<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories posted in terapi</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Wed, 23 May 2012 04:49:23 +0700</pubDate>
<item>
<title>Teknik &amp; Saat Tepat Memberi Terapi Musik</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/teknik-saat-tepat-memberi-terapi-musik/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Ibu hamil yang membutuhkan relaksasi, bisa mendengar musik kapan saja dan mana saja. Rangsangan berupa suara yang Menenangkan itu juga akan dinikmati janin. Namun, seperti yang dikatakan Dra. Hj. Iesye Widodo, Psi., ahli terapi musik dari klinik Tiara Putera, untuk hasil optimal, terapi musik bagi janin harus dilakukan secara terprogram atau tidak sembarangan.</p>
<p>
	EFEKTIF SAMPAI USIA 3 TAHUN</p>
<p>
	Seperti sudah kita ketahui, otak janin sudah bekerja di usia kehamilan 16 minggu. Setelah melalui proses pembentukan, kesempurnaannya terjadi di usia kandungan 18-20 minggu. &amp;ldquo;Di usia inilah,&amp;rdquo; menurut Iesye, &amp;ldquo;terapi musik paling baik mulai dilakukan, karena perlengkapan pendengaran janin sudah semakin sempurna.&amp;rdquo; Namun, sejak di trimester pertama pun ibu sudah boleh melakukannya, meski janin belum dapat bereaksi. Terapi ini lebih ditujukan kepada ibu untuk mengurangi kadar stres saat menjalani masa mual-muntah.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Untuk anak, terapi musik paling efektif diterapkan sejak di dalam kandungan hingga usianya 3 tahun. Mengapa demikian? Karena selama periode itu, otak anak mengalami pertumbuhan dan kemudian perkembangan yang amat pesat. Namun, bukan berarti di usia selanjutnya terapi musik tidak akan membawa manfaat, hanya saja potensi rangsangannya semakin berkurang dari tahun ke tahun. Jadi, sampai usia berapa pun musik tetap bermanfaat. Namun, jika tujuannya untuk merangsang kecerdasan sebaiknya jangan sampai lewat dari usia 8 tahun.</p>
<p>
	MENGATUR JADWAL</p>
<p>
	Iesye menekankan, ibu bisa menentukan sendiri waktu terapi yang tepat, boleh pagi, siang, sore atau malam. Yang penting, ketika sudah memilih waktunya, maka ibu harus konsisten dengan waktu tersebut. &amp;ldquo;Kalau sudah menetapkan di pagi hari, maka selanjutnya harus di pagi hari, jangan diubah.&amp;rdquo; Pilihlah waktu sesuai kesempatan yang dimiliki. Bagi ibu yang bekerja misalnya, mungkin pagi hari bukanlah waktu yang tepat. Jadi, lakukan di malam hari atau di sela-sela waktu kerjanya. &amp;ldquo;Yang penting berkesinambungan dan konsisten. Bila tidak, maka hasilnya akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Selain waktu ibu, waktu janin juga perlu dipertimbangkan. Bagaimanapun, menurut Iesye, akan lebih baik bila terapi dilakukan ketika janin sedang tidak tidur. Pada saat terjaga, janin bisa menyimak rangsangan suara secara aktif. Dengan begitu, daya ingatnya juga ikut terangsang dan bertambah kuat.</p>
<p>
	Menurut penelitian, janin akan terjaga saat ibu selesai makan, terutama makan siang. Nah, waktu-waktu ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan terapi. Namun, tidak dijamin juga bahwa setelah ibu makan siang, janin pasti terjaga. Bisa saja, ia terjaga di pagi, sore, atau bahkan ketika ibu sedang tidur. Jadi, tak mesti juga ibu memaksakan diri melakukan terapi musik bagi janin segera setelah waktu makannya.</p>
<p>
	Ketika bayi sudah lahir, dengan melihat kondisinya sehari-hari, ibu bisa lebih mudah menentukan kapan waktu yang tepat. Bila anak biasa terjaga dan tenang di pagi hari, pilihlah waktu tersebut, tentu dengan mempertimbangkan waktu ibu juga. Siang, sore, atau malam hari pun tidak mengapa selama waktu tersebut merupakan waktu terjaganya.</p>
<p>
	PILIHAN LAGU DAN MUSIK</p>
<p>
	Untuk terapi, sebaiknya ibu tidak hanya memperdengarkan gubahan musik klasik. Selingi dengan lagu anak-anak agar ibu bisa sekalian mengajak bayi berkomunikasi. &amp;ldquo;Banyak jenis musik lain terbukti dapat merangsang kecerdasan. Misalnya, musik instrumen rebana, lagu anak-anak, dangdut, dan lagu-lagu rohani,&amp;rdquo; ungkap Iesye.</p>
<p>
	Pada anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme, terapi musik ini harus dipandu oleh tenaga ahli yang mengerti kondisinya. Mulai jenis musik dan frekuensinya harus disusun berdasarkan kondisi kasus per kasus.</p>
<p>
	Pada anak yang terlalu aktif misalnya, terapi musik yang diberikan pada intinya harus bisa memuaskan emosi yang sering berlebihan. Bisa dengan musik klasik jenis tertentu atau diberikan alat musik pukul seperti rebana. Lewat aktivitas memukul ini, diharapkan emosinya dapat diluapkan secara positif. &amp;ldquo;Pokoknya, mereka diarahkan untuk melakukan aktivitas yang menimbulkan bunyi, irama, atau sesuatu yang menyenangkan, sehingga naluri agresif dan destruktifnya bisa tersalurkan,&amp;rdquo; ujar Iesye.</p>
<p>
	Sebaliknya, bila anak terlalu pasif, jenis musik yang diberikan harus dapat merangsangnya agar menjadi aktif. Biasanya, dipilih musik yang bernuansa ramai. &amp;ldquo;Pemberian alat musik seperti rebana pun bisa merangsang aktivitas anak,&amp;rdquo; tambahnya.</p>
<p>
	CARA MELAKUKAN</p>
<p>
	Iesye menganjurkan, ketika ingin memulai terapi, sebaiknya ibu berkonsultasi dulu dengan terapis profesional untuk mendapatkan pengarahan, seperti apa manfaatnya, kapan harus dilaksanakan, dan bagaimana caranya secara terperinci. Tentu saja agar terapinya berjalan efektif dan optimal. &amp;ldquo;Selanjutnya, ibu bisa mempraktekkannya di rumah sambil membaca berbagai referensi yang memang sangat penting diketahui.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Berikut, Iesye mengenalkan tiga tahapan pendahuluan dari terapi musik yang bisa dijadikan pedoman saat ibu melakukannya di rumah.</p>
<p>
	1. Relaksasi Fisik.</p>
<p>
	Untuk mencapai relaks secara fisik, ibu dapat menggunakan teknik progresif relaksi. Pada tahap ini ibu yang sedang hamil harus mengendorkan dan mengencangkan otot-otot tubuh secara berurutan sambil mengatur napas. Relaksasi ini sangat dibutuhkan agar musik bisa dicerna dengan baik dan dapat tersalurkan ke seluruh anggota tubuh.</p>
<p>
	Pilihlah posisi yang paling nyaman, bisa sambil tiduran ataupun duduk. Bila ibu lebih bisa berkonsentrasi pada musik dengan posisi duduk, ambillah posisi ini. Demikian pula dengan posisi tiduran.</p>
<p>
	2. Relaksasi Mental</p>
<p>
	Setelah relaksasi fisik maka saatnya untuk masuk ke tahapan relaksasi mental. Di tempat terapi, selama tahapan ini awalnya ibu hamil dipandu instruktur terapis dengan kata-kata yang bersifat sugesti. Tujuannya untuk membawa ibu ke suasana di mana mereka bisa melupakan ketegangan dan kecemasan yang dirasakan selama kehamilan. Agar sampai ke tujuan, ibu dianjurkan untuk berkonsentrasi. Musik yang mengiringinya tentu saja yang bisa membangkitkan perasaan relaks. Selanjutnya, dengan mengikuti instruksi yang sudah pernah didapat, ibu dapat melakukannya sendiri di rumah.</p>
<p>
	3. Stimulasi atau Rangsangan Musik pada Janin</p>
<p>
	Untuk memperoleh manfaat maksimal dari terapi ini, ibu dianjurkan untuk mendengarkan musik dengan konsentrasi dan kesadaran penuh. Alunan suaranya mesti bisa merasuki pikiran ibu tanpa ada gangguan berupa ketidakstabilan emosi, suara berisik, dan kurang konsentrasi.</p>
<p>
	Saat mendengarkan musik, ambil posisi sekitar setengah meter dari tape atau dapat menggunakan walkman. Usahakan volume suaranya jangan terlalu keras ataupun lemah, tetapi sedang-sedang saja. Intinya, volume tersebut dapat menyamankan dan membuat ibu bisa berkonsentrasi penuh. Sesekali, boleh menempelkan earphone ke perut ibu agar janin bisa mendengar lebih jelas. Ketiga cara ini, sama baiknya.</p>
<p>
	Dianjurkan pula untuk tidak mendengarkan musiknya saja, kalau bisa ibu ikut berdendang mengikuti melodi atau liriknya. Untuk itu, bisa pilih lagu Twinkle-twinkle Little Star atau lagu-lagu ciptaan Ibu Sud, Pak Kasur, dan A.T Mahmud. Selain syair-syairnya cocok buat anak, lagu-lagu itu juga tidak lekang digusur zaman.</p>
<p>
	Waktu yang diperlukan untuk terapi sekitar 30 menit setiap hari. Asalkan ibu bisa berkonsentrasi dengan baik, dalam sehari boleh satu, dua, atau tiga lagu yang didengarkan. Bila banyaknya jenis lagu malah membuyarkan konsentrasi, sebaiknya pilih satu jenis saja dalam sehari.</p>
<p>
	sumber : milis bayi kita</p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 00:27:01 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/teknik-saat-tepat-memberi-terapi-musik/</guid>
</item>
<item>
<title>Bahasa Isyarat Bayi Dengan Gangguan Pendengaran</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/bahasa-isyarat-bayi-dengan-gangguan-pendengaran/</link>
<description><![CDATA[ Memiliki anak adalah impian semua orang tua. Sembilan bulan lamanya Anda menunggu kelahiran si kecil. Bayi yang lahir akan terlihat normal, namun jika Anda melihat kejanggalan pada bayi yang tidak bangun atau kaget saat mendengar suara yang keras saat tidur. Anda perlu mewaspadai ini, Anda bisa memeriksakan bayi Anda pada dokter anak.

Sekitar sepuluh persen bayi tuli didiagnosis pada tahun pertamanya, sementara 44% lainnya diadiagnosis tidak akurat dan tuli hingga umur tiga tahun. Beberapa hal yang dapat menyebabkan tuli pada bayi yaitu infeksi virus yang menyerang ibu saat hamil, penyakit atau cedera yang dialami ibu selama hamil atau melahirkan, obat-obat yang digunakan, lahir dengan berat badan rendah dan infeksi telinga. Teknologi saat ini memungkinkan untuk memeriksa pada bulan bulan awal kehidupan bayi apakah ia memiliki pendengaran normal atau tidak.

Hal ini dideteksi melalui beberapa gejala seperti: apakah bayi bereaksi terhadap perubahan di sekitarnya, terutama dalam bahasa yang diajarkan. Bila sudah terdeteksi mengalami gangguan pendengaran, dokter anak biasanya menganjurkan perawatan untuk bayi Anda. Merawat bayi dengan gangguan pendengaran bukanlah hal yang mudah. Bayi akan kurang merespon dengan apa yang ia dengar. Anda bisa menggunakan bahasa isyarat untuk mengatasi masalah ini. Bahasa isyarat bayi dapat memudahan Anda dalam berkomunikasi dengan bayi Anda.

Bahasa isyarat dapat membantu Anda untuk mengajarkan bayi Anda dalam mengungkapkan emosinya dan meningkatkan kemampuan membaca, menulis juga berhitung. Bahasa isyarat merangsang otak Anak berkomunikasi menggunakan kedua tangannya. Dengan bahasa isyarat, Anda tidak akan kesulitan dalam merawat bayi Anda. Bahasa isyarat yang diajarkan pada bayi tuli akan membantunya dalam perkembangan psikologis anak.

Bayi akan dengan mudah berkomunikasi dan mengutarakan keinginannya serta membantunya dalam bergaul dengan lingkungan sekitar. Ini akan meningkatkan kepercayaan diri anak. Dokter anak biasanya akan menganjurkan bahasa isyarat sebagai salah satu programnya bila anak Anda diketahui tuli sejak bayi. Pelatihan bahasa isyarat bayi kini banyak dijumpai dalam bentuk buku, DVD, atau ebook yang dapat didownload secara gratis. Merawat bayi dengan gangguan pendengaran pun tidak akan menjadi hal yang sulit.

sumber: bayi-lucu.com ]]></description>
<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 07:06:49 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/bahasa-isyarat-bayi-dengan-gangguan-pendengaran/</guid>
</item>
<item>
<title>Terapi Gangguan Bicara pada Anak</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/terapi-gangguan-bicara-pada-anak/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya <em>kok</em> ketinggalan jauh. Kenyataan tersebut pada akhirnya sering mengundang pertanyaan dalam diri orang tua. Untuk itulah kami akan mengulas persoalan keterlambatan bicara pada balita.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Penyebab keterlambatan bicara sangat banyak dan bervariasi. Gangguan tersebut ada yang ringan sampai yang berat. Ada yang bisa membaik setelah usia tertentu ada juga yang sulit untuk membaik, seperti kasus penyakit autis. Penyebab keterlambatan bicara bisa terjadi karena adanya gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Terdapat 3 penyebab utama keterlambatan bicara diantaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional, termasuk gangguan yang paling ringan dan saat usia tertentu akan membaik. Penyebab lain yang relatif jarang adalah kelainan organ bicara, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan bisa disebabkan karena lingkungan sepi, dua bahasa, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebut Bila keterlambatan bicara tersebut nonfungsional maka harus cepat dilakukan stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak tersebut. Deteksi dini keterlambatan bicara harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak ini. Kegiatan deteksi dini ini melibatkan orang tua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan dan dokter anak yang merawat anak tersebut. Sehingga dalam deteksi dini tersebut harus bisa mengenali apakah keterlambatan bicara anak kita merupakan sesuatu yang fungsional atau yang nonfungsional.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>PROSES FISIOLOGIS BICARA</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Terdapat 2 hal proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris meliputi pendengaran, penglihatan, dan rasa raba berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, tindakan artikulasi dan laring yang bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Di dalam otak terdapat 3 pusat yang mengatur mekanisme berbahasa, dua pusat bersifat reseptif yang mengurus penangkapan bahasa lisan dan tulisan serta satu pusat lainnya bersifat ekspresif yang mengurus pelaksanaan bahsa lisan dan tulisan. Ketiganya berada di hemisfer dominan dari otak atau sistem susunan saraf pusat.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Kedua pusat bahasa reseptif tersebut adalah area 41 dan 42 disebut area wernick, merupakan pusat persepsi auditoro-leksik yaitu mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa lisan (verbal). Area 39 broadman adalah pusat persepsi visuo-leksik yang mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang bersangkutan dengan bahasa tulis. Sedangkan area Broca adalah pusat bahasa ekspresif. Ketiga pusat tersebut berhubungan satu sama lain melalui serabut asosiasi.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Saat mendengar pembicaraan maka getaran udara yang ditimbulkan akan masuk melalui lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membrane timpani. Dari sini rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil dalam telinga tengah ke telinga bagian dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut Coclea. Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VII ke area pendengaran primer di otak diteruskan ke area wernick. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan dalam bentuk artikulasi, diteruskan ke area motorik di otak yang mengontrol gerakan bicara. Selanjutnya proses bicara dihasilkan oleh getaran vibrasi dari pita suara yang dibantu oleh aliran udara dari paru-paru, sedangkan bunyi dibentuk oleh gerakan bibir, lidah dan palatum (langit-langit). Jadi untuk proses bicara diperlukan koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris dimana organ pendengaran sangat penting.</p>

	&amp;nbsp;
<h2 style="text-align: justify;">
	Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa</h2>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Berikut ini akan disajikan informasi seputar tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<a name="satu" title="satu" id="satu"></a><strong>0 - 8 Minggu</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<a name="dua" title="dua" id="dua"></a><strong>8 - 24 Minggu</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti &amp;ldquo;eh&amp;rdquo;, &amp;ldquo;ah&amp;rdquo;, &amp;ldquo;uh&amp;rdquo;, &amp;ldquo;oh&amp;rdquo; dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti &amp;ldquo;m&amp;rdquo;, &amp;ldquo;p&amp;rdquo;, &amp;ldquo;b&amp;rdquo;, &amp;ldquo;j&amp;rdquo; dan &amp;ldquo;k&amp;rdquo;. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan &amp;ldquo;tunggal&amp;rdquo; dengan menyuarakan &amp;ldquo;gaga&amp;rdquo;, &amp;ldquo;ah goo&amp;rdquo;, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan <em>bublling.</em> Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan &amp;ldquo;ma&amp;rdquo;, &amp;ldquo;ka&amp;rdquo;, &amp;ldquo;da&amp;rdquo; dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<a name="tiga" title="tiga" id="tiga"></a><strong>28 Minggu - 1 Tahu</strong><strong>n</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan &amp;ldquo;ba&amp;rdquo;, &amp;ldquo;da&amp;rdquo;, &amp;ldquo;ka&amp;rdquo; secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata &amp;ldquo;tidak&amp;rdquo; dan mengikuti instruksi sederhana seperti &amp;ldquo;bye-bye&amp;rdquo; atau main &amp;ldquo;ciluk-baa&amp;rdquo;. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti &amp;ldquo;guk&amp;rdquo;, &amp;ldquo;kuk&amp;rdquo;, &amp;ldquo;ck&amp;rdquo;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<a name="empat" title="empat" id="empat"></a><strong>1 Tahun - 18 Bulan</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi / situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<a name="lima" title="lima" id="lima"></a><strong>18 Bulan - 2 Tahun</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti &amp;ldquo;mana ?&amp;rdquo;, &amp;ldquo;dimana?&amp;rdquo; dan memberikan jawaban singkat, seperti &amp;ldquo;tidak&amp;rdquo;, &amp;ldquo;disana&amp;rdquo;, &amp;ldquo;disitu&amp;rdquo;, &amp;ldquo;mau&amp;rdquo;. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti &amp;ldquo;punya ani&amp;rdquo;, &amp;ldquo;punyaku&amp;rdquo;. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya &amp;ldquo;balon&amp;rdquo; jadi &amp;ldquo;aon&amp;rdquo;, &amp;ldquo;roti&amp;rdquo; jadi &amp;ldquo;oti&amp;rdquo;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<a name="enam" title="enam" id="enam"></a><strong>2 Tahun - 3 Tahun</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Seorang anak mulai menguasai 200 &amp;ndash; 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung &amp;ldquo;sama&amp;rdquo;, misalnya &amp;ldquo;ani pergi ke pasar sama ibu&amp;rdquo;, untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata &amp;ldquo;aku&amp;rdquo;, &amp;ldquo;saya&amp;rdquo; &amp;ldquo;kamu&amp;rdquo; dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<a name="tujuh" title="tujuh" id="tujuh"></a><strong>3 - 4 Tahun</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan &amp;ldquo;andaikan&amp;rdquo;, &amp;ldquo;mungkin&amp;rdquo;, &amp;ldquo;misalnya&amp;rdquo;, &amp;ldquo;kalau&amp;rdquo;. Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti &amp;ldquo;kenapa dia Ma ?&amp;rdquo;, &amp;ldquo;sedang apa dia Ma?&amp;rdquo;, &amp;ldquo;mau ke mana ?&amp;rdquo;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN BICARA</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>1. Hambatan pendengaran </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>3. Masalah keturunan </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan &amp;ldquo;memasukkan&amp;rdquo; segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>5. Faktor Televisi </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>6. Keterbatasan kemampuan kognitif.</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Yaitu kemampuan merepresentasikan objek yang dilihat dalam bentuk image. Bila kemampuan kognitif terganggu, maka image tersebut tidak akan terbentuk. Kondisi ini biasanya bisa dideteksi sendiri oleh orang tua dengan melihat kemampuan motorik anak. Misalnya, anak yang mengalami gangguan bicara biasanya juga kurang mampu melakukan aktivitas lain yang sederhana sekalipun seperti memakai sepatu atau mengancingkan baju.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>7. Gangguan pervasif. </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Biasanya terjadi pada anak yang mengalami ADD <em>(attention defisit disorder)</em>.<strong> </strong>Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>GAGAP DAN RAGAM GANGGUAN BICARA </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Sekitar 4 persen anak dan 1 persen orang dewasa memiliki kelaianan bicara yang parah. Kelainan bicara pada usia remaja dapat merongrong kepercayaan diri anak. Anak dapat mogok bicara jika terus mendapat ejekan kala gagap-gugup menyerang. Semakin tidak nyaman semakin parah kondisinya. Walau demikian, kelemahan bicara tidak berhubungan langsung dengan keberhasilan hidup. Banyak pemimpin, pengusaha, kalangan professional yang memiliki gangguan bicara. Mereka tetap dapat berkomunikasi dan hidup normal.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Gagap</strong>
	Menginjak dewasa tidak semua orang telah memperoleh kemampuan bahasa dengan baik. &amp;ldquo;Mmmmmm &amp;hellip; maksudnya,&amp;rdquo; begitulah setiap kali Aries sang ketua di sebuah organisasi kala membuka argumentasi. Bagi yang mendengar, kesulitan bahasa seperti yang di alami Aries membuat gregetan. Tapi bagi Aries sendiri merasakan bagaimana frustasinya mengendalikan pita suara, lidah, bibir sehingga mulutnya dapat mengeluarkan rentetan kata, kalimat yang runut dan mulus. Kesulitan yang ia alami sering disebut gagap (stuttering). Ibarat mobil, untuk menghidupkan mesinnya ia harus menyalakan starter lebih lama. Asal bicara saja sepertinya mudah, tetapi menghasilkan vocal yang keluar dengan kecepatan, tekanan dan ejaan yang tepat kiranya tidak mudah. Ketika kita bicara, kita harus mengkoordinir banyak otot dari berbagai bagian tubuh termasuk pita suara, gigi, mulut dan system pernapasan. Normalnya semua kerja organ tersebut dapat berfungsi simultan serta otomatis. Gagap adalah masalah gangguan bicara yang mempengaruhi kefasihan bicara. Mereka yang mengalami kesulitan ini ditandai pengulangan bagian pertama dari kata yang hendak diucapkannya (seperti mmmmakan), atau menahan bunyi tunggal di tengah kata (misal begggggini). Sebagian orang yang gagap malah lebih parah, tidak ada satu suara pun yang keluar, tertahan semua di kerongkongan. Gagap atau orang Inggris menyebutnya stammering merupakan kelainan yang kompleks dan dapat berdampak pada kemampuan bicara dengan cara yang beragam.
	&amp;nbsp;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Cadel</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Gagap hanyalah salah satu jenis kelainan bicara. Sebagian orang mungkin mengalami gangguan hanya pada bunyi-bunyian tertentu seperti sulit mengucapkan huruf &amp;ldquo;l&amp;rdquo; atau &amp;ldquo;r&amp;rdquo;. Ada juga yang mengalami kekusutan (cluttering) bicara atau disebut aphasia. Aphasia adalah gangguan bicara dimana orang mengalami kesulitan memahami apa yang diucapkannya. Mereka yang menderita aphasia mengucapkan dengan cepat atau berhenti bukan pada tempatnya. Pokoknya, kalimat yang ia ucapkan membuat orang bertanya ulang &amp;ldquo;apaan?&amp;rdquo;. Aphasia adalah gangguan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak yang mengendalikan kemampuan bicara. Hal ini terjadi mungkin akibat kecelakaan, tumor atau stroke. Sebagian penderita malah tidak memiliki kemampuan bicara sama sekali. Sebagian lainnya sulit menemukan kata yang tepat ketika bicara. Kelainan lainnya disebut dislalia. Pernah menyimak balita mulai bicara. Ia akan mengucapkan kata &amp;ldquo;tati&amp;rdquo; yang dimaksud kaki. Sebagian orang menamakan kejadian ini &amp;ldquo;cadel.&amp;rdquo; Seperti anak gagap yang makin gagap jika tegang, anak dislalia juga bisa menjadi gagap bila mendapat &amp;ldquo;serangan&amp;rdquo;. Perkembangan anak bisa terganggu bila persoalan yang kelihatan sepele tersebut tidak segera diatasi. &amp;ldquo;Khususnya pada anak-anak yang mempunyai kepribadian kurang kuat,&amp;rdquo; saran Ki Pranindyo HA, kepala klinik Bina Wicara Vacana Mandira, Jakarta. Dislalia menurut hematnya termasuk gangguan komunikasi verbal yang sangat mudah diselesaikan. Bahkan tanpa terapi khusus, gangguan ini bisa ditanggulangi asal saja perilaku yang keliru-seperti ngedot, mengisap jari, atau menjulur-julurkan lidah-dihentikan. Bahkan pada banyak anak, gangguan artikulasi itu akan hilang dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan usia. &amp;ldquo;Jadi buat banyak anak-anak dislalia, kalau anak itu kuat, psikis maupun sikap sosialnya bagus, semuanya akan teratasi dengan sendirinya.&amp;rdquo; Dislasia juga disinyalir terkait dengan kecepatan mengucapkan vocal. Anak-anak dislalia kecepatan irama bicaranya di bawah hitungan normal. Kalau ukuran normal yang digunakan adalah 140 kata (terdiri dari dua suku) per menit, maka anak dislalia bila dites, kecepatannya kurang dari itu. &amp;ldquo;Tentu ada toleransi dari ukuran normal, 130 pun masih normal. Anak dislalia biasanya bahkan kurang dari 100 kata per menit,&amp;rdquo; kata Pranindyo. Tes umum yang biasa diterapkan di tempat praktiknya adalah dengan meminta anak untuk mengucapkan &amp;ldquo;pa-ta-ka&amp;rdquo;. Biasanya selama lima detik anak itu bisa mendapatkan 15-17 kata &amp;ldquo;pa-ta-ka&amp;rdquo;, tetapi pada anak dislalia pasti kurang dari itu. Ada juga orang-orang yang mempunyai ritme jauh melebihi angka normal. Bicara orang macam ini cenderung sangat cepat, kadang tidak bisa diikuti oleh lawan bicaranya. Kalau dihitung ritmenya mungkin 160 kata per menit. &amp;ldquo;Bahkan pernah ada yang cepat sekali sampai 175 kata per menit,&amp;rdquo; ucap Pranindyo.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Gangguan pervasif</strong>
	Adalah gangguan bicara dimana ucapan seorang anak berlangsung melompat-lompat dan tidak konsisten. Bisa jadi anak seperti ini sebetulnya mengalami gangguan ADD (attention defisit disorder). Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat
	sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Yang juga termasuk dalam gangguan ini adalah para penderita autis. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.
	<strong>Tunawicara</strong>
	Gangguan bicara yang paling berat adalah tunawicara. Usia ini merupakan saat yang paling tepat untuk mengetahui apakah anak mempunyai kelainan tersebut atau tidak karena pada usia ini kemampuan bicara anak umumnya sudah bagus. Jika ia hanya mengeluarkan bunyi-bunyi khas tanpa makna, semisal &amp;ldquo;uuh..uuh&amp;rdquo;, &amp;ldquo;eeh&amp;hellip;ehh&amp;rdquo;, untuk menjawab/menunjuk semua benda, hal ini bisa dijadikan indikator kalau dia belum bisa bicara sama sekali.
	Bila sudah ada gejala seperti itu, sebaiknya anak segera dibawa ke dokter. Untuk langkah pertama bisa dibawa ke dokter anak sebelum mendapatkan penanganan yang lebih intens.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Keterlambatan Bicara Fungsional</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karena keterlambatan maturitas (kematangan) dari proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan ini sering dialami oleh laki-laki dan sering terdapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita keterlambatan ini kemampuan bicara saat masuk usia sekolah normal seperti anak lainnya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor anak dalam keadaan normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan psikologis lainnya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Evaluasi dan Pemeriksaan</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek :</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>1. Fisiologis dan Neurologis </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>2. Psikologis </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>CARA MEMBEDAKAN BERBAGAI KETERLAMBATAN BICARA </strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Dengan memperhatikan fungsi reseptif, ekspresif, kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan pola keterlambatan perkembangan, dapat diperkirakan penyebab kesulitan berbicara.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Tabel 1. Diagnosis banding beberapa penyebab keterlambatan berbahasa dan bicara</strong></p>

	&amp;nbsp;

	
		
			
				<p>
					<strong>Diagnosis</strong></p>
			
			
				<p>
					<strong>Bahasa reseptif</strong></p>
			
			
				<p>
					<strong>Bahasa ekspresif</strong></p>
			
			
				<p>
					<strong>Kemampuan pemecahan masalah visuo-motor</strong></p>
			
			
				<p>
					<strong>Pola perkembangan</strong></p>
			
		
	


	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	&amp;nbsp;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>PENCEGAHAN DAN PENANGANAN GANGGUAN BICARA</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Menyusui</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	Selain ASI mengandung komponen&amp;ndash;komponen yang baik untuk perkembangan otak, misalnya DHA, proses menyusui ternyata juga memasukkan unsur-unsur interaksi. Tidak mungkin Anda menyusui si kecil dengan melamun saja kan? Biasanya, Anda menikmati apa yang sedang terjadi sambil membelai perlahan si kecil dan melakukan kontak mata. Sebaliknya, si kecil pun asyik memperhatikan wajah ibu tercinta. Itu semua adalah dasar komunikasi. Jadi, sebisa mungkin, susuilah bayi Anda. Karena, dengan segala manfaat menyusui, apa yang Anda lakukan itu benar-benar investasi yang besar bagi si kecil. Termasuk, dalam perkembangan bicaranya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	<strong>Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua</strong></p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	1. Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	2. Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	3. Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	4. Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	5. Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti :&amp;rdquo;rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,&amp;hellip;.coba biar Ibu lihat&amp;hellip;&amp;rdquo;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	6. Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	7. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	8. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	9. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan &amp;ldquo;nyam-nyam&amp;rdquo;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	10. Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	11. Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan &amp;ldquo;suaranya&amp;rdquo;, apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa &amp;ldquo;tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan&amp;rdquo;</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	12. Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, &amp;ldquo;betapa pandainya dia&amp;rdquo;.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	13. Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	14. Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	15. Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang &amp;ldquo;eye catching&amp;rdquo;. Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	16. Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	17. Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	18. Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti &amp;ldquo;baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek, dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya &amp;ldquo;anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis&amp;rdquo;, dsb</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	19. Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi : sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	20. Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat : di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dna bagi Anda.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	21. Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	22. Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.</p>

	&amp;nbsp;
<p style="text-align: justify;">
	23. Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial.</p>

	&amp;nbsp;
<ol style="text-align: justify;">
	<li>
		Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu</li>
	<li>
		Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu.</li>
	<li>
		Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa.</li>
	<li>
		Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda.</li>
	<li>
		Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan.</li>
	<li>
		Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari.</li>
</ol>
<p>
	Written on Oktober 31, 2008 by Ratih Putri Pratiwi</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 07:21:56 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/terapi-gangguan-bicara-pada-anak/</guid>
</item>
<item>
<title>Kelambu Berinsektisida untuk Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk Anopheles</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/kelambu-berinsektisida-untuk-melindungi-anak-dari-gigitan-nyamuk-anopheles/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Nyamuk yang menularkan parasit malaria disebut nyamuk anopheles. Tidak semua nyamuk menularkan malaria. Jika nyamuk anopheles sudah menggigit penderita malaria kemudian menggigit orang sehat, maka parasit malaria ditularkan ke badan orang sehat tersebut sehingga jatuh sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Ciri khas nyamuk anopheles adalah jika menggigit badannya menungging dan setelah menggigit nyamuk beristirahat pada dinding rumah yang gelap dan lembab, di bawah meja, di kolong tempat tidur dan di belakang lemari. Nyamuk tersebut hanya menggigit pada malam hari, di dalam maupun luar rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Tidur memakai kelambu yang telah dicelup insektisida sesuai anjuran sangat baik untuk menghindarkan gigitan serta membunuh nyamuk. Semua anggota masyarakat khususnya anak balita dan ibu hamil harus dihindarkan dari gigitan nyamuk dimulai pada senja hari sampai fajar.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Kelambu berinsektisida ada dua macam:
	Kelambu yang sudah dilapisi insektisida oleh pabrik.
	Kelambu yang dicelup sendiri oleh masyarakat dengan racun serangga/insektisida (kelambu celup) setiap enam bulan sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Insektisida yang digunakan untuk kelambu aman bagi manusia dan digunakan oleh banyak negara di dunia. Jumlah insektisida yang digunakan adalah dalam bentuk larutan dan sangat kecil pengaruhnya bagi manusia, termasuk bayi baru lahir. Kelambu yang dicelupkan dalam insektisida tertentu dapat mematikan nyamuk yang hinggap.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Petugas kesehatan membagikan secara cuma-cuma kepada ibu hamil dan yang mempunyai balita pada daerah endemis malaria. Selain itu juga memberi petunjuk mengenai penggunaan kelambu tersebut dan cara merawatnya. Bayi dan balita harus tidur memakai kelambu berinsektisida. Jika tidak ada kelambu berinsektisida, keluarga dapat menggunakan kelambu biasa dengan ukuran yang besar sehingga semua anak yang masih kecil dapat tidur di dalam kelambu tersebut. Bayi yang masih menyusu harus tidur bersama ibunya dalam satu kelambu.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Kelambu khusus harus terus digunakan, juga pada saat tidak banyak nyamuk.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Jika tidak dapat memakai kelambu, ada beberapa cara lain yang dapat membantu untuk menghindari gigitan nyamuk, seperti :</p>
<ol>
	<li style="text-align: justify;">
		Tutup pintu dan jendela dengan kawat atau kasa nilon untuk mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Hindari pergi keluar setelah hari gelap. Jika pergi di malam hari:
		a. Gunakan pakaian pelindung yang menutupi lengan dan kaki.
		b. Gunakan krim kimia penangkal nyamuk pada kulit yang tidak tertutup pakaian.
		c. Gunakan obat nyamuk bakar (khususnya saat berada di luar) yang mengeluarkan asap. Asap tersebut mengusir nyamuk atau membunuhnya ketika mereka terbang melewati asap itu.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Semprot ruangan dengan insektisida sebelum tidur setiap malam. Oleh karena semprotan insektisida tersebut hanya efektif untuk beberapa jam, metode ini harus digunakan dengan kombinasi tindakan pencegahan lainnya, misalnya pintu dan jendela yang dipasang kasa.</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Membunuh nyamuk secara fisik di dalam rumah dengan cara menepuk atau dengan alat lainnya.</li>
</ol>
<p>
	Dikutip dari Buku Penuntun Hidup Sehat, Edisi keempat adaptasi, diterbitkan pada 2010 oleh UNICEF, WHO, UNESCO, UNFPA, UNDP, UNAIDS, WFP, the World Bank dan Kementerian Kesehatan RI. Penuntun Hidup Sehat dapat dibaca melalui <a href="http://www.factsforlifeglobal.org/" target="_blank">www.factsforlifeglobal.org</a></p> ]]></description>
<pubDate>Mon, 16 May 2011 17:55:00 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/kelambu-berinsektisida-untuk-melindungi-anak-dari-gigitan-nyamuk-anopheles/</guid>
</item>
<item>
<title>Teknik dan Saat Tepat Memberi Terapi Musik pada Anak dan Janin</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/teknik-dan-saat-tepat-memberi-terapi-musik-pada%C2%A0anak-dan-janin/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Ibu hamil yang membutuhkan relaksasi, bisa mendengar musik kapan saja dan mana saja. Rangsangan berupa suara yang Menenangkan itu juga akan dinikmati janin. Namun, seperti yang dikatakan Dra. Hj. Iesye Widodo, Psi., ahli terapi musik dari klinik Tiara Putera, untuk hasil optimal, <strong>terapi musik bagi janin</strong> harus dilakukan secara terprogram atau tidak sembarangan.</p>
<p>
	EFEKTIF SAMPAI USIA 3 TAHUN</p>
<p>
	Seperti sudah kita ketahui, otak janin sudah bekerja di usia kehamilan 16 minggu. Setelah melalui proses pembentukan, kesempurnaannya terjadi di usia kandungan 18-20 minggu. &amp;ldquo;Di usia inilah,&amp;rdquo; menurut Iesye, &amp;ldquo;terapi musik paling baik mulai dilakukan, karena perlengkapan pendengaran janin sudah semakin sempurna.&amp;rdquo; Namun, sejak di trimester pertama pun ibu sudah boleh melakukannya, meski janin belum dapat bereaksi. Terapi ini lebih ditujukan kepada ibu untuk mengurangi kadar stres saat menjalani masa mual-muntah.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Untuk anak, <strong>terapi musik</strong> paling efektif diterapkan sejak di dalam kandungan hingga usianya 3 tahun. Mengapa demikian? Karena selama periode itu, otak anak mengalami pertumbuhan dan kemudian perkembangan yang amat pesat. Namun, bukan berarti di usia selanjutnya terapi musik tidak akan membawa manfaat, hanya saja potensi rangsangannya semakin berkurang dari tahun ke tahun. Jadi, sampai usia berapa pun musik tetap bermanfaat. Namun, jika tujuannya untuk merangsang kecerdasan sebaiknya jangan sampai lewat dari usia 8 tahun.</p>
<p>
	MENGATUR JADWAL</p>
<p>
	Iesye menekankan, ibu bisa menentukan sendiri waktu terapi yang tepat, boleh pagi, siang, sore atau malam. Yang penting, ketika sudah memilih waktunya, maka ibu harus konsisten dengan waktu tersebut. &amp;ldquo;Kalau sudah menetapkan di pagi hari, maka selanjutnya harus di pagi hari, jangan diubah.&amp;rdquo; Pilihlah waktu sesuai kesempatan yang dimiliki. Bagi ibu yang bekerja misalnya, mungkin pagi hari bukanlah waktu yang tepat. Jadi, lakukan di malam hari atau di sela-sela waktu kerjanya. &amp;ldquo;Yang penting berkesinambungan dan konsisten. Bila tidak, maka hasilnya akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Selain waktu ibu, waktu janin juga perlu dipertimbangkan. Bagaimanapun, menurut Iesye, akan lebih baik bila terapi dilakukan ketika janin sedang tidak tidur. Pada saat terjaga, janin bisa menyimak rangsangan suara secara aktif. Dengan begitu, daya ingatnya juga ikut terangsang dan bertambah kuat.</p>
<p>
	Menurut penelitian, janin akan terjaga saat ibu selesai makan, terutama makan siang. Nah, waktu-waktu ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan terapi. Namun, tidak dijamin juga bahwa setelah ibu makan siang, janin pasti terjaga. Bisa saja, ia terjaga di pagi, sore, atau bahkan ketika ibu sedang tidur. Jadi, tak mesti juga ibu memaksakan diri melakukan terapi musik bagi janin segera setelah waktu makannya.</p>
<p>
	Ketika bayi sudah lahir, dengan melihat kondisinya sehari-hari, ibu bisa lebih mudah menentukan kapan waktu yang tepat. Bila anak biasa terjaga dan tenang di pagi hari, pilihlah waktu tersebut, tentu dengan mempertimbangkan waktu ibu juga. Siang, sore, atau malam hari pun tidak mengapa selama waktu tersebut merupakan waktu terjaganya.</p>
<p>
	PILIHAN LAGU DAN MUSIK</p>
<p>
	Untuk terapi, sebaiknya ibu tidak hanya memperdengarkan gubahan musik klasik. Selingi dengan lagu anak-anak agar ibu bisa sekalian mengajak bayi berkomunikasi. &amp;ldquo;Banyak jenis musik lain terbukti dapat merangsang kecerdasan. Misalnya, musik instrumen rebana, lagu anak-anak, dangdut, dan lagu-lagu rohani,&amp;rdquo; ungkap Iesye.</p>
<p>
	Pada anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme, terapi musik ini harus dipandu oleh tenaga ahli yang mengerti kondisinya. Mulai jenis musik dan frekuensinya harus disusun berdasarkan kondisi kasus per kasus.</p>
<p>
	Pada anak yang terlalu aktif misalnya, terapi musik yang diberikan pada intinya harus bisa memuaskan emosi yang sering berlebihan. Bisa dengan musik klasik jenis tertentu atau diberikan alat musik pukul seperti rebana. Lewat aktivitas memukul ini, diharapkan emosinya dapat diluapkan secara positif. &amp;ldquo;Pokoknya, mereka diarahkan untuk melakukan aktivitas yang menimbulkan bunyi, irama, atau sesuatu yang menyenangkan, sehingga naluri agresif dan destruktifnya bisa tersalurkan,&amp;rdquo; ujar Iesye.</p>
<p>
	Sebaliknya, bila anak terlalu pasif, jenis musik yang diberikan harus dapat merangsangnya agar menjadi aktif. Biasanya, dipilih musik yang bernuansa ramai. &amp;ldquo;Pemberian alat musik seperti rebana pun bisa merangsang aktivitas anak,&amp;rdquo; tambahnya.</p>
<p>
	CARA MELAKUKAN</p>
<p>
	Iesye menganjurkan, ketika ingin memulai terapi, sebaiknya ibu berkonsultasi dulu dengan terapis profesional untuk mendapatkan pengarahan, seperti apa manfaatnya, kapan harus dilaksanakan, dan bagaimana caranya secara terperinci. Tentu saja agar terapinya berjalan efektif dan optimal. &amp;ldquo;Selanjutnya, ibu bisa mempraktekkannya di rumah sambil membaca berbagai referensi yang memang sangat penting diketahui.&amp;rdquo;</p>
<p>
	Berikut, Iesye mengenalkan tiga tahapan pendahuluan dari terapi musik yang bisa dijadikan pedoman saat ibu melakukannya di rumah.</p>
<p>
	1. Relaksasi Fisik.</p>
<p>
	Untuk mencapai relaks secara fisik, ibu dapat menggunakan teknik progresif relaksi. Pada tahap ini ibu yang sedang hamil harus mengendorkan dan mengencangkan otot-otot tubuh secara berurutan sambil mengatur napas. Relaksasi ini sangat dibutuhkan agar musik bisa dicerna dengan baik dan dapat tersalurkan ke seluruh anggota tubuh.</p>
<p>
	Pilihlah posisi yang paling nyaman, bisa sambil tiduran ataupun duduk. Bila ibu lebih bisa berkonsentrasi pada musik dengan posisi duduk, ambillah posisi ini. Demikian pula dengan posisi tiduran.</p>
<p>
	2. Relaksasi Mental</p>
<p>
	Setelah relaksasi fisik maka saatnya untuk masuk ke tahapan relaksasi mental. Di tempat terapi, selama tahapan ini awalnya ibu hamil dipandu instruktur terapis dengan kata-kata yang bersifat sugesti. Tujuannya untuk membawa ibu ke suasana di mana mereka bisa melupakan ketegangan dan kecemasan yang dirasakan selama kehamilan. Agar sampai ke tujuan, ibu dianjurkan untuk berkonsentrasi. Musik yang mengiringinya tentu saja yang bisa membangkitkan perasaan relaks. Selanjutnya, dengan mengikuti instruksi yang sudah pernah didapat, ibu dapat melakukannya sendiri di rumah.</p>
<p>
	3. Stimulasi atau Rangsangan Musik pada Janin</p>
<p>
	Untuk memperoleh manfaat maksimal dari terapi ini, ibu dianjurkan untuk mendengarkan musik dengan konsentrasi dan kesadaran penuh. Alunan suaranya mesti bisa merasuki pikiran ibu tanpa ada gangguan berupa ketidakstabilan emosi, suara berisik, dan kurang konsentrasi.</p>
<p>
	Saat mendengarkan musik, ambil posisi sekitar setengah meter dari tape atau dapat menggunakan walkman. Usahakan volume suaranya jangan terlalu keras ataupun lemah, tetapi sedang-sedang saja. Intinya, volume tersebut dapat menyamankan dan membuat ibu bisa berkonsentrasi penuh. Sesekali, boleh menempelkan earphone ke perut ibu agar janin bisa mendengar lebih jelas. Ketiga cara ini, sama baiknya.</p>
<p>
	Dianjurkan pula untuk tidak mendengarkan musiknya saja, kalau bisa ibu ikut berdendang mengikuti melodi atau liriknya. Untuk itu, bisa pilih lagu Twinkle-twinkle Little Star atau lagu-lagu ciptaan Ibu Sud, Pak Kasur, dan A.T Mahmud. Selain syair-syairnya cocok buat anak, lagu-lagu itu juga tidak lekang digusur zaman.</p>
<p>
	Waktu yang diperlukan untuk terapi sekitar 30 menit setiap hari. Asalkan ibu bisa berkonsentrasi dengan baik, dalam sehari boleh satu, dua, atau tiga lagu yang didengarkan. Bila banyaknya jenis lagu malah membuyarkan konsentrasi, sebaiknya pilih satu jenis saja dalam sehari.</p>
<p>
	sumber : milis bayi kita</p> ]]></description>
<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 15:54:01 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/teknik-dan-saat-tepat-memberi-terapi-musik-pada%C2%A0anak-dan-janin/</guid>
</item>
<item>
<title>Cara Tepat Kompres Anak Saat Demam</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/cara-tepat-kompres-anak-saat-demam/</link>
<description><![CDATA[ Demam merupakan suatu keadaan yang mengkhawatirkan bagi setiap orang tua. Ia merupakan suatu gejala dari suatu keadaan yang dapat diakibatkan ooeh infeksi, penyakit kolagen atau keganasan.<br /><br />Suhu normal seorang anak berkisar 37 C (98 F) saat diukur di mulut. Pengukuran melalui rektum biasanya memberi hasil 0.5 C lebih tinggi daripada pengukuran melalui mulut, tapi perlu diingat bahwa suhu tubuh dapat bervariasi sepanjang hari. Hingga saat ini definisi suhu tubuh normal masih bervariasi tapi berkisar hingga 37.2 C (99 F) saat dilakukan pengukuran melalui ketiak dan sekitar 38 C saat dilakukan pengukuran melalui rektum. Pengukuran suhu tubuh melalui telinga. ]]></description>
<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 21:46:58 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/cara-tepat-kompres-anak-saat-demam/</guid>
</item>
<item>
<title>Jantung Anak Bocor ? Bisa direparasi</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/jantung-anak-bocorbisa-direparasi/</link>
<description><![CDATA[ Penyakit jantung bawaan pada anak memang bukan penyakit langka. Di antara 1.000 anak lahir hidup di Indonesia, menurut data rumah-rumah sakit di Indonesia, sembilan di antaranya mengidap penyakit jantung bawaan. "Hasil survai di luar negeri prevalensinya kurang lebih sama," kata dr. Ganesja M. Harimurti, spesialis jantung dan pembuluh darah dari Sub Bagian Jantung Anak, RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. "Jadi, kelainan ini bukan hanya diderita oleh anak di negara-negara berkembang atau miskin," tambahnya.<br /><br />Lebih dikenal dengan istilah jantung bocor atau penyakit jantung biru, kelainan itu antara lain karena sekat pemisah bilik atau serambi jantung kiri dan kanan belum atau tidak tertutup sempurna. Akibatnya, jantung tidak berfungsi dengan baik. ]]></description>
<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 21:07:31 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/jantung-anak-bocorbisa-direparasi/</guid>
</item>
<item>
<title>Berat badan si kecil susah naik?</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/berat-badan-si-kecil-susah-naik/</link>
<description><![CDATA[ Sebagai orang tua, tentu sedih melihat tubuh si buah hati lebih kurus dibanding teman-temannya. Padahal, rasanya semua trik sudah dilakukan, tetap saja berat badan sulit sekali naik.<br /><br /> <br />Tak selalu tak normal<br /><br />Bila berat badan tidak naik sesuai standar yang ada, terutama pada bayi di bawah usia tiga tahun, haruslah kita cari penyebabnya. Tetapi yang perlu diingat, ada beberapa anak memang berperawakan kecil, dan bukan berarti ia kekurangan gizi. Pada usia di atas satu tahun, -bila melihat kurva pertumbuhan anak normal- memang akan ada perlambatan pertumbuhan yang ditandai dengan berat badan tak terlalu banyak naik.<br /><br />Jangan terlalu menyalahkan diri bila anak berperawakan kecil. Mereka kecil tetapi ya ]]></description>
<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 03:47:31 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/berat-badan-si-kecil-susah-naik/</guid>
</item>
<item>
<title>Mengompol, jangan dihukum atau dipermalukan</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/mengompol-jangan-dihukum-atau-dipermalukan/</link>
<description><![CDATA[ Istilah medisnya adalah nocturnal enuresis.  Dimana-mana ada anak mengompol, jumlahnya sangat banyak. Mengompol dapat menyebabkan anak merasa tertekan, rendah diri, dan berbeda dengan temannya. Mengompol dapat menyebabkan anak menghindari aktivitas sosial misalnya berkemah atau menginap di rumah teman. Orang tua sering menyebut mereka seperti "bayi," atau memarahi mereka.<br />Seberapa sering?<br />Mungkin sebanyak 15% di antara anak-anak mengalami mengompol. Pada umur 12 tahun, 3% di antara anak-anak masih mengompol, kebanyakan anak laki-laki.<br />Apa penyebabnya?<br /><br />   1. Mengompol malam primer. Sebagian besar mengompol termasuk golongan ini. Anak belum pernah dapat mengatasi mengompol. Paling sedikit 2 kali sebulan. Peny ]]></description>
<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 02:44:58 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/mengompol-jangan-dihukum-atau-dipermalukan/</guid>
</item>
<item>
<title>Kompres anak dengan es?</title>
<link>http://bundazone.com/terapi/kompres-anak-dengan-es/</link>
<description><![CDATA[ Jaman sekarang masih mengompres anak demam dengan es batu? Bukannya turun, demam malah makin naik.<br /><br />Kenyataannya, bila anak dikompres dengan es batu ia akan menangis dan menggigil, seringkali sampai biru. Di kulit memang terasa dingin tetapi di dalam tubuh justru suhunya naik karena menggigil akan meningkatkan panas tubuh. Lebih parah lagi bila dikompres alkohol. Bila terhisap dapat menyebabkan keracunan. Kita sendiri sebagai orang dewasa, bila demam tentu tidak mau mandi air dingin karena rasanya sangat tidak enak. ]]></description>
<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 22:40:58 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/terapi/kompres-anak-dengan-es/</guid>
</item>
</channel>
</rss>
