<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in sekolah</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Tue, 22 May 2012 12:23:43 +0700</pubDate>
<item>
<title>Online Games Free to Play</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/online-games-free-to-play/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<span class="news-body-text"><span id="ls_contents-1">Find over 3000 online games free to play, including arcade free games, shooting games, racing car games, dress up games and many other games at Gamesinflux.com. It features the highest quality games on the net, with best originality assurance.
	For more visit:http://www.gamesinflux.com/ </span></span></p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 01 May 2012 11:17:13 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/online-games-free-to-play/</guid>
</item>
<item>
<title>Kesiapan Anak untuk Preschool</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/kesiapan-anak-untuk-preschool/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify">
	Apakah anak anda sudah siap untuk mengikuti <strong>preschool</strong>? Bagaimana mengetahuinya? Berikut adalah beberapa tanda yang bisa membantu anda untuk menilai apakah anak anda siap mengikuti <strong>preschool </strong>atau tidak :
	- Anak anda mulai bosan berada di rumah dan membutuhkan stimulasi yang lebih
	- Anak anda mulai terbiasa ditinggal oleh anda selama beberapa waktu tanpa kehilangan anda.
	- Apakah ia sedang dalam keadaan menangis ketika anda menjemputnya? Harap anda ketahui, jika anak anda menangis ketika anda meninggalkannya, itu adalah hal yang normal. Biasanya itu akan terjadi pada minggu-minggu pertama.
	- Anak anda merasa nyaman untuk bertemu dengan orang baru
	- Anak anda dapat duduk diam selama beberapa menit
	Jika anda memutuskan untuk memasukkan anak anda ke <strong>preschool</strong>, datanglah ke sekolah yang anda maksud tanpa anak anda dulu sehingga anda bisa mengamati interaksi antara guru dan orang tua murid. Jika anda merasanya nyaman, ajaklah anak anda pada kunjungan berikutnya.
	Cobalah untuk mengunjungi beberapa <strong>preschool</strong> agar anda mendapatkan gambaran preschool yang mana yang terbaik untuk anak anda. Jika perlu anda juga dapat melalukan beberapa kali trial untuk melihat kesiapan anak anda. Akhirnya, berdiskusilah dengan calon guru untuk mengetahui apa saja yang akan anak anda dapatkan ataupun hadapi di preschool nanti.
	Jika anda merasa anak anda masih belum siap untuk <strong>preschool </strong>jangan paksakan. Itu jauh lebih baik daripada memasukkannya ke preschool yang akan membuatnya menderita.
	Salah satu pertanyaan penting bagi orang tua adalah mengapa anda ingin memasukkan anak anda ke <strong>preschool</strong>. Apakah karena anda membutuhkan waktu sendiri (me time) yang lebih panjang atau ada alasan lain. Hal ini penting karena anda harus terbuka pada pilihan-pilihan lain apabilan anak anda ternyata belum siap untuk <strong>preschool.</strong></p>
<p>
	&amp;nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">
	sumber: bayidanbalita.com</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 05:15:47 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/kesiapan-anak-untuk-preschool/</guid>
</item>
<item>
<title>Perlukah Homeschooling untuk Anak?</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/perlukah-homeschooling-untuk-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Bacalah beberapa buku dan majalan tentang homeschooling
	Perjalanan homeschooling dimulai dengan keputusan Anda untuk menghabiskan waktu bersama putra-putrii Anda. Dengan membaca sedikit dari kepustakaan yang luas mengenai hal ini akan memperlihatkan kepada Anda banyaknya variasi pendekatan, sumber daya, manfaat, tantangan, dan masih banyak lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Cari kelompok pendukung homeschooling dan temui orang lain yang juga melakukan homeschooling
	Walaupun membaca dapat memberikan banyak informasi mengenai dunia homescholing, tidak ada yang melebih pertemuan dengan pelaku homeschooling lain bisa menjadi teman yang dapat mengerti dan mendukung keputusan Anda, berbagi informasi tentang persoalan yang diahdapi dan menjawab beberapa pertanyaan Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Hadiri konferensi/seminar tentang homeschooling
	Walaupun jarang dilakukan, pertemuan semacam ini sangat berguna sebagai sumber informasi, kesempatan untuk bertanya, dan perasaan solidaritas yang sulit ditemukan di tempat lain.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Bantu pihak lain yang ingin tahu tentang homeschooling
	Ini merupakan cara terbaik untuk meningkatkan pengetahuan Anda mengenai homeschooling, bertemu keluarga-keluarga baru, menegaskan kembali tekad Anda untuk mendidik anak di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Amatilah kemajuan anak Anda
	Keraguan dan ketakutan akan hilang jika Anda menemukan bahwa anak Anda telah menikmati pembelajaran dan menampakkan ketrampilan, kemampuan, dan ide-ide yang selama ini tak pernah terlihat.</p>
<p style="text-align: justify;">
	sumber: perempuan.com</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 07:32:29 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/perlukah-homeschooling-untuk-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Lokasi Sekolah Pengaruhi Kesehatan Anak</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/lokasi-sekolah-pengaruhi-kesehatan-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Sebelum menyekolahkan anak, sebaiknya pertimbangan lokasinya. Temuan terbaru mengungkap, sekolah yang dekat dengan jalan meningkatkan risiko dan memperparah asma dan pada anak-anak.
	
	Statistik kesehatan anak-anak di komunitas Southern California Amerika Serikat mengungkap, anak yang bersekolah dekat dengan lokasi polusi udara seperti jalan raya yang ramai kendaraan, memiliki risiko 45 persen lebih tinggi terserang asma daripada anak yang bersekolah di lokasi yang jauh dari jalan raya.
	
	&amp;quot;Paparan polusi di sekolah di mana anak menghabiskan sebagian waktu mereka selain di rumah tampaknya mempengaruhi resiko asma,&amp;quot; ujar Dr Rob McConnell, Profesor kedokteran dari Fakultas Kedokteran Keck University of Southern California.
	
	Studi yang rilis dalam jurnal Environmental Health Perspectives melibatkan anak TK dan SD yang sebelumnya tidak menderita asma. Kemudian, selama tiga tahun, peneliti menguji tingkat polusi si sekitar rumah dan sekolah dan mendeteksi gejala asama pada anak. Hasilnya, dari 2.497 siswa, dalam tiga tahun sebanyak 120 anak menderita asma.
	
	&amp;quot;Lingkungan mikro tempat anak menghabiskan waktu dengan aktivitas fisik sangat mempengaruhi kesehatan anak,&amp;quot; kata McConnell. &amp;quot;Kebijakan yang mengurangi paparan lingkungan lalu lintas yang tinggi dapat membantu mencegah penyakit ini.&amp;quot; &amp;bull; VIVAnews</p> ]]></description>
<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 00:11:58 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/lokasi-sekolah-pengaruhi-kesehatan-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Pentingkah Balita Masuk Playgroup ?</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/pentingkah-balita-masuk-playgroup/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<span class="single"><span class="fullpost">Dulu saya berpendapat bahwa balita tidak perlu dimasukan ke sekolah atau playgroup. Karena dari beberapa cerita yang saya dapatkan, anak masuk sekolah terlalu kecil, takutnya pada saatnya nanti anak masuk sekolah formal dia akan merasa bosan. Tapi kemudian ada banyak hal positif juga yang saya lihat jika anak masuk playgroup. Apalagi perkembangan otak anak sedang berkembang pesat pada usia 5 tahun pertamanya.
	
	Beberapa <span style="font-weight:bold;">alasan memasukan anak ke playgroup</span>, diantaranya :
	&amp;bull; Menambah kemampuan sosialisasi anak.
	Hal ini diperlukan terutama jika anak kesepian di rumah, misalnya karena teman sebayanya sedikit.
	&amp;bull; Mendapatkan sarana bermain yang edukatif.
	Playgroup biasanya menyediakan sarana bermain yang lebih lengkap dan edukatif. Baik untuk kemampuan motorik kasar anak ataupun motorik halusnya. Seperti perosotan, mobil-mobilan dan motor-motoran yang bisa dikendarai oleh anak, puzzle, buku-buku, dsb.
	&amp;bull; Mendapatkan pendidikan budi pekerti yang baik.
	Sekarang ini banyak anak yang sepanjang hari bersama pembantu dan televisi saja. Maka tontonan, obrolan, dan tingkah lakunya pun menyerupai &amp;lsquo;mbaknya&amp;rsquo; itu. Dengan anak yang ayah dan ibunya bekerja, maka anak akan belajar budi pekerti yang lebih baik lagi jika dia disekolahkan (bukan berarti perilaku semua &amp;lsquo;mbak&amp;rsquo; itu tidak baik lo ya&amp;hellip;.).
	&amp;bull; Dan sebagainya ya&amp;hellip;tergantung kondisi keluarga seorang anak dan lingkungan sekitarnya.
	
	Di samping hal-hal positif yang bisa kita dapatkan di playgroup, ada juga beberapa <span style="font-weight:bold;">alasan orangtua yang tidak ingin anaknya masuk ke playgroup</span>, diantaranya :
	&amp;bull; Anak berusia 3 tahun atau kurang masih perlu memusatkan kegiatannya di rumah, dengan orangtua dan keluarga lainnya.
	&amp;bull; Anak dibawah usia 4 tahun belum bisa membedakan baik dan buruk perilaku orang lain.
	Anggapan seperti ini membuat orangtua takut membaurkan anaknya terlalu dalam dengan orang-orang yang baru dikenalnya, karena takut terpengaruh hal-hal buruk. Misalnya perkataan yang kotor dan sebagainya.
	
	Jadi, <span style="font-weight:bold;">pentingkah playgroup bagi balita </span>?
	Semua kembali pada keputusan orangtua, yang tentunya juga terantung pada situasi dan kondisi keluarga. Menurut saya, jika di rumah anak memiliki teman atau saudara yang lumayan banyak, mainan yang edukatif dan tidak membosankan, pembimbing yang professional, maka memang lebih baik baik anak dibawah usia 4 tahun di rumah saja. Karena akan lebih mudah mengontrol semua gerak-gerik anak, dan mendidik sesuai keinginan orangtua. Tapi jika semua fasilitas itu kurang memadai, apalagi jika orangtua sibuk dan anak hanya dengan baby sitter, maka jauh lebih baik jika anak dimasukan ke lembaga pendidikan dengan penanganan yang lebih profesional.
	
	
	<span style="font-weight:bold;">Seperti apa playgroup yang bagus itu ?</span>
	Beberapa kriteria ini saya tetapkan ketika saya keliling-keliling mencari playgroup untuk anak saya :
	&amp;bull; Memiliki metode yang tepat dalam menghadapi berbagai karakter anak-anak. Misalnya bagaimana menghadapi anak yang aktif, galak, cengeng, suka nyubit, dsb.
	&amp;bull; Tempat yang bersih, dan memiliki fasilitas bermain yang cukup dan edukatif.
	&amp;bull; Guru yang ramah dan mengerti psikologis seorang anak.
	&amp;bull; Fleksibel, tidak memaksakan kehendak anak.
	&amp;bull; Kalau perlu playgroup ini ada bimbingan langsung dari seorang psikolog, agar kita bisa konsultasi dan lebih mengenal karakter anak kita.
	
	Sekali lagi, perlukah balita masuk ke playgroup&amp;hellip;it&amp;rsquo;s up to you Mom and Dad&amp;hellip;But&amp;hellip;playgroup is not about our prestise..so, sesuaikan aja dengan ukuran kantong kita. Banyak kok playgroup bagus tapi ga pake mahal&amp;hellip;.
	
	Cat :
	<span style="font-style:italic;">Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saya pribagi, apabila banyak kesalahan atau kekurangan, saya sangat mengharapkan koreksi teman-teman semua. Terima kasih.
	sumber: seputarbalita.blogspot.com</span></span></span></p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 10 May 2011 05:03:34 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/pentingkah-balita-masuk-playgroup/</guid>
</item>
<item>
<title>Memilih TK Terbaik untuk Si Kecil</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/memilih-tk-terbaik-untuk-si-kecil/</link>
<description><![CDATA[ Musim tahun ajaran baru hampir tiba. Bagi Anda yang memiliki balita, mungkin kini sedang bersiap-siap mencarikan sekolah dan memperkenalkan pendidikan formal untuknya. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk putera-puterinya, terutama dalam hal pendidikan. Memasukkannya ke play group atau TK dengan mutu pendidikan yang terbaik adalah harapan semua orangtua.

Selain faktor akademik, ada faktor lain yang juga perlu diperhatikan orang tua dalam memilih play group atau TK yang tepat untuk anak.

Berikut adalah diantaranya :

    Rasio guru dan siswa harus seimbang. Biasanya, sekolah yang baik memiliki asisten guru dan maksimal meng-handle empat anak.

    Komunikasi. sekolah yang baik selalu berkomunikasi dengan orang tua setiap hari dengan mengirimkan catatan yang dibawa pulang anak, menanggapi panggilan telepon dan e-mail dalam waktu 24 jam, dan mengadakan pertemuan antara orangtua - guru dua kali dalam setahun. Ruang kelas harus terbuka untuk pengamatan orangtua, meskipun ini harus dijadwalkan terlebih dahulu.

    Memberi penekanan pada keterampilan non-akademik secara seimbang. Siswa harus didorong untuk mengembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama kelompok, kepemimpinan, kompromi, negosiasi dan menyelesaikan konflik. 

    Setiap gaya belajar anak harus dibentuk dan dihormati sehingga ia dapat diajarkan sesuai dengan gayanya itu. 

    Guru juga harus membimbing anak-anak untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri daripada menjejalkan segala informasi dan keterampilan baru ke dalam otak mereka dan berharap mereka dapat mempelajari segala sesuatu pada tingkat yang sama. 

    Kurikulum harus cukup fleksibel untuk beradaptasi dengan mengembangkan kompetensi siswa yang tak terduga. 

	 

    Kurikulum harus diarahkan untuk perkembangan anak secara keseluruhan. Anak-anak juga harus belajar mengenai hal-hal lainnya seperti pengembangan karakter, kesehatan fisik dan kebugaran, kebutuhan gizi, dan sebagainya. 

    Terlepas dari materi pelajaran, keterampilan berpikir secara kritis perlu ditekankan di dalam pelajaran menghapal.  Dengan demikian si kecil dapat memahami apa yang dipelajarinya, lebih dari sekedar hanya menghapal.

    Sekolah harus mendorong keikutsertaan dan partisipasi orang tua. 

    Fasilitas dan alat-alat permainan yang digunakan di TK harus aman, menginspirasi imajinasi dan membangun kreativitas. 

    Sekolah yang baik memungkinkan anak-anak untuk menilai dan mengevaluasi diri mereka sendiri dengan membiarkan mereka untuk menentukan kinerja mereka pada berbagai kegiatan atau tugas, mencari tau apa yang perlu diperbaiki, dan mencerminkan pribadinya yang terbaik. 

Yang tak kalah penting, sebelum mendaftarkan anak Anda, ada baiknya Anda mengecek sekolah dengan mengunjungi dan mengelilingi ruang kelas. Perhatikan apakah para siswa tampak senang dan bersemangat mengikuti kelas. Lihat juga apakah cara guru mengajar terkesan menghasut antusiasme dan mempengaruhi minat para siswa atau tidak. ]]></description>
<pubDate>Thu, 05 May 2011 11:58:14 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/memilih-tk-terbaik-untuk-si-kecil/</guid>
</item>
<item>
<title>Dampak Positif &amp; Negatif Homeschooling</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/dampak-positif-negatif-homeschooling/</link>
<description><![CDATA[ Saat ini homeschooling menjadi lebih populer. Banyak anak-anak yang kini lebih memilih untuk belajar di rumah dengan berbagai alasan. Meskipun demikian, hingga saat ini homeschooling masih menjadi pro dan kontra. Tidak semua orang tua setuju anak-anaknya belajar di rumah. Mereka masih ragu dengan metode belajar homeschooling bagi prestasi maupun perkembangan sang anak.

Agar Anda tidak lagi ragu dengan metode pendidikan ini,  berikut beberapa dampak positif dan negatif yang perlu Anda ketahui :

Dampak positif :
 
    Kebebasan belajar. Anak-anak yang melakukan  homeschooling mempunyai pilihan untuk belajar. Mereka bebas menentukan apa yang ingin mereka pelajari dan kapan mereka ingin belajar. Mereka juga tidak selalu berkutat pada tugas sekolah yang terkadang memberatkan.

    Terlepas dari beban fisik. Berdasarkan pengalaman para orang tua yang anak-anaknya menjalani homeschooling, mereka mengaku memiliki banyak waktu luang setelah anak mereka meninggalkan sistem sekolah umum. Ritme kehidupan mereka tidak lagi berputar pada jam sekolah anak, tugas sekolah ataupun pertemuan di sekolah yang wajib mereka hadiri. 

    Kebebasan emosional. Tekanan, kompetisi dan kebosanan merupakan bagian yang paling khas dari sekolah. Pergaulan bebas, tawuran, rokok dan obat-obat terlarang juga merupakan hal yang ditakuti orangtua yang tak bisa mengawasi putra-putrinya sepanjang waktu. Dengan homeschooling, pengaruh negatif ini dapat dihindari. Mereka juga bisa  berpenampilan, bertindak ataupun berpikir sesuai dengan kata hatinya, tanpa perlu takut. 


    Hubungan Keluarga semakin dekat. Homeschooling berperan penting dalam meningkatkan hubungan antar semua anggota keluarga. Ini sangat menguntungkan bagi orang tua yang memiliki anak berusia belia. Umumnya, di usia yang masih belia, mereka cenderung bersikap suka menentang dan berperilaku destruktif. Namun dampak ini berkurang setelah mereka mengikuti homeschooling. 


    Istirahat cukup. Tidur sangat penting bagi kesehatan emosional dan fisik anak, terutama anak berusia belasan tahun. Rutinitas bangun pagi pada sekolah umum, terkadang membuat mereka merasa letih terutama yang tidak terbiasa bangun pagi.  Namun dengan homeschooling, mereka bisa mengatur jadwal tidurnya dengan baik. 

Dampak negatif :
 

    Bagi orang tua tunggal yang anaknya menjalani homeschooling, mungkin agak sulit untuk mengatur waktu. Karena kesibukan di kantor, seringkali Anda tak punya waktu untuk melibatkan dan berinteraksi dengan si kecil  saat belajar. Padahal salah satu keberhasilan metode ini adalah dukungan dari orangtua. 

    Bersama Anak selama 24 / 7. Tidak perlu disangkal jika Anda memilih homeschooling unutk anak-anak berarti Anda harus siap menghabiskan waktu dengan mereka lebih banyak. Kalau Anda tidak menikmati kebersamaan dengan mereka, maka homeschooling bukanlah pilihan yang tepat. 

    Biaya pendidikan yang mahal. Bagi orangtua yang baru saja membina karier, finansial adalah salah satu masalah yang dihadapi. Dapat dipastikan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan home schooling lebih besar dibanding dengan pendidikan formil disekolah umum.

    Tidak ada kompetisi atau persaingan.  Anak tidak bisa membandingkan sampai dimana kemampuannya dibanding anak-anak lain seusia dia. Selain itu anak belum tentu merasa cocok jika diajar oleh orang tua sendiri, apalagi jika memang mereka tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya.  

    Lingkup interaksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial terbatas. Padahal hal inilah yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat. 

sumber: connectique.com ]]></description>
<pubDate>Thu, 05 May 2011 11:34:43 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/dampak-positif-negatif-homeschooling/</guid>
</item>
<item>
<title>15 Aktivitas Melatih Balita Siap Sekolah</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/15-aktivitas-melatih-balita-siap-sekolah/</link>
<description><![CDATA[ Umur boleh sama, namun anak yang terlatih lebih siap bersekolah. Tiga tanda balita siap sekolah adalah siap bermain dengan teman, bisa berpisah dari orang tua, dan bisa menolong diri sendiri. Berikut 15 aktivitas yang melancarkan langkah balita masuk sekolah.

1. Playdate

    Undang 2 anak sebaya perempuan dan laki-laki untuk bermain bersama balita Anda.
    Dorong balita untuk saling berinteraksi tanpa Anda ikut campur mengatur apa yang mereka mainkan, tapi tetap awasi.
    Adakan acara ini secara rutin.
    Beritahu balita sebelumnya bahwa teman-temannya akan bermain dengan mainan miliknya. Ini membantunya untuk mau berbagi dan bersikap baik.
    Manfaat: Balita belajar bersosialisasi, berbagi dan membangun sikap yang baik terhadap orang lain.

2. Membereskan Mainan

    Sediakan wadah, kotak atau lemari khusus untuk menyimpan mainan.
    Ajak balita untuk mengembalikan mainannya ke wadah tersebut.
    Beri pujian bila dia mengembalikan mainan ke tempatnya seperti yang Anda perintahkan.
    Beri contoh dengan selalu mengembalikan barang ke tempatnya, misalnya setelah selasesai membaca buku langsung Anda kembalikan ke rak buku.

Manfaat: Balita belajar kemandirian, ketertiban dan tanggung jawab sehingga memberi nilai lebih di sekolah.
3. Membuat jadwal

    Buat jadwal kegiatan sehari-hari balita dan pasang di tempat yang selalu dilihat balita.
    Sisipkan kegiatan mainan sekolah-sekolahan dalam jadwal balita. Sesuaikan waktu bermain dengan jam dia bersekolah nanti.
    Jangan lupa jadwalkan tidur. Balita perlu cukup tidur agar bisa bangun dengan segar serta siap melakukan berbagai kegiatan.

Manfaat: Balita belajar rutinitas dan disiplin sehingga terbiasa mengikuti jadwal kegiatan dari guru.

4. Memberi Nama Benda

    Meski anak belum bisa membaca, templestiker namanya pada barang-barang miliknya, seperti kaos atau topi.
    Belikan di abenda yang bertuliskan namanya, seperti kaos atau topi.
    Beritahu balita benda dengan lebel bentuk huruf seperti ini adalah miliknya.

Manfaat: Balita belajar identitas diri dan mengenal huruf.

5. Bacakan Buku Cerita

    Buat kebiasaan membacakan buku cerita pad awaktu yang sama setiap hari atau pada hari-hari tertentu dalam seminggu.
    Pilih waktu santai Anda dan balita.

Manfaat: Balita belajar memusatkan perhatian dan menyimak.
6. Mencoret-coret

    Sediakan krayon dan kertas, ajak balita mencoret di atas kertas.
    Biasakan balita mencoret-coret kertas sambil duduk di kursi.

Manfaat: ketrampilan motorik halus, kreatifitas dan imajinasi.
7. Memilih Baju

    Untuk baju sehari-hari di rumah, ijinkan memilih sendiri baju mana yang akan dikenakan. Beri rambu, baju untuk dipakai di rumah ada di laci warna kuning, misalny.
    Untu bepergian atau ke seklah, sediakan 2-3 pilihan pakaian dan biarkan balita memutuskan apa yang dia inginkan.
    Jangan mencela baju pilihannya.

Manfaat: balita belajar sadar diri, mandiri dalam mengambil keputusan.

8. Mengatur barang-barang

    Siapkan satu tas dan barang-barang yang akan dibawa ke sekolah, seperti tempat makan, sapu tangan, baju ganti dan lain-lain.
    Minta anak memasukkan barang-barang dalam tasnya, kemudian minta ia mengeluarkannya lagi sambil dicek apakah ada barang yang tertinggal.

Manfaat: balita belajar rutinitas, mandiri, tanggung jawab, teliti, dan melatih daya ingat barang apa saja yang dibawa pergi dan kembali.
9. Membuang Sampah

    Sediakan beberapa tempat sampah untuk memudahkan balita membuang sampah. Misalnya di dapur, ruang keluarga dan di tempat anak biasa bermain.
    Jadilan contoh yang baik dengan selalu membuang sampah pada tempatnya.

Manfaat: Balita belajar kebersihan dan melatihnya mengikuti intruksi berbagai aktivitas di sekolah.
10. Pergi Agak Lama

    Ajak balita mengunjungi tempat baru yang belum pernah dia kunjungi. Ajak dia mengamati orang-orang yang berada di tempat itu.
    Bila ada prasekolah yang menawarkan program uji coba, sertakan balita agar Anda tahu apakah balita merasa senang berad di sana.

Manfaat: balita belajar beradaptasi dengan lingkungan baru.
11. Memakai Sepatu

    Pilih sepatu yang mudah dikenakan dan dilepas.
    Biasakan selalu mengenakan sepatu setiap pergi ddari rumah, minta anak mengenakan sendiri sepatunya, melepaskannya dan meletakannya di rak sepatu setelah dipakai.

Manfaat: belajar mandiri dan percaya diri.

12. Ke Toilet Sendiri

    Biasakan balita buang air di kamar mandi.
    Ajarkan balita mengatakan keinginannya buang air. Awalnya tanyakan apakah di aingin buang air atau tidak.
    Jangan memarahi balita bila terlambat memberitahu Anda.

Manfaat: belajar kemandirian, kepercayaan diri, kebersihan, dan kesehatan. Selain itu lulus toilet training biasanya jadi salah satu syarat yang diajukan pihak prasekolah.
13. Bernyanyi

    Ajarkan balita berbagai jenis lagu anak-anak.
    Latih balita untuk menyanyikan lagu hingga selesai.

Manfaat: fokus melakukan satu kegiatan dan menambah perbendaharaan kata serta meningkatkan kemampuan bahasanya.
14. Makan Sendiri

    Ajarai balita menggunakans endok makan dengan benar dna mengunyah makanan secar aperlahan.
    Gunakan kat apanduan yang posistif, seperti, “Hebat makanannya sudah habis.”

Manfaat: Bisa menolong diri sendiri saat anak berada di sekolah.

15. Antre ke kamar mandi

    Ajak balita menunggu giliran ke kamar mandi.
    Beritahu balita tidka boleh memukul-mukul pintu atau berteriak kesal karena lama antri,
    Puji balita yang sudh bis abersabar mengantre.

Manfaat: di sekolah, balita akan menghadapi kenyataan, semua fasilitas yang tersedia harus digunakan bersama-sama. ]]></description>
<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 16:09:35 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/15-aktivitas-melatih-balita-siap-sekolah/</guid>
</item>
<item>
<title>Trik Memilih Sekolah Anak</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/trik-memilih-sekolah-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Sudah ancang-ancang memasukkan si kecil ke sekolah tahun ini? Atau mungkin Anda malah sudah punya sekolah pilihan untuknya? Mengingat begitu banyaknya penawaran, inilah beberapa hal yang mungkin dapat membantu Anda mengambil keputusan:</p>
<p>
	<span style="font-weight: bold;">Masa kanak-kanak adalah masa bermain.</span> Jadi, jangan terlalu dini memaksakan pendidikan yang &amp;lsquo;serius&amp;rsquo; bagi anak.agar masa bermainnya tidak terenggut. Apalagi kalau Anda masih membebani anak dengan sederet les tambahan, mulai dari membaca, berhitung, piano, balet, dll. Pendidikan untuk anak-anak di bawah usia enam tahun tak harus selalu berupa pendidikan formal. Playgroup atau taman bermain, prasekolah maupun TK seharusnya hanya menjadi fasilitator dalam menstimulasi perkembangan anak, baik fisik (motorik kasar maupun halus), mental (kognitif), emosi, sosial, dan kemampuan berbahasanya.</p>
<p>
	<span style="font-weight: bold;">Pilih sekolah yang guru-gurunya memiliki &amp;lsquo;unconditional love&amp;rsquo;.</span> Artinya, guru-guru di sekolah itu bisa menerima setiap anak apa adanya, dan bisa mengembangkan lingkungan yang disiplinnya positif. Sekolah tidak menuntut anak di luar kemampuannya, berusaha mengerti anak, dan mendorong anak untuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Bukan dengan marah-marah atau memaksa anak untuk menyelesaikan lembar tugasnya.&amp;nbsp;
	&amp;nbsp;
	<span style="font-weight: bold;">Sekolah yang menggunakan konsep belajar melalui pengalaman (experiential learning), memberikan stimulasi pada anak melalui pengalaman bermain dan eksplorasi langsung</span> terhadap dunia di sekitarnya. Sekolah-sekolah ini biasanya mengajak murid-muridnya langsung &amp;lsquo;terjun&amp;rsquo; ke alam untuk mempelajari apa yang hendak dipelajari; seperti belajar tentang sapi dengan melihat langsung seekor sapi, atau kalau belajar menggambar, itu dilakukan di halaman atau di alam terbuka. Biasanya konsep seperti ini bisa ditemukan di sekolah-sekolah alam.</p>
<p>
	<span style="font-weight: bold;">Ada pula sekolah yang mengedepankan konsep belajar aktif</span> <span style="font-weight: bold;">(active learning), dengan melatih anak untuk selalu kreatif dengan menciptakan berbagai kreasi </span>dari benda-benda di sekitarnya. Contoh, kardus bekas tisu gulung, karton susu, kaleng bekas minuman. Namun yang jelas, sekolah yang baik tidak harus selalu yang gedungnya mentereng, atau alat-alatnya serba lengkap. Sekolah yang baik adalah yang bisa mendorong kemandirian anak, dan mengembangkan kemampuan sosial maupun kematangan emosinya</p>
<p>
	<span style="font-weight: bold;">Bagaimana dengan soal bahasa?</span> Benarkah sekolah bilingual lebih baik? Ternyata sampai sekarang para ahli masih memperdebatkan efektivitas mengajarkan dua bahasa (Inggris dan Indonesia) pada masa <span style="font-style: italic;">golden age</span> anak (sampai usia 5 tahun). Bila anak tepat waktu dalam perkembangan bahasanya (<span style="font-style: italic;">cooing</span> muncul di usia sekitar 2-3 bulan, <span style="font-style: italic;">babbling</span> di usia sekitar 6-8 bulan, kata pertama di usia sekitar 1 tahun), kemungkinan besar ia tidak akan mengalami telat bicara. Dan bagi anak-anak ini, bersekolah di sekolah bilingual tidak akan jadi masalah. Sebaliknya, bila tahapan-tahapan itu tidak muncul di usia yang tepat, bahasa asing yang harus dia serap selain bahasa ibu, bisa-bisa malah membuat ia jadi telat bicara.</p>
<p>
	<span style="font-weight: bold;">Satu lagi pertimbangan yang tak kalah penting adalah faktor biaya</span>. Banyak orangtua rela membayar mahal agar anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Tapi, tak ada salahnya tetap memperhitungkan apakah biaya yang Anda keluarkan akan sesuai dengan apa yang didapat si kecil bila bersekolah di situ. Uang sekolah yang tinggi, misalnya, tentu rasanya tak sepadan bila fasilitas pendidikan di sekolah tersebut ternyata kurang memadai. Tapi, semahal apa pun, jangan lupa untuk mempertimbangkan bahwa sekolah mahal dan fasilitas yang aduhai pun bukanlah segalanya.</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 17:31:11 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/trik-memilih-sekolah-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Haruskah Balita Masuk Prasekolah?</title>
<link>http://bundazone.com/sekolah/haruskah-balita-masuk-prasekolah/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	<span style="font-weight: bold;">Apakah balita harus masuk pre-school atau pra sekolah atau play group? Tidak Harus! </span>Menurut <span style="font-weight: bold;">Anna Surti Ariani, S.Psi</span>, pakar perkembangan dan pendidikan anak, masuk playgroup itu tidak harus. Selama ada yang bisa menjaga anak dengan aman di rumah dan mampu menstimulasi dengan baik, balita tidak harus masuk playgroup. Dan sepanjang orangtua atau pengasuh mampu menerapkan berbagai <span style="font-style: italic;">parenting style</span> yang tepat, anak tak harus masuk sekolah sebelum usia 4 tahun. &amp;ldquo;Dengan pola pengasuhan yang baik di rumah, balita justru bisa bermain dengan lebih bebas dan tenang. Tentunya juga perlu tambahan pengalaman bermain di luar rumah dengan para tetangga,&amp;rdquo; terang Nina.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-weight: bold;">Soal indikator</span>, menurut Nina berbeda untuk tiap usia. Rata-rata anak dikatakan cukup siap sekolah jika dia sudah lebih bisa mandiri dan tak terlalu menempel kepada orangtua. &amp;ldquo;Dia juga sebaiknya sudah bisa mengontrol buang airnya sehingga tak terus-terusan ngompol atau buang air besar,&amp;rdquo; jelas Nina. Menurut Nina, anak di bawah 4 tahun boleh masuk sekolah jika syarat-syarat ini terpenuhi:</p>
<ul>
	<li style="text-align: justify;">
		Tidak ada yang bisa memastikan keamanan anak di rumah. Misalnya, karena yang menjaganya di rumah adalah pengasuh yang belum sepenuhnya kita percaya.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Tidak ada yang mengerti cara menstimulasi anak sesuai usianya. Misalnya, karena anak pertama, ibu atau pengasuh hanya membiarkannya saja untuk menonton TV karena tak tahu apa yang harus dilakukan atau karena malas.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Tidak punya waktu untuk menstimulasi, misalnya ibu bekerja.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Tak ada yang paham tentang pengasuhan yang tepat untuk anak, sehingga anak terus saja dimarahi.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Tak ada yang mengerti apakah anak normal atau ada gangguan dalam perkembangannya.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Anak memang betul-betul terlihat punya minat pergi ke sekolah, tapi yang terakhir ini tak boleh dipaksa, karena walaupun berminat, mungkin saja sesekali dia malas sekolah.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-weight: bold;">Jangan memaksa!</span> Orang tua jangan terlalu bergantung pada sekolah. Sekarang ini ada beberapa sekolah yang menerima anak kurang dari 6 bulan. Sebenarnya, anak akan lebih baik berkembang di rumah dalam masa balitanya. Jangan memaksakan anak untuk sekolah terlalu dini. Menurut banyak penelitian, anak yang terlalu muda bersekolah, mungkin saja bisa mengikuti pelajaran tapi seringkali memiliki masalah dalam perkembangan emosi dan sosialnya kelak. Jika di rumah, memang tidak ada yang bisa mengasuh secara aman dan menstimulasi anak dengan tepat, boleh-boleh saja anak bersekolah. Pilih sekolah yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan balita.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<span style="font-weight: bold;">Memilih Prasekolah.</span> Menurut Nina, sekolah terbaik itu tak ada. Yang ada adalah sekolah yang paling tepat untuk balita kita. Contohnya, sekolah harus tidak terlalu jauh dari rumah, paling jauh adalah 30 menit perjalanan (Menghitungnya bukan dari jarak tempuh namun waktu tempuh, mengingat sekarang jalanan begitu macet). Jika anak aktif, ada baiknya bersekolah di sekolah yang memiliki halaman luas dengan kurikulum yang memungkinkan balita punya berbagai kegiatan aktif. Sementara untuk anak yang cenderung pemalu, lebih baik pilih yang jumlah anak di kelasnya sedikit saja atau guru berhasil mengenalkan anak kepada beberapa teman yang minatnya sama (tentu saja baik sekali kalau guru mengenal anak secara pribadi).&amp;rdquo;</p>
<p style="text-align: justify;">
	Bagi orangtua yang merasa perlu memasukkan balitanya ke prasekolah, penting untuk mengecek apakah anaknya berkembang sesuai dengan usianya atau ada keterlambatan yang harus segera dikejar,&amp;rdquo; terang Nina. Karena, tujuan sekolah di usia dini bukanlah untuk mempersiapkan diri masuk SD, tapi lebih berupa stimulasi yang tepat untuk usianya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Faktor lain yang perlu diperhatikan untuk prasekolah terutama adalah bagaimana si guru memperhatikan dan mengasuh anak, karena guru sebetulnya adalah pengganti orangtua di sekolah. Selain itu, prasekolah sebaiknya mengutamakan anak senang sekolah, bukannya menuntut anak menguasai kurikulum tertentu. Fasilitas yang lain hanyalah tambahan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Sumber: <a href="http://www.ayahbunda.co.id/" target="_blank">Ayah Bunda</a></p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 05:25:58 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/sekolah/haruskah-balita-masuk-prasekolah/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
