<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in prilaku bermasalah</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 12:20:30 +0700</pubDate>
<item>
<title>Motherboards manufacturer</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/motherboards-manufacturer/</link>
<description><![CDATA[ Ebitobi is known as B2B marketplace Directory where you will find latest products of Motherboards business with Quality list of Motherboards Manufacturers and Suppliers. Find New Motherboards products and Motherboards business partners on Ebitobi.com. Ebitobi is leading Motherboards B2B Marketplace trade portal that helps Motherboards buyers and Motherboards suppliers to locating suitable Motherboards trading partners. Buyers will find thousands of Motherboards trade leads from the world&amp;rsquo;s most reputable Motherboards Manufacturers. Ebitobi provide complete solutions for Motherboards trade leads and b2b services.
		
	

<p>
	&amp;nbsp;</p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 00:25:20 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/motherboards-manufacturer/</guid>
</item>
<item>
<title>Jika Anak Berbicara Kotor</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/jika-anak-berbicara-kotor/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Apa yang akan Anda lakukan jika mendapati anak Anda berbicara sesuatu yang kotor dan kasar? Padahal di rumah tidak ada yang mengajarinya. Bagaimana menghadapinya?
	
	Anda harus mengetahui alasan mengapa seorang anak Anda berkata kotor dann kasar, antara lain :</p>
<p>
	1. Anak-anak sering kali mengatakan kata-kata kasar dan jorok karena menikmati reaksi orang-orang di sekitarnya, seperti ia ditertawakan seolah-olah itu lucu dan menghibur, atau diperhatikan dengan rasa kaget dan ingin tahu dari lingkungannya.</p>
<p>
	2. Anak berkata kasar atau jorok bisa juga karena ia menirunya dari teman di sekolah, sekadar iseng, atau saat ia merasa marah dan mengetahui bahwa kata tadi bisa memancing kekesalan orang lain, atau hanya karena sedang mempelajari kata-kata yang baru dan senang dengan bunyi kata itu tanpa mengetahui artinya.</p>
<p>
	Anda harus memperhatikan saat kapan dan apa yang terjadi setelah anak berkata kasar atau jorok agar Anda bisa mengerti alasannya. Dengan mengetahui itu, Anda akan lebih mudah mengatasinya. Saat anak mengucapkan kata kasar dan jorok, Anda bisa bertanya kepada anak, &amp;ldquo;Dari siapa kamu belajar kata XXX?&amp;rdquo;, &amp;ldquo;Tahukah kamu arti XXX?&amp;rdquo;, atau &amp;ldquo;Tahukah kamu apa akibatnya kalau orang lain dikatakan XXX?&amp;rdquo;</p>
<p>
	Anak usia 4 tahun pada umumnya senang mempelajari kata-kata baru, apalagi di usia ini kemampuan berbahasa dan menyerap informasi anak-anak sedang berkembang dengan pesat. Selain itu, minatnya untuk mencoba dan mengeksplorasi hal baru sangat tinggi, termasuk mencoba-coba hal yang negatif tanpa ia sadari.</p>
<p>
	Daripada memberi hukuman atau peringatan keras kepada anak saat mengucapkan kata kasar atau jorok, lebih baik berikan perhatian saat ia mengucapkan kata-kata yang sopan sehingga ia lebih sering dan senang mengucapkan kata-kata yang baik.</p> ]]></description>
<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 19:12:51 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/jika-anak-berbicara-kotor/</guid>
</item>
<item>
<title>Cara Mengatasi Anak Kleptomania</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/cara-mengatasi-anak-kleptomania/</link>
<description><![CDATA[ Terkadang mungkin saja anda memergoki anak anda tengah mengambil sesuatu. Hal ini mungkin saja karena anak anda terserang kleptomania. Sebenarnya apa kleptomania itu? Samakah antara kleptomania dengan mencuri?

Menurut Aliva Abdullah, M.Si, kleptomania merupakan kondisi dalam diri seseorang yang memiliki dorongan kuat untuk mengambil sesuatu. Kadang-kadang sesuatu itu adalah benda-benda kecil dan tidak didasari motif ekonomi.

“Kleptomania berbeda dengan mencuri. Bila mencuri itu ada dorongan untuk memiliki, karena tidak mampu membeli. Sedangkan, kleptomania itu bukan disebabkan ketidakmampuan membeli, tetapi dorongan kuat mengambil tanpa sebab yang jelas,” tandas Psikolog yang berpraktik di Langkahku Child and Family Educare.

Misalnya, anak mencuri sepatu. Dikatakan anak itu mencuri jika dia menginginkan sepatu yang ia tidak mampu membelinya. Atau dia takut meminta sepatu baru kepada orangtuanya. Lain halnya dengan kleptomania. Anak mengambil sepatu, karena dorongan yang kurang jelas. Bisa jadi anak mengambil sepatu yang beda ukuran dengannya.

Belum Pasti Penyebabnya!

Kalau ditanya kok bisa sih kecil-kecil klepto? Hingga kini belum diketahui penyebab pastinya. Meski begitu, ada beberapa teori yang menjelaskan terjadinya kleptomania.

“Dihubungkan dengan zat kimia dalam otak disebut serotonin, zat yang mengatur mood dan emosi seseorang. Ada pula yang mengaitkan dengan gangguan obsesif-kompulsif, gangguan kecemasan dalam kehidupan individu yang didominasi repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan berulang-ulang (kompulsi) atau gangguan depresi. Dapat juga kleptomania disebabkan cedera otak,” terang alumnus Magister Psikologi Universitas Indonesia.

Tidak Menyadari Perbuatannya

Sayangnya, anak-anak kleptomania kurang menyadari tindakannya.

“Awalnya, anak kleptomania merasakan dorongan-dorongan segera mengambil barang orang lain. Namun begitu perbuatannya diketahui orang lain atau orangtuanya, dia tahu bahwa dirinya bersalah. Sayangnya, mereka sulit mengendalikan dorongan mengambil barang orang lain yang muncul sesaat,” ungkap Aliva.

5 Ciri Anak Kleptomania

1. Muncul perasaan tegang dan antusias sebelum dan saat mengambil barang milik orang lain.

2. Ada kegembiraan (eforia) setelah mengambil barang idamannya.

3. Seorang kleptomania tidak membutuhkan teman, sehingga mereka tidak memulai persahabatan.

4. Tidak ada perasaan marah atau balas dendam kepada pemilik barang yang akan diambil. Baik orang yang tidak dikenal atau dikenal dekat, sama-sama mempunyai peluang menjadi korban si kleptomania.

5. Anak kleptomania tidak memiki halusinasi atau gejala-gejala schizophrenic lainnya. Misalnya, dia berkeyakinan bahwa barang yang diincar itu adalah miliknya, padahal bukan kepunyaannya (waham atau delusi).

Tangani Anak Kleptomania

Nah, bila Moms and Dads sudah mengetahui cirinya, kini saatnya segera mengatasinya. Sebab, gejala kleptomania dapat muncul pada usia 5 tahun. Karena itu, orangtua musti menangani. Caranya?

“Bawalah anak untuk konseling dan terapi agar mendapatkan tindakan yang tepat. Bila kleptomania ini dibiarkan, anak dapat kehilangan percaya diri akibat dituduh sebagai pencuri. Motivasi anak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan lain agar dapat mengalihkan perhatian dari masalah, juga membuat anak kembali percaya diri,” tukas perempuan kelahiran Jakarta ini.

Nah, ketika terjadi ‘stigma’ pencuri, membuat anak menjadi minder dalam lingkungannya. Walau memang perlu waktu bagi lingkungan menerimanya kembali. Tentu hal itu penting baginya mengembalikan rasa percaya dirinya.

Umpamanya, lingkungan sekolah. Orangtua dapat menjembatani komunikasi dengan guru. Upayakan anak memeroleh penyadaran agar mendapatkan kembali kepercayaan dari lingkungannya. (okezone.com) ]]></description>
<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 17:34:39 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/cara-mengatasi-anak-kleptomania/</guid>
</item>
<item>
<title>Memahami Tindakan Mencuri yang Dilakukan oleh Anak</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/memahami-tindakan-mencuri-yang-dilakukan-oleh-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Mencuri merupakan salah satu perilaku yang sangat buruk dan harus segera ditangani dengan serius. Bila tidak, khawatir perilaku buruk tersebut menjadi suatu kebiasaan yang akan terbawa sampai ia dewasa kelak. Pada umumnya, orangtua pasti akan merasa kaget, kecewa, dan malu bila mengetahui bahwa anak mereka telah mencuri sesuatu milik orang lain. Namun, janganlah orangtua bertindak tergesa-gesa, langsung marah-marah kepada anak, apalagi menghukumnya dengan cara yang berlebihan. Sebab, tidak semua anak mencuri karena niat yang sudah direncanakan. Menurut Rini Utami Aziz (2006) ada beberapa hal yang menyebabkan anak mencuri, di antaranya adalah:</p>
<ol>
	<li style="text-align: justify;">
		<strong>Mencuri karena tidak mengerti</strong>. Sebagian dari mereka ada yang mengambil barang milik orang lain karena ia belum mengerti tentang maksud dari kepemilikan suatu barang. Ia belum dapat membedakan mana barang milik sendiri dan yang mana barang milik orang lain. Biasanya tindakan ini terjadi pada anak usia 3-5 tahun. Anak di usia ini sering menganggap bahwa semua barang yang ada dihadapannya adalah miliknya sendiri.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<strong>Mencuri karena kebutuhan identitas diri.</strong> Anak mencuri karena ia memiliki kebutuhan yang khas akan identitas diri dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya yang ia idolakan.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<strong>Mencuri karena mencontoh yang salah</strong>. Anak mencuri karena melihat orangtua (ibu atau ayah) mengambil barang yang bukan miliknya.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<strong>Mencuri karena tekanan</strong>. Anak mencuri karena ada tekanan akan kebutuhan dan keinginannya. Anak ini mencuri karena terpaksa. Misalnya, anak ingin makanan tetapi tidak diberi uang jajan oleh orangtuanya. Akhirnya ia terpaksa mencuri uang temannya untuk membeli makanan.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		<strong>Mencuri karena gangguan kejiwaan</strong> (<em>kleptomania</em>). Anak mencuri karena adanya gangguan kejiwaan. Ia mencuri bukan karena &amp;rsquo;kemauannya&amp;rsquo;. Barang yang dicuri penderita kleptomania sebenarnya mampu ia beli. Namun, ketika mencuri, anak merasa terlepas dari impitan perasaan yang membelenggunya. Setelah itu perasaan bersalah kemudian menderanya.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
	Menyikapi hal di atas, menjadi sangat penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak sejak dini tentang kepemilikan suatu barang. Dengan demikian, anak akan mengerti bahwa ada barang milik orang lain yang tidak boleh diambil tanpa seizin pemiliknya. Selain itu, jika orangtua tidak ingin memiliki anak berperilaku buruk (mencuri) maka berikanlah teladan yang baik kepadanya. Misalnya, tidak mengambil uang dari dompet pasangan tanpa meminta izin terlebih dahulu. Seorang anak yang pernah melihat tindakan seperti itu akan mudah untuk menirunya. Hal lain yang tidak kalah pentingnnya bagi orangtua untuk menghindarkan anak dari perilaku mencuri, adalah menjelaskan kepadanya bahwa perbuatan mencuri itu sangat buruk dan berdosa hukumnya. Tekankan pula kepada anak dengan cara yang bijak bahwa ada Yang Maha Melihat atas segala yang tidak disembunyian dan disembunyikan makhluk-Nya.</p>
<p>
	sumber: <a href="http://perkembangananak.com">Yusi Elsiano Rosmansyah</a></p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 02:02:32 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/memahami-tindakan-mencuri-yang-dilakukan-oleh-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Anak Susah Tidur</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/anak-susah-tidur/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Salah satu masalah yang dihadapi orang tua yang memiliki anak balita adalah anak susah tidur. Anda telah melalui masa-masa ketika harus bangun di tengah malam untuk memberikan susu atau mengganti <em>diaper</em> tetapi mengapa masih saja belum memiliki tidur malam yang berkualitas?</p>
<p style="text-align: justify;">
	Berikut adalah strategi yang dapat diterapkan untuk anak susah tidur :</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Masalah&amp;nbsp; : Waktu tidur kacau balau</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Skenario : Jadwal anda mulai dari siang sampai malam telah penuh. Anda seringkali merasa harus terburu-buru untuk menidurkan anak anda.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Solusi :Walaupun anda perlu mengatur kembali jadwal anda akan tetapi sangat penting untuk menjadikan waktu tidur sebagai prioritas. Rutinitas sebelum tidur yang sama dan menyenangkan merupakan kunci untuk mencapai tidur malam yang berkualitas.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Bagaimana bentuk rutinitas itu terserah pada anda. Mungkin berupa memandikan anak anda dengan air hangat, membantu untuk menyikat giginya, menceritakan cerita sebelum tidur dan membaca doa sebelum tidur. Tiap malam, anda dapat memuji anak anda untuk prestasinya hari itu atau ceritakan padanya apa yang membuat anda bangga kepada mereka. Jika anda memainkan musik untuk mereka sebelum tidur, mainkanlah musik/lagu yang sama setiap malam kemudian tidurkan anak anda dan ucapkan &amp;ldquo;selamat malam&amp;rdquo;. Perlu beberapa kali percobaan untuk menemukan cara atau rutinitas yang cocok untuk anda dan anak anda &amp;ndash; tetapi begitu anda telah menemukannya, lakukanlah dengan konsisten setiap malam pada waktu yang sama dan dengan urutan kegiatan yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Masalah : Anak anda tidak mau tidur</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Skenario : Pada saat waktunya tidur, anak anda meributkan masalah tidur karena ia tidak ingin ketinggalan/kehilangan apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Solusi : Untuk mempermudah transisi ke waktu tidur, jagalah agar suasana tenang selamat beberapa saat sebelum waktu tidur. Jauhkan segala keributan dari games atau mainan. Matikan TV, computer dan video games. Kecilkan cahaya lampu. Batasi aktivitas anggota keluarga lainnya sehingga tidak terlalu ribut.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Masalah : Anak anda tidak mau tidur sendirian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Skenario : Anak anda memohon agar anda tinggal bersama mereka sampai mereka tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Solusi :Beri semangat pada anak anda untuk tidur sendiri, bantulah agar mereka merasa aman. Mulailah dengan rutinitas sebelum tidur yang menenangkan. Kemudian pastikan mereka mempunyai obyek/benda favorit yang dapat menenangkan mereka, seperti : boneka atau selimut kesayangan. Jika anak anda takut kegelapan, nyalakan lampu yang redup dan biarkan pintu kamar terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Jika anak anda tetap menolak untuk tidur sendiri, anda dapat berjanji untuk datang memeriksanya setiap 10 menit sampai ia tertidur. Selama masa pemeriksaan ini, pujilah anak anda karena ia begitu tenang dan mau tidur sendiri. Ingatlah bahwa anda sedang membantunya agar mau tidur sendiri. Jika anda menyerah dan menemaninya malam ini, hal itulah yang akan diingat dan akan diminta oleh anak anda keesokan harinya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Masalah : Anak anda tidak mau tinggal di tempat tidurnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Skenario : Anda telah mengantar anak anda ke tempat tidurnya tetapi ia tetap keluar kamar dan menemui anda.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Solusi :Ketika rutinitas sebelum tidur sudah selesai dilakukan, ingatkan anak anda bahwa tidak ada alasan untuk bangun dari tempat tidur. Jika ia tetap bangun segera kembalikan ia ke tempat tidurnya. Lakukan berkali-kali jika perlu. Anda mungkin harus menutup pintu atau meletakkan sesuatu sebagai batas.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Masalah : Anak anda tidak mau tidur sampai larut malam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Skenario : Jam tidur anak anda yang sebenarnya adalah 8.30 malam tetapi kemudian ternyata jam tidurnya melebihi dari jam tidur anda.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Solusi : Cobalah atur kembali jam tidur siangnya atau bangunkan ia lebih pagi. Anda juga dapat memintanya tidur beberapa menit lebih cepat setiap malamnya hingga kembali ke jam tidur sebelumnya. Jam berapapun anda mengantarkannya tidur, ingatlah bahwa anda harus patuh pada rutinitas sebelum tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Masalah : Anak anda tetap terjaga sepanjang malam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Skenario : anak anda terjaga sepanjang malam dan tidak akan tertidur sampai anda menolongnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Solusi : Jika anak anda terjaga sepanjang malam, biarkan ia selama beberapa menit hingga menjadi tenang. Jika ia tidak juga menjadi tenang, pergilah ke kamar anak anda dan tenangkan ia. Kemudian katakan padanya bahwa ini adalah waktu untuk tidur dan tinggalkan kamarnya. Tunggulah setiap malam dengan durasi yang semakin lama hingga anda memutuskan untuk masuk ke kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Masalah : Anda frustrasi dengan masalah anak susah tidur</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
	Skenario : Anda lelah menghadapi rengekan, tangisan dan keluhan hingga anda menyerah dan membiarkan anak anda tidur di depan TV.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Solusi : Anda harus bersabar dan berusaha mengabaikan semua rengekan, tangisan dan permintaan. Tidak pernah terlambat untuk mengajarkan kebiasaan tidur yang baik pada anak anda. Jika anak anda mendesak anda, beritahu padanya harapan anda terhadapnya dan tetaplah pada rutinitas. Akhirnya, konsistensi anda akan terbayar dengan tidur malam yang berkualitas untuk anak anda dan anda tentunya!</p>
<p style="text-align: justify;">
	sumber:bayibalita.com</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 31 May 2011 17:05:26 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/anak-susah-tidur/</guid>
</item>
<item>
<title>Agar Anak Tak Jadi si Pemukul</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/agar-anak-tak-jadi-si-pemukul/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<strong>PADA </strong>usia <em>toddler, </em>anak mulai menunjukan sikap negativistic dan kemandirian. Mereka pun kerap berkata &amp;lsquo;tidak&amp;rsquo; pada perintah atau ajakan orang lain. Tak hanya itu, seiring dengan perkembangan fisik-motoriknya anak juga ingin menunjukan keinginannya. Namun, dengan keterbatasan kemampuan berkomunikasi, penyelesaian masalah lebih melibatkan reaksi perilaku langsung atau pengungkapan perasaan dibandingkan dengan logika. Akibatnya, kemarahan meledak. Dan bukan tidak mungkin cara ini merupakan alat atau strategi dari pemecahan masalah yang dihadapi si kecil. Berikut, tip membimbing anak tidak jadi pemukul:</p>
<p>
	<strong>Berikan contoh perilaku yang baik</strong> Anda tidak bisa memaksa si kecil berperilaku baik jika Anda sendiri tidak dapat mengendalikan diri.Berikan contoh yang baik, jangan sering berteriak, marah-marah, bahkan mengamuk atau memukul orang lain saat menginginkan sesuatu atau menghadapi suatu masalah.</p>
<p>
	<strong>Mengetahui dan mencukupi kebutuhan fisik anak</strong> Anak yang lapar dan lelah akan lebih mudah marah dan frustrasi. Jadi jangan heran jika anak Anda tiba-tiba &amp;lsquo;mengamuk&amp;rsquo; saat menemani Moms belanja di mal dalam waktu yang cukup lama.</p>
<p>
	<strong>Batasi tuntutan terhadap si kecil</strong> Terlalu banyak aturan/tuntutan yang &amp;lsquo;kurang penting&amp;rsquo; akan menjadikan anak mudah frustrasi, yang berujung pada tantrum. Kebanyakan usia toddler sangat aktif, terlalu membatasi gerak dan aktivitasnya akan membuat anak mengalami &amp;lsquo;masalah&amp;rsquo;.</p>
<p>
	<strong>Menyadari saat tantrum mulai muncul</strong> Karena tantrum merupakan tahapan normal yang biasa dialami oleh banyak anak, maka Moms harus peka, memahami dan berusaha untuk mencegah perilaku ini menjadi berkelanjutan. Cobalah untuk mengerti saat anak mulai &amp;lsquo;uring-uringan&amp;rsquo;. Ajaklah bicara, misal, &amp;ldquo;Adik marah karena Mama minta beresin mainan, ya?&amp;rdquo; Pengertian dan kesabaran orangtua saat menghadapi anak marah akan membuat anak berproses menurunkan perasaan tidak nyamannya.</p>
<p>
	<strong>Ajarkan anak untuk mengungkapkan keinginan dengan kata-kata</strong> Relaksasi yang paling sering dilakukan adalah latihan mengambil napas panjang dan mengeluarkan perlahan. Sabarlah dalam menangkap kata-kata anak yang terkadang sulit untuk dimengerti. Pahami bahwa si kecil masih mengalami keterbatasan kosakata dan kemampuan berkomunikasi. (Sumber: Tabloid Mom &amp;amp; Kiddie via okezone.com)</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 02 May 2011 01:57:43 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/agar-anak-tak-jadi-si-pemukul/</guid>
</item>
<item>
<title>Tips atasi Anak Manja</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/tips-atasi-anak-manja/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Saat anak mulai meninggalkan usia balitanya, terkadang mereka masih saja manja. Bahkan sampai usia tujuh tahun atau mereka sudah memiliki adik, terkadang mereka masih suka merengek seperti adiknya yang masih balita. Anak manja biasanya karena perlakuan orang tuanya yang terlalu berlebihan dalam menuruti semua permintaanya. Apa yang anak minta, orang tua selalu memenuhinya. Akibatnya jika orang tua sampai tidak memenuhi permintaanya maka anak pun merengek dan menangis.
	
	Sifat manja anak juga terjadi dalam hal keinginan untuk selalu dekat dengan orang tua. Tidak jarang anak yang sudah dalam usia sekolah masih selalu berrebut dengan adiknya yang balita untuk mendapatkan belaian dari ibunya.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Nah, apa yang harus dilakukan Anda sebagai orang tua untuk mengatasi anak yang manja?
	
	1. Orang tua harus mempunyai kemauan untuk tidak lagi memanjakan anak. Perilaku manja salah satunya karena selama ini apa saja yang mereka inginkan selalu dituruti.
	
	2. Mulailah untuk tidak memanjakan anak dan ajarkan hidup mandiri dari hal-hal yang kecil. Misalnya biasakan anak mengambil baju seragam sendiri, mengambil makan atau minum sendiri.
	
	3. Tindakan untuk tidak memanjakan anak seharusnya juga dilakukan oleh orang tua atau pengasuh yang lain, tidak hanya oleh satu orang saja.
	
	4. Komunikasilah dengan anak, bahwa seharusnya untuk usia saat ini mulai mempunyai tanggung jawab. Jelaskan mengenai prioritas, bahwa tidak semua yang diinginkan harus terpenuhi.
	
	5. Jika anak masih mengabaikan perintah orang tua dengan merengek atau menangis, berikan pengertian bahwa tindakan itu tidak benar. Berikan pelukan dan dukungan untuk menenangkan anak.
	
	6. Orang tua harus konsisten untuk tidak memanjakan anak, tidak hanya satu atau dua hari saja lalu kembali menajakan mereka.
	
	7. Berikanlah pujian jika anak tidak lagi merengek saat meminta sesuatu, sehingga anak mengerti bahwa orang tua senang saat dia mulai berubah.
	
	Jika anda memiliki pengalaman lain untuk mengatasi anak yang manja, sampaikan untuk disharing dengan teman-teman yang lain dibawah situ. Semoga bermanfaat.</span></p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 08 Apr 2011 15:54:45 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/tips-atasi-anak-manja/</guid>
</item>
<item>
<title>Mengapa anak suka berbohong ?</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/mengapa-anak-suka-berbohong/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Di sebuah Taman Pendidikan Al-Qur&amp;rsquo;an sekelompok anak sedang berkumpul menunggu waktu shalat Ashar tiba. Mereka mengobrol saling menimpali perkataan kawannya, seru! Salah seorang anak bercerita tentang seberapa besar ikan yang ditangkapnya dari danau di samping TPA. Sambil berseru-seru anak yang lain berebutan mengomentari kawannya. Seorang anak yang lain dengan berapi-api ikut mengomentari. &amp;ldquo;Eh, eh, eh! Tahu enggak? Kata Kak Bobi, di danau itu ada ikan hiu-nya, lho!&amp;rdquo;</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Kita sebagai orang dewasa dengan segera dapat menyadari bahwa kata-kata anak itu adalah suatu kebohongan. Sejak kapan ada ikan hiu yang hijrah dari laut kemudian hidup di danau tawar?</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Anak-anak biasa berbohong, terkadang kebohongan mereka terasa begitu lucu. Namun ada juga kebohongan yang secara moral dapat dikategorikan sebagai suatu perilaku negatif. Mereka bebohong untuk berbagai macam alasan:</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><b>Berbohong untuk menarik simpati dan perhatian</b></span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Anak TPA tadi berbohong agar mendapat perhatian kawan-kawannya yang berebutan menceritakan betapa besarnya ikan tangkapan mereka. Ia sadar bahwa dirinya tidak pernah menangkap ikan seekor pun, tapi ia tahu cerita keganasan ikan hiu. Maka ia mengarang cerita dan mencatut nama Kak Bobi sebagai salah seorang guru TPA agar kawan-kawannya percaya. Seringkali anak tidak seratus persen berbohong, ia hanya mengarang cerita yang dilebih-lebihkan. Misalnya ketika dua orang anak saling membanggakan ayahnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">&amp;ldquo;Ayahku sangat kuat, ia bisa menggendong aku dan kakak-kakakku sekaligus di pundaknya,&amp;rdquo; ujar Rudi. Toni tidak mau kalah dan berkata, &amp;ldquo;Ayahku lebih kuat, dia bisa mengangkat dua buah mobil!&amp;rdquo;</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><b>Berbohong untuk melindungi teman</b></span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Anto mengatakan pada ibunya bahwa ia telah menghabiskan semua kue di dalam kotak kue. Padahal ia membaginya bersama beberapa orang kawannya. Ia khawatir jika mereka tidak dibagi, ia tidak akan dipinjami play station.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><b>Berbohong karena meniru orangtua</b></span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Anak akan melihat orang tua berbohong, misalnya jika ada seorag pengemis meminta sedekah. &amp;ldquo;Bilangin aja, lagi nggak ada uang!&amp;rdquo; Padahal ia tahu ayah dan ibunya masih menyimpan sejumlah uang. Dua hal yang perlu diperhatikan dalam contoh ini adalah, pertama anak mengetahui bahwa orangtuanya berbohong. Kedua, orangtua menyuruh anak berbohong kepada orang lain. Sudah memberikan contoh yang tidak baik, kemudian menyuruh anak melakukannya. Sungguh suatu sikap yang buruk. Sikap ini mengajarkan anak agar tidak menghargai suatu kejujuran.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><b>Berbohong untuk menghindari sesuatu </b></span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Anak jelas-jelas membantah tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya ia lakukan. Mungkin ia sengaja berbohong dan mengarang cerita agar terhindar dari hukuman akibat kesalahan yang dilakukannya. Sebaiknya orangtua mencoba mengevaluasi diri karena anak mungkin berusaha menghindari hukuman fisik yang mungkin sering diterapkan orang tua. Atau mungkin juga karena anak menghinari kritik atau cemoohan yang mungkin diterimanya jika ia melakukan kesalahan.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><b>Berbohong untuk mengkhayal pada usia tertentu</b></span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Anak mengembangkan kemampuan berpikir secara abstrak, biasanya sekitar usia 4 tahun. Tiba-tiba anak mulai bercerita kalau ia melihat seekor monster, seorang peri, atau hal-hal lain yang tidak masuk akal. Hal ini berarti anak mengembangkan kemampuannya berimajinasi. Kemampuan ini penting karena anak perlu memiliki kemampuan berpikir abstrak. Contohnya tentang konsep Allah dan Malaikat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><b>Jurus menghadapi anak yang berbohong:</b></span></p>
<ol>
	<li>
		<p style="margin-left:10px;margin-right:10px; text-align: justify;">
			<span style="font-size: 14px;">Sebagai orang tua kita dituntut untuk bijaksana. Bila kita mendapati anak berbohong kita tidak boleh langsung marah-marah, mengadili anak dengan berbagai macam konsep dosa dan neraka. Atau menceritakan kisah Gembala Kambing dan Serigala. Suatu cerita dengan pesan moral kejujuran agar anak tidak berbohong. Sebaiknya lakukan pendekatan kepada anak dengan hati-hati dan bersahabat.</span></p>
	</li>
	<li>
		<p style="margin-left:10px;margin-right:10px; text-align: justify;">
			<span style="font-size: 14px;">Cari tahu benarkah anak berbohong dan untuk apa ia berbohong. Tidak perlu marah, bersikap menyelidik, menghakimi atau dengan mengancam. Jika anak merasa terancam, lain waktu ia tidak akan mengaku, bahkan akan berusaha mengarang kebohongan lain.</span></p>
	</li>
	<li>
		<p style="margin-left:10px;margin-right:10px; text-align: justify;">
			<span style="font-size: 14px;">Jika anak berbohong, beri pengertian kepada anak bahwa perilaku berbohongnya tidak disukai dan dapat berakibat buruk bagi dirinya dan orang lain.</span></p>
	</li>
	<li>
		<p style="margin-left:10px;margin-right:10px; text-align: justify;">
			<span style="font-size: 14px;">Kebohongan yang tidak bertujuan negatif tidak perlu diberi hukuman. Misalnya karena anak sedang berfantasi. Pada usia tertentu anak sangat asyik dengan dunianya yang penuh imajinasi, terkadang ia tidak dapat membedakan mana yang nyata mana yang tidak nyata. Misalnya jika ia bercerita tentang Malaikat yang mengajaknya terbang ke langit.</span></p>
	</li>
	<li>
		<p style="margin-left:10px;margin-right:10px; text-align: justify;">
			<span style="font-size: 14px;">Hukuman baru diberikan jika kadar dan akibat kebohongannya benar-benar parah. Namun jangan menghukum dengan hukuman fisik. Berikan hukuman yang mendidik misalnya berupa hukuman sosial, atau dengan memutus beberapa fasilitas anak. Misalnya dengan memberlakukan larangan menonton acara televisi kesukaannya atau memberikan tugas membersihkan kamar tidur.</span></p>
	</li>
	<li>
		<p style="margin-left:10px;margin-right:10px; text-align: justify;">
			<span style="font-size: 14px;">Kebiasaan berbohong pada anak dapat dikurangi dengan mempererat hubungan antar orang tua dan anak. Jika anak dekat dengan orang tua, ia akan lebih terbuka sehingga ada rasa saling mempercayai dan menghargai. Jadi, luangkan waktu kita untuk bersama anak-anak.</span></p>
	</li>
	<li>
		
			<span style="font-size: 14px;">Salurkan kreatifitas dan kemampuan imajinasi anak untuk kegiatan-kegiatan positif. Misalnya bermain sandiwara, menulis cerita, menggambar bebas dan lain-lain. </span>
	</li>
</ol> ]]></description>
<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 16:31:32 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/mengapa-anak-suka-berbohong/</guid>
</item>
<item>
<title>Tak Usah Panik Mendapati Anak "Masturbasi"</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/tak-usah-panik-mendapati-anak-masturbasi/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Wajar, kok, bila si kecil memainkan alat kelaminnya karena memang sedang fasenya. Tapi, tetap harus dicegah dan ditangani secara tepat.</p>
<p>
	Umumnya, orang tua langsung panik kala mendapati anak prasekolahnya memegang-megang atau memain-mainkan alat kelaminnya. Hingga, dimarahilah si anak. Padahal, seperti diungkap Dra. Ratih Andjayani Ibrahim, Psi.MM, dari LPT UI, Jakarta, perilaku demikian wajar terjadi pada anak usia 3-6 tahun. &amp;quot;Anak usia ini memang suka bermain-main dengan alat genitalnya untuk mencapai kenikmatan. Sebab, pusat kenikmatan anak di usia ini berada di sekitar alat genitalnya, yang disebut fase phallic.&amp;quot;</p>
<p>
	Lebih jauh dijelaskan Ratih, fase phallic merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Awalnya, dari usia 1-1,5 tahun, pusat kenikmatan anak berada di mulut, disebut fase oral. Itulah mengapa, di usia tersebut anak senang sekali memasukkan segala sesuatu ke mulut. Berikutnya, pada umur 1,5-3 tahun, anak berada pada fase anal; dia mulai menahan keinginan BAB-nya. Selanjutnya, anak mengalami fase phallic. &amp;quot;Fase ini biasanya akan berhenti sampai anak berumur 6 tahun.&amp;quot;</p>
<p>
	<strong>HARUS DICEGAH</strong></p>
<p>
	Jadi, tahapan ini merupakan fase yang normal, ya, Bu-Pak. Bukan berarti si kecil tengah melakukan masturbasi. Walau begitu, kita tak boleh membiarkan si kecil asyik memainkan alat kelaminnya. Sebab, terang Ratih, &amp;quot;Jika sudah menjadi kebiasaan, maka inilah yang dinamakan dengan masturbasi.&amp;quot;</p>
<p>
	Untuk itu, kita harus mencegahnya. Namun, jangan lantas kita girap-girap alias panik; berteriak-teriak atau marah, bahkan memukuli anak kala melihatnya tengah memainkan alat kelaminnya. Cukup katakan dengan tenang kepadanya, &amp;quot;Kak, penisnya jangan dibuat mainan, nanti lecet, lo.&amp;quot; Atau, &amp;quot;Jangan sering melakukan itu, ya, Kak, supaya vaginanya enggak lecet. Kalau lecet, nanti kalau mau pipis, sakit lo.&amp;quot; Selanjutnya, alihkan perhatian anak. Pindahkan tangannya dari aktivitasnya itu, lalu beri mainan yang menarik minatnya. Bila perlu, ajak dan temani anak bermain, hingga ia lupa dengan aktivitasnya tadi.</p>
<p>
	Jika orang tua bekerja, pesan Ratih, sebaiknya pesankan kepada pengasuh agar melakukan hal yang sama. Minta si pengasuh untuk menegur dan mengingatkan anak kala kedapatan tengah melakukan aktivitas tersebut. Juga, minta dia sering mengajak anak bermain hingga anak lupa pada aktivitasnya itu.</p>
<p>
	<strong>TANGANI SECARA TEPAT</strong></p>
<p>
	Yang jelas, dalam menyampaikan larangan kepada anak, jangan sampai menunjukkan rasa panik. Ingat, anak seusia itu punya rasa ingin tahu. Jika ia melihat respon dari orang tua atau lingkungannya demikian, anak akan merasa, &amp;quot;Ini ada apa, sih? Pasti ada yang menarik di sini.&amp;quot; Maka dia akan terus melakukan aktivitas itu, bahkan akan jadi makin terfokus ke sana. Jadi, kebiasaan melakukan masturbasi bisa terjadi pada penanganan yang tak tepat.</p>
<p>
	Apalagi, anak sebenarnya memegang-megang alat kelaminnya tanpa berpikir panjang. &amp;quot;Pokoknya, enak dipegang. Lalu karena respon ibunya keliru, misal, jadi marah, histeris, atau anaknya dipukuli, tanpa sadar ini justru memacu anak untuk lebih sering memainkan alat genitalnya atau semacam mendapat stimulus. Mungkin ia melakukan kebiasaan tersebut dengan cara mencuri-curi.&amp;quot;</p>
<p>
	Nah, karena merasa nikmat, anak akan melakukan itu secara terus-menerus. Bahkan bisa hingga masa pubertasnya. Pada masa pubertas, stimulasinya akan berbeda lagi. &amp;quot;Mungkin tadinya cuma geli-geli saja, begitu sudah remaja, akan ada fantasi seksual yang menyertai atau ada perilaku seksual tertentu yang menyertai.&amp;quot;</p>
<p>
	Selain itu, karena mendapat stimulus terus, bisa terjadi penis si Buyung akan berdiri. &amp;quot;Bisa saja saat itu anak mendekat kepada ibunya dan menggosok-gosokkan penisnya kepada ibunya. Kalau ibunya lantas girap-girap atau &amp;#39;heboh&amp;#39;, anak bisa melakukan terus atau malah mencari objek lain.&amp;quot; Lain hal jika si ibu memberitahu, &amp;quot;Kak, stop! Jangan begitu, dong. Tuh, lihat di televisi ada apa?&amp;quot; Atau, &amp;quot;Ayo kita bermain.&amp;quot; Jadi perilaku anak yang distop.</p>
<p>
	Sebab, bagaimanapun, papar Ratih, yang namanya masturbasi seperti kecanduan narkoba. Ada levelnya. &amp;quot;Pertama cuma pegang-pegang, lalu makin lama makin berkembang menjadi advanced. Selanjutnya jadi makin canggih dengan tingkat kerumitan yang makin tinggi.&amp;quot; Kalau ini menjadi kebiasaan, mungkin kelak alat genitalnya tak bisa berfungsi secara wajar saat akan berhubungan dengan istrinya. Namun bila penanganannya tepat, biasanya pada umur 6 tahun kebiasaan memegang-megang alat kelamin atau &amp;quot;masturbasi&amp;quot; ini akan hilang sendiri.</p>
<p>
	<strong>BEDA DENGAN ORANG DEWASA</strong></p>
<p>
	Memang, aku Ratih, reaksi spontan orang tua yang marah atau teriak, lebih karena ia belum tahu perilaku &amp;quot;seksual&amp;quot; anak-anak. Biasanya orang tua mengira perilaku seksual anak akan sama dengan perilaku orang dewasa. Padahal, pada masa kanak-kanak, anak masih makhluk aseksual karena ia belum mengalami pubertas.</p>
<p>
	Jadi, orientasi anak bukan seperti pada perilaku seksual orang dewasa. Keterangsanganya juga berbeda, walau anak bisa menikmati. &amp;quot;Jika pada orang dewasa, untuk mencapai kepuasan seksual menggunakan organ seksualnya dengan perilaku seksual. Maka pada anak, &amp;#39;seksual&amp;#39;nya lebih pada kalau penisnya dipegang, disentuh, dan dielus. Itu menimbulkan rasa nikmat.&amp;quot; Walaupun demikian, tak membuat anak ereksi. Ereksi pada anak yang berumur prasekolah jelas berbeda dengan orang dewasa. &amp;quot;Biasanya pada anak, ereksi akan muncul di pagi hari setelah bangun tidur, mau kencing atau setelah kencing.&amp;quot; Namun sekali lagi, sekalipun fokusnya bukan pada seksual, tapi jangan pernah bosan mengingatkan anak untuk tak mempermainan alat genitalnya.</p>
<p>
	<strong><em>Erni Koesworini</em></strong></p>
<p>
	<strong><em>sumber: Balita-anda.com</em></strong></p> ]]></description>
<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 15:53:52 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/tak-usah-panik-mendapati-anak-masturbasi/</guid>
</item>
<item>
<title>Tips Atasi anak "Pemberontak"</title>
<link>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/tips-atasi-anak-pemberontak/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Menghadapi si kecil memang susah-susah gampang, apalagi bila dia tipikal anak yang suka berontak. Apa ya, solusinya?</span></p>
<p class="textCilik" id="contentParID" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><strong>Karakter Anak</strong></span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Musti Moms pahami, anak berusia 1 - 3 tahun telah melewati masa-masa yang tidak sebentar. Sejak bayi, faktor genetik (turunan), pola pengasuhan orangtua dan lingkungan sangat memengaruhi terbentuknya karakter anak di kemudian hari.&amp;nbsp;</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Salah satunya, apakah dia tipikal anak mudah (easy child) atau sulit (difficult). Bila dia tipikal anak mudah, sekali diberitahu langsung nurut. Sebaliknya, tipikal anak sulit belum tentu menuruti apa keinginan atau nasehat dari orangtuanya. Tidak heran, dalam satu keluarga, tipikal anak satu dengan lainnya berbeda.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><strong>Ingin Mandiri</strong></span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Nah, ketika memasuki usia 1 tahun ke atas anak ingin mencoba menjadi dirinya sendiri, terpisah dari orang-orang sekitarnya termasuk kedua orangtuanya. Bisa dibilang, mereka telah masuk ke tahap perkembangan psikososial atau masa otonomi. Dia ingin beda! Tidak seperti saat masih bayi yang mudah diatur. Jangan heran, bila Moms or Dads mengatakan A, dia menjawab B atau sebaliknya, yang terkadang bikin kesal orangtuanya. Bahkan ada anak yang sangat sulit bila diberitahu oleh orangtuanya. Mungkin ini akibat kedekatan atau &amp;#39;keintiman&amp;#39; anak dengan Moms or Dads tidak terlalu bagus. Makanya, dia suka uring-uringan. Padahal, usia 1 tahun ke atas adalah masa dimana dia belajar untuk mandiri.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Namun, terbentur masalah unsecure seperti tinggal terpisah dengan kedua orangtuanya, atau sejak bayi sudah terpisah dari kedua orangtuanya mungkin juga tidak disusui ketika masih bayi bisa dibilang orangtua menjaga jarak dengan bayinya. Sehingga, hubungan anak dengan Moms or Dads menjadi asing alias tidak &amp;#39;hangat.&amp;#39; Maka, terjadi penolakan anak terhadap Moms or Dads. Biasanya, anak tidak nurut bila diatur atau dinasehati oleh Moms or Dads. Sebaliknya, anak yang sudah merasa nyaman dalam hubungannya dengan kedua orangtuanya, akan lebih mudah dibimbing.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><strong>Ingin Menunjukkan Jati Diri</strong></span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Orangtua juga sebaiknya mengerti bahwa terkadang seorang anak batita bersikap &amp;quot;pemberontak&amp;quot; karena ingin menunjukkan jati dirinya. Kata memberontak ini dalam tanda kutip, karena ia sebenarnya bukan untuk memberontak, hanya ingin membuktikan kemampuannya semata.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Pada usia 3 tahun ke atas, seorang anak sudah mampu melakukan berbagai hal. Ia sudah mampu mengoordinasikan anggota tubuhnya dengan baik, dan mampu mengungkapkan beberapa kalimat.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Oleh karena itu, misalnya bila ia diingatkan untuk tidak mematahkan lipstik Mama, justru dia sengaja mematahkannya. Sikapnya ini, karena dia ingin menunjukkan kemampuannya.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Apalagi, bila ia sudah mempunyai seorang adik. Sikapnya ini menjadi salah satu pembuktian diri bahwa dia telah bisa melakukan lebih banyak dari adiknya yang masih bayi. Dia akan melakukan berbagai hal untuk menunjukkan bahwa dia lebih mampu dibanding adiknya yang masih harus berbaring dan tidur, mengingat orangtua kadang &amp;nbsp;&amp;lsquo;melupakan&amp;rsquo; si Kakak, setelah si Adik lahir.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Faktor ingin menunjukkan jati dirinya, utamanya pada orangtua, mungkin salah satu penyebab sikap anak jadi berbeda dibandingkan sikapnya pada orang lain. Sangat disarankan, Moms jangan langsung mencap dia sebagai anak nakal atau pemberontak, karena sikapnya ini hanya sementara dan akan hilang dengan sendirinya, saat ia beranjak besar nantinya.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;"><strong>Harus Bagaimana?</strong></span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Bila mungkin ada sebagian orangtua yang harus tinggal terpisah dengan buah hatinya, jangan putus asa! Masih ada harapan untuk memperbaiki hubungan atau relasi orangtua dengan anak.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Jauh lebih baik dilakukan sedini mungkin, sebelum si kecil masuk usia sekolah. Langkah pertama, segeralah mengoreksi kekeliruan Moms or Dads sebelumnya. Setelah menyadari kekeliruan yang pernah Moms or Dads lakukan, kedua pahami keadaan anak. Ketiga, Moms or Dads berusaha belajar komunikasi efektif kepada si kecil. Misalnya, si kecil ingin main sepeda dan bilang &amp;ldquo;aku mau main sepeda di luar&amp;rdquo; padahal kondisi di luar panas dan sepi.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Begitu mendengar permintaan si kecil ada orangtua yang keukeuh mengatakan, &amp;ldquo;Ihsan harus tidur!&amp;rdquo; atau menakut-nakuti dengan mengatakan, &amp;ldquo;awas lho! Nanti ditangkap polisi!&amp;rdquo; Padahal ini adalah cara yang tidak benar dan irrasional.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Nah, berikan komunikasi yang efektif kepada si kecil, seperti, &amp;ldquo;Bunda tahu Ihsan mau main sepeda di luar, sepedanya bagus (Moms bisa mulai mendongeng). Sepedanya bilang, Mas Ihsan bobo dulu ya. Gimana kalau main sepedanya nanti jam 4 sore?&amp;rdquo;&amp;nbsp;</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Pada dasarnya, orangtua mengakui bahwa anaknya memang kepengen main sepeda. Bila ajakan Moms di atas belum bisa membuatnya pergi ke peraduan. Bisa Moms gunakan kalimat seperti, &amp;ldquo;Gimana kalau kita nonton TV aja yuk, atau Bunda ceritain buku cerita, atau kita perang-perangan di bawah selimut?&amp;rdquo; So, cara ini menawarkan opsi/ pilihan kegiatan kepada si kecil. Memang, perilaku naik sepeda bukan sesuatu yang salah, hanya bukan pada saat yang tepat. Moms bisa katakan, &amp;ldquo;Bolehkah nanti jam 4 atau 4.30 sore Bunda nemenin Ihsan main sepeda? Kita main sepeda selama satu jam. Bunda naik sepeda yang besar, sedangkan, Ihsan naik sepeda yang kecil, gimana?&amp;rdquo;.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Tapi itu semua butuh kesabaran. Bisa saja si anak menawar, &amp;ldquo;em...em...em...&amp;rdquo; Apalagi punya anak perempuan yang kemampuan verbalnya sudah lancar seperti mengucapkan, &amp;ldquo;tapikan...tapikan...tapikan...&amp;rdquo; Mau tidak mau, Moms memang harus meladeni. Yang perlu diingat, ini semua butuh kesabaran dan waktu yang tidak sebentar.</span></p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>
<p class="textCilik" style="color: rgb(136, 152, 169); text-align: justify;">
	<span style="font-size: 14px;">Bagi orangtua yang tidak sabar bisa saja bicaram &amp;ldquo;ya sudah kalau gak tidur Bunda kurung aja sepedanya di kamar mandi!&amp;rdquo; atau &amp;ldquo;sepedanya dibuang saja biar kamu tidak main sepeda!&amp;rdquo; Itu justru cara-cara yang salah. Bisa jadi, sekali itu anak memang menurut alias cara tersebut &amp;lsquo;tokcer&amp;rsquo;, namun itu bukanlah cara yang bisa dibenarkan. Jadi, jangan putus asa ya, Moms.</span></p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 15:14:36 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/tips-atasi-anak-pemberontak/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
