<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Bunda Zone</title>
<atom:link href="http://bundazone.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://bundazone.com/</link>
<description>Stories tagged operasi</description>
<language>en-us</language>
<pubDate>Fri, 24 May 2013 04:37:23 +0700</pubDate>
<item>
<title>Mengobati Penyakit Jantung Bawaan Anak Tanpa Operasi</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/mengobati-penyakit-jantung-bawaan-anak-tanpa-operasi/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, anak-anak penderita <a class="jTip" href="http://www.detikhealth.com/index.php?fa=parserads.search&amp;amp;idkanal=755&amp;amp;keyword=Mw==&amp;amp;width=280&amp;amp;height=125" style="text-decoration:none;"><b>Penyakit</b></a> jantung bawaan (PJB) tidak perlu lagi harus dioperasi atau bedah. Tindakan intervensi non-bedah telah banyak dilakukan banyak pusat-pusat jantung anak, termasuk di Indonesia.
	
	<a class="jTip" href="http://www.detikhealth.com/index.php?fa=parserads.search&amp;amp;idkanal=755&amp;amp;keyword=Mw==&amp;amp;width=280&amp;amp;height=125" style="text-decoration:none;"><b>Penyakit</b></a> jantung bawaan (PJB) merupakan masalah yang cukup menonjol dalam bidang kesehatan anak. Satu dari 100 bayi yang lahir menderita PJB, mulai dari jenis yang ringan sampai yang berat atau kompleks. Dengan jumlah kelahiran bayi sekitar 4,5 juta per tahun saat ini, maka di Indonesia diperkirakan tidak kurang dari 45.000 bayi baru lahir akan menyandang penyakit jantung bawaan.
	
	PJB memberikan kontribusi yang penting terhadap tingginya angka kematian bayi di suatu negara, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sekitar 30 persen bayi atau anak yang menderita PJB harus mengalami tindakan koreksi berupa operasi atau tindakan intervensi pada waktu yang optimal, agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
	
	Meskipun sampai saat ini disepakati bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan PJB dan penelitiannya pun masih terus dilakukan, namun perkembangan pengobatan PJB pada anak sudah menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Perkembangan yang paling signifikan saat ini adalah tindakan intervensi non-bedah yang telah banyak dilakukan di banyak pusat-pusat jantung anak, termasuk di Indonesia.
	
	<strong>Tanpa Operasi atau Tanpa Bedah </strong>
	Anak-anak penyandang PJB sebagian besar harus mengalami tindakan operasi yang tentu saja mempunyai risiko tidak kecil. Selain sangat menimbulkan kekhawatiran pada orangtua dan keluarga, tindakan orperasi jantung terbukan (dengan <em>by-pass</em>) pada anak memerlukan berbagai fasilitas yang memadai mulai dari ruang operasi, perawatan intensif (ICU), serta tenaga profesional terdidik dan terlatih, seperti ahli bedah jantung, anestesi, perfusionis, dan perawatan terlatih. Di samping itu, pasien anak juga memerlukan perawatan lebih lama dibanding pasien dewasa. Tambahan lagi, tindakan operasi akan meninggalkan bekas luka bedah di sekitar dada atau dinding dada.
	
	Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, khususnya dalam bidang intervensi kardiologi anak (<em>interventional pediatric cardiology</em>), sebagian anak-anak penderita PJB tidak perlu lagi mengalami operasi atau pembedahan. Beberapa PJB yang sering ditemukan, seperti PDA (<em>patent ductus arteriosus</em>), ASD (<em>atrial septal defects</em>), dan VSD (<em>ventricular septal defects</em>) dapat dikoreksi dengan menggunakan &amp;#39;perangkat&amp;#39; berupa <em>Coils</em> atau <em>Amplatzer Occluder</em>.
	
	<strong>Intervensi untuk PJB </strong>
	Beberapa PJB dapat dikoreksi dengan <em>Amplatzer Occluder</em>, antara lain:
	
	
	<strong>PDA (<em>Patent Ductus Arteriosus</em>) </strong>
	PDA adalah kelainan pada saluran yang menghubungkan antara pembuluh darah yang ada di jantung (aorta dan arteri pulmonalis). PDA menempati 5-19 persen porsi kasus PJB yang ada dan lebih sering ditemukan pada anak perempuan.
	
	Saat ini pengobatan PDA dengan prosedur intervensi (<em>transcatheter closure</em>) sudah merupakan metode terpilih sejak dekade terakhir. Kecuali bila ukuran PDA tidak sesuai, misalnya terlalu besar atau terjadi pada bayi-bayi kecil, termasuk bayi baru lahir.
	
	PDA memerlukan penutupan untuk menghindari terjadinya gagal jantung. Penutupan dilakukan dengan menggunakan perangkat (<em>Coils dan Amplatzer Duct Onccluder</em>) melalui prosedur seperti kateterisasi jantung biasa. Banyak studi yang dilakakukan di pusat-pusat pelayanan jantung diseluruh dunia menunjukkan bahwa prosedur penutupan PDA tanpa operasi ini sangat efektif dengan tingkat keberhasilan sampai 99%.
	
	<strong>ASD (<em>Atrial Septal Defects</em>) </strong>
	ASD sekitar 19% dari seluruh <a class="jTip" href="http://www.detikhealth.com/index.php?fa=parserads.search&amp;amp;idkanal=755&amp;amp;keyword=Mw==&amp;amp;width=280&amp;amp;height=125" style="text-decoration:none;"><b>penyakit</b></a> jantung bawaan. Sering kali tidak menunjukkan gejala klinis, tetapi bila sudah parah anak akan menunjukkan gejala sesak napas, cepat lelah dan <em>exercise intolerance</em> (kemampuan beraktivitas) menurun. Dulu, ASD harus dikoreksi dengan tindakan bedah menggunakan prosedur operasi terbuka (<em>open heart surgery</em>), dengan mesin paru-jantung, yang tentu saja mempunyai risiko yang tidak kecil.
	
	Kini, teknik penutupan ASD tanpa operasi dengan menggunakan perangkat (<em>transcatheter closure</em>) merupakan salah satu pilihan yang sudah banyak dikerjakan di seluruh dunia dengan hasil yang sangat memuaskan. Penutupan ASD dengan menggunakan Amplatzer Septal Occluder (ASO) telah banyak dilaporkan menunjukkan efektivitas yang tinggi dan aman.
	
	<strong>VSD (<em>Ventricular Septal Defects</em>) </strong>
	Merupakan jenis PJB yang paling sering ditemukan pada anak dengan persentasi sekitar 20%-25%. VSD dapat menimbulkan peningkatan aliran darah menuju paru-paru sehingga dapat menyebabkan timbulnya gagal jantung. Penutupan VSD dengan prosedur intervensi menggunakan <em>Amplatzer Ventricle Occluder</em> (AVO) merupakan suatu alternatif pengobatan tanpa operasi.
	
	Penutupan VSD dengan menggunakan AVO cukup efektif dan aman, namun perlu diwaspadai terjadinya komplikasi yang berupa terhambatnya aliran pembuluh darah secara total pada atrioventricular (AV block). Komplikasi ini dapat terjadi akibat pemasangan perangkat AVO dengan ukuran yang lebih besar daripada ukuran defeknya (kelainannya).
	
	<strong>Penulis: </strong>
	Dr. Sukman Tulus Putra, SpA (K) FACC, FESC
	Tim Dokter Spesialis Jantung Anak Eka Hospital BSD Tangerang</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 00:08:53 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/mengobati-penyakit-jantung-bawaan-anak-tanpa-operasi/</guid>
</item>
<item>
<title>Operasi Amandel Tidak Selalu Diperlukan</title>
<link>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/operasi-amandel-tidak-selalu-diperlukan/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Salah satu infeksi pada daerah mulut yang sering terjadi pada anak-anak adalah tonsilitis atau yang sering disebut dengan pembengkakan amandel. Dan untuk mengatasinya, sering dilakukan tonsilektomi (operasi pengangkatan amandel).</font> </font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Tapi penelitian yang terbaru di <em>British Medical Journal</em>, mengatakan bahwa operasi pengangkatan amandel tidak lebih baik daripada hanya melakukan pengawasan saja, tanpa operasi, pada anak dengan infeksi tenggorakan sedang atau masalah gangguan nafas ringan yang disebabkan oleh karena pembesaran amandel atau kelenjar adenoid.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Dari 150 anak yang menjalani operasi tonsilektomi, enam minggu pertama terjadi pengurangan demam dan infeksi dengan gejala ringan, dibandingkan dengan 150 anak lainnya yang tidak melakukan tonsilektomi. Tapi setelah 18 bulan kemudian, tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok anak yang menjalani tonsilektomi dengan kelompok anak yang tidak menjalani tonsilektomi.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Di Amerika Serikat, pasien yang melakukan tonsilektomi telah menurun dalam 3 dekade terakhir. Dari 1 juta orang pertahun di tahun 1970, kini menjadi 250.000 orang pertahun.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Walaupun anak tidak melakukan tonsilektomi, sebaiknya orangtua tetap berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat obat. Biasanya anak akan diberikan obat penghilang nyeri (analgesik) atau obat anti peradangan bila anak mengalami nyeri dan demam. Orangtua juga harus mengawasi anak untuk mencegah terjadi infeksi yang lebih berat dan gejala penyumbatan saluran nafas.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Pada beberapa keadaan, diperlukan operasi juga. Seperti pada kasus anak dengan henti nafas sejenak pada saat tidur. Kelenjar tonsil dan adenoid yang begitu membesar sehingga akan mengganggu anak saat tidur. Gejalanya, anak tidur dengan mendengkur yang keras dan sering terbangun pada saat tidurnya.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">Selain itu, dapat juga dilihat dari frekuensi dan beratnya infeksi. Misalnya infeksi yang terjadi 6 kali dalam satu tahun saja atau 3-4 tahun setiap tahunnya selama setidaknya tiga tahun.</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			<font face="Arial" size="2"><font face="Arial"><font face="Verdana" size="2">sumber: lamandel.blogspot.com</font></font></font></p>
		<p style="text-align: justify;">
			&amp;nbsp;</p> ]]></description>
<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 07:09:42 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/penyakit-kelainan/operasi-amandel-tidak-selalu-diperlukan/</guid>
</item>
<item>
<title>Mengapa Sebaiknya Tidak Memilih Operasi Caesar?</title>
<link>http://bundazone.com/kelahiran/mengapa-sebaiknya-tidak-memilih-operasi-caesar/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Operasi caesar adalah operasi untuk mengeluarkan bayi tanpa melalui liang persalinan (vagina). Dalam operasi tersebut dokter membedah dinding perut dan rahim ibu guna mengeluarkan bayi. Operasi caesar biasanya berlangsung 20-90 menit dan dapat dilakukan baik karena alasan medis maupun non-medis (personal) . Banyak wanita yang tergiur memilih operasi caesar tanpa adanya alasan medis, antara lain karena:</p>
<ul style="list-style-type: decimal;">
	<li>
		<strong>Bisa memilih tanggal kelahiran bayi</strong>, disesuaikan dengan situasi keluarga atau agar mendapat tanggal lahir &amp;ldquo;cantik&amp;rdquo; yang membawa hoki.</li>
	<li>
		<strong>Berlangsung cepat</strong>, berbeda dengan proses persalinan yang bisa memakan waktu lama</li>
	<li>
		<strong>Tidak menyakitkan</strong> dibandingkan persalinan normal (Walaupun kenyataannya seringkali tidak begitu. Hormon endorfin yang banyak dikeluarkan saat persalinan mengurangi rasa sakit karena proses melahirkan. Operasi caesar bisa terasa lebih menyakitkan pasca operasi).</li>
	<li>
		<strong>Trauma</strong> karena proses melahirkan anak pertama yang sulit atau riwayat penganiayaan seksual sebelumnya.</li>
	<li>
		<strong>Melindungi bagian paling privat</strong> dari wanita sehingga tidak tersentuh dan masih seperti belum pernah melahirkan anak.</li>
</ul>
<p>
	Namun, dibalik keuntungan tersebut operasi caesar juga memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan.</p>
<p>
	<span style="text-decoration: underline;">Bagi bayi:<img alt="jangan sesar" class="alignright size-full wp-image-189" height="180" src="http://majalahkesehatan.com/wp-content/uploads/2007/09/jangan-sesar.jpg" title="jangan sesar" width="240" /></span></p>
<ul class="unIndentedList">
	<li>
		Bayi hasil caesar berpeluang lebih tinggi <strong>mengalami gangguan pernafasan</strong> (<em>neonatal respiratory distress</em>). Risiko mengidap asma juga lebih besar pada bayi hasil caesar.</li>
	<li>
		Risiko bayi <strong>terkena pisau bedah</strong>.</li>
	<li>
		Risiko <strong>kelahiran prematur</strong>. Seringkali, sulit untuk menghitung umur bayi yang sebenarnya. Bila bayi ternyata masih berumur di bawah 36 bulan maka akan ada risiko karena kelahiran prematur, seperti masalah pernafasan, suhu tubuh dan pencernaan.</li>
</ul>
<p>
	<span style="text-decoration: underline;">Bagi ibu:</span></p>
<ul style="list-style-type: decimal;">
	<li>
		<strong>Kematian.</strong> Meskipun jarang terjadi, operasi caesar yang gagal dapat meningkatkan risiko kematian ibu. Di AS, tingkat kematian pada caesar atas kemauan sendiri adalah 5,9 per 100.000 kelahiran, dibandingkan 2,1 pada persalinan normal.</li>
	<li>
		<strong>Masa pemulihan yang lebih lama</strong>, bisa sampai 6 minggu atau lebih.</li>
	<li>
		Risiko <strong>infeksi pasca pembedahan</strong> yang berkisar antara 2-15%. Infeksi terutama pada saluran kencing dan lebih sering terjadi pada ibu yang kegemukan.</li>
	<li>
		<strong>Frekuensi perdarahan</strong> yang lebih tinggi.</li>
	<li>
		Risiko mengalami <strong>masalah pada plasenta, ruptur kandungan dan pertumbuhan janin di luar rahim</strong> (<em>ectopic</em>) pada kehamilan berikutnya.</li>
	<li>
		<strong>Penundaan pemberian ASI</strong> dan jalinan <strong>hubungan emosi</strong> ibu-anak karena adanya luka operasi dan pengaruh obat bius. Bayi hasil operasi caesar biasanya langsung ditempatkan di ruang observasi.</li>
</ul>
<p>
	Mengingat besarnya risiko dibandingkan manfaat yang didapat, operasi caesar memang sebaiknya dihindari&amp;ndash;bila masih dimungkinkan. Selain itu, tentu saja karena biayanya juga mahal, jauh lebih besar daripada biaya persalinan normal.
	
	sumber: majalah-kesehatan.com</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 07 May 2011 05:31:19 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kelahiran/mengapa-sebaiknya-tidak-memilih-operasi-caesar/</guid>
</item>
<item>
<title>Kapan Diperlukan Operasi Caesar?</title>
<link>http://bundazone.com/kelahiran/kapan-diperlukan-operasi-caesar/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Operasi caesar adalah operasi besar yang mengandung risiko bagi ibu dan bayinya, antara lain karena pengaruh obat bius dan pembedahan itu sendiri. Namun, operasi caesar juga dapat menyelamatkan keduanya saat terjadi komplikasi persalinan. Berikut adalah faktor-faktor penyebab yang mungkin menjadi alasan dilakukannya operasi caesar:</p>
<ul style="list-style-type: decimal;">
	<li>
		<strong>Presentasi bokong atau kaki,</strong> yaitu bokong atau kaki keluar duluan dibandingkan kepala (terjadi pada 3-4% kasus persalinan). Beberapa dokter dapat memutar janin ke posisi normal, atau bahkan mengeluarkan bayi dari rahim dalam posisi tersebut. Namun, karena risikonya cukup tinggi banyak yang lebih menyarankan caesar.</li>
	<li>
		<strong>Presentasi pundak (sungsang)</strong>, yaitu pundak keluar duluan.</li>
	<li>
		<strong>Pernah menjalani operasi caesar</strong> pada persalinan sebelumnya yang belum terlalu lama (di bawah dua tahun). Bila jarak antar persalinan cukup lama, persalinan normal masih bisa disarankan.</li>
	<li>
		<strong>Bayi raksasa (<em>giant baby</em>),</strong> yaitu bayi dengan berat mendekati atau di atas 4,5 kg.</li>
	<li>
		<strong>Ukuran pinggul ibu terlalu kecil/disposisi kepala panggul.</strong></li>
	<li>
		<strong>Ari-ari lepas duluan</strong> (<em>abruptio placenta</em>), biasanya karena plasenta tidak terletak di rahim bagian atas.</li>
	<li>
		<strong>Tali plasenta bermasalah atau melilit tubuh </strong>bayi sehingga menghalangi pernafasan dan asupan nutrisinya.</li>
	<li>
		<strong>Placenta previa,</strong> yaitu ari-ari menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir.</li>
	<li>
		<strong>Bayi kembar banyak (lebih dari 2).</strong></li>
	<li>
		<strong>Kontraksi terlalu lemah atau berhenti.</strong></li>
	<li>
		Terjadi <strong>pendarahan yang terlalu banyak</strong> dan membahayakan calon ibu.</li>
	<li>
		<strong>Leher rahim (serviks) tidak sepenuhnya terbuka.</strong></li>
	<li>
		Bayi <strong>memiliki kelainan atau mengalami stress</strong> (<em>fetal distress)</em>, misalnya terlihat pada denyut jantung yang lemah.</li>
	<li>
		Ibu bayi <strong>memiliki masalah kesehatan</strong>, antara lain hipertensi dan diabetes, yang membutuhkan penanganan intensif.</li>
</ul>
<p>
	sumber: majalah-kesehatan.com</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 07 May 2011 05:28:14 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kelahiran/kapan-diperlukan-operasi-caesar/</guid>
</item>
<item>
<title>Inilah 9 Cara Menghindari Operasi Caesar</title>
<link>http://bundazone.com/kelahiran/inilah-9-cara-menghindari-operasi-caesar/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Kebanyakan perempuan mengira bahwa melahirkan secara caesar dapat menghindarkan mereka dari rasa sakit dan kesulitan bersalin.Kenyataannya tindakan caesar mengandung risiko lebih tinggi dibandingkan melahirkan secara alami.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Sebenarnya tindakan ini dapat dihindari,sehingga kemungkinan operasi Caesar tidak akan dilakukan jika perempuan tersebut menginginkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Untuk menghindari melahirkan secara caesar, para ahli dari American College of Obstetricians and Gynecologsts (ACOG), seperti dikutip dad CNN Health menyarankan:</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>1. Mengonsumsi cukup nutrisi selama hamil.</strong>
	Selama ibu dan bayi sehat, kemungkinan mengalami kehamilan berisiko tinggi akan berkurang, dan indikasi medis untuk melahirkan caesar pun menurun. Artinya, ibu berpeluang besar untuk melahirkan secara alami. Perbanyak konsumsi karbohidrat yang sehat terutama selama dua minggu sebelum melahirkan untuk mendapatkan <a href="http://www.i-berita.com/tag/energi" title="energi">energi</a> yang cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>2. Tetap aktif.</strong>
	Jangan berbaring terus di tempat tidur tanpa alasan karena Anda hanya hamil, bukan sakit. Tetap aktif selama hamil justru akan mempermudah proses persalinan, lebih baik dalam menghadapi atau kontrol diri lebih baik saat melahirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>3. Tetap di rumah setidaknya sampai mencapai pembukaan ketiga.</strong>
	Masa awal melahirkan akan terasa sangat lama, terutama bagi perempuan yang baru pertama melahirkan. Ibu akan merasa lebih nyaman, stres lebih sedikit, dan nyeri lebih ringan ketika masih tinggal di rumah sendiri, daripada bila buru-buru ke rumah sakit. Hal ini juga akan menghindarkan Anda dari intervensi, seperti induksi, yang bisa meningkatkan peluang caesar.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>4. Hindari tindakan induksi untuk mempercepat persalinan.</strong>
	Jika tidak perlu jangan mau menjalani induksi. Dr. Michael Klein dari University of British Columbia menyatakan bahwa 44 persen perempuan yang diinduksi berakhir dengan bedah caesar. Kebanyakan tindakan induksi gagal karena rangsangan itu dilakukan saat leher rahim belum siap. Dan lagi sebuah riset mengungkapkan bahwa usia kehamilan hingga 42 minggu pun tergolong normal, jadi tak perlu bayi diburu-buru <a href="http://www.i-berita.com/tag/lahir" title="lahir">lahir</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>5. Tetap makan dan minum sesuai selera.</strong>
	Studi terbaru memperlihatkan bahwa perempuan yang diizinkan tetap makan dan minum menjelang waktu melahirkan, akan lebih cepat menjalani persalinan, melahirkan bayi dengan nilai Apgar yang tinggi, mengalami masalah gula darah dan metabolik lebih sedikit, dan memerlukan lebih sedikit obat pereda nyeri.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>6. Gunakan pereda nyeri alami.</strong>
	Terapi hangat, pijat, musik, visualisasi, hipnosis, cukup efektif untuk mengurangi rasa nyeri menjelang persalinan. Obat-obatan, termasuk epidural, justru dapat meningkatkan peluang tindakan caesar.
	<a href="http://www.i-berita.com/wp-content/uploads/2011/02/Inilah-9-Cara-Menghindari-Operasi-Caesar.jpg"><img alt="" class="alignright size-medium wp-image-3938" height="300" src="http://www.i-berita.com/wp-content/uploads/2011/02/Inilah-9-Cara-Menghindari-Operasi-Caesar-250x300.jpg" width="250" /></a>
	<strong>7. Gunakan rangsangan alami jika mungkin.</strong>
	Jika kontraksi tidak terlalu kuat, kebanyakan dokter menggunakan obat tertentu, misalnya bentuk sintetis dari oksitosin yang mengandung risiko nyeri lebih hebat, kontraksi lebih kuat, dan lebih lama, sehingga perlu obat pereda nyeri, hingga risiko caesar. Coba pilih jalan kaki atau merangsang puting payudara yang dapat melepas oksitosin alami di dalam tubuh dan juga pereda nyeri alami, endorfin.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>8. Cermat memilih dokter dan rumah sakit.</strong>
	Carilah dokter dan rumah sakit yang tingkat operasi caesarnya rendah. Ada dokter yang gigih mendukung pasiennya untuk dapat melahirkan secara normal, sementara yang lain dengan cepat menyarankan operasi caesar. Karena itu, carilah informasi dari berbagai pihak tentang dokter atau rumah sakit yang tidak fanatik terhadap caesar.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<strong>9. Jika dokter memutuskan tindakan caesar, mohon penjelasan.</strong>
	Ada berbagai kondisi yang membuat dokter akhirnya menyarankan tindakan caesar kepada pasiennya, saat sudah berada di ruang bersalin. Tanyakan seberapa perlu tindakan itu untuk menyelamatkan bayi dan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">
	sumber: i-berita.com</p> ]]></description>
<pubDate>Sat, 07 May 2011 05:22:41 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kelahiran/inilah-9-cara-menghindari-operasi-caesar/</guid>
</item>
<item>
<title>Bayi Puasa ASI Sebelum Operasi</title>
<link>http://bundazone.com/menyusui/bayi-puasa-asi-sebelum-operasi/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Bayi tidak boleh mengonsumsi air susu ibu (ASI) sebelum operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Puasa ASI ini dilakukan untuk menghindari muntahannya masuk ke paru-paru saat diorepasi. Bagaimana ia bisa bertahan tanpa air susu ibunya? <span style="font-weight: bold;">SEBELUM OPERASI.</span> Masih bisa disusui atau diberi cairan hingga beberapa jam sebelum operasi.</p>
<ul>
	<li>
		8 jam sebelum operasi selain ASI, bayi usia di atas 6 bulan bisa diberi makanan padat pertamannya.</li>
	<li>
		4 jam sebelum operasi, Asosiasi Ahli Anesti AS merekomendasikan pemberian ASI atau susu formula bagi bayi yang sudah lulus ASI ekslusif.</li>
	<li>
		2 jam sebelum operasi, Anda bisa memberi cairan bening seperti air putih atau jus, misalnya jus apel yang mudah dicerna.</li>
</ul>
<p>
	Beberapa ahli anesti menggolongkan ASI sebagai cairan bening juga, sebab mudah dicerna oleh bayi sehingga masih bisa diberikan sekitar 2-3 jam sebelum operasi. Namun sebaiknya, tanyakan kepada dokter yang menangani operasi mengenai aturan berpuasa sebelum operasi ini. <span style="font-weight: bold;">Agar bayi bisa menjalani proses puasa:</span></p>
<ul>
	<li>
		Tenangkan bayi dengan berjalan-jalan sambil menggendongnya dalam posisi agak tegak. Hindari menggendong bayi sambil duduk. Bayi justru semakin rewel karena dia mengira akan disusui. Minta bantuan suami untuk menenangkan bayi.</li>
	<li>
		Berikan &amp;lsquo;penenang&amp;rsquo; berupa selimut atau putar musik lembut yang biasa mengantarnya sebelum tidur.</li>
	<li>
		Usahakan agar bayi tetap menjalankan rutinitas yang sama sebelum operasi.</li>
</ul>
<p>
	<span style="font-weight: bold;">SELAMA OPERASI.</span> Operasi bisaberlangsung beberapa jam, sehingga jadwal menyusui terlewat sehinggapayudara Anda terasa penuh dan tidak nyaman. Belum lagi proses menungguoperasi, Anda semakin stres, padahal ibu yang menyusui perluketenangan. Jangan biarkan produksi ASI terganggu, perah dan simpan ASIAnda.</p>
<ul>
	<li>
		Tanyakan apakah ada ruangan untuk <a href="http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/kiat.memerah.asi.secara.manual.dan.pompa/001/005/219/1/4" target="" title="">memerah ASI</a> di rumah sakit.</li>
	<li>
		Jangan lupa tuliskan data lengkap pada label botol ASI.</li>
	<li>
		Tanyakan apakah ada tempat <a href="http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/tips.menyimpan.asi.perah/001/005/64/1/4" target="" title="">penyimpanan ASI</a> sementara. ASI bisa bertahan 1-2 hari dalam lemari pendingin, bahkan bisa tahan beberapa bulan bila dibekukan. Perah ASI di waktu yang sama Anda menyusui bayi. Kebiasaan ini akan mempertahankan produksi ASI meski bayi Anda sementara absen dari aktivitasnya menyusu.</li>
	<li>
		Bila ASI Anda belum keluar, karena baru saja melahirkan, tetap saja perah ASI setidaknya 8 kali sepanjang 24 jam pertama. Awalnya, seperti tidak menghasilkan apa-apa, bahkan Anda mungkin hanya mendapat beberapa tetes, tapi susu pertama ini kaya klostrum yang penuh gizi dan untuk ketahanan tubuh yang diperlukan bayi.</li>
</ul>
<p>
	<span style="font-weight: bold;">SETELAH OPERASI.</span> Bayi masih dalam pengaruh bius hingga ia akan enggan menyusu. Anda tak perlu panik dan terburu-buru, sebaiknya:</p>
<ul>
	<li>
		Jangan paksa ia segera menyusu, tunggu sampai pengaruh anestesinya perlahan-lahan menghilang hingga ia siap menyusu lagi.</li>
	<li>
		Bila diperbolehkan menggendongnya, taruh bayi di dada meski ia terlalu lemah untuk bisa menyusu. Tindakan ini menstimulasi payudara dan membantu saat Anda harus memerah ASI.</li>
	<li>
		Jika bayi hanya masih menyusu sedikit, lanjutkan dengan memerah ASI. Kosongkan payudara untuk mempertahankan produksi ASI agar tidak terganggu dan menghindari penyumbatan saluran ASI.</li>
	<li>
		Hindari memberikan ASI di dalam botol atau memberinya empeng karena membuat bayi <a href="http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tanya+-+Jawab/bayi.bingung.puting.menolak.asi/001/006/384/1/4" target="" title="">bingung puting</a>.</li>
</ul> ]]></description>
<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 16:02:33 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/menyusui/bayi-puasa-asi-sebelum-operasi/</guid>
</item>
<item>
<title>Cepat Hamil Dengan Rahim Menekuk (Retofleksi)</title>
<link>http://bundazone.com/pra-hamil/cepat-hamil-dengan-rahim-menekuk-retofleksi/</link>
<description><![CDATA[ <p>
	Rahim retofleksi atau posisi rahim menekuk ke belakang bukanlah penghalang untuk segera hamil. Rahim retrofleksi bukanlah sebuah penyakit. Sama seperti variasi bentuk pinggul, kondisi ini sekedar variasi posisi organ intim di dalam tubuh seseorang. Cari tahu strateginya!
	
	<span style="font-weight: bold;"><a href="http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/posisi.intim.tentukan.kehamilan/001/001/1423/1/4" target="" title="">Atur posisi.</a> </span>Mengatur posisi berhubungan intim, yakni dengan posisi menyamping atau dari belakang. Anda bisa mengambil posisi menyamping atau dari belakang. Anda bisa mengambil posisi membungkuk atau bersujud, dan membiatkan penetrasi dilakukan dari arah belakang. Dengan begini, ujung penis pasangan akan langsung menghadap mulut rahim, sehingga sperma dapat langsung berenang memasuki rahim. Jangan lupa, setelah terjadi ejakulasi, tahan diri untuk tidak membalikkan badan. Pertahankan posisi semula selama 10-15 menit untuk memberi kesempatan <a href="http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/proses.pembuahan.sel.telur.oleh.sel.sperma/001/001/466/1/4" target="" title="">sperma berenang mencapai sel telur</a>.
	
	<span style="font-weight: bold;">Kapan perlu ke dokter?</span> Dokter hanya akan melakukan tindakan apabila posisi rahim Anda menimbulkan keluhan berupa rasa sakit atau ketidaknyamanan. Prosedur yang bisa dilakukan antara lain:</p>
<ul>
	<li>
		Terapi obat-obatan untuk mengatasi penyebab terjadinya rahim retofleksi, seperti infeksi pad apanggul, endometriosis, tumor dan sebagainya. Bila penyebabnya adalah tumor, kemungkinan akan dilakukan tindakan operasi untuk mengangkat tumor tersebut.</li>
	<li>
		Operasi &amp;ldquo;Uplift: yaitu operasi kecil berupa pembedahan laparoskopi yang dilakukan dengan bantuan kamera mini. Tujuan pembedahan ini adalah mengoreksi letak rahim dengan cara memotong dan memperdek otot-otot yang menyokong rahim.</li>
	<li>
		Olahraga khusus dengan cara melakukan gerakan menarik lutut kea rah dada. Apabila dilakukans ecara rutin dan benar, gerakan ini bisa membantu memperbaiki letak rahim.</li>
	<li>
		Memasang sejenis alat berupa plastik silikon di dalam rahim melalui vagina. Tujuannya adalah untuk mendukung agar rahim berada di posisi yang diharapkan. Pemakaian alat ini sifatnya hanya sementara.</li>
	<li>
		Pemijatan seringkali efektif mengembalikan posisi rahim ke posisi yang diharapkan. Terapi ini harus dilakukan oleh seorang terapis pijat professional yang sudah punya jam terbang tinggi dan berpengetahuan.</li>
</ul> ]]></description>
<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 13:55:23 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/pra-hamil/cepat-hamil-dengan-rahim-menekuk-retofleksi/</guid>
</item>
<item>
<title>Bayi Sungsang, Apakah Harus Caesar?</title>
<link>http://bundazone.com/kelahiran/bayi-sungsang-apakah-harus-caesar/</link>
<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">
	Melahirkan secara normal adalah keinginan setiap wanita, namun terkadang ada beberapa hal yang membuat mereka harus melahirkan buah hatinya secara caesar. Salah satu keadaan yang dikahawatirkan oleh sebagian besar wanita hamil yaitu jika calon buah hati yang mereka kandung dalam keadaan sungsang. Apakah sebenarnya sungsang tersebut, dan mungkinkah seorang ibu yang posisi janinnya sungsang wajib menjalani operasi caesar saat melahirkan, yuks kita bahas lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<b>Pengertian bayi sungsang</b> Bayi dikatakan sungsang bila posisi letak bayi dalam rahim mengalami kelainan, misalnya posisi kepalanya ada diatas sementara kakinya ada dibawah. Padahal untuk dapat melahirkan secara normal posisi kepala harus ada dibawah.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<b>Penyebab bayi sungsang</b> Terdapat beberapa faktor yang bisa memnyebabkan posisi janin sunsang, diantaranya yaitu berasal dari kondisi janin itu sendiri. Misalnya, jika ukuran janin lebih kecil dari ruangan rahim ibu, akibatnya janin akan bebas berputar di rahim ibu. Jika kondisi ini terjadi di masa akhir kehamilan, besar kemungkinan janin tersebut berada pada posisi sungsang saat hendak melahirkan. Sebaliknya jika janin terlalu besar untuk ruangan rahim ibu besar kemungkinan ia juga akan mengalami sungsang karena posisi kepalanya sulit berputar kearah bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Pada ibu yang mengandung bayi kembar, kemungkinan terjadinya sungsang pada salah satu janin juga lebih besar. Hal tersebut disebabkan janin yang kepalanya berputar ke arah bawah lebih dulu akan membuat rongga panggul ibu susah dilalui janin kembarannya, sehingga membuat posisi kembarannya sulit berputar.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Penyebab lain bayi sungsang yaitu antara lain bentuk rahim si ibu yang tidak normal, air ketuban yang terlalu banyak, adanya tumor atau miom dalam rahim ibu, posisi plasenta yang berada dibawah sehingga menutupi jalan lahir atau placenta previa, bayi terlilit tali pusat, kepala bayi yang terlampau besar (hidrosefalus), serta multiparitas yaitu kehamilan pada anak ke 2, 3, 4 dan seterusnya yang jarang terjadi pada kehamilan pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<b>Mendeteksi bayi sungsang</b> Untuk mengatahui posisi bayi anda sungsang atau tidak sudah bisa dilihat sejak trisemester kedua tentunya dengan pemeriksaan dari dokter kandungan anda misalnya dengan menggunakan ultrasonografi, atau secara manual, yaitu dokter akan meraba bagian luar perut ibu, dengan indikasi bila bagian yang paling keras dan besar berada di sisi atas maka bayi diduga dalam posisi sungsang.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<b>Merubah posisi bayi sungsang</b> Jika posisi sungsang janin telah terlihat pada usia kehamilan 7 hingga 8 bulan, maka masih ada kemungkinan dilakukan koreksi untuk merubah posisi janin yaitu dengan melakukan posisi bersujud 5-10 menit sebanyak 2 kali sehari. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur, kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal. Posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal, namun posisi ini dapat membuat ibu merasa tidak nyaman dan sesak jika dilakukan terlalu lama. Jadi, sebaiknya jika ibu sudah merasa sesak, hentikan dahulu gerakan ini, ibu bisa memulainya kembali dilain waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Selain cara diatas dokter juga dapat melakukan koreksi dari luar yaitu dengan cara memutar janin hingga ke posisi seharusnya. Untuk melakukan tindakan ini terdapat beberapa kondisi yang disyaratkan, yaitu: tidak ada lilitan tali pusat pada bayi, tidak ada kondisi hidrosefalus, tidak ada kondisi placenta previa, tidak ada miom, dan ukuran bayi tidak lebih besar dari panggul ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Tindakan koreksi luar sebaiknya dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 34 minggu, namun saat ini tindakan ini jarang dilakukan karena selain membuat ibu merasa sakit, juga berbahaya bagi janin jika dilakukan secara paksa.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<b>Bahaya persalinan normal pada bayi sungsang</b> Pada persalinan sungsang dimana posisi bokong bayi keluar lebih dulu, waktu yang tersedia bagi bayi hingga keseluruhan tubuh dan kepalanya keluar yaitu hanya 8 menit, dimana hanya dalam waktu 8 menit itulah kapasitas oksigen yang dimiliki bayi, lebih dari waktu tersebut dikhawatirkan bayi akan kekurangan oksigen sehingga menyebabkan kematian.</p>
<p style="text-align: justify;">
	Persalinan sungsang yang dilakukan per vaginal juga bisa menyebabkan pendarahan otak pada bayi. Proses kelahiran ini juga dirasakan sangat berat bagi si ibu, dimana membutuhkan ekstra tenaga dari ibu untuk dapat mengeluarkan bayinya secara keseluruhan, jika tidak kuat akibatnya bisa fatal, yaitu bayi bisa terjepit dijalan lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">
	<b>Masih bisa melahirkan normal</b> Meski terdapat beberapa resiko kelahiran normal per vaginal pada bayi sungsang, namun untuk beberapa kasus, kelahiran normal masih bisa dilakukan jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:</p>
<ul>
	<li style="text-align: justify;">
		Ukuran bayi kecil, tidak lebih dari 3,5 kg</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Bukan kehamilan pertama</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Posisi kepala janin normal yaitu menunduk menghadap kebawah</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Panggul ibu cukup luas untuk ukuran bayi</li>
	<li style="text-align: justify;">
		Bayi tidak dalam kondisi terlilit usus</li>
</ul>
<p>
	(Dari berbagai sumber)</p> ]]></description>
<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 17:48:22 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kelahiran/bayi-sungsang-apakah-harus-caesar/</guid>
</item>
<item>
<title>Operasi sesar meningkatkan risiko persalinan selanjutnya</title>
<link>http://bundazone.com/kelahiran/operasi-sesar-meningkatkan-risiko-persalinan-selanjutnya/</link>
<description><![CDATA[ Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia Selatan menyatakan bahwa wanita yang melahirkan anak pertama melalui operasi sesar memiliki risiko yang lebih besar pada persalinan selanjutnya dibandingkan wanita yang melahirkan secara normal.<br /><br />"Wanita yang meminta persalinan sesar terencana (elektif) tanpa indikasi medis sebaiknya mewaspadai peningkatan risiko terhadap bayi dan dirinya sendiri untuk persalinan selanjutnya," ungkap Robyn Kennare, seorang bidan dari Departemen Kesehatan Australia di Adelaide kepada Reuters Health.<br /><br />Kennare dan rekan-rekannya memperhitungkan kaitan antara persalinan sesar pada anak pertama dan efek yang tidak diinginkan pada persalinan anak kedua. Ia menggunakan data yang dikumpulkan antara tahun 1998 dan 2003 mengenai kehamilan kedua dari 8.725 wanita yang operasi sesar dan 27.313 wanita yang melahirkan secara normal.<br /><br />Mereka menemukan risiko yang meningkat baik berupa perdarahan, persalinan lama (partus kasep), malpresentasi, ruptur uterus atau sesar darurat pada wanita yang melahirkan anak pertamanya secara sesar.<br /><br />Bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar juga memiliki kecenderungan yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang dilahirkan secara normal untuk lahir prematur (sebelum masa kandungan 37 minggu bahkan sebelum 32 minggu usia kehamilan sang ibu), berukuran lebih kecil dibandingkan usia kandungan, mempunyai berat badan lahir rendah, atau lahir mati.<br /><br />Namun, menurut penelitian tersebut persalinan secara sesar tidak berkaitan dengan peningkatan risiko atau kematian neonatus (bayi baru lahir).<br /><br />Kennare mengatakan bahwa walaupun risiko absolut dari berbagai hal tersebut tidak tinggi, namun merupakan sesuatu yang serius atau mungkin mempunyai konsekuensi yang sangat serius. ]]></description>
<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 23:54:24 +0700</pubDate>
<guid>http://bundazone.com/kelahiran/operasi-sesar-meningkatkan-risiko-persalinan-selanjutnya/</guid>
</item>
</channel>
</rss>