<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in pertolongan pertama</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 12:19:12 +0700</pubDate>
<item>
<title>Pertolongan Pada Mimisan dan Luka Bakar</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/pertolongan-pada-mimisan-dan-luka-bakar/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	KETIKA terjadi kecelakaan pada anak kita, sudah pasti sebagai orang tua harus tanggap untuk memberikan pertolongan. Namun tidak jarang juga karena terlalu panik akhirnya kita bingung apa yang harus dilakukan untuk menolongnya. Untuk itu kita harus tetap tenang agar bisa mengambil tindakan yang tepat. Untuk kasus kecelakaan berupa mimisan dan luka bakar, kami akan membagikan tips bagaimana cara memberikan pertolongan kepada si kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Mimisan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Mimisan atau pendarahan hidung sering kita jumpai pada anak-anak.Pendarahan hidung terjadi karena robeknya pembuluh darah di dalamrongga hidung. Banyak anak-anak yang memiliki dinding pembuluh darahyang tipis sehingga mudah robek karena hal-hal kecil, misalnya karenakepanasan atau terbentur. Ini yang perlu anda lakukan bila menjumpaianak yang mimisan.</p>

	<ol>
		<li>
			Dudukkan anak dengan kepala menunduk. Hindari kepala menengadah karena akan memperbanyak perdarahan dan merangsang muntah.</li>
		<li>
			Cuping hidung kanan kiri dipencet bersamaan dan bernapas melalui mulut.</li>
		<li>
			Hindari untuk bersin, batuk, bicara atau menelan.</li>
		<li>
			Tunggu sampai 10 menit. Bila darah masih keluar, segera bawa ke dokter terdekat.</li>
	</ol>


	Penggunaan cara tradisional dengan daun sirih dapat membantumenghentikan perdarahan karena daun sirih mengandung zat yangmenyempitkan pembuluh darah.

	<p>
		<strong>Luka Bakar</strong></p>
	<p>
		Yang dimaksud luka bakar disini adalah semua luka yang diakibatkan benda panas. Pertolongan pertamanya adalah :</p>


	<ol>
		<li>
			Jauhkan sumber panas dari tubuh korban. (pindahkan korban,gunting baju dll)</li>
		<li>
			Mendinginkan luka bakar dengan air mengalir selama 10-15 menit.</li>
		<li>
			Hindari penggunaan pasta gigi, kecap dll karena tidak ada gunanya dan mengotori/memperburuk luka.</li>
		<li>
			Tutup dengan kain bersih atau kassa steril bila ada kulit yang terkelupas.</li>
		<li>
			Bawa segera ke dokter.</li>
	</ol>


	<strong>Serangga Di Dalam Telinga</strong>

	<ol>
		<li>
			Serangga harus dikeluarkan dengan meneteskan minyak mineral (gliserin/parafin cair) atau obat tetes telinga atau air bersih.</li>
		<li>
			Biarkan sampai serangga mati atau keluar. Ditandai dengan rasa tidak ada yang bergerak lagi di dalam telinga.</li>
		<li>
			Bila tidak keluar, jangan melakukan tindakan apapun sebab dapat merusak saluran atau selaput gendang.</li>
		<li>
			Bawa ke dokter THT terdekat.</li>
	</ol>
	<strong>Pingsan</strong>

	<p>
		Pingsan adalah suatu keadaan seseorang kehilangan kesadarannya dimana nafas dan nadi orang tersebut masih baik. Pingsan dapat terjadi karena kurangnya oksigen yang menuju ke otak. Jadi bila ada orang pingsan, yang pertama kali anda lakukan adalah :</p>


	<ol>
		<li>
			Baringkan dengan posisi kepala lebih rendah dari dada dan kaki. Hal ini bertujuan agar lebih banyak darah yang mengalir ke otak.</li>
		<li>
			Periksa pernafasan dan nadinya.</li>
		<li>
			Pakaian yang kencang dilonggarkan.</li>
		<li>
			Bila tidak ada sebab lain, biasanya akan siuman/sadar setelah beberapa menit.</li>
	</ol>


	<p>
		<strong>Luka</strong></p>
	<p>
		Yang dimaksud disini adalah luka di kulit yang mengakibatkan lecet/robeknya jaringan kulit. Hentikan perdarahan dengan cara:</p>
	<ol>
		<li>
			Tekan luka dengan kain bersih dan posisikan luka hingga lebih tinggi dari dada. Lakukan hingga 10-15 menit. Bila luka tetap berdarah atau terlihat jaringan kulit yang robek, bawa ke dokter untuk penjahitan luka bila diperlukan.</li>
		<li>
			Bersihkan luka dengan air steril/rivanol. Hindari penggunaan alkohol.</li>
		<li>
			Beri antiseptic (betadine dll).</li>
		<li>
			Balut luka.</li>
		<li>
			Jika parah segera bawa ke rumah sakit terdekat.</li>
	</ol>
	<p>
		diambil dari bayisehat.com</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 00:36:53 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/pertolongan-pada-mimisan-dan-luka-bakar/</guid>
</item>
<item>
<title>Anjuran Pertolongan Pertama pada Anak</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/anjuran-pertolongan-pertama-pada-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Tindakan pertolongan pertama harus dilakukan guna mencegah keadaan menjadi lebih buruk, jika pertolongan medis tidak bisa segera didapat.</p>
<p>
	<strong>Pertolongan pertama untuk luka bakar</strong>
	1. Jika pakaian anak terlalap api, cepat bungkus dengan seli&amp;not;mut lalu gulingkan anak di tanah agar api padam.
	2. Dinginkan bagian yang terbakar secepatnya dengan air yang bersih. Jika yang terbakar itu luas, letakkan anak dalam bak yang berisi air bersih dan segera mencari per&amp;not;tolongan ke sarana kesehatan. Untuk mendinginkan ba&amp;not;gian yang terbakar, kira-kira perlu waktu setengah jam.
	3. Bagian yang terbakar harus dibersihkan dan dikeringkan lalu dibalut longgar dengan perban. Jika luka lebih besar dari uang logam atau mulai melepuh, bawalah anak segera ke petugas kesehatan. Jangan memecah kulit yang mel&amp;not;epuh agar tidak terjadi infeksi.
	4. Jangan melepaskan apa pun yang melekat pada luka. Jangan memberi apa pun kecuali air. Jangan mengoles luka bakar dengan mentega atau salep karena tidak me&amp;not;nyembuhkan.
	5. Berikan anak minuman jus buah atau air biasa dengan sedikit gula dan garam.</p>
<p>
	<strong>Pertolongan pertama untuk kena setrum listrik</strong>
	1. Jika anak terkena setrum, matikan listrik sebelum me&amp;not;megang anak. Jika anak tidak sadar, selimuti badannya dan segera minta tolong petugas kesehatan.
	2. Jika anak sulit bernafas atau tidak bernafas, baringkan&amp;not;lah mendatar pada punggungnya. Peganglah lubang hi&amp;not;dung anak dan tiuplah mulutnya. Tiuplah sekeras mung&amp;not;kin agar dadanya berdenyut. Hitung hingga tiga lalu tiup lagi. Lanjutkan hingga anak mulai bernafas.</p>
<p>
	<strong>Pertolongan pertama untuk tersedak</strong>
	1. Jika anak batuk, biarkan mencoba mengeluarkan benda yang tertelan. Jika tidak cepat keluar dari mulut, bantu&amp;not;lah mengeluarkannya. Jika tetap berada di tenggorokan bawalah segera ke petugas kesehatan.</p>
<p>
	<strong>Pertolongan pertama untuk jatuh atau cedera</strong>
	1. Cedera yang menimpa kepala, tulang belakang khu&amp;not;susnya leher, sangatlah berbahaya karena dapat men&amp;not;gakibatkan lumpuh seumur hidup. Jangan mengger&amp;not;akkan kepala dan punggung guna mencegah bagian
	2. tulang belakang terkilir.
	3. Anak yang tidak bisa bergerak atau sangat kesakitan kemungkinan mengalami patah tulang. Jangan meng&amp;not;gerakkan bagian yang sakit.
	4. Jika anak tidak sadar, selimuti anak dan segeralah mem&amp;not;inta pertolongan petugas kesehatan.
	5. Untuk luka memar dan terkilir, kompreslah bagian yang luka dengan air dingin atau es selama 15 menit. Jangan langsung menaruh es di atas kulit tetapi berilah alas kain. Angkat es atau air, tunggu selama 15 menit dan ulangi lagi jika perlu. Dingin dapat mengurangi rasa sakit, bengkak dan memar.
	6. Jika kemungkinan terluka di kepala atau leher, jangan menggerakkan kepala anak selama membantu perna&amp;not;fasan.</p>
<p>
	<strong>Pertolongan pertama untuk kesulitan bernafas atau tenggelam</strong>
	1. Jika anak sulit bernafas atau tidak bernafas, letakkan mendatar. Pencet lubang hidungnya dan bernafaslah dengan meniup ke dalam mulutnya. Tiuplah dengan ha&amp;not;ti-hati dan tetap kuat agar dada anak berdetak. Hitung hingga tiga dan tiup lagi hingga anak bernafas.
	2. Jika anak bernafas tetapi tidak sadar, gulingkan badan&amp;not;nya agar lidah anak tidak menutup jalan nafas.
	3. Jika orang yang tidak bisa berenang melihat anak tenggelam, orang tersebut harus segera melemparkan tali, alat pelampung, atau dahan pohon dan berteriak keras agar orang datang menyelamatkan anak.
	4. Jika anak sulit bernafas atau tidak bernafas, letakkan mendatar. Pencet lubang hidungnya dan bernafaslah dengan meniup ke dalam mulutnya. Tiuplah dengan ha&amp;not;ti-hati dan tetap kuat agar dada anak berdetak. Hitung hingga tiga dan tiup lagi hingga anak bernafas.
	5. Jika anak bernafas tetapi tidak sadar, gulingkan badan&amp;not;nya agar lidah anak tidak menutup jalan nafas.
	6. Jika orang yang tidak bisa berenang melihat anak tenggelam, orang tersebut harus segera melemparkan tali, alat pelampung, atau dahan pohon dan berteriak keras agar orang datang menyelamatkan anak.</p>
<p>
	<strong>Pertolongan pertama untuk luka potong atau luka berdarah
	Untuk luka kecil: </strong>
	1. Cucilah luka kecil dengan air yang sangat bersih (sudah mendidih dan dingin) dan sabun.
	2. Keringkan kulit sekitar luka.
	3. Tutuplah luka dengan lap kain yang bersih dan balutlah dengan perban.
	
	<strong>Untuk luka yang lebih serius: </strong>
	1. Jika potongan gelas atau benda lain melekat pada luka, jangan diangkat agar tidak membuat lebih parah.
	2. Jika mengalami pendarahan berat, tekanlah bagian yang luka dengan kain bersih yang dilipat hingga pendarahan berhenti.
	3. Jangan menempelkan daun-daunan atau bagian apa pun dari binatang (sarang laba-laba) pada luka karena dapat menyebabkan infeksi.
	4. Balutlah luka dengan perban tetapi janganlah mengikat perban terlalu kuat pada bagian yang bengkak.
	5. Bawalah anak segera ke Puskesmas atau ke dokter se&amp;not;cepatnya. Mintalah pada petugas kesehatan agar anak diberi suntikan tetanus guna mencegah infeksi.</p>
<p>
	<strong>Pertolongan pertama untuk keracunan</strong>
	1. Jika tertelan racun jangan memaksakan anak untuk muntah karena akan lebih sakit.
	2. Jika racun terkena kulit atau baju, buka bajunya dan basuhlah kulit anak dengan air yang cukup. Basuhlah beberapa kali dengan memakai sabun.
	3. Jika racun terkena mata, semprotkan air bersih ke mata selama 10 menit. Bawalah anak ke Puskesmas atau petugas kesehatan secepatnya. Tunjukkan racun, obat, atau kemasannya kepada petugas kesehatan. Upaya&amp;not;kan anak tenang dan tidak rewel.
	4. Jika anak digigit binatang bawalah segera ke petugas kesehatan untuk pengobatan.</p>
<p>
	Dikutip dari Buku Penuntun Hidup Sehat, Edisi keempat adaptasi, diterbitkan pada 2010 oleh UNICEF, WHO, UNESCO, UNFPA, UNDP, UNAIDS, WFP, the World Bank dan Kementerian Kesehatan RI. Penuntun Hidup Sehat dapat dibaca melalui <a href="http://www.factsforlifeglobal.org/" target="_blank">www.factsforlifeglobal.org</a>
	sumber: supportunicefindonesia.org</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 16 May 2011 17:39:01 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/anjuran-pertolongan-pertama-pada-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Waspadai Benturan di Kepala Anak</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/waspadai-benturan-di-kepala-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Tak semua trauma pada kepala mengakibatkan gegar otak. Namun, kemungkinan terjadinya tetap perlu diwaspadai.</p>
<p>
	Setiap kali kepalanya terbentur agak keras, anak-anak yang masih kecil biasanya menangis karena kesakitan atau karena terkejut. Semakin keras tangis si anak, semakin cemas kita dibuatnya. Sebaliknya kalau benturan di kepala tidak sempat membuat anak menangis ataupun rewel, bayangan cedera yang berat pun lekas pupus karenanya. Padahal, seperti dikatakan dr. Jahja Zacharia, Sp.A., setiap benturan di kepala bisa saja menimbulkan trauma atau cedera yang berbahaya. Secara klinis, trauma ini akan ditandai dengan benjolan, memar atau bisa juga disertai perdarahan atau gegar otak, entah karena perlukaan di bagian luar atau di dalam tulang tengkorak (intrakranial). Saat mengalami trauma, anak bisa tetap sadar atau sampai tidak sadarkan diri/koma.</p>
<p>
	Aktivitas anak-anak biasanya memang disertai risiko trauma kepala. Bayi yang sedang belajar memiringkan tubuh, misalnya, bisa tiba-tiba jatuh dari tempat tidur saat orang tua atau pengasuhnya meleng. Atau jika mobil yang tengah melaju direm mendadak dan anak tidak didudukkan di atas kursi berpengaman khusus, sangat mungkin terjadi benturan. Jadi memang risiko trauma kepala ini bisa terjadi di manapun dan kapanpun.</p>
<p>
	&amp;ldquo;Kasus trauma kepala yang serius memang jarang terjadi dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari. Tetapi bila terjadi risikonya sangat berat. Oleh karena itu kemungkinan gegar otak tetap perlu diwaspadai, jangan diabaikan karena menyangkut otak yang merupakan organ utama kita. Masa depan manusia bisa dikatakan terletak pada otaknya,&amp;rdquo; ujar Spesialis Anak di RS Mitra Internasional, Jakarta ini.</p>
<p>
	GEGAR OTAK</p>
<p>
	Gegar otak didefinisikan Jahja sebagai memar akibat guncangan pada jaringan otak, yang menyebabkan terjadinya perdarahan kecil di sana-sini, dan membuat jaringan otak jadi membengkak. Organ otak sendiri dapat diibaratkan sebagai puding tahu karena konsistensinya memang sangat lunak. Oleh karena itulah, otak memiliki tameng berupa tulang tengkorak yang relatif keras. Di antara tulang tengkorak dan jaringan otak pun terdapat cairan yang berfungsi sebagai shock absorber atau penahan guncangan dari luar. &amp;ldquo;Sebenarnya struktur kepala manusia sudah bagus sekali sebagai pelindung otak. Namun, kecelakaan bisa saja terjadi, sehingga otak yang sudah dilindungi sedemikian rupa bisa mengalami gegar otak,&amp;rdquo; ujar Spesialis Anak yang juga berpraktek di Klinik Cipete, Jakarta ini.</p>
<p>
	Lalu bagian kepala sebelah mana yang rentan trauma? Masing-masing bagian kepala menurut Jahja memiliki risiko. Di balik batok kepala kita, terdapat jaringan pembuluh darah yang berjalan memanjang dan melintang, ada yang mengalirkan darah dari bawah ke atas, ada pula yang berjalan di daerah dasar tengkorak.</p>
<p>
	Saat bagian pelipis terkena benturan yang keras misalnya, bisa terjadi retak tulang pelipis. &amp;ldquo;Karena kejadiannya di pelipis maka posisi retaknya bisa seperti memotong jalur pembuluh darah. Kalau pembuluh darah sampai putus, timbullah perdarahan yang dapat mendesak jaringan otak yang lembut itu, hingga menjepit bagian batang otak yang dapat berakhir fatal.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Begitu pun trauma yang mengenai bagian kepala belakang atau tengkuk. Bagian ini merupakan pelindung daerah batang otak yang mengontrol fungsi-fungsi vital, seperti fungsi pernapasan, fungsi kesadaran, dan fungsi jantung. Bila gegar otak terjadi di bagian ini akibatnya juga bisa fatal.</p>
<p>
	Trauma pada bagian kepala yang lain tidak berarti tidak berbahaya, karena benturan yang sampai menimbulkan guncangan dapat diteruskan ke bagian otak yang lain dan kemudian menimbulkan gegar otak atau perdarahan.</p>
<p>
	&amp;ldquo;Gumpalan darah atau pembengkakan yang terjadi bisa membuat otak terdesak sehingga fungsinya terganggu. Gejalanya beragam sesuai dengan bagian otak mana yang memar atau terdesak. Bila misalnya bagian pusat gerak yang terdesak maka salah satu atau kedua tangan atau kaki bisa lumpuh. Sedangkan bila perdarahan itu mendesak bagian pusat bicara maka bicara anak akan terganggu,&amp;rdquo; urai Jahja. Salah satu trauma kepala yang paling berbahaya adalah retaknya tulang dasar tengkorak, biasanya ditandai dengan keluarnya darah atau cairan otak dari telinga dan/atau hidung.</p>
<p>
	PANTAU 3 HARI</p>
<p>
	Saran Jahja, tatkala si kecil mengalami trauma kepala, dia harus diperiksa dan diamati dengan cermat, terutama dalam 24 jam sampai 72 jam pertama. Tak perlu panik ketika kepalanya benjol, memar atau berdarah, karena gejala-gejala tersebut belum memastikan ia mengalami gegar otak. &amp;ldquo;Benjol atau memar sebagian besar disebabkan perdarahan di antara kulit kepala dan tulang tengkorak. Biasanya relatif tidak berbahaya asalkan anak tetap sadar penuh, tidak muntah-muntah, tidak pusing, dan tidak tampak mengantuk terus,&amp;rdquo; ujar Jahja.</p>
<p>
	Yang jelas, gejala gegar otak bisa langsung terlihat tapi bisa juga tertunda, tergantung pada perdarahan yang terjadi dalam otak. Kalau berlangsung cepat, anak bisa tidak sadarkan diri sesaat setelah terbentur; tiba-tiba tidak dapat menggerakkan anggota badannya; atau terganggu kemampuan bicaranya, tergantung otak bagian mana yang bengkak atau terdesak gumpalan darah.</p>
<p>
	Sebaliknya jika perdarahan yang terjadi hanya berupa rembesan, maka awal timbul gejalanya akan tertunda. Beberapa hari kemudian barulah muncul gejalanya. Oleh sebab itulah, memantau trauma kepala dalam 72 jam pertama setelah kejadian tidak boleh diabaikan.</p>
<p>
	Sering, kan, bila kepala si kecil benjol atau memar akibat terbentur, orang tua lantas mengoleskan obat antimemar di bagian itu. Ternyata, menurut Jahja, obat oles tersebut tak banyak membantu selain hanya mengencerkan darah yang membeku tanpa mengobati luka dalam yang mungkin terjadi. Jadi, walau dengan obat tersebut benjol atau memar yang terlihat akan hilang, orang tua tetap harus waspada terhadap kemungkinan gegar otak dengan memantau kondisinya secara cermat.</p>
<p>
	TRAUMA KEPALA SERIUS</p>
<p>
	Berikut beberapa gejala yang perlu diwaspadai setelah anak mengalami trauma kepala:</p>
<p>
	* tak sadarkan diri atau bengong saja</p>
<p>
	* gelisah atau kejang-kejang</p>
<p>
	* muntah-muntah atau sakit kepala</p>
<p>
	* bicara atau penglihatan terganggu</p>
<p>
	* tangan atau kaki tiba-tiba lumpuh atau berkurang aktivitasnya</p>
<p>
	* pada anak yang sudah sekolah, prestasi jadi menurun</p>
<p>
	* pada bayi, tidak seperti biasa, lebih cengeng atau lebih banyak tidur. Kalau tidur susah dibangunkan.</p>
<p>
	* keluarnya darah atau cairan otak dari telinga dan/atau hidung</p>
<p>
	Kalau memang timbul gejala-gejala seperti itu, Jahja menekankan, orang tua mesti mengingat-ingat kejadian yang menimpa si kecil. Jangan lupa, gejala gegar otak bisa saja timbul di hari ketiga setelah kejadian. &amp;ldquo;Hal-hal seperti ini perlu dilaporkan oleh orang tua kepada dokter. Ceritakan sedetail mungkin kejadiannya.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Lalu dokterlah yang akan memberikan diagnosa gegar otak atau bukan. Untuk amannya, anak akan disarankan melakukan foto rontgen atau CT Scan. Tujuannya untuk melihat ada tidaknya keretakan tulang tengkorak dan letak perdarahan yang terjadi, karena terkadang perdarahan yang di balik batok kepala si kecil tidak terlihat.</p>
<p>
	Gegar otak dianggap serius bila dari hasilnya terlihat bayangan gumpalan darah. Untuk menanganinya, si kecil perlu dirawat inap di rumah sakit, sambil dipantau gejala-gejalanya. Bila perdarahan yang terjadi berukuran kecil dan si kecil tetap tidak terganggu fungsi-fungsinya, gegar otak biasanya akan diobati secara konservatif atau tanpa operasi. Nantinya, gumpalan darah tersebut akan diserap lagi oleh tubuh.</p>
<p>
	Namun, bila gumpalannya besar apalagi sampai mendesak atau menjepit jaringan otak dengan segala akibatnya, maka perlu dikeluarkan dengan tindakan operasi. Selain besar kecilnya perdarahan, pertimbangan lainnya dalam memutuskan operasi ini adalah adanya potensi timbulnya gangguan fungsi otak di kemudian hari.</p>
<p>
	Operasi pengangkatan gumpalan darah diakui Jahja memiliki risiko. Namun, risiko ini jauh lebih kecil ketimbang bila gumpalan darah dibiarkan menekan jaringan otak. &amp;ldquo;Gumpalan darah yang besar bisa membuat anak kehilangan kesadarannya. Selain itu, anak juga bisa mengalami kelumpuhan atau gangguan fungsi saraf yang lain. Setelah gumpalan dikeluarkan, anak biasanya bisa segera sadar kembali seperti sedia kala.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Menurut Jahja, struktur kepala bayi bisa dibilang relatif lebih aman terhadap trauma kepala. Hal ini berkaitan dengan sambungan tulang-tulang tengkoraknya yang masih elastis dan ubun-ubunnya yang masih terbuka.</p>
<p>
	&amp;ldquo;Saat bayi terbentur dan mengalami perdarahan di dalam otak maka desakan gumpalan darah tersebut akan disalurkan ke ubun-ubunnya yang masih terbuka, sehingga untuk sementara waktu bukan otaknya yang terjepit, tapi ubun-ubunnya yang jadi menonjol.&amp;rdquo; Namun, bukan berarti bayi tak perlu penanganan lebih lanjut. Setelah mengalami trauma kepala, bayi pun harus segera diperiksakan ke dokter secepatnya.</p>
<p>
	PENCEGAHAN LEBIH PENTING</p>
<p>
	Risiko gegar otak tentu dapat diminimalisir dengan antisipasi yang tepat. Berikut saran Jahja untuk mencegah terjadinya cedera kepala pada anak:</p>
<p>
	* Jangan sekali-kali meninggalkan bayi tanpa pengawasan. Kecelakaan pada bayi seringkali terjadi karena kita mengangap remeh kemampuannya. Sering, kan, bayi ditinggal dengan hanya dihalang-halangi guling atau bantal padahal risikonya besar sekali. &amp;ldquo;Kalau mau aman,&amp;rdquo; saran Jahja, &amp;ldquo;turunkan kasur ke lantai atau lengkapi ranjang bayi dengan pagar.&amp;rdquo;</p>
<p>
	* Awasi pemakaian baby walker. Terlebih di rumah yang lantainya tidak rata atau memiliki perbedaan tinggi lantai. Jika ia sampai melarikan baby walker-nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, besar kemungkinan ia akan terpelanting kala babywalkernya tersandung lantai yang tidak rata, terkena ujung karpet atau kabel. Risikonya, ya, gegar otak. &amp;ldquo;Gegar otak justru tidak akan terjadi saat bayi merangkak lalu cuma kejedug lantai, misalnya.&amp;rdquo;</p>
<p>
	* Perhatikan keamanan di rumah. Tangga sebaiknya diberi pagar untuk menghindari anak naik atau turun tanpa pengawasan. Bukan berarti anak tidak boleh naik-turun tangga sama sekali, lo. Merangkak atau menapaki anak tangga satu persatu baik untuk perkembangan motoriknya.</p>
<p>
	* Beri keset di depan pintu kamar mandi atau di sekitar kolam renang agar si kecil tak tergelincir.</p>
<p>
	* Saat bersepeda atau berkendaraan dengan motor, gunakan helm. Anak yang diajak bepergian dengan mobil sebaiknya duduk di belakang dengan kursi khusus, atau kalau sudah cukup besar cukup gunakan sabuk pengaman.</p>
<p>
	* Hindari ujung-ujung furnitur yang runcing di sekitar rumah. Bila perlu beri pengaman. &amp;ldquo;Benturan dengan ujung meja,&amp;rdquo; lanjut Jahja, &amp;ldquo;bisa mengakibatkan retak atau patah tengkorak akibat melesak ke dalam. Jika melesak dan retakannya sampai melukai susunan saraf pusat, maka hal ini sangat berbahaya.</p>
<p>
	sumber: <a href="http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=05238&amp;amp;rubrik=sehat">majalah NAKITA</a></p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 13 May 2011 04:42:40 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/waspadai-benturan-di-kepala-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Cara Mengatasi Gumoh Pada Bayi - Tips</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/cara-mengatasi-gumoh-pada-bayi-tips/</link>
<description><![CDATA[ <p class="article" style="text-align: justify;">
	<strong>Cara Mengatasi Gumoh Pada Bayi</strong></p>

	
		
			
				<img alt="" height="200" src="http://www.tabloidnova.com/var/gramedia/storage/images/media/images/bayi-dan-ibu3/4786977-1-ind-ID/bayi-dan-ibu_medium.jpg" style="border: 0px;" title="" width="194" />
		
	

<p style="text-align: justify;">
	Normal terjadi pada bayi karena berkaitan dengan fungsi pencernaannya yang masih belum sempurna. Juga karena kapasitas lambungnya masih terbatas dan otot polos saluran cernanya masih lemah. Tak heran kala ia tengah bersemangat minum, lambung tak dapat menampung aliran susu yang masuk, yang bisa menyebabkan gumoh. Gumoh bisa juga keluar dari hidung. Tapi tak perlu cemas, seperti diketahui, mulut, hidung, dan tenggorokan memiliki saluran yang berhubungan. Jadi, mungkin karena gumohnya banyak dan tak semuanya bisa keluar dari mulut, maka cairan itu mencari jalan keluar lewat hidung.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<b>Cara Mengatasi:</b></p>
<p style="text-align: justify;">
	Sendawakan bayi setiap habis menyusu. Hindari juga posisi telentang setelah bayi disusui karena cairan yang masuk ke tubuh bayi akan mencari posisi yang paling rendah. Nah, bila ada susu dalam lambung, akan ada refleks yang bisa menyebabkan bayi muntah.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Yang perlu dikhawatirkan bila bayi tersedak dan muntahnya masuk ke saluran pernapasan alias paru-paru. Tentu saja ini berbahaya. Terlebih bila si bayi tersedak susu yang sudah masuk ke lambung karena sudah mengandung asam dan akan merusak paru-paru. Jika ini yang terjadi, tak ada pilihan lain kecuali membawanya ke dokter.</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 17:07:39 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/cara-mengatasi-gumoh-pada-bayi-tips/</guid>
</item>
<item>
<title>Pertolongan Pertama Saat Anak Mimisan</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/pertolongan-pertama-saat-anak-mimisan/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<strong>Pertolongan Pertama Saat Anak Mimisan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Perdarahan hidung atau mimisan biasanya terjadi ketika pembuluh darah di hidung pecah,bisa karena benturan, akibat bersin, mengorek hidung, dan lain-lain. Penyakit infeksi seperti flu membuat pembuluh darah di hidung lebih rapuh.Pendarahan di hidung bias juga terjadi akibat tekanan darah tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Perdarahan dari hidung biasanya tidak serius, hanya terasa tidak nyaman. Namun, perdarahan bisa menjadi berbahaya bila tidak ditangani karena anak bisa kehilangan banyak darah. Jika anak mengalami mimisan, lakukan hal-hal berikut:</p>
<ol>
	<li style="text-align: justify;">
		Minta anak duduk dengan kepala menunduk. Jangan mendongakkan kepala anak karena darah dapat masuk ke kerongkongan sehingga memicu muntah.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Minta anak untuk bernapas melalui mulut (ini juga memberi efek menenangkan) dan jepit hidung tepat di bawah bagian kerad dari hidung. Bantu korban bila perlu.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		&amp;nbsp;Bila perdarahan masih ada setelah lebih dari 30 menit, bawa anak ke RS dalam posisi penanganan di atas.</li>
</ol> ]]></description>
<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 16:26:23 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/pertolongan-pertama-saat-anak-mimisan/</guid>
</item>
<item>
<title>Diare pada anak</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/diare-pada-anak/</link>
<description><![CDATA[ Diare merupakan keadaan di mana seseorang menderita mencret-mencret. Penderita buang air berkali-kali, tinjanya encer dan kadang-kadang muntah. Diare disebut juga muntahber (muntah berak), muntah menceret atau muntah bocor. Kadang-kadang tinjanya juga mengandung darah atau lendir. Diare menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. ]]></description>
<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 14:15:47 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/diare-pada-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Pertolongan Pertama Bayi Jatuh</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/pertolongan-pertama-bayi-jatuh/</link>
<description><![CDATA[ Manajemen penanganan kasus bayi terjatuh amat diperlukan. Yang pasti, saat si kecil terjatuh, jangan hanya mengkhawatirkan bagian kepala saja, karena semua anggota tubuhnya memiliki risiko yang sama untuk mengalami benturan yang dapat membahayakannya. ]]></description>
<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 22:07:30 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/pertolongan-pertama-bayi-jatuh/</guid>
</item>
<item>
<title>Semua yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Demam pada Anak</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/semua-yang-perlu-anda-ketahui-mengenai-demam-pada-anak/</link>
<description><![CDATA[ Apa itu Demam?<br /><br />Demam adalah peningkatan suhu tubuh melebihi normal (temperatur normal tubuh berkisar antara 36-380C). Anak anda mengalami demam apabila dengan pengukuran suhu temperatur :<br /><br />    * Termometer pada rektum atau anus melebihi 380 C<br />    * Termometer pada mulut (oral) melebihi 37,60C<br />    * Termometer pada ketiak (aksila) melebihi 370C<br /><br /><br />Apa Penyebab Demam?<br /><br />Demam adalah mekanisme tubuh dalam menghantam virus atau infeksi bakteri sehingga tidak selalu berbahaya. Demam merupakan suatu gejala dan bukanlah penyakit.<br /><br />Bagaimana mengukur suhu pada anak?<br /><br />Mengukur suhu dengan menggunakan tangan pada dahi, pipi, atau perut anak BUKANLAH cara yang baik untuk mengukur demam. Anda sebaiknya mengukur peningkatan suhu pada anak menggunakan termometer untuk meyakinkan bahwa anak anda terkena demam. Jenis termometer diantaranya adalah termometer raksa, termometer digital (cepat), dan termometer timpanik (diletakkan pada telinga). Cara pengukuran termometer raksa diantaranya adalah :<br /><br />    * Untuk bayi dan balita :<br /><br />Pengukuran terbaik menggunakan termometer yang diletakkan pada ketiak (aksila), taruh ujung termometer pada pertengahan ketiak, pegang dengan satu tangan dan gunakan tangan yang lain untuk menahan lengan bayi agar tidak terbuka. Tahan termometer selama 3-4 menit<br /><br />    * Usia 5 tahun keatas :<br /><br />Pengukuran terbaik adalah dengan menggunakan termometer yang diletakkan pada mulut (apabila anak anda mengijinkan). Apabila anak baru makan sesuatu yang dingin atau panas, tunggu 10 menit baru mengukur suhu. Baringkan anak anda, taruh termometer di bawah lidahnya, beritahukan kepada anak anda untuk menutup mulutnya namun jangan menggigit. Tahan termometer selama 2-3 menit<br /><br />Apakah anak sebaiknya dimandikan apabila demam?<br /><br />Memandikan dengan menggunakan busa atau lap basah merupakan salah satu cara yang baik untuk menurunkan demam apabila anak muntah atau tidak dapat meminum obat penurun demam. Terkadang, mandi dan minum obat penurun demam dapat menurunkan demam dan ketidaknyamanan. Gunakan air hangat dan lap anak anda dengan busa khusus atau lap mandi.<br /><br />Bagaimana cara menangani demam pada anak ?<br /><br />Tanpa obat :<br /><br />    * Bila anak anda tetap makan, minum, dan bermain seperti biasa, kemungkinan dia tidak membutuhkan obat penurun panas<br />    * Pakaikan baju yang tipis atau pakaikan hanya pakaian dalam sehingga anak akan melepaskan panas lewat kulitnya<br />    * Kompres anak dengan menggunakan air hangat pada dahi, leher, ketiak, dada. Jangan biarkan kompres mengering di badan anak, angkat kompres ketika setengah kering, celup kembali di air hangat, peras, letakkan di badan anak<br />    * JANGAN menggunakan ALKOHOL sebagai kompres anak. Alkohol dapat menyebabkan kehilangan panas terlalu cepat sehingga menyebabkan keracunan alkohol<br />    * Tutupi anak dengan selimut tipis apabila anak kedinginan atau menggigil<br />    * Istirahatkan anak anda karena aktivitas dapat meningkatkan demam<br />    * Berikan anak cairan ekstra (air, jus, susu). Apabila anak tidak mau minum, berikan anak cairan apapun yang dia inginkan<br /><br />Dengan obat :<br /><br />    * Obat dapat membantu anak untuk merasa lebih baik namun tidak menghentikan demam<br />    * Berikan PARASETAMOL setiap empat jam sekali ( 6 x sehari)<br />    * Bacalah labelnya dan ikuti petunjuk yang ada sesuai dengan umur dan berat badan anak<br />    * Diskusikan dengan dokter sebelum memberikan ibuprofen<br />    * Jangan berikan aspirin pada anak di bawah 16 tahun karena dapat menyebabkan penyakit yang serius (Sindrom Reye's) yang dapat mengakibatkan kerusakan otak dan hati<br /><br />Kapan sebaiknya ke dokter?<br /><br />    * Hubungi dokter apabila bayi anda demam dan berusia di bawah 3 bulan<br />    * Hubungi dokter apabila temperatur anak mencapai suhu 390C atau lebih<br />    * Hubungi dokter apabila anak demam dan hilang nafsu makan, sakit kepala, muntah atau nyeri perut, menangis melebihi biasa, mengalami nyeri pada tenggorokan, sulit bernapas, nyeri pada telinga, dan nyeri ketika berkemih<br /><br />Demam biasa tidak akan berlangsung lebih dari 3 hari. Hubungi dokter bila temperatur anak tidak turun setelah 3 hari dan telah dilakukan semua tindakan di atas. ]]></description>
<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 13:45:50 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/semua-yang-perlu-anda-ketahui-mengenai-demam-pada-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Pertolongan Pertama Anak Demam</title>
<link>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/pertolongan-pertama-anak-demam/</link>
<description><![CDATA[ Orangtua mana yang tidak panik ketika si kecilnya tiba-tiba terserang demam? Dikompres, diberi obat penurun panas atau langsung dibawa ke dokter saja? Duh, bingungnya...<br /><br />Jangan panik berlebihan, patut Anda ketahui bahwa pada usia 0 - 12 daya tahan tubuh anak memang masih rendah sehingga rentan sekali terkena infeksi penyebab demam. Tingginya suhu tubuh juga tak dapat dijadikan indikasi bahwa penyakit yang diderita si kecil semakin parah. Sebab, pada saat itu tubuhnya sedang berusaha melakukan perlawanan terhadap penyakit akibat infeksi. Itulah mengapa, demam dapat reda dengan sendirinya dalam 1-2 hari dan tak selalu butuh pengobatan.<br /> <br />Apakah demam itu?<br /><br />Demam adalah naiknya suhu tubuh dari suhu normal yaitu 36 - 37,5 derajat celcius. Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh si kecil terhadap serangan bakteri dan virus. Sebenarnya tubuh dapat melawan sendiri infeksinya jika suhunya naik. Itulah sebabnya, orangtua tak perlu panik jika si kecil mengalami demam dan perilaku bayi atau batita tidak menunujukkan perubahan. Ia tetap aktif bermain, mau minum dan makan. Maka jangan panik dan Anda pun juga tak perlu memberinya obat penurun panas. Biarkan saja tubuhnya bekerja secara alami.<br /><br />Kok suhu tubuhnya naik turun?<br /><br />Obat pereda demam hanya menurunkan suhu tubuh untuk sementara waktu dan tidak untuk mematikan bibit penyakit yang menyebabkan infeksi. Kondisi ini biasanya berlangsung hingga tujuh hari. Jadi jangan heran kalau suhu si bayi naik lagi dan turun lagi. Hal ini karena infeksinya belum benar-benar sembuh. Pemberian antibiotik untuk memerangi infeksi yang diberikan dokter biasanya dapat membuat suhu tubuh kembali normal dalam 48 jam.<br />Kapan harus waspada?<br /><br />    *<br /><br />      Jika suhu tubuh si kecil secara mendadak meningkat menjadi 38 derajat celcius atau lebih dan meningkat terus dalam beberapa jam. Dikhawatirkan infeksi yang terjadi tergolong berat dan tubuh tak dapat mengatasinya tanpa bantuan obat-obatan.<br />    *<br /><br />      Bila suhu tubuh bayi berusia 3 - 6 bulan mencapai 38,3 derajat celcius<br />    *<br /><br />      Dalam dua hari si kecil masih demam, padahal sudah pertolongan pertama sudah diberikan. <br /><br />    *<br /><br />      Si kecil gelisah, tidak dapat tidur, lesu, lemas, tidak mau makan dan minum, muntah dan atau diare. Wajah pucat atau sebaliknya kemerahan, rewel dan sulit ditenangkan, muncul batuk dan terasa telinga sakit.<br />    *<br /><br />      Ada bintik kemerahan yang tidak berubah warna jika dipencet atau bercak berwarna keunguan pada kulitnya.<br />    *<br /><br />      Bayi tampak kesulitan bernapas (napasnya berat atau bernapas terlalu cepat) padahal Anda sudah mengeluarkan ingusnya. Mungkin saja si bayi menderita asma atau pneumonia.<br />    *<br /><br />      Bayi mengalami kejang atau mengalami steup. ]]></description>
<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 01:43:33 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pertolongan-pertama/pertolongan-pertama-anak-demam/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
