. Tak jarang ini terjadi saat Anda bersama pasangan mengarungi bahtera rumah tangga. Tetapi, ketika perbedaan pendapat dalam mengasuh anak terjadi, perlukah berkembang menjadi pertengkaran suami-istri?<br />Orang tua tentu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Tapi bagaimana jadinya jika yang "terbaik"bagi Anda berbeda dengan "terbaik" buat pasangan? ]]></description>
<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 00:31:46 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/perkawinan/bertengkar-gara-gara-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>6 Kiat Segarkan Perkawinan</title>
<link>http://bundazone.com/perkawinan/6-kiat-segarkan-perkawinan/</link>
<description><![CDATA[ Setelah lama menikah, tentunya ada fase jenuh dalam perkawinan. Bagaimana cara agar pernikahan tetap manis, hangat dan menyenangkan, berikut tips-tips yang layak Anda baca... ]]></description>
<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 01:00:42 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/perkawinan/6-kiat-segarkan-perkawinan/</guid>
</item>
<item>
<title>Agar Perkawinan Langgeng?</title>
<link>http://bundazone.com/perkawinan/agar-perkawinan-langgeng/</link>
<description><![CDATA[ Bagi beberapa orang, kawin cerai sepertinya tidak begitu bermasalah. Mereka menganggapnya sebagai hal yang yang lumrah. "Kalau sudah tidak ada kecocokan, mengapa harus dipertahankan" dalihnya. Tetapi kalau kita renungkan, begitu kita mengambil keputusan untuk kawin, kita seharusnya siap mempertanggungjawabkannya; baik di hadapan keluarga maupun di hadapan Tuhan. <br /><br />Oleh karena itu, agar kita senantiasa siap mempertahankan tali perkawinan yang sudah kita ikrarkan dan tidak menganggap gampang perceraian, sederhana saja caranya: kita harus menjadi orang yang bertanggung jawab. Kalau menurut anda bagaimana? ]]></description>
<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 22:28:49 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/perkawinan/agar-perkawinan-langgeng/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
